
"Apa kabarmu?" Seorang pria membuka kacamata hitam tak jauh dari tempat duduk Kai bersama Eun. Pria itu menikmati sebuah lolipop dengan ponsel di telinga.
'Apa semua sudah beres?'
Dia tersenyum sinis "Sedikit halangan, tapi tak akan lama, semuanya akan beres sebentar lagi!" ujar pria itu dengan percaya diri. Dia menutup sambungan telepon dan mengemut lagi permen di tangannya, sementara mata tetap tertuju pada Eun dan Kai, dia memantau pergerakan kedua anak manusia di seberang sana.
***
Sepulang kantor.
Risa tak dijemput kekasihnya semenjak mereka pindah ke mansion. Hoon juga belum masuk kerja, dia bilang ada urusan mendesak di luaran sana. Risa tak begitu ambil pusing, sebagai pewaris perusahaan besar bukankah wajah jika Hoon sangat sibuk.
Tak berselang lama, sebuah taxi menghampiri lobby kantor, Risa tahu itu adalah kendaraan yang dia pesan. Gadis itu segera masuk dan menutup pintu. Reza dan Joy menatap punggung Risa, keduanya berbisik dan mulai bergosip.
"Jadi beneran doi uda ga sama bos Glen?"
"Kata Bunga sih gitu. Tapi doi masih ngumpet ngumpet nemuin mantannya loh" Reza membulatkan mata tak percaya dengan ucapan Joy.
"Serius, jadi Alex sm bos Glen di pake dua duanya!" Joy mengangguk. "Gilaaa.." gumam Reza tak percaya, Joy ikut mencibir.
Beberapa menit kemudian, mobil menepi pada sebuah cafe. Dari dalam sana Bunga melambaikan tangan, dengan tatapan ragu Risa melangkah perlahan, dia menghampiri meja Bunga.
Bunga menarik kursi mempersilahkan Risa. Dengan canggung Risa bergabung, dia sedikit bingung dengan tingkah Bunga yang biasa saja, gadis itu malah terlihat santai dan sangat santai, berbeda dengan Risa.
Bunga pergi ke meja bartender, dia mengetukkan hari di meja.
"Pesanan ku dong!" ujarnya dengan senyuman lebar, pelayan menaruh baki berisi dua gelas minuman. Dengan sigap Bunga mengambil sesuatu dari sakunya, dia mengaduk salah satu gelas yang sudah dia tambah kan sesuatu, bibirnya tersenyum sinis. Dia membawa baki dengan hati hati, menaruh minuman masing masing, Bunga meyakinkan diri jika gelas mereka tidak tertukar.
"Jadi gini Ris--" Bunga membuka pembicaraan, dia mengaduk lagi isi gelas miliknya. Risa mendengarkan dengan seksama.
__ADS_1
"Gue cuma mau bilang, kalo tempo hari itu gue cuma salah paham, gue ga ada maksud ngelakuin semua itu. Sebelumnya mansion itu sering gue sewa sama Amar, doi suka ada proyek shooting di sono" jelas Bunga mengarang bebas.
"Lu tau kan hubungan gue sama Amar tuh toxic banget. Gue mau ngagetin dia, gue kira yang masuk itu Amar sama jablay nya--" Bunga menghela nafas, menjeda ucapannya. Sementara Risa masih menautkan alis bingung.
"Dan gue shock aja waktu lu sama Hoon, bukannya lu bilang lu pacaran ama bos Glen. Tapi ko lu sama Alex!", "Eh sorry nih, gue harus panggil Alex apa Hoon?" Risa menggelengkan kepala tak begitu ambil pusing.
"Jadi gue sempet ketemu sama bos Glen, dan doi bilang masih ada rasa sama lu, cuma lu jalan sama Hoon, ade nya!" Risa semakin bingung, kerutan yang bertambah tebal di dahi Risa jelas sekali semakin banyak kebingungan dalam pikirannya.
"Jadi gue kesini cuma mau semua jelas. Gue ga ada urusan sama hubungan lu. Gue sama bos Glen cuma ketemu dan ngobrol sedikit, terus Hoon juga, gue ga denger banyak dari bos Glen. Dia terlalu frustasi kayaknya" Jelas Bunga panjang kali lebar, Risa jelas tak bisa terima. Bagaimana mungkin bos Glen frustasi, bukankah dia punya istri. Lagipula hubungan dia dengan bos Glen dengan atau tanpa Hoon pasti harus diakhiri. Risa baru saja hendak membuka mulut, mencoba balas menjelaskan. Tapi bunga mendekatkan gelas Risa.
"Lu minum dulu deh, cuaca hari ini panas, ga kaya kemaren kemaren." Karena sudah di sodorkan begitu dekat, akhirnya Risa manut, menyeruput hampir setengah minuman segarnya. Benar kata Bunga, udara hari ini panas, sepanas perasaan Risa. Bunga mungkin tidaj tahu jika bos Glen sudah menikah, tapi Risa tahu, dan dia akan menjelaskan semuanya sekarang, saat ini.
"Nga--" ucap Risa lalu terdiam. Dia ingat betul jika saat ini dia sedang bersama Bunga, tapi kenapa semua terlihat samar dan berputar? Risa memegang kepalanya, mencoba memijat dahi perlahan, kepalanya terasa sakit dan berat.
"Risaaa" suara Bunga terdengar menggema dan semakin samar, seolah berbayang, dan begitupun dengan penglihatannya. Risa merasa kesadarannya kian tipis.
"Riss, Risaa.." Bunga mencoba menyadarkan Risa, tapi gadis itu diam saja, hanya terlihat jelas tautan kedua alisnya, Risa sedikit lagi hilang kesadaran. Bunga melambaikan tangan, dia meminta beberapa pelayan membawa Risa. Gadis itu meninggalkan segepok uang di meja. Dia mengikuti langkah Risa yang dituntun pelayan cafe.
Bunga merogoh isi tas Risa yang dia bawa. Ponsel gadis itu dari tadi terus berdering. Bunga inisiatif mengangkat panggilan.
"Hallo.." sapa Bunga dengan suara lembut.
'Hallo, Risa?' tanya suara di seberang sana
"Hallo tante, ini Bunga temen kerja Risa" balas Bunga menjelaskan.
'Oh, mana Risa? tante kangen sama anak tante' Bunga tersenyum, oh jadi ini mamanya?
"Ah tante salam kenal, aku Bunga. Maaf tan Risa lagi keluar sama pacarnya" Suara riang dan hangat sengaja Bunga perdengarkan.
__ADS_1
'Apa Risa sedang bersama Hoon?' Bunga terkejut, bahkan orang tua Risa mengenal Hoon, Bunga berdecak kagum. Gadis lugu itu sungguh terdepan, batin Bunga sulit percaya.
"Iyaa tan, tante pasti bangga sama Hoon, dia ganteng, baik plus kaya lagi!" dengan nada ramah Bunga mencari topik bagus untuk diperbincangkan.
'Iya tah nak? memang Hoon twrlihat sangat baik' Bagus, batin Bunga suka dengan sautan dari seberang sana.
"Tan, udah pernah ke rumah Hoon? kita sering kesana, sekedar kumpul atau main", "Rumahnya luass, makanya Risa betah di sana" Mama Risa terdiam sebentar, dia tak langsung menimpali kalimat Bunga, padahal gadis itu sangat menanti jawaban dari seberang sana.
"Tante tau kampung Raya kan, disana tuh kompleks elit dengan residance khusus, ada satu gedung di tulis dengan bacaan, Jung's mansion, ukurannya paling besar sendiri, tante harus main kesana deh. Kita semua juga pengen kenal sama tante." Bunga menutup telepon begitu saja. Diam dari seberang sana membuat senyum sinis Bunga merekah. "Pasti ortu Risa kesana!" duga batin Bunga yakin.
Sebuah kamar berukuran sedang, Bunga masuk terakhir setelah pelayan undur diri, dia menyisipkan beberapa lembar uang lagi. Bunga meletakkan tas Risa di meja sebelah ranjang. Dia juga memasukkan beberapa alat kontrasepsi, Bunga membuka satu kemasan, dan membiarkan sampahnya di lantai, sementara isinya dibuatnya mainan, Bunga meniup benda karet itu hingga menggelembung kencang seperti balon mainan anak anak. Dia meninggalkan kamar dimana Risa berbaring.
***
Hoon mengambil cake dari dalam kulkas. Dia menghias meja dan ranjang, dia memasang balon dan beberapa properti lainnya. Besok adalah ulang tahun Risa. Tapi karena hari sudah malam, Hoon akan merayakan malam ini juga. Dia menanti kepulangan Risa.
Siapa sangka dia akan melewatkan momen pertama ulang tahun kekasihnya di mansion ini. Hoon berencana menyewa pemain musik dan koki, tapi dia mengurungkan niat. Bukankah berdua saja lebih terasa spesial. Hoon akan merayakan ulang tahun Risa berdua saja. Dia juga berencana akan meminta Risa menerima proposal, Hoon ingin melangsungkan pertunangan dengan Risa. Sebetulnya menikah sudah menjadi hal yang jarang dilakukan generasi muda Korea, mereka lebih fokus pada pekerjaan dan masa depan. Mereka lebih menyukai hubungan tanpa komitmen, tapi berhubung Risa bukanlah gadis Korea, dan sebagai wujud ketulusan dan keseriusan, Hoon akan meminta Risa bertunangan dengannya. Itu sebagai bukti pengikat hubungan mereka. Bukan cincin gratis seperti Glen tempo hari, Hoon memesan sendiri perhiasan di jari itu dengan inisial nama mereka, dia sengaja membuat desain sangat spesial untuk kekasihnya, mereka akan mengenakan bersama sama nanti.
Sudah pukul sepuluh malam. Bahkan Risa tak mengangkat panggilan telepon dari Hoon, pesan singkat pun tak kunjung mendapat sautan. Hoon merasa cemas. Dia menatap kue di meja, kembali memasukkan ke kulkas, bentuknya akan berubah jika harus menunggu lebih lama lagi. "Kemana dia?" tanya Hoon heran. Dia menekan layar ponsel, menghubungi direktur Mei.
"Hallo, apa Risa belum pulang?" tanya Hoon to the point. Pemuda itu kian cemas bercampur kesal, mendengar jawaban direktur Mei, tak ada karyawan MD yang lembur malam ini. Hoon menggigit ujung kuku, dia semakin panik.
"Hallo, bisa kau lacak nomor yang aku kirimkan padamu. Aku tunggu kabar selanjutnya!" pinta Hoon pada sambungan telepon. Dia membanting diri di kursi, melipat tangan di dada, wajahnya gusar bercampur takut. "Apa dia baik baik saja?"
***
Kirimkan dukungan kalian ya.. komentar dan 5bintang tiap tiap bab.. star vote, hadiah..
Semua bentuk dukungan kalian adalah semangat untukku
__ADS_1
Semoga menghibur