
Risa duduk termangu di halaman belakang. Dinginnya air kolam tak meresahkan. Kulit kaki Risa seakan mati rasa. Wajahnya pucat dan juga sendu, dia masih terus meneteskan air mata dengan tatapan kosong.
Hamil, hamil, hamil..
Kata itu terus terngiang di kepalanya, membuat air matanya kian mengurai tanpa henti. Kehamilan tanpa pernikahan, kehamilan tanpa suami. Seorang bayi yang lahir tanpa peran ayah. Sulit? iya, membayangkan saja terasa sulit. Risa terus terisak seakan membuang beban di dadanya. Berakhir, semua seperti akan berakhir. Risa sulit menerima takdir barunya. Dia yang berusia dua puluh empat tahun dan memiliki bayi. Risa bukan tidak mau menjadi ibu, tapi menjadi ibu tanpa pendamping! gadis itu terus menangis.
Pak bambang dan bu Emi tak banyak bicara. Dia juga terdiam saat tetangga bergunjing terang terangan. Mereka berpendapat sesuka hati karena itulah kenyataanya. Panas? tentu, tapi apa mau dikata. Ibarat kan nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi, jadi nikmatilah.
"Risa, makanlah sedikit nak.." pinta Emi lirih. Dia menyodorkan sepiring nasi dan minuman hangat. Risa mengangguk perlahan. Dia berusaha tak mengecewakan orang tua nya semakin dalam.
Tanpa nafsu makan Risa mengunyah suap demi suap sendokan nasi. Terasa pahit dan kering. Sampai sulit menelan, sepahit dan sekering hatinya. Awal kehamilan yang sulit, perasaan mual dan kepala sakit, Risa berusaha tak mengeluh, dia akan menanggung sendiri semua perasaan itu, Risa sudah melakukan semuanya tanpa berpikir panjang, jadi inilah hukumannya.
"BUU EEMIIII!!"
"PAAK BAAMBAAANG!!"
Suara teriakan riuh di luar rumah, membuat Emi segera beranjak bersama suami, keduanya melihat dibalik tirai jendela, beberapa warga mendatangi rumahnya bersama pak rt. Meski takut dan ragu, pak Bambang membuka pintu dan mempersilahkan beberapa orang tetangganya untuk duduk.
"Pak, kami langsung saja tanpa basa basi!" pak Bambang mengangguk, dia seolah paham keresahan tetangganya.
"Kami tau anak bapak hamil di luar nikah!" Risa bisa mendengar suara ketus dari tetangganya di belakang sana, membuat kegamangan perasaannya semakin menjadi, dia menyeka air mata sambil terus berusaha mengunyah suapan sendoknya.
"Pak, itu tuh azabnya bisa sampe 40 rumah pak, dia harus cuci kampung! harus diasingkan pak!" Pak Bambang menghela nafas berat. "Sebagai warga kami keberatan!!" Ya, tentu saja. Hukum sosial. Semua karena kesalahan orang tua, siapa lagi yang akan disalahkan selain si anak. Orang tua!
"Maaf pak sebelumnya, saya akan pikirkan saran bapak bapak sekalian" jawab pak Bambang dengan suara bergetar.
"Ga pak! gimana mau dipikirin lagi. Harus pak! atau kami ga bisa terima keluarga bapak disini!" gertak warga yang lain lagi. Beban di pundak Bambang seakan kian berat, dia mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Baik pak, mohon beri kami waktu" pinta pak Bambang dengan rendah hati, dia jelas memohon dari sorot matanya yang berkaca kaca.
"Seminggu!" yang lain berteriak setuju kompak. "Kami beri bapak seminggu, atau keluarga bapak terpaksa kami usir!" Pak Bambang berusaha menarik senyum, tapi tidak bisa. Dia hanya bisa mengerutkan dahi dan mengangguk pasrah, hingga warga meninggalkan kediamannya.
"Bagaimana pak?" tanya Emi bingung bercampur cemas. Bambang menghela nafas berat.
"Kita harus pindah bu.."
***
Glen mengangkat panggilan telepon dari Kim, dia sudah menantinya. Bisa bisanya pria ini mengabaikan panggilan darinya sejak tadi malam.
"Hallo! Kim kaenapa kau tak menjawab panggilan ku?" tanya Glen dengan ketus. Kim tak langsung menjawab, dia seolah memberi waktu pada Glen untuk bicara lebih banyak.
"Kenapa kau membuat surat kuasa atas pribadi mu? kau sedang merencanakan apa!" tuding Glen tanpa tedeng aling aling.
'Glen.. waktu main mainku sudah habis, biar ku beritahu dahulu. Kau sangat membenci Kai? kau berpikir dia merusak keluarga dan hidupmu?" tanya Kin dengan nada mengejek. "Sama! Aku juga sama, aku membenci Kai dan juga kau! kalian berdua merebut kebahagiaanku, kalian berdua anak yang lahir dari simpanan ayahku! kalian berdua sama japang dan sampah seperti wanita yang dia tiduri!" umpat Kim mengerang marah.
"Apa maksudmu!" Glen tak mengerti.
"Kau kira hanya kau yang kecewa. Aku juga! Aku Kim yang sebenarnya, anak resmi Kim boo Jul!" teriak Kim meluapkan emosi, Glen syok! dia tak bisa percaya. Selain Kai dan dirinya masih ada anak lainnya? berapa banyak benih yang pria brengsek itu tebar saat masih jaya?
"Kim.. dengarkan aku.." pinta Glen mencoba menenangkan. "Kau tak ada urusan dengan Jung, kita selesaikan masalah kita.." pinta Glen mencoba menenangkan suara bergetar di seberang sana.
"Hahaha.. kau tahu, pria itu menghancurkan arti pernikahan yang sebenarnya. Dari kehancuran pernikahannya dia mengulang kisah. Seperti pernikahanmu, itu adalah karma!" sinis Kim senang. Kim berdiri dengan congkak. Dia menatap lurus kediaman Jung yang sudah kosong tak berpenghuni.
"Pria yang kalian bilang brengsek itu adalah ayahku, adalah orang yang baik sebelumnya. Dia tak pernah jahat padaku, dia hanya kehilangan istri tercinta hingga kalian masuk dalam kehidupannya.." Kalimat Kim mungkin datar, tapi raut wajahnya jelas keras, dia mematik api.
__ADS_1
"Glen, aku masih berbaik hati padamu. Kau bisa bekerja padaku, menjadi budajku!" sinis Kim "Seperti Kai, kalian hanyalah manusia rendah yang lahir di bawah kaki ku!"
BLAAARR..
Dari korek yang terlepas dari telapak Kim, menyambar cepat, hingga perlahan terus membesar, melahap istana besar keluarga Jung. Dia tersenyum sinis.
Hubungan baik yang dijalin sejak kuliah dengan Glen akhirnya kini bisa menjadi jujur, Kim tak pernah menganggap Glen teman baik. Dia hanya ingin semua jelas, jelas jika dia akan menghancurkan perlahan kehidupan Glen.
Pertemuan dengan Glen membuja topik pembicaraan mengenai Kai, ternyata masih ada satu orang lagi.
"Kim boo jul memang luar biasa, setelah kehilangan istri dia menjadi begitu bebas!" Kim tertawa sinis dan getir. Ya, dia begitu menyayangi ayahnya. Sejak kecil Kim dirawat oleh kakek dan nenek, melihat ayahnya yang jarang sekali pulang. Dia selalu mengulurkan kedua tangan memeluk erat ayahnya. Ayah yang baik dan penuh cinta. Siapa kira masih ada dua Kim kecil lagi di luar sana.
Seperti wanita yang menghancurkan Kim boo jul. Mei yang depresi dan ibu Glen yang mengakhiri diri karena frustasi, wanita menghancurkan karir dan hidup Kim, dia harus dipenjara bahkan hingga saat ini.
"Wanita juga akan menghancurkan kehidupan mu, Glen dan Kai!" gumam Kim tak percaya. Dia baru saja membersihkan diri, dan ikut bergabung di atas ranjang, memeluk istrinya.
"Kau sudah pulang sayang?"
"Tentu saja.." Kim melingkarkan tangan di pinggang istrinya, menikmati malam kemenangannya.
Kim mengambil pelajaran dari kisah ayahnya, tapi tidak sepenuhnya. Jung tak terlibat dalam urusan keluarganya, tapi harta mereka membuat Kim harus melibatkan Jung. Keluarga yang hancur harusnya tak membuat generasi yang buruk, tapi kenapa hanya segelintir saja yang bisa mengambil pelajaran baik, lebih buruk lagi dia ikut merusak tatanan keluarga bahagia lainnya. Ya, terkhusus untuk pewaris gen Kim boo jul!
Kehangatan keluarga Jung, ataupun Bambang, seolah ikut bergoyang dan padam, nyala lilin seakan tak cukup menerangi kebahagiaan dua keluarga itu seperti sebelumnya.
***
Jangan lupa dukungannya... star vote, review bintang5, dan hadiahnya.. kisss
__ADS_1