
Risa melirik jam di layar ponsel, sudah pukul tujuh pagi, dia sudah berdandan rapi, mengenakan cardi katun berwarna pink, celana jeans dan baju kaos. Risa melirik kamar Hoon yang belum juga terbuka.
"Hooon.. berapa lama lagi sih?" tanya Risa tak sabar. Dia mondar mandir panik.
"Jangan lama lama keburu macet!" teriak Risa menahan kesal. Sepertinya mengajak Hoon terlibat adalah ide buruk, Risa menyeka dahinya, harus nya dia tak meminta Hoon kemarin, menjadi pacar settingan sungguh bukan ide yang bagus, sudah jam segini bahkan Hoon belum siap. Dia sedang apa sih! Risa terlanjur kesal, kesabarannya habis, dia membuka paksa pintu kamar Hoon.
Risa melongo terkejut melihat penampilan Hoon. Sementara yang di tunggu tersenyum lebar.
"Taraaa.." ujar Hoon melebarkan kedua tangan. Risa mengerjapkan mata beberapa kali.
"Bagaimana?" tanya Hoon meminta pendapat Risa, pasti kau terkesan kan! puji batin Hoon.
"Kau tak salah?" tanya Risa sembari menyapu penampilan Hoon dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Kenapa?" tanya Hoon heran, sepertinya reaksi Risa tak sesuai harapan.
"Ganti pakaian mu, cepat!" Risa menarik handle pintu dan menutup kencang, Hoon sampai melonjak kaget.
"Buruan!!" gusar Risa kesal.
Apa yang salah dengan penampilan ku? tanya Hoon pada cermin. Bukankah kemeja cream, blazer lengkap dengan dasi kupu kupu adalah terbaik. Bahkan celana tailor ini sampai berjamur di koper.
"Pakai baju biasa saja, jangan lebay!" teriak Risa dari balik pintu. Hoon mengangkat bahu, tak mengerti. Walau begitu dia menurut juga. Hoon mengganti pakaiannya dan segera keluar.
"Ayoo.." ajak Hoon sambil memutar kontak mobil di jarinya.
"Hoon, tidak kah kau punya baju yang normal?" tanya Risa jelas menyindir. Hoon menghentikan langkah, dia berbalik, alis nya bertaut, Hoon kesal.
"Maumu apa sih, formal salah, casual salah!" gusar Hoon "Aku tak usah pakai baju sajalah!" dengan menarik ujung kaos seolah membuka baju, kelakuan Hoon membuat Risa merinding.
"Kau gila ya!" cibir Risa, dia masuk ke kamar Hoon, membuka lemari. "Jangan pakai celana robek mu di depan orang tua ku, jangan pakai anting mu di depan orang tua ku, dan jangan menggunakan makeup!!" suara Risa berteriak gregetan. Dia berusaha menahan kesal.
Risa melemparkan celana bahan hitam dengan kemeja warna senada ke kasur.
"Cepat ganti pakaian mu!" pinta Risa. Hoon menurut dengan wajah mencibir.
__ADS_1
"Cepatlah!!" Rengek Risa, Hoon membuat Risa kesal tapi juga sedih. Menghadapi Hoon memerlukan stok sabar tak terhingga, itu yang membuat Risa sedih.
"Ah!" wajah Hoon seketika berubah ceria "Kau memilih warna ini agar senada dengan kaos mu?" goda Hoon, dia mendorong pundak Risa dengan bahunya. "Harusnya kau bilang dong, sayaang.. ayo pakai baju samaan.." ujar Hoon dengan nada manja yang dibuat buat. Risa mengelus permukaan kulit tangannya, dia merinding melihat kelakuan Hoon.
"Jangan gila dong!" hardik Risa meninggalkan Hoon. Dia segera keluar apartemen, bersiap pulang ke rumah orang tuanya. Terserah Hoon mau ikut atau tidak! daripada ikutan gila, begitulah kira kira pikiran Risa.
"Heiii!! tunggu doong!!"
***
Kompleks perumahan di kota kecil pinggir ibukota.
"Bu, katanya mau kenalin calon mantu, kapan bu?" ujar bu Tatik dengan lirikan maut, dia berusaha mengorek tetangganya yang sedang sibuk melayani pembeli.
"Bu Tatik mau berapa bungkus bu?" tanpa menjawab pertanyaan bu Emi menanyakan pesanan bu Tatik.
"tiga aja bu, sambelnya banyakin yaa.." pinta bu Tatik, bu Emi mengangguk ramah.
"Oiya bu, bawang goreng nya banyakin juga yaa.." bu Emi mengangguk lagi mendengar permintaan bu Tatik.
"Eh ibu Emi, uda di sini aja!" bu Eneng ikut bergabung.
"Paaaakk!!" teriak bu Eneng dibalas lambaian tangan oleh suami bu Emi.
"Bu, saya mah sama si bapak aja ya, soalnya isinya lebih banyak!" pinta bu Eneng sambil menyenggol bu Tatik, keduanya menahan senyum dan saling berbisik. Bu Emi memaksakan senyum dan menggantikan suaminya menggoreng di belakang.
"Pa, bungkus tuh, ada langganan papa!" ujar bu Emi dengan wajah tersenyum ramah padahal dalam hati dongkol.
"Eh si bapak, mau ya pak, lima bungkus pake telor lengkap ya pak!" pesan bu Eneng. Pak Bambang suami ibu Emi segera menyiapkan pesanan pelanggannya.
"Eh, kapan atuh calonnya dateng, katanya mau dikenalin!" ujar bu Eneng sok ramah.
"Iya, penasaran pengen liat orang asing kaya apa sih!" sambung bu Tatik dengan wajah yang sangat amat penasaran. Pak Bambang tersenyum ramah.
"Hari ini, bentar lagi juga sampe!" jawab pak Bambang dengan wajah gembira. "Maah!! neng Risa lagi di jalan kan ma!" Teriak pak Bambang ke dalam rumah. Bu Emi yang mendengar seruan pak Bambang hanya mendengus kesal. "Si papa, ngapain ngeladenin biang gosip ih!" kesal bu Emi.
__ADS_1
"Kalo orang asing mah bule atuh ya!" ujar bu Eneng melirik bu Tatik, keduanya mengangguk angguk setuju.
"rambutnya pirang dong!"
"matanya warna apa pak Bambang? nanti cucunya pasti cuakep dong!" pak Bambang hanya cengengesan mendengar kalimat tetangga nya.
"Saya juga belom ketemu bu, jadi ga tau" jawab pak Bambang, jawaban itu membuat bu Tatik dan bu Eneng melongo tak percaya.
"Ari bapak belum pernah ketemu? kenapa atuh!" sahut bu Eneng dengan wajah penasaran.
"Harus ketemu dulu pak, solpnya denger denger nikah sama bule tuh - gimana gitu!" sambung bu Tatik dengan raut wajah dibuat aneh, dia juga sedikit mengangkat bahu.
"Kenapa gitu bu?" pak Bambang jadi ikut penasaran.
"Ya gitu pak--"
"gitu gimana Tik, kalo ngomong teh yang jelas atuh!" ketus bu Eneng sudah terlanjur penasaran. Bu Tatik mendekat kan kepala, membuat pak Bambang dan bu Eneng memasang kuping.
"Katanya bule kalo nikah sama orang kita paling cuma di jadiin simpenan doang" bisik bu Tatik membuat bu Eneng melotot tak percaya, berbeda dengan pak Bambang, air wajahnya langsung berubah datar.
"Katanya cuma buat senang senang, paling yang mau sama orang kita teh, bule tua atau cuma buat hura hura doang" sambung bu Tatik, bu Eneng mengangguk angguk setuju.
"Gelo ya.." gumam bu Eneng. Pak Bambang meringkas pesanan tetangganya. Baru saja bu Tatik dan bu Eneng hendak meninggalkan kios uduk keluarga Risa. Mobil sedan berwarna merah berhenti.
Risa keluar dari mobil dengan beberapa tas belanjaan.
"Eta anak bapak?" tanya bu Eneng, pak Bambang mengangguk "Geulis pisan.." puji bu Eneng takjub. Bu Tatik menyenggol bu Eneng ketika Hoon membuka pintu mobil dan menyusul Risa.
"Eh, itu calonnya.." bisik bu Tatik
Pak Bambang memanggil bu Emi, mereka berdua segera menghampiri Risa. Risa memeluk erat kedua orang tuanya. Dari raut wajah mereka sangat jelas bahagia.
"Itu mah bukan bule ya, orang cina!" ketus bu Tatik menahan volume suaranya.
"Eh, iyaya, tapi ganteng"
__ADS_1
"Tapi itu mah bukan bule atuh, itu mah orang Cina!" bu Tatik tetap kekeuh dengan pendapatnya. Bu Eneng menarik daster tetangganya.
"Hayuu ih pulang!" ajak bu Eneng, meski mereka berjalan meninggalkan kios keluarga Risa, sesekali keduanya tetap mencuri curi lihat ke arah Risa dan Hoon. Risa menggaris senyum menyapa kedua tetangga rempongnya. Ris, kau akan menyesal jika tahu apa isi mulut mereka nanti.