Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Salah tingkah


__ADS_3

Pelayan mengangkat koper Glen, koper kecil berwarna hitam dengan label ternama, ah dia memiliki berangkas barang yang sama dengan Hoon, pantas saja dia keliru memasukkan barangnya tempo hari. Glen menatap kopernya dan mengerti mengapa benda yang selama ini dia cari tak kunjung ketemu. Itu artinya ponsel yang sama dengan Risa terbawa di dalam koper Hoon. 


"Sayang, apa kau baik baik saja?" tanya Eun mendarat di dada Glen, dia memeluk suaminya dengan pakaian tidur berbahan mengkilap berwarna rose. Belahan dadanya menyembul berbalap bra berenda hitam. Biasanya dia jarang menggunakan bra, tapi karena pagi ini dia sudah harus keluar mengantar Glen hingga teras depan, Eun memakai bra renda dengan desain aktris ternama hollywood.


"Aku yang seharusnya bertanya, apa kau akan baik baik saja di sini?" Glen balik bertanya pada Eun, meski ragu akhirnya wanita itu mengangguk saja.


"Katakan padaku jika ada yang mengganggu" lanjut Glen kemudian, "iya.." balas Eun dengan suara pelan. Dari wajahnya jelas Eun sedikit keberatan dengan perpisahan mereka kali ini. Tapi Glen sangat berusaha meminta pengertian Eun agar dia menyelesaikan sisa pekerjaan di Indonesia, lagipula Glen penasaran dengan Hoon, apa yang pemuda itu lakukan disana.


"Kau tak usah memikirkan bocah itu terlalu dalam, dia hanyalah anak manja yang akan selalu manja" balas Eun tadi malam.


"Tapi sayang, Hoon adalah keluarga kita. Kau dan aku harus membimbing dan menjaganya.." kalimat manis penuh cinta dari bibir Glen tentu saja membuat Eun menurut.


"Jaga dirimu disana" pesan Eun pada suaminya, dia mengangkat tumit kaki meninggalkan kecupan panas di bibir mereka. Beberapa orang pelayan dan staff rumah menunduk, tak boleh menatap kemesraan tuan rumah. Eun memainkan tangannya di kulit leher Glen, dan Glen membalas merangkul erat pinggang ramping Eun. 


"Sayang, nanti aku tak jadi pergi" bisik Glen menjeda ciuman yang semakin panas saja.


"Baiklah" balas Eun pasrah.


"Jaga dirimu" pinta Glen meninggalkan senyuman dengan sorot mata penuh cinta. Dia mengecup dahi istrinya dan masuk ke mobil. Glen meninggalkan kediaman Jung.


"Apa jadwalku hari ini?" tanya Jung pada asistennya.


"Wawancara fashion hunt di O tv, ke kantor memenuhi permintaan perusahaan XX, mengunjungi store yang akan me-launching produk baru.." Eun menoleh mendengar kalimat terakhir asistennya. Dia mengerutkan dahi, tak suka.


"Haruskah aku yang mengunjungi store?" tanya Eun jelas tak mau. Asisten menunduk dalam dengan hormat. "Beberapa store akan mengadakan opening party bersama orang orang hebat, nyonya diminta hadir untuk menambah pamor produk kita di sana" Eun mengangkat bahu tak percaya.


"Baiklah" dia menyerah juga. Memang hanya Eun si ratu sold out. Tanpa dirinya produk akan lambat berjalan di pasaran, tapi saat Eun mengenakannya maka tak memakan waktu sehari produk akan terjual habis.


"Jangan lupa jaket kulit, meski mereka membeli versi sintetis, punyaku harus yang asli!" ketus Eun sebelum kembali masuk rumah. Dia menuju kamarnya, masuk ke kamar mandi, merendam diri, dua pelayan sudah siap, mereka sangat siap melayani nyonya Eun.


***


Sudah hampir setengah jam perjalanan, Hoon dan Risa masih saling berdiam diri. Mereka masih jelas mengingat ciuman kemarin. Keduanya bahkan membuat heran Emi dan Bambang. Tingkah mereka membuat orang tua Risa curiga.


"Kalian tidak membuat kesalahan kan!" tebak Emi dengan tatapan curiga. Risa yang sedang menuangkan air pada gelas hilang fokus. 

__ADS_1


"Kalian tidur terpisah malam tadi kan!" sekarang Bambang ikut ikutan menuduh yang bukan bukan, membuat Risa dan Hoon kian kikuk.


"Aku tidur di kamar depan, Risa tidur--" Hoon melirik Risa, tatapan mereka bertemu. "Risa aku tidak tahu!" sambung Hoon segera membuang muka.


"Hei! kau mau meja makan kita banjir!" hardik mama melihat gelas sudah mengucurkan air hingga ke meja. Risa segera mengangkat teko, meletakkan di meja.


"Maaf ma" gumam Risa menenggerkan senyuman aneh. Emi dan Bambang semakin heran.


Ck, kejadian pagi tadi sungguh memalukan. Gara gara tidak bisa melupakan ciuman mereka, Risa dan Hoon membuat Emi dan Bambang berpikir yang macam macam.


Sekarang di mobil mereka hanya diam diaman. "Ini ga bisa terus seperti ini!" batin Risa berinisiatif.


"Hoon!"


"Risa!"


Keduanya membuka mulut berbarengan. Lalu saling membuang wajah kompak. Apa apaan sih ini!


"Kau duluan!" pinta Risa.


"Kau saja!" Hoon mengalah.


"Kau saja duluan!" gusar Hoon


Risa menahan geram di wajahnya. Hoon fokus menyetir, dia masih canggung untuk melihat wajah Risa.


"Baiklah," akhirnya Risa mengalah.


"Kenapa kau melakukan 'itu'?" Risa membesarkan matanya, kenapa harus menyebut dengan kata itu, bukannya terlalu ambigu. Risa menggelengkan kepala, dia bingung sendiri.


"Maksudku, melakukan.." Risa tak bisa mengatakan ciuman dengan bibirnya. Dia mencari jalan lain. Hoon melirik tangan Risa sekilas. Gadis itu menempelkan kedua telunjuknya hingga bertemu, lalu dia sedikit memutar, memberi gerakan seperti pasangan berciuman mesra. Hoon melirik dan menahan tawa geli. Apa itu? apa mereka berciuman se hwat itu? Hoon mengulum senyum.


"Hei! kau ngerti kan!" ketus Risa menahan panas di wajah. Hoon memasang wajah polos, ih wajahnya sangat menyebalkan. Hoon mencoba berpikir keras, ayo otak bekerjalah.


"Hei!" Risa mengejutkan Hoon, dia tak memberi waktu untuk otak Hoon bekerja.

__ADS_1


"Aku hanya terbawa suasana!" jawab Hoon sekenanya.


"Apa!" Risa tak percaya mendengar jawaban Hoon. Cih, memangnya kau mau mendengar jawaban apa Ris! batin Risa mengejek.


"Terbawa suasana tapi mencium seperti itu" gerutu Risa menahan kesal.


"Kau bilang apa?" Hoon tak bisa menangkap dumelan dari bibir Risa, dia sengaja menahan suara supaya Hoon tidak mendengarnya.


"Bukan apa apa!" hardik Risa jelas kesal, dia melipat tangan di dada.


"Lain kali lakukan dengan kekasihmu! memangnya kau kira aku ini apa! seenaknya saja mencium" Risa akhirnya melayangkan protes, Hoon melirik sekilas, wajah kesal Risa malah membuatnya gemas.


"Iya, aku minta maaf" ujar Hoon dengan nada sedikit memohon.


"Jangan lakukan hal itu lagi! kau melukai harga diriku!" Hoon mengangguk setuju.


"Aku minta maaf" ulang Hoon.


"Tentu saja kau harus minta maaf, kau mencium orang seenaknya, kau pikir ciuman itu apa! gorengan! permen!" Hardik Risa kini dengan amarah, dia bahkan menghadap ke arah Hoon yang fokus menyetir. Risa menaikkan kakinya ke jok mobil, melipat satu kaki di mobil, dia nyaman sekali!


"Melihat mu begitu aku jadi berpikir kalau kau sebenarnya playboy kan!" tuding Risa mengacungkan telunjuk. Hoon menggeleng cepat.


"Bohoong.. kau pasti sering bergonta ganti pacar kan.." Risa memaksa Hoon untuk mengangguk dengan nada bicaranya yang memaksa, tapi Hoon tetap menggeleng.


"Kau bohong!" ketus Risa kesal, kepala Hoon yang terus mengatakan tidak membuat nya marah. Risa kembali ke posisi duduk semula.


"Setidaknya lakukan dengan kekasihmu dong! kau seperti pria dengan kelihaian khusus, kau bisa mencium dan menghancurkan pertahanan wanita" gumam Risa masih terus berceloteh, Hoon menyimak.


"Bagaimana wanita tidak luluh, dia memiliki wajah tampan, sudut mata yang cantik, bibir yang tipis, dan senyuman renyah" suara Risa seperti berbisik.


"Bahkan orang tua ku jatuh cinta padanya" gerutu Risa mengalihkan pandangan pada pinggiran jalan tol. Ada sedikit kekecewaan di dalam hati Risa


Bersambung..


Jangan lupa dukungannya ya, star vote, review bintang 5.. dan hadiah!! hehe semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua reader aku..

__ADS_1


Untuk cerita ini kalian jgn khawatir semoga tidak mengecewakan, aku sudah punya ending cerita, jadi jangan takut ceritanya muter2 kaya komedi puter..


Baca teruss yaaa


__ADS_2