
Jelas Darwin merasa jengah, apaan dengan pasangan Itu. Mereka seharusnya bisa menahan diri. Bukankah Sedikit lagi mereka akan menikah. Risa bangkit dari posisinya. Mata baru saja mengatur pose, Risa yang merebahkan diri dan Hoon yang menahan pinggang belakang wanitanya. Kemana rasa canggung dan kikuk tadi? Mereka berdua layak disebut pasangan maut. Fotografer dibuat menggelengkan kepala kagum.
"Baikah pak Darwin, semua sudah selesai. Saya harap kerjasama kita akan berjalan lancar!" Eun mengulurkan tangan dan dibalas cepat oleh Darwin, dia buru buru ingin segera meninggalkan tempat ini.
Hoon menyudahi pemotretan terakhirnya yang menggendong bayi Ri yang tengah tertidur pulas. Melihat Darwin akan meninggalkan studio Hoon segera melepaskan jas nya. Dia melempar sembarangan dan meninggalkan arena pemotretan. Sekarang giliran Risa yang mengambil bagiannya bersama baby RI.
"Kau terburu buru sekali!" Ketus Hoon mengejutkan Darwin, pria itu mengurungkan masuk ke dalam mobil. Mendengar nada ketus di belakang punggung, Darwin mendorong lagi pintu mobilnya. Dia menutup pintu dan membalikkan badan. Tepat dugaan!
Hoon melipat tangan di dada dengan gaya tengilnya. Dia sedang menantang Darwin. Dengan senyuman sangat dipaksakan, Darwin mencoba membalas sapaan ketus Hoon.
"Ada apa? Apa kita ada urusan?" Tanya Darwin sinis. Hoon tak kalah mengintimidasi, dia juga bisa tersenyum dan bahkan tertawa sinis.
"Tentu saja. bukankah kita belum berkenalan dengan benar!" Sarkas Hoon. Darwin mengangguk seakan mengerti. Pria yang usianya lebih dewasa itu melaju selangkah dan mengulurkan tangan.
"Aku Darwin Santosa, senang bisa berjabat tangan denga CEO hebat sepertimu, tuan Jung!" Kalimat datar Darwin terdengar sedikit menyindir. Hoon melirik sinis.
"Maaf, tanganku sedikit kotor!" Ujar Hoon menyeringai. Baiklah! Jadi kau sengaja melakukan semua ini! Darwin kembali menarik uluran tangannya. Menyimpan di dalam saku.
"Ada satu hal yang ingin aku pertegas padamu. Aku dan Risa akan segera menikah. Dan kami sudah mempunyai bayi bersama!" Tegas Hoon mengharapkan wajah mengerti Darwin tapi pria itu malah tersenyum singkat. Apa apaan itu!
"Ya, aku mendengarnya. Cerita itu cukup populer di sekitar lingkungan tempat tinggalku!" Ujar Darwin mengangkat bahu.
"Apa maksudmu!" Tanya Hoon dengan wajah heran.
"Oh, mungkin kau tak tahu ya. Baiklah mungkin sebaiknya aku beri tahu!" Saat ini sorot mata Darwin seketika berubah. Dia menatap sinis wajah Hoon.
"Kau mungkin memiliki segalanya. Kedudukan, keluarga, kekayaan dan popularitas. Tapi.." Darwin memutus sejenak kalimatnya.
__ADS_1
"Tapi, kau tak bisa seenaknya pada Risa. Kau tahu betapa sulit dia menghabiskan tahun tahun dengan kandungannya!" Tuding Darwin dengan wajah serius. Hoon sedikit gentar.
"Apa kau tahu, bagaimana dia menghadapi cacian, gunjingan dan makian? Kau mana tahu!" Dengus Darwin kesal.
"kami sudah banyak menghabiskan waktu bersama. Tapi saat itu aku juga tak bisa memeluk dan menenangkannya, kalau saja aku tak mengejar impianku, mungkin aku dan dia yang sedang berpose di depan kamera seperti tadi!" Tangan Darwin mengepal.
"Ibuku selalu mengkhawatirkan keadaan dia, karena tahu putranya begitu mencintainya. Tapi kau hadir diantara keluarganya dan membuat ibuku terluka!"
"Baiklah, mungkin bukan salahmu untuk bagian itu. Tapi hingga Risa diusir dari kampung kami, dia kehilangan pekerjaan bahkan ingin mengakhiri hidup! Apa kau tahu!" Bisik Darwin kesal.
"Sudahlah, tak ada maknanya kita bicara disini, buang buang waktu saja!" Darwin masuk ke mobil dan membanting pintu. Dia menyalakan mesin dan menggas cepat laju mobilnya.
SIAL!! Sialan!! Bukankah ini terlalu terlambat! Perjuanganku, penantian ku, semuanya seakan usai, semua sudah selesai! Dia sudah tak mungkin aku dapatkan!
Darwin sedikit menepikan mobil, menurunkan kecepatan lajunya. Tangannya mengepal dan memukul keras stir. Matanya berkaca kaca. Kesal dan kecewa!
Kupikir hanya aku saja pria yang ada di dalam hidupmu. Hingga aku begitu percaya diri kau akan menungguku. Aku telah berusaha sebaik mungkin. Berjuang mati Matian untuk pendidikan dan pekerjaan yang layak. Agar nanti kita bisa hidup lebih baik daripada kedua orang tua kita. Agar kita bisa hidup bersama dan bahagia. Aku terlalu percaya diri! Dan pria tadi meleburkan semua harga diri dan kepercayaan diriku. Tak seharusnya aku mengulur waktu. Semua benar benar berakhir. Dan kau terlepas dari ku, bahkan kau tak pernah sekalipun memegang genggaman erat telapak tanganku. Aku begitu mencintaimu Risa!
***
Hoon melangkah cepat kembali ke dalam studio. Risa baru saja menyelesaikan bagiannya. Dia menaruh baby RI kembali ke ranjang, sebuah kamar ganti khusus yang dipersiapkan Eun. Hoon membuka cepat pintu sliding, dia juga merapatkan gorden, tak mau ada yang melihat.
Street!!
Hoon menarik pergelangan tangan Risa, memeluk erat wanitanya. Dia merangkul Risa hingga ototnya mengukir jelas dibalik kemeja putih yang dia kenakan.
"Ada apa?" Tanya Risa bingung. Kenapa tiba tiba Hoon seperti ini. Ada apa dengan kekasihnya.
__ADS_1
"Risa, aku sangat mencintaimu.. sangat mencintaimu.." bisik Hoon berkali kali dan terus mengeratkan pelukan.
"Hey, kau kenapa!" Risa semakin bingung.
"Terima kasih kau masih ada disini hari ini. Terima kasih sudah mengandung anakkku, terima kasih sudah melahirkannya dengan baik, terima kasih sudah berjuang hingga aku bisa melihatnya hari ini. Terima kasih untuk semua itu.." Risa menautkan alis, dia hanya bisa mengangguk pelan dengan semua kalimat lirih dari bibir Hoon.
"Dan jangan pernah berpikiran untuk pergi meninggalkan ku sendirian.." apa apan itu! Kenapa dia!
Hoon melonggarkan pelukan. Kedua tangannya menangkap pipi Risa. Mengecup bibir wanitanya. Hoon memejamkan mata, merasakan aliran Saliva yang berpindah tempat, mengecap dan menikmati permainan lidah di dalam mulut mereka.
Tidak ada satu orangpun yang bisa masuk kedalam hidupmu lagi. Hanya ada keluarga kita saja! Bisik batin Hoon menegaskan diri. Kalimat hatinya membuat kecupannya kian lepas kendali. Pria itu terlalu menikmati wanitanya.
Jari Hoon menarik risleting yang tersembunyi di sisi gaun Risa, menarik perlahan hingga turun di bawah pinggang wanitanya. Mengelus lembut, merangsang dan menambah gairah diantara keduanya. Hoon masih enggan melepaskan ciuman panas mereka. Risa sedikit meminta waktu, dia mencoba mengambil nafas sebelum menerima serangan bertubu tubi dari kekasihnya. Gaun mewah itu terlepas, mengisahkan kaus tipis dengan korset dipinggang. Hoon semakin bergairah menatap bentuk sempurna di bawah sana. Dia menjatuhkan Risa di ranjang. Membuat sedikit gelombang. Pria itu menopang diri dengan kedua tangan bertumpu disisi ranjang. Risa menahan jatuh punggung dengan mengkaitkan tangan di leher Hoon. Mencium lagi, sekali lagi, dan berkali kali, hingga suara bibir mereka yang beradu terdengar jelas.
"Hooeee..ooee…" tangisan bayi Ri membuat keduanya tersadar. Mereka tertawa bersama.
"Maafkan appa sayang.."
***
terima kasih sudah membaca..
kirimkan kritik saran komentar dan semangat kalian di bawah yaaa
kirimkan star vote dan hadiah jugaa
loveeee and kissss
__ADS_1