Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Tidak mau menikah


__ADS_3

Risa sudah tidak bisa menunggu waktu lagi. Dia segera berlari mencari kamar yang dituju. Hoon menunggu di luar ruangan yang dibatasi dengan dinding kaca. Mendengar derap langkah yang semakin mendekat Hoon membalikan badan.


"Risa!" serunya dengan wajah terkejut


"Apa yang terjadi denganmu!" Risa memeriksa pergelangan tangan kekasihnya, ada plester di sana.


"Risa.." suara Hoon terdengar parau. Risa tak mau bertanya tanya lagi, dia meneliti box bayi di dalam ruang rawat. Matanya nanar dan terus meneteskan air mata. Risa menutup mulutnya dengan kedua tangan matanya terbelalak tak percaya. Apa yang terjadi dengan baby Ri. Badan Risa seketika lemas. Hoon meraih tubuh wanita nya dan mendekap erat.


Emi dan Bambang menyusul di belakang. pria paruh baya itu menyorot tajam kepada sosok pria yang memeluk putrinya. Dadanya bergemuruh seakan siap meledak. Dia sudah menduga siapa sosok itu. Tapi dia butuh memastikan langsung, Bambang semakin mendekati mereka. Dan benar saja, pri ini lagi!


Bambang menarik Risa dengan paksa. Melepaskan pelukan mereka.


"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI!!" Sungut Bambang dengan penuh kebencian, Emi memeluk putrinya.


Hoon menyadari tatapan penuh kebencian itu dia menunduk, Hoon mengakui kesalahannya di masa lalu, Hoon menyesali kecerobohan yang begitu bodoh!


"Kenapa kau ada disini!!" Tuding lambang mengacungkan telunjuk di depan wajah Hoon. Risa tak mungkin bisa membela Hoon. Risa tak berani menyanggah ucapan papanya.


Hoon pun tak berani membalas ocehan Bambang.


"Risa, ada apa sebenarnya ini! Apa yang kau sembunyikan di belakang kami!" Sekarang giliran Risa, yang di acungkan jari.


"Pah, maafkan aku pah.." lirih Risa mengharapkan pengampunan dari Bambang.


"Kau ini!! Lihat apa yang telah kau lakukan! Apa kau siap kehilangan anakmu! Kau selalu saja ceroboh.." Bambang tak bisa lagi menahan emosinya, bisa memang terlalu sering bertindak dengan hati hingga terkadang melewati logikanya.


"Lihatlah kita jadi terlibat urusan seperti ini! Sadarlah kita hanya orang biasa, kenapa kita harus terlibat dalam urusan skandal besar seperti ini, lah kan kita tidak mengerti apa yang sedang kita injak saat ini, apakah itu tanah, lumpur, atau kotoran!" Risa hanya bisa menerima ocehan Bambang. Mau bagaimana lagi, dia memang memulai semuanya.


Dokter keluar dari dalam kamar rawat bayi RI. Melihat ekspresi wajahnya yang menggaris senyum, apakah ada kabar baik?


"Bagaimana dok?" Sambar Risa, menyambut dokter keluar dari pintu.


"Sudah lebih baik nyonya, syukurlah tuan Jung memiliki golongan yang sama dengan bayi Ri" Apa!! Apa maksudnya semua ini, jadi golongan bayi Risa sama dengan golongan darah Hoon?


"Dokter, harusnya aku yang memberikan darah untuk cucuku, aku juga sangat sehat dok!" Ujar Bambang membuat dokter tersenyum.

__ADS_1


"Bapak golongan darahnya apa pak?" Tanya dokter dengan tenang


"Golongan saya A pak!" Sambar Bambang cepat dengan penuh percaya diri.


"Tidak bisa pak, golongan darah bayi RI itu O" jelas dokter sambil berlalu, dia meminta Hoon melanjutkan pembicaraan dan beberapa administrasi yang harus diselesaikan.


Bambang menatap nanar kearah putrinya. Apa maksud semua ini! Kenapa cucunya memiliki golongan darah O?


"Apalagi yang kau sembunyikan? Kenapa cucuku tidak sama golongan darahnya dengan kita? Dia malah sama dengan si brengsek yang telah menelantarkanmu!!" Pukas Bambang menuntut penjelasan.


Risa semakin panik. Mungkin ini sudah saatnya..


***


Eun dan nyonya Mei masih terlihat panik. Dokter belum juga selesai melakukan operasi. Eun hanya bisa terduduk lemas menanti lampu ruang operasi berubah warna.dia sangat takut jika hal buruk terjadi pada Kai. Dia terus berdoa memohon entah pada siapa, sepertinya dia menyebut semua nama Tuhan yang ada di dunia ini.


"Bagaimanapun kami memanggilmu aku mohon selamatkanlah Kai" gumamnya terus menerus dengan mata terpejam.


Direktur Mei tidak bisa meninggalkan Kai. Tapi dia memiliki tanggung jawab yang lain.


"Eun, apakah kau bisa menemani Kai di sini?" Wajah direktur Mei terlihat begitu memelas. Ada banyak keresahan yang menghampirinya.


"Eun, aku harus melihat keadaan Glen, pemuda itu tidak memiliki siapa-siapa.." ucapan direktur Mei membuat Eun terdiam. Kenapa dia harus peduli dengan pria itu. Kenapa direktur Mei masih memikirkan pria itu, bahkan kini terbaring di ruang operasi bukankah itu karena niat buruk Glen. Dia menghancurkan semuanya. Dia  merusak semuanya.


Direktur Mei menyadari tatapan tak suka Eun. "Eun, bagaimanapun juga dia adalah korban dari rahasia pernikahanku, beban sosial yang aku tanggung sungguh membuat aku serba salah. Setidaknya kini aku masih punya kesempatan untuk sedikit memperbaiki nya" Eun tak bisa mengetik dengan ucapan direktur Mei. Pada akhirnya Eun mengangguk, dia mempersilakan direktur Mei meninggalkannya.


"Aku titip Kai padamu.." Eun mengangguk sekali lagi.


***


Hoon kembali, kini tak ada senyuman yang menyambutnya. Hoon memahami itu. Risa pun tak berani menatap wajah kekasihnya, dia takut membuat Bambang murka lagi. Risa sudah berusaha menjelaskan, tapi sepertinya sulit untuk menerima kehadiran Hoon kembali di antara tengah-tengah keluarga mereka.


Hoon hanya ingin melihat bayinya. Dia tak berani memalingkan wajah, dia tak bisa terus-terusan seperti ini. Hoon menjatuhkan dirinya, kali kedua untuk hari ini, pria itu berlutut demi anaknya. tak peduli lagi harga diri, dia hanya ingin bisa diterima kembali.


"Apa yang kau lakukan!" seru Risa segera menghampiri kekasihnya, Risa ikut berjongkok di sebelah Hoon.

__ADS_1


"Appa aku tahu aku sangat salah, aku tahu aku sangat bodoh. aku tidak pantas untuk maafmu. aku mohon maaf.." Dengan bersujud dan suara yang gemetar, Hoon memohon maaf kepada orang tua Risa.


Risa tak bisa berkata-kata, dia bingung harus bagaimana. Kenapa Hoon harus melakukan semua ini, dia bukanlah orang biasa, pasti sangat sulit melakukan hal ini! Risa melipat kaki, dia mengikuti gerakan Hoon. Risa ikut bersujud di hadapan orang tuanya. membuat Bambang tersenyum sinis. Sementara Emi berkaca-kaca, mana mungkin hatinya tidak tersentuh.


"papa maafkan aku, aku telah berbohong kepadamu, aku telah mengecewakan kalian, dan aku menyembunyikan semuanya.." gumam memeriksa lirih. Hoon mengangkat kepala, dia segera meraih bahu Risa, dia tak mau Risa melakukan apa yang sedang dilakukan. Risa menolak, dia menghempas telapak tangan Hoon.


"biarkan aku juga melakukannya, ini semua kan bukan salahmu saja.." gumam Risa.


lihatlah tingkah pasangan dibawah sana, membuat bulu kuduk Bambang meremang. Apa yang sedang mereka lakukan sih! kalian ini sungguh-sungguh, sangat pintar memainkan hati dan perasaan orang tua.


"bangunlah!" ujar Bambang ketus. Hoon masih enggan. Risa melirik kearah Hoon, wanita itu sudah ingin bangkit, tapi kenapa kekasihnya masih bertahan pada posisi seperti itu.


"Hooon.." bisik Risa. Hoon tak peduli, dia masih butuh pengampunan dari orang tua Risa.


"kau tak akan bangun!" ketus Bambang sekali lagi.


"kalau begitu bersujud saja seumur hidupmu!" lanjutnya sinis. "karena aku akan mengadakan pesta pernikahan untuk putriku.." Risa langsung beranjak dari posisinya.


"Maksud papa apa!!" Risa memberontak. bagaimana mungkin Bambang merencanakan pernikahan tanpa berdiskusi dulu dengan dirinya.


"aku tidak mau menikah!" Risa melipat tangan di dada, tentu saja dia tidak akan mau menikah, apalagi dengan pria pilihan Bambang.


"wah, sayang sekali. padahal baru saja tanpa berpikir untuk menikahkan kalian!" ujar Bambang santai sambil menunjuk arah Hoon yang masih bersujud. Emi menahan cengiran, dia mengikuti langkah suaminya ke dalam ruangan baby Ri. sekarang bayi mungil itu sudah bisa dibesuk dan sudah mampu garis senyum.


"AAPAA!!" Hoon dan Risa berteriak kompak. apa mereka tak salah dengar? barusan..


***


terima kasih yang masih membaca


makasih yang udah kirim start vote


terima kasih yang masih setia meninggalkan komentar dan review


semoga kita sehat semua

__ADS_1


semoga kita banyak rezeki


and how lovely you are


__ADS_2