
POV Eun Jung
Saat itu Eun masih mengenakan seragam sekolah.
Kai adalah sahabatku, kami sudah lama berteman. Dia sering bermain di rumahku. Aku belum pernah bertemu ayahnya, tapi ibunya bekerja di rumahku. Dia dan ibunya sering keluar masuk di rumah ku. Dan aku tak pernah keberatan, bagiku Kai adalah teman yang baik. Meski dia sempat menghilang saat mama meninggal. Bibi itu dan Kai tak pernah datang hingga beberapa lama. Padahal aku berharap kau ada bersama ku, kau mendengarkan ceritaku tapi nyatanya kau tak datang untuk menghiburku.
katamu akan membuatkan rumah pohon untukku.
katamu akan menjadikan ku istri mu
katamu kau akan sukses seperti papa dan membuat keluarga ceria seperti keluarga ku
Kau bohong!
kau malah menghilang.
Glen membuka pintu kamarku, dia melemparkan senyuman sambil menaruh sepiring buah.
"Apa kau sedang belajar?" Aku mengangguk pelan.
"Mau aku bantu?" aku mengangguk lagi menerima tawaran Glen.
"Aku baru saja dari ruangan papa" ujar Glen, aku hanya menyimak saja.
"Aku melihat seorang wanita bersama anaknya, dia memiliki senyum yang ceria" mendengar kalimat Glen membuatku segera menutup buku.
"Kau melihatnya dimana?" tanya ku bersemangat.
"Di ruangan papa" Tanpa menunggu lagi aku langsung berlari turun. Itu pasti Kai, aku yakin itu pasti Kai! Akhirnya setelah berapa lama kau menghilang. Aku sangat merindukanmu. Kau juga merindukan ku kan!
__ADS_1
"Kaiiii!!" Aku berteriak menuruni anak tangga, memanggil namamu. Ah kau pasti tak mendengarku kan, ruangan ini sangat luas. Aku melangkah perlahan menuju ruangan papa. Aku pikir akan seru jika mengejutkan mu, aku ingin melihat bibirmu yang menggaris senyuman lebar.
Aku membuka pintu ruang kerja papa dengan hati hati. Aku berharap bisa mengejutkan mu. Tapi malah aku yang terkejut.
Aku melihat papa memeluk ibumu, papa menghapus air mata ibumu. Apa itu! Membuat dadaku terasa sesak dan takut. Apa yang papa dan ibumu lakukan? kenapa mereka saling berpelukan? kenapa mereka hanya berdua di sini? Kenapa bibi ada di sini. Papa menuntun ibumu duduk di sofa, dia menuntun dengan hati hati. Aku hanya bisa terpaku diam, tenggorokanku tercekat sakit. Apa yang papa lakukan! Apa yang mereka lakukan! Aku tak sanggup melihat adegan selanjutnya. Hanya rasa sesak yang terus berdesakkan, membuat mataku kian panas. Sejak kapan mereka melakukan semua ini, sejak kapan papa selingkuh? apa sebelum mama tiada? Apa Kai mengetahui semua ini! Kai dan ibunya terlalu sering keluar masuk rumah ini.
Aku segera meninggalkan ruangan itu. Dadaku sangat sakit melihat adegan tak senonoh itu. Aku tak bisa membendung semua perasaan sakit di dalam hatiku. Jadi selama ini, setiap kau dan ibumu kesini. Ternyata!! aku bahkan tak bisa mengucapkannya. Bahkan sebelum mama meninggal, bibi itu sudah masuk ke rumah ini.
BRAK!!
Aku berlari tak melihat jalan. Kau menuntunku bangun. Saat itu lututku berdarah terkena sudut tangga. Kau menuntun pundakku. Kau bertanya padaku, kau cemas dengan keadaanku. Kau seakan peduli dengan perasaanku.
"Ada apa Eun?" Kau bertanya seolah tak tahu. Kau tak tahu atau pura pura tak tahu! lihatlah tatapan nanar ini.
"Kau menangis?" Aku menepis tanganmu yang menyentuh pipi ku. Kau tak terima? kau kesal. Sama! aku juga kesal, aku juga tak terima!
"Kau lihat!" bisik ku di telingamu, panas, sepanas telingamu yang memerah, sepanas air mataku yang terus tumpah. Sepanas perasaanku yang ingin meledak.
"Apa kau lihat! apa kau lihat semua itu!"
"Apa kau tahu semua ini Kai?" kau yang tertunduk dan diam membuatku mengerti. Apa artinya kau tahu semua ini? apa artinya kau menyimpan semua ini! Aku kecewa padamu.
"Kai, aku membencimu!" bisikku saat itu, tapi kau tak terima. Kau tetap membujukku, kau berkali kali meminta perhatianku. Kau bahkan memohon padaku, kau ingin tetap menjadi temanku, MIMPI! kau harus bangun dari mimpimu!
"STOP! hentikan Kai.." kau mendengar suara serak ku kan. Bahkan suara pun sudah tak bisa lagi keluar.
"Aku membencimu.." Kau menjangkau pergelangan tanganku, walau berkali kali aku coba melepaskan, kau semakin mengeratkan. Aku sudah membencimu Kai! aku sangat membencimu!
"Lepaskan Eun!" suara Glen hadir diantara cengkraman tangan Kai, diantara isak tangisku yang terus menjadi. Aku berlari ke dalam pelukan Glen. Ke dalam pelukan hangat Glen. Memang hanya Glen yang mengerti aku. Memang hanya Glen yang selalu ada bersama ku. Memang hanya ada Glen!
__ADS_1
Glen menuntunku kembali ke kamar.
PRAAAANGG!!
Aku menyapu habis atas lemari riasku, membiarkan semuanya hancur, seperti perasaanku. Papa yang begitu mencintai mama! bullshit!! baru sebentar saja papa sudah melakukan hal itu!! Aku mengingat apa yang aku pegang saat itu, sebuah ponsel. Aku melemparkannya hingga kaca kamar hancur berkeping keping. Hancur seperti perasaanku.
Suara ketukan pintu di luar sana semakin memainkan emosi ku. Aku semakin lepas kendali. Aku membenci rumah ini!!
"Euuun.." hanya suara lembut Glen yang menyadarkanku. Dia mengambil tanganku, membersihkan noda darah yang menetes hingga ke karpet. Glen mencium, mengecap dan menjilat darah yang keluar. Dia membersihkannya dengan bibirnya, dengan lidahnya.
"Tenanglah.. tenanglah.." Glen memelukku erat. Wangi parfumnya. Aroma tubuh Glen, semua membuatku seakan tenang, seakan menurunkan tensi emosi di dalam dadaku.
"Tak ada yang sempurna Eun, hanya kau saja, hanya kau saja yang sempurna" bisik Glen membuatku mengangguk setuju.
Saat itu aku masih mengenakan seragam sekolah, Glen sudah kuliah. Saat itu aku sangat kacau. Saat kami memulai hubungan lebih dalam. Saat aku tersadar aku sudah berada dalam dekapan Glen, aku berusaha menenangkan diri dalam pelukannya. Berusaha menerima kenyataan hidup, aku yakin ada Glen dalam setiap masalah hidupku, dia akan terus bersama denganku.
"Aku selalu bersama denganmu" bisik Glen ditelingaku. Dia menanggalkan semua seragam sekolahku, dia menanggalkan pakaiannya. Hanya dengan Glen dalam diriku, semua terasa lebih tenang. Glen adalah obat ku.
***
"Euun.." Kai masih berusaha mengetuk pintu, Eun tak peduli, dia mengunci kamarnya, hanya ada Glen yang menemani. Kai bersandar lemas di depan pintu, dia berharap Eun memberinya kesempatan, dia berharap Eun masih mau berteman. Sudah berapa hari dia berharap bertemu lagi dengan Eun. Tapi malah jadi seperti ini. Kai menahan kelopak matanya yang memanas.
"Aaahh…aaa.." Kai seakan tak mengerti dengan suara erangan dan desahan dari dalam kamar Eun, dia seakan tak mendengar. Kai menutup kedua telinganya. Dia menarik kedua kakinya merapat di dada. Kai tak mau mendengar. Tak ingin percaya. Dia menangis. Kai kali pertama menangis untuk persahabatannya dengan Eun. Untuk persahabatan yang tak akan pernah ada lagi.
Bersambung..
jangan lupa star vote! komen! review bintang5 dan hadiahnya yaaa..
Siapa kangen Risa cung!
__ADS_1