
Risa menarik nafas dalam. Menikmati udara segar hari ini. Dia menatap bayangan diri di cermin. Perjalanan panjang hidup dan masih terus berjalan, seiring waktu yang tak akan mampu ditebak nalar manusia. Setelah berdoa dan mengirimkan banyak harapan di hadapan foto Bambang yang terpajang di ruang keluarga Jung. Bukan hanya foto papa Risa. Nyonya dan tuan besar keluarga Jung juga dipajang di sana, memohon restu dan mengirimkan banyak ucapan terima kasih. Jung Hoon dan kini Risa, bersama Jung RI, ketiganya kompak menggaris senyum dihadapan mendiang tetua keluarga.
Setelah ketiga anggota keluarga, sekarang giliran Jung Eun dan Kai yang menghadap. Mereka berdoa sesaat, lalu saling merangkul dan memamerkan ciuman selamat pagi yang hangat.
Emi sedang memasak menu sarapan. Satu persatu bergabung di meja makan. Kini to sudah bisa duduk di kursinya sendiri. Setelah kepergian bambang, Emi tinggal bersama di kediaman Jung.
"Ayo makan yang banyak!" Ujar Risa dan Hoon kompak. Keduanya menambahkan nasi dan lauk ekstra di piring ri, bocah tampan itu cemberut.
"Mom, dad, ini masih pagi dan aku harus menghabiskan semua ini!" Gerutu RI protes. Dia meraut wajah kesal dan merajuk. Emi ikut bergabung dengan menyodorkan piring kosong.
"Ayo berbagi bersama nenek" ujar Emi membuat bibir RI mengembang.
"YESS!!" Teriaknya senang.
Beginilah suasana hangat keluarga Jung, memulai aktivitas sehari hari dengan nada nada manja dan sedikit perdebatan. jika bukan dari pasangan Risa dan Hoon, terkadang dari Eun dan Kai, meski mereka sudah sangat dewasa, terkadang masih sering memperdebatkan hal sepele.
"Kau juga bisa membaginya dengan Kaka cantik ini" ujar Eun mengedipkan mata centil.
"kenapa menyebut diri sendiri kakak?" protes Kai pada Eun.
"Memangnya kenapa!" sungut Eun kesal.
"Seharusnya kau dipanggil bibi, ah bukan ahjuma!" ujar Kai. Kalimat barusan dibalas ketokan sendok di dahi pria tampan itu.
"sembarangan, aku ini masih cantik dan awet muda tau!" protes Eun kesal. membuat gelak tawa meramaikan meja makan pagi ini.
****
Kembali ke hari bahagia itu..
"Tolong tambahkan sedikit gliter di bagian sini!" Eun menunjuk sudut mata Risa tanpa menyentuh. Makeup artis segera mengangguk mengerti. Dia menyapukan lagi tambahan Glitter yang diminta Eun. Wanita itu kian kagum melihat riasan wajah Risa.
"Kau cantik sekali.." gumam Eun terus saja memuji
"Aku yakin papamu akan sangat bangga melihat betapa cantik putrinya hari ini.." kalimat Eun barusan membuat Risa membuka mata, dia berusaha mengukir senyuman.
"Gaun ini juga sangat pas di tubuhmu. Mataku memang tak pernah salah!" Ujar Eun seakan bicara pada dirinya sendiri. Risa hanya bisa tersenyum.
"Baiklah, semua sudah terlihat sempurna. Sekarang aku harus memeriksa kamar sebelah!" Eun meninggalkan senyum dan dengan cepat melangkah meninggalkan Risa. Gadis itu sudah selesai bersiap. Dia menatap kaca lebih lama dari tadi. Memperhatikan tiap detail penampilannya hari ini.
__ADS_1
"Lihatlah pa, apa aku terlihat cantik?" Risa bertanya pada bayangan di cermin.
"Apa papa hadir disini hari ini?" TK ada jawaban, tapi Risa seakan bisa melihat bayangan wajah Bambang yang tersenyum di kaca.
"Pa, Risa menikah hari ini. Hoon dan Risa menikah, bukankah papa ingin melihat hari ini?" Risa berusaha menahan kelopak matanya yang memanas. Dia tak boleh menangis, atau Eun nuna akan mengomel panjang kali lebar.
Risa menengadahkan wajah. Jangan menangis, jangan menangis, batinnya terus berbisik. Risa berusaha menahan emosi dalam dadanya. Ya, hari ini dia akan menikah. Akhirnya..
Meski kurang sempurna, tapi ini adalah salah satu perjalanan indah dalam hidup Risa. Kehilangan sosok papa sungguh membuat separuh jiwa Risa seakan menghilang. Tapi kehadiran bayi RI dan cinta tulus Hoon seakan menjadi pengobat rindu. Hidup seperti perjalanan dimana ada yang datang dan pergi. Dimana kita tak tahu kapan waktu akan mengaturnya. Semua ini membuat Risa kian mengerti arti sabar dan juga iklas.
"Sayang, apa kau--" kalimat Hoon seketika berhenti saat sorot mata mereka bertemu. Pria itu segera memegang dadanya menyadari betapa cantik wanitanya hari ini.
"Bukankah Eun nuna sedang ke ruangan mu?" Tanya Risa heran mendapati Hoon masuk ke dalam ruangannya, Hoon mengangguk.
"Eun nuna sedang mengatur penampilan bayi RI" ujar Hoon melangkah perlahan mendekati Risa
"Kau cantik sekali" puji Hoon dengan sorot mata tulus. Risa tersenyum kecil menahan rona merah di wajahnya.
"Aku serius!" Puji Hoon berusaha menegaskan. Risa mengibaskan tangannya seakan meminta Hoon berhenti menatap lekat dan memuji berlebihan.
"Aku kesini untuk memastikan kau baik baik saja dan tidak kesepian" ujar Hoon meraih tangan Risa yang menggunakan sarung tangan renda.
"Aku sudah berjanji pada papa, aku akan selalu menjaga keluarga kita.." bisik Hoon mendekap tubuh pengantinnya. Dia menangkupkan sebelah tangan, sementara sebelah lagi merangkul pinggang Risa.
Hoon menggerakkan kakinya, dia seakan mengajak Risa berdansa dengan ritme pelan.
"Aku tidak akan pernah menyia nyiakan dirimu. Aku sangat mencintaimu.." Risa mengangguk menerima ucapan manis pengantin prianya. Keduanya terus berdansa. Hoon mengangkat dagu Risa, bersiap hendak menyambar bibir pengantin wanitanya.
"Ternyata kau disini!" Seru Kai mengejutkan dari depan pintu.
"Eun nuna mencarimu!" Ketus Kai sambil menggelengkan kepala. Hoon melempar senyum, dia melepaskan diri dari pelukan eratnya.
"Sayang, sampai bertemu di altar.." Hoon mencium punggung tangan Risa.
Kai menepuk pundak Hoon gemas.
"Memangnya kau tak bisa sabar sehari saja! Kau ini" Omelan Kai hanya dibalas tawa kecil oleh Hoon.
***
__ADS_1
Disaat semua orang mengenakan riasan cantik Dan gaun terbaik mereka. Seorang wanita sedikit mencuri perhatian pada bagian belakang kursi tamu. Dia datang mengenakan pakaian serba hitam dilengkapi topi vandora. Wanita itu mengambil duduk paling ujung. Wajahnya tertunduk dalam. Sepertinya dia tak begitu peduli dengan sumpah pernikahan di depan sana. Tapi tidak, dia sangat menyimak sumpah pernikahan Hoon dan Risa, sampai sampai air matanya meleleh. Dia segera mengelap pipinya yang basah, dia menggenggam erat sapu tangan yang juga berwarna hitam.
Tepuk tangan dan sorak Sorai tetamu yang hadir begitu riuh, saat Hoon menyambar cepat bibir pengantinnya. Dia ******* habis tanpa malu malu dihadapan tamu. Ya, ciuman pertama sebagai suami istri. Pria itu bahkan sudah tak sabar menunggu malam pertama mereka.
Wanita itu menarik satu sudut bibir, tersenyum sinis. Dia pernah sangat bahagia seperti pasangan di depan sana. Telapak tangannya kian erat menggenggam sapu tangan, dia seakan menyimpan banyak tenaga dalam telapak tangan itu. Wanita itu menyembunyikan air matanya di balik topi.
Emi baru saja mengganti susu bayi RI, dia mengambil duduk paling akhir supaya lebih mudah keluar masuk. Emi duduk tepat disebelah wanita yang berpakaian serba hitam itu.
Bayi Ri menoleh dan mendapati wajah sendu di sebelahnya. Emi sibuk menyapa tamu yang tak berhenti mengajaknya mengobrol di sisi lain, dia tak peduli dengan tamu nya yang berbeda hari ini. Emi sibuk membalas sapaan orang orang yang begitu ramah padanya, tentu saja, menantumu itu adalah orang hebat.
Bayi Ri mengangkat tangannya. dia menggaris senyuman. Membuat wanita itu sedikit mengangkat topinya supaya bisa melihat jelas wajah ramah bayi RI.
Wajah polos yang tampan. Bayi Ri semakin melebarkan sudut bibirnya, dia seakan ingin menghibur wanita yang terlihat sangat sedih di sampingnya ini. Bayi Ri mengangkat tangan, dia mengelus lembut perut wanita itu yang terlihat sedikit membuncit.
Wanita itu mencoba menggaris senyuman. Dia menerima sentuhan lembut telapak mungil bayi RI. Dia membiarkan RI mengelus perutnya hingga beberapa kali. Akhirnya kini dia bisa tersenyum lepas. Wajah polos Ri membuatnya terhibur.
"Gumawo.." bisiknya hampir tanpa suara. Wanita itu seakan berterima kasih karena bayi mungil itu sudah mau menghiburnya. Dia merasa sangat senang melihat wajah tampan bayi RI.
"Mama, kau disini rupanya! ayo kita harus retouch dan melakukan sesi foto keluarga.." Eun menyambar bayi RI kedalam gendongannya. Wanita cantik itu menggandeng Emi dan menuntun keluar dari kursi tamu. Mereka meninggalkan jamuan tamu, dan bersiap di belakang panggung. Biarkan host dan bintang tamu menghibur hadirin. Keluarga bisa sedikit istirahat di belakang sana.
Wanita dengan pakaian serba hitam itu segera beranjak dari kursi. Dia menatap tajam punggung Eun yang kian menjauh. Jadi, siapa bayi tadi? apa dia yang dibicarakan tempo hari! wanita itu mengambil saputangannya yang terlepas di meja. Dia mengelap beberapa kali permukaan dress-nya, dia seakan berusaha membuang sisa sentuhan hangat telapak mungil Ri..
***
Semua seperti pola hidup yang akan terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikan kecuali, kematian!
Meski tak bisa dihadiri oleh Bambang, pernikahan Hoon dan Risa digelar secara sederhana (sederhananya keluarga Jung) dan sakral.
____________
____________
terima kasih sudah membaca
terus dukung dengan komentar dan kirim star vote
terus kirim review bintan 5
dan jangan lupa beri hadiah jugaa..
__ADS_1
terima kasih banyak semuanyaa