Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Berebut kekuasaan


__ADS_3

Di ruang keluarga Jung.


Eun jung baru saja menuruni anak tangga dari kamar pribadinya, pelayan mengantar dengan sopan ke ruang pertemuan di lantai dasar.


"Kemana suami ku?" tanya Eun, dia baru saja bangun dari tidur dan tak mendapati suami di sisinya.


"Tuan ada di dalam Nyonya" jawab pelayan seraya membuka pintu besar berukir bunga. Ketika pintu itu terbuka sudah ada Glen duduk di kursi dan seorang lagi yang sangat dikenal oleh Eun. Keduanya kompak berdiri menyambut kedatangan Eun.


"Selamat siang Nyonya Jung" panggilnya sopan, walau dia lebih tua tetap saja posisi sebagai nyonya Jung yang terhormat memaksa untuk memberi hormat.


Eun Jung mendaratkan bokong di sandaran lengan kursi suaminya, dia merangkul mesra pundak Glen, membuat senyuman sinis semakin jelas di wajah Glen.


"Ada apa dengan kedatangan mu yang tiba tiba ini?" tanya Eun penuh selidik


Tamu itu adalah nyonya Park, dia adik perempuan dari mama Eun jung, mereka sudah lama tak bertemu. Sebetulnya tidak ada masalah antara mereka hanya saja Glen mengeluh jika suami Park yang bekerja sebagai asisten papa nya tidak beres, pria itu memanfaatkan kepercayaan tuan Jung, seketika semua pengaduan Glen membuat Eun tak menyukai tamunya siang ini, pasti nyonya Park ada misi lain, pikir Eun.


Park berdiri, sedikit mendekati kursi Glen.


"Eun, kau tak bisa membuat Glen menjadi CEO tunggal perusahaan" ucapnya datar namun berusaha tegas, suaranya sedikit bergetar membuktikan ada ketakutan dalam dirinya. Park melirik Glen, dan pria itu terus saja memasang senyuman sinis.


"Kau hanya memiliki setengah aset, kau harus mempertimbangkan hak Hoon!" lanjutnya masih dengan nada dibuat datar, tangannya mengepal menandakan dia membutuhkan keberanian untuk mengatakan kalimat barusan. Eun bangun dari duduknya, dia mendekati Park, tinggi Eun jelas lebih, ditambah lagi heel nya, dia menunduk menatap Park sinis.


"Kau tak perlu ikut campur!" kecam Eun sinis. Park menelan ludah pahit.


"Eun aku ini bibi mu! Tuan Jung sudah mewariskan semuanya dengan jelas, kau tak bisa membuang Hoon ke pabrik, dia berhak di kursi direksi!" tegas Park dengan suara serak.


"Aku tidak membuang Hoon!" sanggah Eun santai.

__ADS_1


"Eun, kau kakaknya, nuna nya, siapa lagi yang dia percaya jika bukan kau! bahkan suamiku pun sudah disingkirkan dari perusahaan, dia seumur hidup sudah mengabdi dengan tuan Jung!" Mata nanar Park mengeluarkan air mata, walau suaranya dibuat sekeras mungkin, hatinya lemah, dia melirik Glen sekilas, dan Glen membuang tatapan, wanita paruh baya itu menghapus cepat air matanya, dia seperti pengemis di hadapan keponakannya.


Eun kembali duduk di kursi dengan melipat kaki dan mendekap tangan di dada, bibirnya tersenyum sinis, kaki jenjangnya dibiarkan terbuka di antara belahan piyama sutra.


"Kau seharus nya memberi tahu suami mu sebelum datang ke sini" sinis Eun. Nyonya Park tak mengerti kalimat yang dilontarkan Eun. Dia kembali menyusul Eun, mendekati kursi yang di duduki dengan angkuh.


"Eun, kau atau Hoon saja yang bisa memiliki perusahaan, bukan orang lain!" mendengar kalimat barusan Eun bangkit lagi, dia jelas marah.


"Kau tau apa nyonya Park! dia suamiku! dia anak dari keluarga Jung!" teriak Eun marah, dia menunjuk Glen dengan penuh kekesalan. Park menggelengkan kepala tak percaya. nyonya Park menahan tangisan dan sesak di dadanya. Sebelumnya suaminya sudah mengingat kan untuk tidak ikut campur lagi dalam keluarga ini, sudah banyak hal yang berubah di sini.


"Kau akan menyesal tidak mendengarkan bibi mu ini.." gumam Park dengan suara serak, tenggorokannya sakit, dia sulit mengeluarkan kata-kata.


"Tuan Jung pasti kecewa padamu.." 


PRAAANGG!!!


Eun menyapu semua benda yang ada di meja, semua pecah berantakan mengotori lantai. Nyonya Park gemetar melihat Eun lepas kendali, dia menangis sambil menahan ketakutan. Eun.. Kau sungguh sudah berubah.


"JANGAN KAU SEBUT ******** ITU LAGI!!" teriak Eun murka, "KAU TAHU AKU SANGAT MEMBENCI NAMA JUNG, AKU BENCI MEMILIKI NAMA INI SEUMUR HIDUPKU!!!" suara teriakan Eun semakin melengking dan lepas kendali. Nyonya Park mundur dan tak bisa percaya, dia gemetar ketakutan, Eun membuatnya tak sanggup berdiri di kaki sendiri, dua orang pelayan menuntun Park keluar ruangan.


"AAAAKKKHHH!!!" Eun kembali berteriak dengan menjambak kasar rambutnya. dia menjatuhkan lengan tanpa tenaga, membuat noda merah di piyama panjang berbahan sutra. Glen menahan tawa kecil. Dia segera melangkah mendekati Eun setelah nyonya Park hilang di balik pintu.


Glen mendekap punggung Eun, dia memejamkan mata mencoba menikmati aroma tubuh istrinya.


"Sayang, tenanglah.. tenangkan dirimu" bisik Glen di telinga belakang Eun. Wajah merah Eun perlahan pudar, dia menghela nafas panjang, dan menarik lagi dalam, Eun berusaha mengatur emosinya. Dia mengikuti kata kata suaminya. Telapak Eun mendarat di punggung tangan Glen yang mendekap pundaknya. Dia bersandar di bahu suaminya, mencoba membalas dengan menghirup aroma parfum Glen, wangi yang menenangkan.


Glen melihat pergelangan Eun yang terluka, dia meraih tangan istrinya dengan menatap lembut. Eun merebahkan diri di sofa, duduk kembali. Glen berjongkok, dia membersihkan kulit Eun yang terkena noda darah. Glen memulai membersihkan perlahan, dia menghapus perlahan hingga tak ada noda darah. Glen menjilat dan menikmati luka Eun, wanita itu meresapi tiap sentuhan permukaan kasar indera pengecap suaminya.

__ADS_1


Walau sudah sedikit lebih tenang, tetap saja Eun masih frustasi. Dia kesal dengan kalimat sinis Park pada Glen. Bagaimana mungkin dia mengecam kedudukan Glen, bukan kah itu hal yang mustahil. Eun berdecak kesal. Membuat Glen mengelus lembut rambut panjang istrinya. Glen mengelus lembut dengan penuh perasaan, dia juga memberikan kecupan kecupan kecil.


"Kau tunggu disini, aku akan mengambilkan obat" bisik Glen, Eun mengangguk saja.


Glen dengan langkah cepat menyusul ke arah pintu keluar, dia masih bisa melihat nyonya Park yang hendak memasuki mobilnya dan bersiap meninggalkan istana Jung. Glen berlari tak mau kalah cepat dari kepergian Park. Dia bisa menjangkau pintu mobil nyonya Park dan membuat wanita itu tak bisa menutup pintunya.


"Apa mau mu!" tegas nyonya Park dengan wajah tegang, Glen tersenyum sinis.


"Apa suami mu tak memperingatkan kau!" sentak Glen. Park melipat tangan di dada, dia membuang pandangan dari wajah Glen.


"Kau hebat sekali ada di posisi ini dengan cara licik, kau menendang orang orang yang berjuang bersama Jung, kau sangat BUSUK!" tuding Park penuh amarah, telunjuk nya tepat mengenai dada Glen, pria itu menepis jari telunjuk Park, dia membersihkan permukaan katunnya dengan mengibaskan telapak tangan.


"Hati hati nyonya, anda berbicara pada siapa kini" ujar Glen datar, dia sedang memberi peringatan.


"Kau harusnya kembali ke jalanan!" hardik Park diambang batas kesabaran, Glen terkekeh lucu.


"Kau akan menyesal sudah kesini hari ini!" ancam Glen sembari melangkah meninggalkan pelataran, dia melepaskan pintu mobil Park, hingga wanita itu bisa masuk dan menutup pintu mobil. Park menarik nafas dalam, dia mengeram, mengadukan gigi-giginya. Dia tak pernah menyangka sosok bocah yang dulu sangat polos sudah berubah 180 derajat. Glen seperti lintah penghisap darah.


"Awas saja kau!" dengus Park. Dia memutar kontak mobil, meninggalkan parkiran dengan luas lahan satu hektar, pekarangan yang sangat luas dan penuh arsitektur. di tengah ada kolam air mancur dengan patung bergaya Eropa. Park menatap pemandangan sekeliling rumah Jung, rumah Hye, Park Hye, kakaknya. Dia tahu betul bagaimana Hye dan tuan Jung memulai perjuangan membangun usaha dan istana ini. Park tak bisa terima jika Glen yang akan menguasai semuanya. 


"********!" gerutu Park kesal melampiaskan pada stir mobil, dia menepuk berkali kali seolah membuang banyak emosi di dalam dadanya. 


"Aku harus mencari Hoon!"


***


Nama keturunan atau marga di Korea tidak berubah walau sudah menikah, berbeda dengan kebanyakan di daerah di Indonesia.

__ADS_1


Kirimkak komentar, review kalian agar aku semangat menulis


Beri aku dukungan dengan mengirimkan hadiah, hadiah kalian sangat membantuku dalam menulis, membuat coretan ini menjadi lebih berharga, kalian bisa membaca dan aku terus menulis. Aku doakan rezeki kalian semakin banyak dan terus bertambah. Bukankah berbagi tidak akan mengurangi rezeki kita.


__ADS_2