
Glen menghadiri rapat dewan di reksi. Sebuah ruangan dengan meja bundar, di depan sana salah seorang manager menunjuk layar monitor, dia menjelaskan siasat dagang mendatang. Semua bangun dari duduk dan membungkuk, memberi hormat dengan kedatangan Glen.
"Lanjutkan.." pinta Glen membuat manajer sekaligus asistennya melanjutkan presentasi, Kim, sahabat Glen sudah diangkat menjadi orang kepercayaan Glen.
Kim menjabarkan riset pasar dan ketahanan produk berikut peluncuran rancangan baru untuk musim depan yang telah diusulkan Eun. Sebagian pemegang saham setuju, bagaimana pun yang memegang keputusan tetaplah Jung, karena 60 persen saham perusahaan adalah milik Jung, 30 persen bagian Eun yang dipercayakan pada Glen, sementara 30 lagi bagian Hoon yang masih diatur oleh Glen. Tidak ada yang menyanggah presentasi Kim yang sudah mendapat persetujuan Glen.
"Kita akan menarik beberapa store yang penjualannya menurun, tanpa kompromi" ujar Glen sebelum menutup rapat pagi ini. Satu persatu keluar ruangan, untuk beberapa direksi yang memiliki relasi pada toko dengan nilai penjualan rendah pasti sedih. Mereka tidak akan mendapatkan produk populer Jung. Itu sangat berpengaruh dalam penjualan.
"Kau sudah melayangkan surat keputusan?" tanya Glen pada Kim. Dia mengangguk.
"Kau yakin menutup toko Kai?" Glen tersenyum sinis mendengar pertanyaan Kim.
"Kenapa kau masih bertanya. Tentu saja!" ketus Glen dengan wajah menyeringai.
"Penjualan store nya tak buruk, kenapa kau melakukan semua ini?" Kim menggeleng tak habis pikir. Glen mengangkat bahu tanpa bersalah.
"Itu agenda pertama ku, membuat keluarga itu jatuh, sejatuh jatuhnya. Aku ingin dia menderita dan menjadi gembel!" ujar Hoon bangun dari kursi. Kim menggeleng lagi, Kim sudah lama mengenal Glen, dia tak akan menyanggah banyak. Kedudukan Kim saat ini sudah di bawah Glen, dia tak boleh menyanggah perintah bosnya.
"Kau sudah meminta orang untuk memanipulasi data penjualannya kan? Periksa setiap barang datang, pastikan yang terburuk kau supply ke tokonya!" perintah Glen kemudian meninggalkan Kim. Kim mengangguk patuh.
***
Di studio pribadi kediaman Jung
Eun memeriksa layar ponselnya. Ada beberapa berita memuat keterpurukan store Kai. Eun menghela nafas panjang.
Pelayanan buruk, barang yang salah, harga yang melewati batas. Eun tak habis pikir mengapa Kai melakukan semua ini. Semua ini menjadi topik publik dan semakin menghancurkan reputasi tokonya.
"Nyonya.. tuan Kai ingin bertemu dengan mu" ujar asisten dibalik daun pintu. Eun menggeleng, tak mau menemui Kai.
Kai menerobos mendorong pintu ruangan Eun. Dia belum selesai memulas makeup, pantulan wajah Kai dikaca membuat Eun berdiri dan membanting kuas.
"Eun, kau tak bisa melakukan semua ini!" suara Kai mengejutkan Eun. Dia menatap tajam wajah sahabat lamanya itu. Eun tak membuka bibir.
"Kenapa kau melakukan semua ini! Aku tidak memainkan harga barangmu! aku tidak melakukan itu!" teriak Kai memohon dengan wajah memelas. Eun tak peduli, wajahnya mengeras.
__ADS_1
"Eun.." Kai semakin mendekati posisi Eun, tapi gadis itu melangkah mundur.
"Kau melakukan semua ini kan? kau membenci ku, kau ingin menghancurkan ku" Kai tersenyum sinis, dia tahu Eun sangat membenci dirinya. Walau mereka sudah lama tak bertemu, kebencian itu masih nyata di mata Eun.
"Kenapa kau lakukan semua ini? tuan Jung menjaga baik hubungan ini" Selama bekerja sama dengan tuan Jung, Kai belum pernah sekalipun terlibat masalah "semua ini hanya sebatas bisnis Eun, tak ada hubungan pribadi di sini" Kai berusaha meminta pengertian Eun. Bagi Kai hubungannya dengan keluarga Jung hanyalah rekan bisnis, dia sudah mengubur hubungan lama mereka, walau berat. Kai mencoba menjelaskan sekali lagi. Dia berusaha meluluhkan Eun "Kenapa kau tega padaku, haruskah aku memohon padamu." Kai mulai bersimpuh, dia bertumpu di lututnya, harga diri Kai sudah hilang saat dia berhadapan dengan Eun. "Pikirkan pegawai ku Eun, banyak orang bergantung hidup di tokoku.." pinta Kai dengan mata mulai berkaca. Wajahnya berharap banyak. Tapi maaf, Eun membalikkan badan menghindari wajah memelas Kai, dia tak mau luluh.
"Eun.." Kai bangun dari posisinya, dia nekad maju dan menyentuh siku Eun. Wanita itu membelalakan mata. Dia teringat bagaimana tuan Jung menyentuh ibu Kai. Eun menepiskan tangan Kai dengan kasar. Matanya meneteskan air mata. Eun melangkah menjauh.
"Eun.." bujuk Kai sekali lagi. Dia masih berusaha mendekati Eun, Eun terdesak di meja rias. Dia membalikkan badan dan Kai begitu dekat dengannya. Sedekat wajah papa dan ibu Kai masa itu. Mata Eun kian panas.
"Jangan mendekat!" ancam Eun dengan suara bergetar. Tubuhnya gemetar. Kai menatap Eun cemas, dia mengangkat tangan ingin menyentuh Eun. "Jangan kau mendekat!" ancam Eun sekali lagi. Jari telunjuknya mengacung kasar, suaranya semakin serak dan bergetar. Eun ketakutan dengan Kai yang begitu dekat.
Tatapan Eun begitu tajam, matanya nanar, perlahan air matanya mulai mengalir.
"Sudah kubilang aku membenci mu!" Kai menatap Eun dengan wajah kecewa. Suara serak Eun membuat Kai semakin sadar diri.
"Kau dan aku tak ada hubungan lagi, jangan pernah muncul dalam hidupku.." suara gemetar Eun membuat Kai semakin cemas, dia tak bisa mendekati Eun. Begitu banyak ketakutan dan kebencian di mata Eun. Kai mundur beberapa langkah, lalu berbalik pergi. Eun melepaskan tangisan, meraung sendiri
"AAAKKKKHH!!!" dia menghancurkan isi meja, melempar ke lantai, dia berteriak beberapa kali, sampai sesak dan sakit di dadanya berkurang. Yang ada jantungnya berpacu cepat, sesak di dada semakin berat, Eun berusaha mengatur nafas, menahan emosinya.
"Aku sangat membenci mu, AKU MEMBENCIMU KAIII!!!" teriakan Eun menggema kembali ke telinganya. Membuat air mata nya kian deras mengalir. Dia harus membenci Kai, meski hatinya sakit. Dia harus membenci Kai walau hatinya enggan. Kai membuat hidupnya hancur.
"Sayang.. aku distu--" Eun terjatuh di lantai, dia pingsan.
Kai keluar ruangan studio. Ruangan luas dengan karpet tebal, dimana Eun melakukan pemotretan atau sekedar take video untuk memenuhi pasar onlinenya. suara brak di dalam ruangan diabaikan oleh Kai. Eun selalu saja begitu sejak hari itu. Kai mencoba tak peduli, dia tak berani ikut campur, tapi hatinya menolak. Kai kembali ke ruangan. Mendorong pintu dengan cepat. Kai menyambar tubuh Eun, menggendongnya dan segera membawa keluar ruangan.
"Nyonyaa.." pelayan dan asisten merasa khawatir melihat Kai menggendong tubuh lemas Eun. mereka segera mengikuti langkah Kai, membawa persiapan dan memanggil perawat.
Kai jelas cemas, dia menatap wajah Eun berkali kali meski sambil berlari, langkah cepatnya tak jauh berbeda dengan debaran jantung yang Kai rasakan. Dia takut kehilangan Eun, walau dia tak pernah memilikinya.
Pelayan membukakan pintu lift menuju kamar Eun. Kai sedikit berlari membawa Eun ke ranjangnya, dia merebahkan tubuh Eun di kasur. Selang oksigen pun dipasang. Seorang perawat keluarga menyuntikkan cairan di lengan Eun.
"Terima kasih" ucap Kai melihat penanganan cepat pada Eun. Pelayan dan perawat mengangguk sopan lalu keluar ruangan.
Kai menatap wajah Eun beberapa saat, dia tersenyum getir.
__ADS_1
"Kau tak pernah sadar jika aku selalu ada bersama mu.." gumam Kai dengan mata berkaca kaca. Kai menunduk dan menggenggam telapak tangan Eun.
"Kenapa kau begitu membenci ku?" tanya Kai menahan emosi yang bergejolak dalam dirinya. "Sangat sulit bagiku dibenci oleh mu.." Kai menangis. Dia menghapus air mata dengan telapak tangannya. Kai terus menangis meski dia berusaha menghentikan air mata nya. Perasaanya begitu dalam pada Eun, semakin dalam seolah terkubur.
Kai menatap sekeliling ruangan. Foto pernikahan Eun dan Glen di pajang di dinding dan di meja. Kai tersenyum sinis. Dia menangis lagi.
"Aku berharap waktu bisa diputar. Aku berharap semua kembali seperti dulu.." bisik Kai dengan suara tercekat di tenggorokan.
Kai kembali menatap wajah pucat Eun, bersimpuh di bawah ranjang, dia menunduk dalam, menggenggam tangan Eun.
"Aku sangat mencintaimu.. Aku tak bisa melupakanmu.."
***
"Ada apa!" tanya Kim melihat Glen segera bangkit dan memasang jas nya. Dia meraih ponsel di meja dan hendak pergi.
"Kim, bereskan urusan dengan Kai, satu lagi urus Park juga!" perintah Glen lalu melangkah cepat meninggalkan kantor.
Glen memacu kecepatan mobil. Dia tak sabar untuk sampai di rumah. Eun menelponnya dengan suara begitu mencemas kan, sesuatu yang buruk terjadi di rumah. Glen segera berlari meninggalkan pintu mobil yang bahkan belum sempat dibuka.
Dia menaiki tangga dengan berlari, Glen mendorong pintu kamar. Benar dugaannya. Dia lagi! Glen membuat wajah sinis. Dia mengepalkan tangan, urat tangannya menjeplak jelas.
BUUUK!! BUK!
Glen melayangkan tinju di wajah Kai, sekali, dua kali. Kai pasrah tak melawan. Dia jatuh di karpet.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA ISTRIKU!!" teriak Glen murka, dia meraih pangkal kerah Kai, menarik paksa dan mendorong ke tembok. Darah mengalir dari hidung dan bibir Kai, dia tak melawan, Kai pasrah saja.
"Kau ingin main main denganku!" Gusar Glen berbisik di telinga Kai. Dia menyeret Kai keluar kamar, menarik kerah belakang dan menjatuhkan tubuh Kai di tangga. Dia membiarkan Kai yang tanpa perlawanan itu berguling guling di tangga hingga telentang di bawah sana. Semua seperti berputar putar, rasa sakit, rasa nyeri yang Kai rasakan. Dia tersenyum, senyuman yang mengandung banyak arti. Kai sudah tak memiliki tenaga, Kai belum bisa bangkit. Dia tersenyum dengan sudut mata mengalirkan airmata.
Glen kembali ke kamar, Eun mulai membuka mata dan mendapati Glen di sisinya. Dia tersenyum, Glen mendaratkan kecupan di dahi, hidung dan bibir yang terhalang selang. Glen melepaskan pipa oksigen.
"Kau disini" Glen mengangguk mendengar ucapan Eun.
Eun bisa merasakan suara panik dan cemas saat tubuhnya dibopong dengan berlari. Eun yakin, Glen sangat mencintainya.
__ADS_1
Bersambung..
Masih lanjut baca? bagooosss... makasih semuanya maacih udah sampe sini.. jangan lelah untuk terus dukung dan beri banyak hadiah, bintang.. jangan lupa komentar dan masukan, tetap kasi bintang 5 ya, jangan di kurangin..