Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Penyesalan


__ADS_3

POV Eun.


Aku tak tahu harus kemana, hanya menelusuri jalan raya saja. Sebuah sudut kota memiliki langit cerah, mungkin bisa menenangkan pikiran disana. Glen kau membuat hidupku seperti neraka. Kau membuat aku terjebak dalam perangkap cintamu. Kau membunuh persahabatanku dengan Kai, kau meracuniku. Kau membuat banyak racikan obat palsu, apa itu? hanya campuran banyak obat penenang yang setiap hari aku minum. Kau bahkan sengaja mengatur terapis dan perawatku. Kau benar benar jahat!


Selingkuh! shit, bahkan kau lebih parah dari itu. Kenapa kau selingkuh di belakangku? harusnya aku tidur dan melakukan banyak petualangan bersama Kai, tapi dia hanya mencium dan membuat ku sembuh.


Sedangkan kau! cih, kau mengajarkan bagaimana menjadi buas di ranjang. Bodoh sekali, kau memang pemain yang hebat, dan aku adalah salah satu wayang mu.


Terima kasih sudah membuatku menjadi manusia bodoh. Tapi maaf, sekarang tidak lagi. Ambil semua kekuasaan dan hartaku, itu tak akan membuat kau bahagia. Aku memiliki semua itu di masa lalu, dan aku hanya ingin kebahagian di masa akan datang.


Yang kusadari kini jika Hoonku sudah dewasa, Hoon akan memperjuangkan keluarga ku sekali lagi, aku percaya padanya.


Dia akan menjadi pewaris yang hebat, dia akan menjadi the next Jung, aku bangga padanya.


Mengingat semua itu aku jadi menyesal. Penyesalan terberat dalam hidupku, bukan karena kau memperbudakku, bukan karena kau merampas harta bagianku. Penyesalanku adalah kau buat aku membenci papa, aku bahkan tak hadir di pemakamannya. Aku sungguh durhaka. Aku bahkan tak menangis saat itu.


Hoon benar, aku sudah sangat keterlaluan, pantas saja dia selalu membenciku sebelumnya.


"Pa.. maafkan putrimu ini.." Aku hanya bisa berbisik, dan berharap papa menerima maaf ku.


"Maa.. maafkan putrimu ini.."


Hari dimana mama meninggal, aku tak bisa melihat semuanya. Hari itu aku berjanji bertemu dengan Kai di taman, tapi dia tak kunjung datang dan membuat ku terus menunggu. Aku menyesali itu seumur hidup.


Kai membuatku melupakan mama, aku benci Kai. Meski dia sudah menjelaskan alasannya, tetap saja aku menyesal. Dan kematian papa, saat itu aku tak pernah berduka, aku kesal sepanjang hari karena Glen mengacuhkanku, aku lebih peduli Glen daripada papa.


Meski papa memohon, meski Hoon memaksa, aku egois. Aku sangat menyesali semua itu. Penyesalan, semua itu adalah penyesalan terdalam di hidupku. Penyesalan tak menuruti apa kata keluarga ku. Melupakan cinta dalam keluarga, penyesalan saat aku tersadar mereka sudah tiada. Hatiku terasa nyeri menyadari aku sudah melewatkan hal yang berharga di dunia ini. Orang tua, saat mereka tak ada penyesalannya terasa nyata.

__ADS_1


"Maafkan aku ma, pa.." Menumpahkan air mata dibalik kemudi mobil. Menangis dalam diam. Kali pertama aku menangis lagi untuk keluargaku. Esok aku akan menjadi lebih baik lagi, aku berjanji pada diriku sendiri. Aku tak ingin banyak penyesalan penyesalan lain.


Seorang gadis berdiri di tepi bukit, dia menatap gunung yang terlihat jelas. Mungkin udaranya sangat sejuk, ditambah pemandangan indah. Aku memutar kemudi, memarkirkan mobil.


"Aku akan bergabung.."


***


Risa menutup rapat jaket yang dia kenakan. Dia sadar betul bagaimana tadi tetangga menatap ke arahnya. Meski tak peduli tetap saja itu melukai harga dirinya. Risa mengelap air mata dengan tisu. Sulit sekali mengontrol air mata yang terus bergulir. Perasaan sesak, berat dan takut.


Risa terus menangis dan memikirkan cabang bayi di dalam rahimnya, semua itu membuatnya sesak dan sulit bernafas, lambat laun perutnya akan membesar. Dia akan membuncit, meninggalkan pekerjaan lalu dia akan menganggur. Mengharap uang dari orang tua yang hanya berdagang? Sesak, saat memikirkan semua itu. Dia butuh uang untuk vitamin, kontrol dan usg. Berat, jika dipikirkan akan sangat berat. Bagaimana beban dalam masyarakat saat dia harus melahirkan anak tanpa pendamping, anak tanpa peran ayah. Dan takut. Menghadapi semua itu membuat Risa takut. Seakan mencekam, Risa tak sanggup melewati jalan kelam yang akan dia tempuh.


TTIIIIINNNN!!!


Risa sedikit menepi. Dia melamun menyusuri jalanan, sudah berapa kali dia hampir tertabrak mobil, dia tak peduli. Jalannya gontai, matanya terus menangis, meski matanya merah dan membengkak, Risa tak peduli, kesakitan nya sudah lebih dari ini.


"Siapa ayah mu?" tanya Risa pada perutnya. Air matanya meleleh lagi. Pertanyaan itu sungguh sulit. Bagaimana mungkin seorang wanita tak tahu siapa ayah dari cabang bayi yang dia miliki.


"Bagaimana aku harus mengurusmu?" tanya Risa pada diri sendiri. "Bagaimana kita hidup?" Risa masih terus bicara sendiri. Dia menangis terus dan terus, seolah menumpahkan semua kegamangan di hati. Tetap saja, gamang itu masih sama malah bertambah kalut.


Memikirkan bagaimana orang tuanya yang terusir tambah memberatkan mental Risa.


"Harusnya kita tak disini, harusnya kita tak hidup di dunia ini!" gumam Risa putus asa.


Dia sudah berada pada sudut jurang, disana ada gunung terlukis jelas. Udara sejuk pegunungan dengan pepohonan menghijau. Udara dingin tak mampu lagi menyejukkan pikiran Risa. Bebannya sudah terasa berat dan panas.


Risa berdiri di sudut jurang. Mengakhiri hidup adalah jalan terbaik. Dia tak perlu menanggung beban dalam masyarakat. Dia tak perlu melihat orang tuanya kecewa. Dia tak perlu merasa sesak dan takut. Dia tak perlu mengingat kesalahannya pada Hoon. Dia tak perlu menggunakan hatinya lagi.

__ADS_1


Risa menarik nafas dalam, memejamkan mata perlahan.


"Kau tak perlu lahir dari orang yang tak punya harga diri.." bisik Risa seolah pada anak dalam kandungannya.


Eun menutup pintu mobilnya dengan kencang, dia mengejutkan Risa. Wanita itu menyusul tempat dimana Risa berada, di sudut jurang tajam.


Dia melirik Risa sesaat yang masih terpejam, dengan santai Eun bersimpuh du sebelah Risa, dia ikut menutup mata dan menarik nafas dalam.


"Udara disini sangat sejuk.." ujar Eun tak jelas pada siapa, Risa tak menjawab. Dia menyadari ada yang datang tapi dia berusaha tak peduli. Dia hanya ingin membuat kuburannya di sini.


Eun menatap Risa heran. Sebelah kaki gadis itu sudah menjulur mengambamg di tepi jurang. Eun menarik ujung kaos Risa.


"Hey, what are you doing mate?" tanya Eun akrab. Risa menghembuskan nafas singkat. Pertanyaan bahasa inggris dengan logat timur barusan sedikit mengganggunya, tapi sudahlah, lupakan. Risa masih membulatkan tekad.


"Hey, apa yang kau lakukan!" ketus Eun ikut berdiri, dia merangkul pinggang Risa, mencoba menahan tubuh gadis itu, takut takut Risa kehilangan keseimbangan karena kakinya sudah tinggal satu menahan tubuh. Risa memberontak, Eun memaksa bertahan.


"Lepaskan aku!" gusar Risa. Dia membalik badan. Dan mendapatkan senyuman Eun. Siapa yang tak tahu jika wanita itu memiliki senyum indah seperti mentari. Dia bahkan mendapat julukan malaikat di setiap aksi online streamingnya. Senyuman Eun sejenak membuyarkan pikiran Risa.


***


Makasih kalian masih mau baca sampai sini..


terus dukung cerita ini ya


beri komentar bebas tp bintangnya jangan di kurang alias 5


beri star vote supaya bisa masuk ke daftar terbaik

__ADS_1


beri hadiah biar bisa ikut mejeng di populer..


terimakasih semua.. tanpa kalian apalah akuu


__ADS_2