Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
AKdML-2. Lelah


__ADS_3

Masih di acara penginapan sekolah internasional


"Hey, kenapa kau tak ikut turun tadi? Kemana leo?" Alex mengedarkan pandangan. Suara berisik dari arah kolam membuat Alex menoleh dan mendapati gadis gadis bersama leo yang bermain gitar, dia akan bergabung, begitulah pikirannya. dia akan melangkah keluar mendekati gadis gadis bersama dua pria di tepi kolam.


"Aish, kalian kompak memonopoli gadis gadis ya!" desis Alex, maksudnya RI dengan Leo? hanya Leo bersama yang lain di luar sana yang menikmati malam, jelas saja RI menautkan alis tak setuju.


"Terserah saja, aku akan kesana-- oiya, apa kau mau makan sesuatu? Aku akan meminta Minji memasak!" RI mempertajam tatapannya mendengar ucapan Alex.


"Bukankah ini sudah terlalu malam?" suara RI tak enak di dengar.


"Tenang saja, aku mengeluarkan uang lebih dan Minji menyukainya!" Ujar Alex menepuk pundak RI kemudian menyusul yang lain di tepi kolam. RI menatap punggung Alex kesal.


"Uang lebih katamu? Aku bahkan bisa memberikan sepuluh kali lipat agar kau tak menyuruh nyuruhnya!" Gerutu RI kesal. Dia mencuri lirik ke arah dalam Vila, dia menahan suaranya agar tak ada yang bisa mendengar suara gerutuan kesal dari bibirnya.


***


Di dalam villa tepatnya di dapur.


Minji mengeluarkan bahan yang dia bawa. Dia memeriksa isi lemari es, dan memikirkan apa yang akan dia masak malam ini, sekedar kudapan pengganjal perut karena nona nona cantik, kaya di luar sana tak menyukai bobot tubuhnya bertambah, tapi cuaca dingin membuat mereka ingin camilan, bukankah itu tugas yang sulit?


Jordi berdiri di belakang Minji, berharap gadis itu membutuhkan bantuannya. Tapi Minji sepertinya sibuk sendiri, dia mengabaikan keberadaan Jordi yang berniat baik padanya.


"Ah, jadi kau si gadis itu!" Suara Mila bersama Alicia mengejutkan Minji dan Jordi. Keduanya kompak menoleh ke arah suara centil dan renyah yang mendekat.


"Ah iya, namaku Minji" ujar Minji sopan. Dia sedikit membungkuk, memperkenalkan diri seadanya saja, bukankah mereka kurang lebih sebaya?


"Dia terlihat biasa saja, memang Alex seleranya payah!" Bisik Alicia dan Mila setuju. Jordi menyimak obrolan mereka dengan mendekap kedua tangan di dada. Sementara Minji nampaknya tak mendengar, gadis itu sudah sibuk di belakang meja dapur.


"Ah, apa kau bisa membuatkan orange squase?" Pinta Alicia melangkah ke dapur, dia menopang dagu di meja dapur, membungkuk pada meja bar, dimana Minji sibuk di balik meja itu. Alicia nampaknya penasaran dengan kemampuan Minji, dia memperhatikan kegiatan Minji.


"Mungkin se-cup puding lowfat juga bagus!" Mila ikut ikutan menghampiri Minji, menarik satu kursi dan duduk di sebelah Mila yang menopang dagu dengan kedua telapak tangannya.


"Ah, kalian disini rupanya!" Suara Alex mengejutkan dari arah depan sana.


"Alis, Mila, perkenalkan namanya Minji!" Alicia dan Mila kompak bangun dari meja dapur, mereka mendaratkan bokong di sofa, pindah tempat dari meja bar, kedua gadis cantik itu menghampiri Jordi dan Alex yang lebih dulu mendaratkan bokong di sofa.


"Yaa.. kami sudah berkenalan." Ujar Alicia menatap Minji tajam, tatapan angkuhbyang menyebalkan.


"Jadi dia gadis tidak biasa yang kau katakan!" Sinis Mila, Alicia menyukai ucapan sinis temannya itu, tentu sajalah. Alex mengangguk dan tersenyum lebar, dia tak paham sarkasme ya!


"Cocok dengan seleramu!" Ujar Mila diakhiri tawa kecil, tawa meledek tentunya. Kedua gadis itu meninggalkan ruangan dan kembali mendengarkan suara merdu Leo di tepi kolam dengan obrolan mereka yang terdengar samar, sepertinya bergunjing perihal gadis luar biasa pilihan Alex. Sementara Alex hanya mengangkat bahu tak paham dengan maksud ucapan sinis dua gadis cantik tadi.


"Ah Minji, bisa kau buatkan kami ramen? Sepertinya perutku lapar," ujar Alex dengan wajahnya dibuat meringis seakan sedang menahan lapar akut. Minji mengangguk mengerti. Jordi bangkit dari duduknya, dia menghampiri Minji di dapur.


"Biar kubantu," ujar Jordi pelan seperti berbisik tapi Minji bisa mendengarnya. 


Alex kembali ke luar dan berpapasan dengan RI yang menyenderkan bahu di sebuah rak pembatas ruangan. Sejak kapan dia sudah berdiri di sini?

__ADS_1


"Kau ngagetin!" Ketus Alex memegang dadanya, dia nampak sangat ketakutan karena keberadaan RI. "Kau sedang apa disini?" Tanya Alex menggeleng tak mengerti. Dia tahu kalau RI tidak begitu menyukai keramaian dan berisik, tapi menyandar pada lorong ruangan yang di terangi cahaya temaram bukankah horor?


"Kau sebaiknya jangan terlalu sering menyendiri!" Alex meninggalkan RI. Mata RI menatap sinis punggung Alex. Dia beralih ke arah dapur dan lebih sinis lagi melihat Minji dan Jordi yang kompak memasak, mereka berdua bahkan terlibat obrolan santai.


"Dia bahkan sempat sempatnya tersenyum!" RI menggenggam keras botol yoghurt di tangannya. Kesal. Haruskah dia bergabung? RI terlihat berpikir. Sebaiknya tidak.


Minji menyiapkan ramen pesanan Alex, puding dan jus pesanan para gadis. Dia cukup cekatan. Dia sudah biasa melayani berbagai tamu yang berkunjung di resto kecil keluarganya.


Jordi mengambil wortel telur dan mencoba membuka cangkangnya dengan hati hati.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Minji bingung melihat Jordi mengupas perlahan kulit telur mentah.


"Membuka telur," jawab Jordi polos, Minji tertawa lucu. Dia mengambil telur dari tangan Jordi dan mengetukkan pada pinggi kitchen bar, dan tak! begitulah membuka telur Jordi! Pria itu tersipu malu dan tertawa. Minji juga ikut tertawa, Jordi cukup menghiburnya.


RI mengepalkan tinju, dia menepuk kesal tembok di sisinya, bisa bisanya mereka tertawa! "Au, sakit!" Dia meringis sendiri.


"Apa kau dengar suara?" Tanya Minji menajamkan telinga. Jordi mencoba menghentikan kegiatannya, dia mulai ikut menyimak.


"Hanya suara anak anak di luar" ujar Jordi yakin. Minji mengangguk angguk setuju. 


"Mungkin hanya perasaanku saja!" Minji melanjutkan pekerjaannya.


"Mereka berdua terlihat menggelikan!" Ujar RI merinding. Dia ingin kembali ke kamar untuk menghindari Minji, tapi karena kamarnya berada tepat di samping pintu dapur membuat RI bingung. Dapur terbuka yang di desain ala bar itu jelas sekali bisa mengekspos dirinya. Sebenarnya dia ingin melihat Minji, tapi tamparan tadi siang masih membekas di hati RI. bawaanya kesal melihat wajah Minji di dapur sana, apalagi saat mereka, Minji dan Jordi bersanding berdua seperti itu. ah, mereka membuat RI kesal sendiri.


"Bodo ah!" RI berjalan cepat melintasi dapur, menuju ke kamarnya.


"Kau mau kemana? Apa kau mau makan sesuatu?" RI menggeleng kecil menjawab pertanyaan Jordi. Tingkah RI membuat Jordi heran, ada apalagi dengan temannya ini.


"Minji, kau lanjutkan dulu ya, aku akan kembali sebentar lagi" Minji membalas dengan senyum.


"Biar aku kerjakan, kau silahkan kembali pada temanmu" balas Minji


dia tak ambil peduli dengan teman teman Jordi. Paling mereka sama saja, anak anak orang kaya yang sombong. Bahkan ditambah lagi mesum! Seperti pemuda yang dia temui di bukit. Minji melanjutkan memeras jeruk.


Jordi merangkul bahu RI, dan mengajak temannya itu duduk di sofa, yang menghadap pas ke arah Minji memasak. RI menautkan alis dan menatap lantai. 


"Kau kenapa?" Jordi terdengar membujuk


"Sesuatu terjadi pada keluargamu? Apa bibi dan pamanmu bertengkar lagi?" RI tak menjawab. 


Berhentilah banyak bertanya dan biarkan aku ke kamar! Batin RI berontak. Dia tak bisa terus lama lama duduk disini, dia belum siap bertatapan langsung dengan Minji.


"Hey, aku mengkhawatirkanmu!" Suara Jordi cukup keras dan menyita perhatian Minji di dapur.


Gadis itu perlahan mengangkat kepala dan mencuri lirik ke arah sofa dimana Jordi dan RI terlibat obrolan.


"Hey!"

__ADS_1


 


RI putus asa dengan perhatian Jordi, dia mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arah temannya itu.


"Apa!" Sambar Jordi membalas tatapan tajam RI.


"Kau ini, aku baik baik saja, berhentilah bertingkah berlebihan. Sikapmu itu justru membuatku cemas. Kau ini teman atau asistenku sih!" Kalimat panjang RI membuat Jordi tertawa kecil, kalau mendengar suara ketus RI menjelaskan jika dia baik baik saja. Itu yang membuat Jordi senang.


"KAUU!!" Jika Jordi senang tidak dengan Minji ataupun RI.


Suara Minji mengejutkan RI dan juga Jordi, keduanya menoleh kompak ke arah minji. Gadis itu jelas terkejut, RI bangkit dari sofa dan berlari ke dapur sebelum Minji melanjutkan kalimatnya.


"Ka,kau si, si mes--" RI segera menutup mulut Minji, dia meminta gadis itu jangan melanjutkan kalimatnya. Minji berusaha melepaskan tangan RI, tapi pemuda itu tak menyerah.


Alicia, Mila, salsa dan Keira bersama Alex juga Leo masuk, mereka kompak melongo heran ke arah dapur.


"Ada apa!" Tanya Alicia dengan wajah kesal, begitupun dengan gadis yang lainnya. 


Minji menarik tangan RI, dan pemuda itu melepaskan dekapannya. Dia merangkul pangkal.lengan Minji dan mendekatkan tubuh mereka, RI berbisik


"Jangan katakan apapun!" Ancamnya, jarak wajah mereka begitu dekat. Minji hanya bisa mematung menyadari suara pelan RI terdengar berat di telinganya. Belum lagi telapak tangan RI yang mencengkram pangkal.lengannya, Minji melirik dengan tatapan canggung.


"Wah Alex lihatlah wanitamu!" Seru Keira mengejutkan semuanya.


"Dia sungguh pintar memilih pria!" Tuding Keira panas. 


"Bukan kau, bukan Jordi ataupun Alex!" Ketus Hani


"Tapi Jung RI!" Ujar gadis itu dengan mata berkilat panas.


"Apa kau tak tahu, kalau RI itu pangeran sekolah kami!"


"Tak boleh ada gadis yang memonopoli nya! Dan siapa kau!"


"Kau harus sadar dimana tempatmu!" Dengus yang lainnya. Mereka kompak mengintimidasi Minji.


Minji menggoyangkan badannya menepis dekapan RI, dia melangkah sedikit menjauhkan tubuhnya dari dada RI, tentu saja semua akan salah paham melihat situasi ini, Minji menghela nafas berat.


Di bawah meja dapur, RI menjangkau telapak tangan Minji, dia mendekap erat telapak tangan gadis itu. Minji hanya bisa membesarkan mata tak mengerti. Telapak dingin dan berkeringat RI seakan menuntut pengertian Minji.


Apa dia gugup? Minji menduga duga dalam hati. Memang tatapan teman temannya sungguh menyiksa, Minji tak bisa berpikir seandainya dia yang memiliki teman teman aneh seperti ini, mereka itu tak pantas dikatakan teman.


Tapi bukan. RI mengkhawatirkan Minji! Dia bukan memikirkan dirinya.


"Apa kau baik baik saja?" Tanya RI berbisik pada Minji. Nada suaranya terdengar cemas.


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2