
Eun baru saja memanaskan mini Cooper miliknya. Seketika suara dering ponsel membuat Eunnurung memasuki mobil, dia melihat nama adiknya di layar ponsel.
"Hallo.."
"Nunaa.. Kau tidak kesini?" tanya Hoon dengan nada manja, Eun menakutkan alis menahan bias silau cahaya matahari, sekarang sudah pukul sepuluh siang.
"Ke hotel Atalier!" ketus Hoon menahan kesal. Eun balas mendengus sebal. Dia bertolak pinggang dengan ujung high heel mengetuk ngetuk lantai marmer teras rumah.
"Siapa bilang aku akan kesana! Aku ada rapat di pabrik! Lagipula baru kemarin aku kunjungan!" puka Eun menahan kesal pada Hoon.
"Kau tidak bisa seperti itu nuna! Kau tidak peduli dengan pegawaimu! Ketus Hoon dengan nada tinggi. Hah! Eun melebarkan mata tak percaya mendengar suara ketus adik laki lakinya.
"Ada apa dengan pegawaiku? Apa ada hal gawat?" ucapan Hoon sedikit banyak membuat Eun seketika cemas, dia takut sesuatu hal yang buruk menimpa usaha butiknya di Atalier, apa ada kebakaran? Atau…
"Kau harusnya tahu kalau karyawan mu tidak masuk kerja. Kau atasan seperti apa sih! Kau bahkan tak tahu Risa tidak masuk kerja hari ini!" dengus Hoon meluapkan kesal pada Eun. loh.. Eun jadi bingung sendiri.
"Harusnya nuna bilang kalau Risa tidak masuk, jadi aku tak perlu mandi di pagi hari dan bergegas kesini!!"
Tuut!!
Eun memutuskan sambungan telepon sepihak. Dia mencibir kesal.
"Salah sendiri!" ketus Eun tersenyum lebar. "Salah siapa kau tak bertanya dulu" Eun masuk ke dalam mobil, dia bersiap meninggalkan pelataran rumah Jung.
"Ini kali pertama aku melihat Hoon bertingkah aneh. Dia tersenyum, tertawa seperti orang gila. Biasanya dia selalu serius dengan ponselnya tapi sejak kemarin sepertinya dia melupakan ponselnya." Eun menggelengkan kepala tak mengerti.
"Sepertinya Hoon dan Risa sudah saling mengenal cukup lama. Apa ada hal penting di antara mereka sebelumnya?" Eun tak bisa menduga duga, tapi membayangkan tangkapan matanya kemarin. "Apa mungkin mereka memiliki hubungan yang lebih istimewa?" dengan menunjuk bibir sendiri, Eun terlihat sedang berpikir keras.
"Aku tidak bisa terus penasaran seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu!" Eun menepikan mobil di bawah rindangnya pohon penghias jalan. Dia mengambil ponsel dan mencari minta Risa. Tak sia sia dia meminta nomer ponselnya kemarin.
Beberapa kali Eun menghubungi nomer Risa tapi tak kunjung mendapat jawaban. Sampai akhirnya Eun menyerah dan melanjutkan perjalanan.
***
__ADS_1
"Bapak dan ibu bisa mohon kerja sama nya sebentar saja.." pinta perawat dengan amat sopan dan penuh kesabaran. Dia meraih form kosong yang lain.
"Kau bantu aku menggendong Ri, biar aku yang isi!" ketus Risa memerintah. Kai mengangguk pelan. Dia menyambut Ri yang sudah mulai mengantuk di pangkuannya.
"Bisa bisanya dia menulis hangeul di form rumah sakit Indonesia, dia pikir ini dimana?" gerutu Risa kesal pada Kai. Suster juga sama. Dia begitu syok melihat daftar formulir pasien yang Kai isi, pria itu menulis menggunakan tulisan aneh, dia menulis dengan aksara korea, seperti tulisan orang jaman dulu, antara seni atau apa, jangankan membaca melihatnya saja baru kali ini.
"Ini sus" ujar Risa menyerahkan form yang sudah dia isi. Suster membaca Sekali lagi. Dia mendapati masih ada bagian yang kosong.
"Bu, ini tolong diisi ya, nama ayah bayinya siapa" Risa memasang wajah bingung.
"Maaf sus, dia bukan ayah bayi saya!" ujar Risa melirik sebentar ke arah Kai. Mulut suster membulat seakan mencoba mengerti.
"Dia ini siapa ya, dia tuh temannya dari tetangga saya yang punya sepupu, kakaknya punya ade, adenya nikah sama orang lain, nah dia tuh ga tau darimana!" Risa berbicara asal. Suster tak akan bertanya banyak lagi, daripada dia ikut stress seperti dua pasangan di depannya saat ini. Suster segera mengantar baby Ri ke ruang dokter spesialis anak. Ketiga nya masuk setelah dipersilahkan.
"Ampun deh, cukup satu aja yang begitu!" gerutu suster menyerah.
***
Emi dan Bambang segera keluar melihat Risa menggendong Ri dan Kai keluar dari mobil biru. Mereka menatap ketiganya dengan tatapan heran.
"Kalian dari mana?" tanya Emi curiga. Kenapa mereka tak saling memandang.
"Kenapa membawa baby Ri keluar saat cuaca seperti ini?" Emi memeriksa dahi Ri, dan sedikit hangat.
"Kami dari rumah sakit" ujar Kai mencoba memberi penjelasn.
"Apa lukamu bertambah gawat?" cemas Emi meneliti tubuh Kai. Dia menggeleng.
"Bukan saya, tapi baby Ri" Emi melongo tak mengerti, dia beralih ke Risa.
"Ma, kupikir anakku demam karena dia. Baby Ri terus terusan menangis ketika melihat wajahnya, itu membuatku panik!" Risa menuding ke arah Kai tanpa rasa berdosa. Kai hanya menerima pasrah.
"Kau ini!" dengus Emi kesal. "Ri baru saja imunisasi kemarin. Jangan bicara sembarangan. Cepat minta maaf pada Kai!" perintah Emi pada Risa.
__ADS_1
"Loh, mama kok tahu nama dia sih?" Emi melirik sinis.
"ya mama tahu, memangnya kamu belum tahu?" tanya mama ketus, Risa menggeleng. Lagian nama dia juga tidak penting kan!
"Cepat minta maaf, Kau sudah menuduh Kai yang tidak tidak. Ri hanya butuh minum dan makan yang sehat, dia tidak sakit.." Emi memeluk erat cucunya dan membawa masuk ke dalam rumah.
Kai menatap Risa dengan wajah datar. Risa melirik sesaat dengan wajah menunduk.
"Maaf aku mengatakan yang tidak tidak padamu.." bisik Risa masih dengan berat hati. Kai tersenyum
"Ayo kita masuk.." ajak Kai menahan tangan supaya tak menyentuh pundak Risa. Keduanya menyusul langkah Emi.
Risa menjangkau bayinya dan kembali dalam gendongannya, Kai ikut tersenyum melihat Ri sudah bisa tertawa lagi, mereka sekarang bisa tertawa bersama sama tidak seperti sebelumnya.
"Cepat masuk, papa sedang memotong semangka!" ujar Emi jalan di depan. Risa tersenyum pada Kai yang mematung di depan pintu.
"Ayo Kai.." ujar Risa mengukir senyuman, dia memiliki senyum yang tulus, baby Ri bahkan spontan tersenyum saat mendapati wajah ibunya bahagia seperti ini.
"Maafkan aku ya.." ujar Risa sekali lagi.
"Tidak.." balas Kai pelan, dia memaklumi kepanikan Risa. Bukankah seorang ibu selalu begitu bila sudah menyangkut buah hatinya? Kai paham betul itu. Keluarga Risa sepuluh kali membuat Kai iri, dia mengingat keluarganya di masa lalu, kebahagiaan mereka dulu hanyalah sesaat.
Hoon membuka pintu mobil. Dia baru saja menurunkan sebelah kaki saat matanya menatap di depan sana. Itu Risa! dia menggendong seorang bayi. Dan laki laki di sebelahnya itu!
Deg.. deg.. deg..
Dada Hoon bergemuruh hebat. Dia tak percaya, seketika tubuhnya mematung. Tenaganya bahkan tak sanggup untuk menarik kembali pintu mobil. Risa dan seorang pria bersama bayi. Risa yang tersenyum lebar dengan tatapan yang hangat, mereka jelas terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
Gemiruh di dada Hoon kian menjadi, membuat aliran darah terasa panas di sekujur tubuhnya. Tidak mungkin, Hoon tak mau percaya. Seketika kelopak mata Hoon memanas. "Mungkinkah?"
***
hallo semua jangan lelah kirimkaj semua bentuk dukungan kalian ya!!
__ADS_1