
Warning : Adegan kekerasan dan dewasa hanya fiktif belaka, mohon pemikiran dewasa.. selamat membaca semoga menghibur, tinggalkan dukungan kalian ya
Dengan langkah cepat Bunga menaiki lift, dia akan menemui Glen. Tanpa sabar lagi Bunga menekan bel berkali kali.
Glen membuka pintu, dia sedikit heran dengan kehadiran Bunga di depan pintunya.
"Kenapa kau disini?" Bunga nyelonong masuk, dia tak mengindahkan pertanyaan Glen. Pria itu melipat tangan di dada, tak mengerti dengan sikap Bunga.
Bunga melipat kaki, hot pant nya memamerkan paha mulus hampir tanpa cela.
"Kau bohong padaku!" Glen menaikkan alis, masih mencoba menyimak. "Kau bilang Risa selingkuh di belakang mu!" Dengus Bunga kesal. "Lalu?" balas Glen santai, dia duduk memepet Bunga, gadis itu sedikit menggeser posisinya, membuat tanktop ketat membalut badannya naik, dan memamerkan pusar yang di piercing.
"Risa sudah putus dengan mu kan!" pukas Bunga dengan wajah kesal, dia ijut melipat tangan cepat.
"Lalu?" Glen masih mengucap kata yang sama.
"Lalu kenapa kau ingin menjebak Hoon, mereka berpacaran!" Suara Bunga setengah berteriak. "Kau harusnya mengalah saja, toh kau juga bukan pria yang baik untuk Risa!"
PLAK!
sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Bunga. Panas, meski sudah pernah merasakannya, tamparan Glen membuat Bunga panas, dia membalas tatapan tajam Glen.
Dengan jari jempol dan telunjuk, Glen mencapit dagu Bunga.
"Apa katamu!" ancam Glen menatap tajam wajah gadis di depan matanya, dia menantang.
Bunga menelan ludah, dia tak berani membalas.
"Dengarkan aku, tak boleh ada yang mengambil milikku, dan kau harus melakukan apa kataku!" dengus Glen dengan suara datar "Bukankah kau bersedia melakukan apapun untukku?" tanya Glen mengancam, Bunga takut lalu mengangguk perlahan. "Bukankah kau ingin menikmati banyak malam denganku?" Bunga ragu, tapi dia mengangguk. "Lakukan apa kataku!" hardik Glen kesal. Bunga mengangguk lagi.
"Kau harus tahu, Hoon adalah pemuda yang sehat dan kaya. Kau harus mencobanya, mungkin dia lebih jago daripada aku." ujar Glen tertawa sinis. Dia melepaskan cengkraman, mengangkat kedua tangan "Mungkin.." serunya sambil tertawa.
Bunga mendengus menahan kesal, ada bekas merah di pipinya.
Glen pergi sebentar dan keluar dengan kaleng soda dingin, dia menempelkan kaleng soda pada pipi Bunga, membuat gadis itu terkejut dan takut.
"Kau tak apa? maaf aku lepas.kendali, aku melukaimu" ujar Glen menyesal. Wajah kerasnya berubah lunak, Glen menatap Bunga dalam.
__ADS_1
"Kau gadis yang cantik dan penurut. Harusnya aku memperlakukanmu dengan baik, maafkan aku.." wajah Glen menunduk dalam, sepertinya dia sangat menyesal.
Bunga masih menahan geram di dalam hati, tapi wajah Glen membuatnya iba.
"Maafkan aku, mengatakan semua itu" balas Bunga dengan suara pelan, dia masih menyimpan ketakutan di dalam hati. Glen menggeleng "Seperti katamu, aku yang salah. Harusnya biarkan Risa bersama Hoon" ujar Glen dengan raut sendu. Bunga merasa simpatik, dia meraih telapak Glen, mencoba menghibur. "Padahal aku sangat mencintai Risa, aku bahkan tak bisa melihat dia bersama Hoon. Aku terkejut saat mendapati mereka berhubungan di belakangku. Bahkan mereka terang terangan melakukan 'itu'. Kau lihat!" Glen menunjuk ke arah kamar Risa yang sudah kosong, hanya menyisakan furniture kosong.
"Mereka bahkan tidur di kamar yang sama" ujar Glen dengan wajah gusar dan kecewa. Bunga menggelengkan kepala.
"Malam itu, aku sangat kecewa, aku memutuskan keluar mencari angin, dan kita bertemu", "Aku sebelumnya tak begitu menyukaimu, tapi kini? siapa yang ada disisiku? siapa yang bersama dengan ku? itu kau!" lanjut Glen.
Bunga mengangguk pelan, Glen benar juga, batin Bunga mulai mengerti.
"Sekarang kau bahkan memihak mereka, kau lihat sendirikan, mereka meninggalkan ku sendirian di sini, hiks.." Glen menahan air mata. Kedua bola matanya tampak berkaca kaca. Bunga mengeratkan genggaman, dia seakan paham dengan perasaan Glen.
"Aku harus mengenal gadis lugu seperti itu! aku jatuh cinta akan kebaikan dan ketulusannya, tapi dia berbohong!" gusar Glen. Wajahnya begitu baik menggambarkan kesedihan yang dalam.
Bunga beralih, tangannya menyentuh pipi Glen perlahan, mengelus pelan.
"Bos Glen, aku juga mengenal Risa yang lugu, tapi dia sudah berubah" ucap Bunga setuju dengan bos Glen. "Dia bukan Risa yang kita kenal sebelumnya" Glen mengangguk. Mata berkaca nya terangkat dan membalas tatapan Bunga.
"Wanita sepertimu lebih baik, kau terlihat jujur dan apa adanya.." gumam bos Glen menarik pangkal rambut Bunga. Dia menyambar bibir gadis di hadapannya, ******* habis dan menggigit gemas.
Bos Glen mengambil satu lengan Bunga, menarik ke arah dapur. Dengan cepat Glen mengikat satu lengan Bunga pada kaki kursi, membuat gadis itu bingung tapi tetap menurut.
"Kau bisa berjongkok dan bertumpu pada ujung lututmu!" ujar Glen meminta sekaligus memerintah. Bunga mengangguk, menuruti.
Glen meraih selembar bahan lagi, dia menutup mata Bunga.
"Apa kau bisa melihat dimana aku?" bisik bos Glen memulai permainan. Sebelah tangan Bunga mencari cari, dan Glen terus menghindar. Dia tak bisa menemukan keberadaan Glen.
"Terimalah hukumanmu!" bisik Glen menggigit kuat pundak Bunga
"Aaakkh!" Bunga meringis sakit.
"Kau mendapat hukuman kedua karena mengeluarkan suara!" bisik bos Glen, dia menusuk daerah sensitif Bunga dengan kedua jarinya. Bunga menahan suaranya, hukuman tiba tiba itu membuat Bunga berontak, tapi tidak bisa, sebelah tangannya tertahan. Bunga hanya bisa menahan suaranya hingga pipinya mengembung.
Glen melanjutkan permainan. Dia meminta Bunga masih terus mencari, sementara pria itu berdiri, tertawa senang, melihat Bunga yang mencari cari dengan menggerakkan sebelah tangan. Tubuh polos Bunga yang berjongkok membuat Glen begitu menikmati permainan.
__ADS_1
"Sekarang terimalah hadiahmu!" Glen mengikuti posisi Bunga, dia ada di belakang gadis itu. Kedua tangannya menyusup merem*as kuat buah dada Bunga, gadis itu terus menggeliat dan menahan suara, semua yang dilakukan bos Glen membuat Bunga serba salah tapi dia menikmatinya.
"Bersiaplah, kita akan masuk ke dalam sebuah pesta" bisik Glen, dia menuntun senjatanya memasuki rumah Bunga, menahan punggung gadis di depannya, mencengkram kuat.
"Sekarang kau boleh berteriak!" perintah bos Glen, Bunga akhirnya bisa membuang semua yang sejak tadi tertahan
"AAAAKKKHH!!!" Teriak Bunga lantang, bos Glen berusaha menutup mulut Bunga, tetap saja gadis itu berkali kali berteriak, dia tak sanggup menahan banyak serangan di belakang sana.
"Apa kau suka! katakan! apa kau suka!"
PLAK!
Bos Glen terus berceloteh dengan banyak tamparan di punggung Bunga. Pria itu terkekeh sesekali, dia menikmati semua perbuatannya.
Glen meraih kotak obat dan mendekati Bunga, ada beberapa memar merah di kulit Bunga. Dengan telaten Glen memberikan obat pereda nyeri dan salep. Dia mengelus lembut.
"Apa masih sakit?" tanya bos Glen perhatian. Bunga menggeleng pelan, dan membuat senyum kecut.
"Maafkan aku melampiaskan padamu" ujar Glen menyesal, Bunga menggeleng.
"Tidak kok, aku sudah pernah seperti ini sebelumnya" ujar Bunga tak masalah "Hanya saja, aku belum pernah melakukan permainan saat berhubungan, itu ternyata menyenangkan" lanjut Bunga sumringah, Glen tersenyum senang. "Apa kau menikmatinya?" Bunga mengangguk, membuat senyuman Glen kian tertarik.
"Datanglah kapanpun, mari mencoba banyak permainan" gumam Glen, dia memotong plaster dan menempelkan pada bibir Bunga, membuat gadis itu tak bisa membalas ucapan Glen.
Dengan giginya Glen kembali menarik plester yang dia pasang di mulut Bunga. Keduanya tersenyum.
"Apa kau begitu menyukai Risa?" tanya Bunga menyelidik. Glen menatap ragu.
"Awalnya aku begitu jatuh cinta padanya. Aku memberikan perasaan yang tulus dan barang mewah" Bunga mengangguk "Kau bahkan membelikan ponsel mewah dan berlian" gerutu Bunga cemburu.
"Dia mengembalikannya" balas Glen, Bunga terkejut. "Kau tahu, Dia akan dapat lebih saat bersama Hoon" Bunga mencibir, jadi Risa semurahan itu.
"Aku bersyukur bertemu denganmu malam itu, kau mengobati luka ku" ujar Glen membuat Bunga merasa senang dan mengawan, tentu saja, puji sebanyak mungkin, bukankah seperti itu!
"Aku tidak butuh uangmu, aku hanya butuh dicintai.." gumam Bunga bergelayut manja di pundak Glen. Pria itu mendaratkan ciuman di dahi Bunga.
"Aku hanya ingin membalas sakit hati pada Risa."
__ADS_1
"Aku akan membantumu, dia berhak mendapatkan semua itu!" dengus Bunga kesal.
"Terima kasih, aku sangat menyukaimu" bisik Glen, sekali lagi keduanya berciuman panas, melupakan luka memar dan nyeri di kulit Bunga, kembali ke ranjang dan menikmati hubungan yang lebih halus dan hangat. Jangan pernah ragukan Glen, kau akan menjadi jiwa yang terperangkap dalam dekapannya, Dia sudah pernah melakukan semua itu, dan sangat mudah untuk mengulang kembali.