Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Ini awal


__ADS_3

POV. Risa


Masih di bawah mega yang sama. Masih di sejuk angin yang hilir mudik. Beban sedikit berkurang? mungkin. Aku hanya tak percaya, pemilik wajah indah dan senyum menawan tadi adalah Jung Eun. Dia kakak Hoon? dia istri Glen? ya ampun, haruskah aku tersenyum getir, atau menangis menyesal.


Wanita macam apa aku ini? merebut pria dalam dekapan wanita hampir sempurna itu? aku bahkan tak seujung kukunya. Dia cantik dan sikapnya luar biasa. Benar ucapan Hoon, goddes Korea. Dia seperti ratu yang memiliki aura tentram. Eun tak pantas untuk Glen.


Sekarang aku mulai berpikir, mencoba menjernihkan otak. Bagaimana mungkin aku tidur dengan suami orang. Lalu pindah ke iparnya, ya ampun. Sangat memalukan. Wajar saja tetanggaku mengumpat dan sinis.


Aku menyeka rambut yang tertiup angin.


Tapi seperti kalimat Eun, terpuruk, jatuh dan putusa asa bukanlah penyelesaian. Wanita tadi yang bersama denganku, sepertinya tak pernah membenci. Akupun tak boleh membenci. Eun bilang anak ini adalah anugrah Tuhan, andai kau tahu dengan siapa aku melakukannya, akankah kau berpihak padaku?.


Langkah pelanku menuntun ke depan teras rumah. Mama berlari dan memelukku, dia menangis meski berusaha menahan. Papa menanti di palang pintu, meski dia kesal jelas wajahnya cemas. Mereka tak pernah membenci, meski anak nya salah jalan, mereka tak pernah membenci, mereka hanya marah saja.


Benci itu akan terus tumbuh busuk di dalam hati tanpa berdamai dengan waktu. Tapi marah tidak, dia akan reda meski butuh waktu. Orang tua ku marah, mereka tidak membenci. Aku yakin itu.


"Kau darimana nak?" tanya mama sambil menyodorkan teh hangat. Aku meraih dan meneguk perlahan.


"Jangan keluar sendiri nak.." lirih mama. Bagaimana aku membuat wajah wajah ini seperti sekarang. Bagaimana aku menghapus luka yang ku goreskan di hati mereka. Bagaimana aku menghapus luka itu, bagaimana mengobatinya?. Aku sungguh kejam.


"Risa, kita akan menjual rumah ini. Kita akan pindah" suara berat papa hanya di sahut anggukan kecil dari kepalaku. Terasa berat bahkan hanya untuk mengangguk.


"Mari kita mulai kehidupan baru, tanpa ada yang mengenal.." bisikan mama pelan tapi terasa panas di telingaku. Membuat rasa sesak di dada minta di lepaskan. Aku menyambar bahu mama, menangis, menumpahkan semua rasa yang bergejolak di dalam dada. Menumpahkan perasaan ini. Apa yang tadi kupikirkan. Mengakhiri hidup? aku sungguh bodoh, bagaimana dengan orang tua ku? mereka akan sangat terluka. Terima kasih Eun, kau menyadarkan pikiran buntu ku tadi.


"Maafin Risa maa.. maafin Risaa paa.." isakku diantara suara yang bergetar. Mama memeluk erat, seakan memberi kekuatan pada diriku. Papa hari ini melemahkan diri, dia ikut berjongkok dan memeluk, merangkul mama dan aku bersamaan.


"Iya sayaang, iyaa sayaang.." mama terus bergumam seperti itu, tetesan hangat di pundakku membuat perasaan ini kian terombang ambing, membuat tangisanku kian sulit berhenti. Mungkin ini sulit, mungkin semua ini sakit. Tapi ijinkan aku bangkit sekali lagi, ijinkan aku bangun meski harus tertatih. Waktu.. sembuhkan luka ini, aku berjanji akan lebih kuat lagi!


"Kita akan melewati semua ini bersama sama!" Aku mengangguk, ucapan papa sungguh berarti untukku, ucapan papa membuat kekuatan ku seakan kembali, membuat semangatku seakan tersadar.


"Ini bukan akhir, ini hanya awal dari kehidupan yang baru" Aku mengangguk. Tuhan kau begitu baik. Meski orang yang kucinta sudah tak bersama denganku. Meski pria yang kuharapkan tak di sisiku. Kau tetap mengirimkan penyemangat, kau kirimkan Eun dengan kalimat indahnya, kau buat aku melihat betapa cantik dan cerianya dia. Kau seolah menamparku jika wanita sempurna pun punya kegagalan. Dan orang tua ini! mama dan papa..

__ADS_1


Aku tak bisa berkata kata. Terlalu baik untukku, orang tua ini terlalu sempurna untukku. Aku tak akan menyerah, aku juga harus menjadi ibu yang baik. Aku akan menjadi ibu yang dibanggakan oleh anakku. Aku pasti bisa, aku bisa bila bersama orang orang hebat ini. Papa benar, ini bukanlah akhir!


***


Eun mengangkat tangan melihat Hoon bertolak pinggang di tangga teras rumah. Wanita itu tersenyum lebar membalas wajah kesal Hoon.


"Nuna kau darimana! Lihat mobilku kotor sekali!" ketus Hoon kesal. Dia sebetulnya lebih mencemaskan nuna nya dari pada mobil. Hari ini adalah hari yang buruk untuk Eun, dia memutuskan akan berpisah dari Glen, suaminya.


"Tadi aku melalui jalan cukup sempit dan hujan" jelas Eun tanpa beban


"Kau menghabiskan waktu hampir malam, sebenarnya kau dari mana?" tanya Hoon penasaran


"Hanya jalan jalan, mencari angin segar" Hoon berdecak kesal mendengar jawaban nunanya. Dia bergumam jengkel melihat nunanya begitu santai dan tersenyum lepas.


"Seharusnya dia berteriak dan menangis saat tahu perusahaan diambil oleh orang lain. Harusnya dia meminta obat dan mencari Glen saat rumah kami ludes. Dia malah jalan jalan dan mencari angin" sinis Hoon menautkan alis "Apa aku harus senang atau sedih?" Hoon tak habis pikir.


Hoon menyusul langkah Eun ke dalam rumah.


"Nuna, kapan kita menemui direktur Mei?" tanya Hoon serius. Eun melirik sejenak.


"Apa Kai tak akan datang?" tanya Eun penuh harap, dia sangat berharap Kai akan menemaninya bertemu dengan Mei.


"Kai hyung tak mengangkat telepon dan tak membalas pesan. mungkinsesuatu terjadi padanya?" curiga Hoon.


"Bukankah Glen berada di sini, siapa yang kau curigai, selain Glen?" Eun menatap Hoon serius.


"Entahlah, perasaanku tidak enak." balas Hoon ragu.


"Kau harus mencari pasangan dan menyalurkan hasrat agar perasaanmu lebih enak dan nyaman" sinis Eun tertawa meledek, Hoon mendengus "Kau tak tahu saja, aku sudah mencoba semua itu" bisik Hoon bangga.


"Kau tahu, tadi aku bertemu gadis muda di tepi bukit. Kasihan sekali dia.." wajah datar Eun berubah sendu

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Hoon curiga dengan perubahan air wajah kakaknya.


"Aku tanya padamu, memangnya ada pria yang menghamili gadis lalu meninggalkan begitu saja?" tuding Eun dengan raut kesal pada Hoon. Pemuda itu mengerutkan dahi heran.


"Kenapa kau menunjuk padaku, memangnya siapa yang melakukan itu" balas Hoon sewot.


"Ya, gadis itu ditinggalkan kekasihnya saat hamil, kan gila!" dengus Eun menahan emosi, seketika tenggorokannya kembali kering, dia mengambil botol yang baru lagi.


"bukannya bagus kalau kekasihnya hamil, mereka tidak punya alasan untuk berpisah dong.." kalimat Hoon mendapat anggukan setuju dari Eun.


"Kau benar, itu baru pria.." puji Eun senang.


"Pria yang tak bertanggung jawab dan melepaskan kekasihnya dengan mudah itu tak jauh berbeda dengan Glen. Brengsek!" umpat Eun emosi


"Kok, perasaanku tak enak ya" bisik Hoon bergidik ngeri.


"Kalau ada pria yang tega menghamili gadis lalu kabur, biar abunya dibuang kedalam tempat sampah!" Hoon terperangah mendengar umpatan Eun, nunanya itu jelas terlihat jengkel. Hoon setuju dengan pendapat Eun hanya saja, Hoon tak bisa mengeluarkan suara, batinnya berbisik seolah meminta Hoon untuk diam saja!


"Kenapa aku memikirkan Risa?" bisik Hoon pada diri sendiri


***


haiii... jangan lupa dukungannya yaa.


tinggalkan komentar dan bintang 5


beri star vote biar masuk ke barisan terbaik


beri hadiah biar masuk ke barisan populer


terimakasih banyak2 aku berusaha untuk konsisten update.. tapi mulai minggu dpn lumayan berat, berhub aku punya 1 cerita lagi di tempat berbeda..

__ADS_1


tetap semangat, dan dukung trs ya


__ADS_2