Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Sekali lagi


__ADS_3

Kedatangan Jung Eun, Jung Hoon dan Kai disambut jajaran penting pabrik, direktur dan beberapa manager tiap bagian ikut berdiri rapi di teras lobby kantor utama perusahaan. Semua kompak menundukkan badan saat ketiganya menuruni mobil.


Dengan senyum dan langkah sedikit gugup, direktur Mei maju, mendekati ketiganya. Kai dan Eun mencoba membalas senyum. Kai sendiri masih belum bisa tenang menatap wajah ibu yang hampir saja dia lupakan sepanjang sisa umurnya. Eun menoleh pada Kai menepuk pelan punggung sahabatnya itu.


"Ayo!" ujar Eun pada Kai, sekedar memberi semangat dan sedikit membagi ketenangan. Kai mengambil nafas panjang hingga akhirnya bisa mengangkat kepala dan membalas tatapan berkaca kaca direktur Mei. Kai mengulurkan tangan. Dengan raut wajah terharu direktur Mei membalas uluran tangan anaknya.


"Apa kabar.." Ujar Kai dengan nada rendah


"Ommaa.." bisiknya, membuat air mata Mei tumpah juga. Dia segera merangkul Kai, membuat beberapa pegawai lainnya ikut terhanyut haru. Apa yang sebenarnya terjadi di depan sana? meski tak mengerti rasanya pegawai ikut terharu karena direktur Mei yang tegas dan elegan tak pernah emosional seperti hari ini.


eun melangkah cepat, mendekati pegawai yang telah siaga menyambut kedatangan mereka. Wanita itu sedikit membungkuk dan tersenyum menyapa pekerjanya.


"Terima kasih sambutan kalian. Silahkan lanjutkan pekerjaan!" ujar Risa menggaris senyuman ramah. Semua sekali lagi memberi hormat dan bubar. Meninggalkan Eun yang menatap ibu anak di depan sana. Ah, akhirnya! Eun mencoba menahan haru, dia tak mau riasannya berantakan. Eun masuk terlebih dahulu meninggalkan Kai dan Mei berdua saja.


"Omong omong, dimana Hoon?" Eun baru sadar. Dia tak melihat adiknya sejak keluar dari mobil. Sejak kapan pria itu sudah menghilang. Eun kembali ke arah parkiran, dan tak ada Hoon disana. Eun menggelengkan kepala bingung. 


"Apa dia kembali ke kantornya? apa rapatnya tak bisa ditinggalkan?" Entahlah, Eun tak habis pikir. Dia segera melangkah menuju ruang rapat perusahaannya. Dia sudah mengatur meeting pagi ini.


Eun menuju lantai dua. Dia melewati ruang Md, disana beberapa karyawan juga memberi hormat. Eun melempar senyum ramah.


"Gilaa cantik banget!" 


"Lu liat dong bodynya!"


"Oh my banget ya.. ckckk" 


Bisikan takjub dari karyawan sudah biasa Eun dengar. Dia tak ambil peduli. Tangannya segera meraih bazzel pintu, dan mendorong sendiri. Dia tak butuh pelayan dan banyak staff seperti dulu. Kini Eun lebih mandiri dan percaya diri.


Ckleek!!


Eun mematung. Dia tak percaya jima ruangan ini sudah ada yang mengisi lebih dulu.


"Kau sedang apa disini!" ketus Eun melihat adiknya sudah duduk santai dengan segelas kopi. Hoon segera tersenyum menyambut kedatangan nunanya.


"Apa nuna mau secangkir kopi?" Eun berbalik arah. Dia lebih syok lagi kini!


"Risa!" Bukan, bukan karena Risa ada disini hari ini. Eun yang memintanya untuk datang, tapi.. Eun menyapu penampilan Risa dari atas kepala hingga ujung sepatunya.


Antara takjub dan juga heran. Wanita ini, dia hari ini menggunakan dres overslag, memamerkan tulang belikat yang tegas. Kalung kecil menghiasi lehernya. Sepertinya Eun mengenal bandul perhiasan itu. Baiklah bukan itu saja, rambut panjangnya yang sedikit ditata. Risa mengepang kecil sisi rambutnya lalu di jepit di belakang dengan bunga kecil berwarna turquoise, Belum lagi high heel cantik dengan aksen tali pada punggung kakinya yang putih bersih. Eun sampai bengong melihat penampilan berbeda Risa hari ini. Pantas saja Hoon begitu cinta buta pada Risa, ternyata dia secantik ini! Eun melirik sinis ke arah Hoon yang menikmati tegukan kopinya.

__ADS_1


Eun menarik kursi. Dia memeriksa dokumen di depannya. Kursi utama memang untuk dirinya. Dia akan memeriksa beberapa berkas penting terlebih dahulu. Risa meletakkan segelas susu hangat rendah lemak. Eun mengintip isinya. Mengetahui jika itu adalah minuman favoritnya dia tersenyum.


"Terima kasih" ujarnya sambil memulas senyum lebar. Risa mengangguk.


"Risa apa kau sudah membaca kontrak kerja?" tanya Eun mulai memasang wajah serius. Risa mengangguk, mengiyakan. Hoon menguping pembicaraan mereka.


"Kau harus mulai kembali pekerjaanmu disini. Perusahaan ini lebih membutuhkanmu, biar butik aku akan mencari orang lain---"


"Apa!" Hoon memotong ucapan nunanya. Dia melangkah meninggalkan kursi, mendekati Risa yang berdiri di depan Eun.


"Kenapa nuna berbicara seperti itu padanya!" ketus Hoon tak suka. Eun menautkan alis, tak mengerti dengan ucapan adiknya.


"Memangnya siapa yang butuh kontrak. Risa tidak akan menjadi pegawaimu!" sungut Hoon kesal. Eun lebih kesal lagi. Dia bangkit dari kursi dan melempar berkas di tangannya.


"Kenapa kau ikut campur urusanku! kau disini hanya untuk mengatur hubungan Kai dan Mei, kau malah duduk santai disini!" pukas Eun tak kalah kasar. Risa jadi bingung sendiri mendengar perdebatan kakak adik di depan wajahnya.


"Risa tidak akan bekerja denganmu!" tegas Hoon menarik tangan kekasihnya. Dia merangkul pinggang Risa, membuat wanita itu kikuk setengah mati. Eun mendengus kesal. Dia balas menarik tangan Risa, memaksakan pelukan Hoon lepas. Pria itu tak menyerah dia mengambil lagi Risa kembali ke sisinya. Eun pun demikian. Risa lelah sendiri.


"Baiklah, sekarang begini saja. Kita tanyakan pada Risa" pinta Eun berusaha mencari jalan tengah.


"Oke, aku yang bertanya. Apa kau memilih denganku.." ujar Hoon dengan nada manis "Atau bekerja pada nuna cerewet ini!" sekarang kalimatnya terdengar seperti mengancam. Eun melipat tangan di dada. Kita lihat saja siapa yang akan dipilih Risa.


"Emm.." Risa terlihat bingung. Dia melirik Hoon dan pria itu tersenyum manis. Bagaimana mungkin aku tidak memilihnya. Sementara ketika melirik ke arah Eun nuna, wanita itu juga memasang wajah penuh harap. Risa semakin serba salah.


"Baiklah" ujar Hoon kemudian. "Itu artinya aku akan mencari wanita lain.." suaranya pelan tapi terdengar menantang. Risa mendelikkan mata. 


"Apa katamu!" gerutu Risa kesal mendengar kalimat Hoon.


"Loh, aku memang harus mencari sekretaris untuk mengurus semua kebutuhan dan pekerjaanku kan!" Eun melirik sinis, dia menggunakan cara curang! Risa tak bisa terima.


"Nuna, maaf.." ujar Risa kembali pada Eun nuna.


"Iya, iya, nuna ini orangnya pengertian kok!" balas Eun mengalah. Hoon tertawa senang. Dasar Kau!


***


Sebelumnya..


Hoon bergegas membuka pintu mobil menyadari seorang wanita masuk lewat pintu samping. Sosok wanita yang dia kenal. Hoon segera keluar mobil dan mengejar langkah wanita itu. Dia berlari dengan langkah panjang. Sementara yang lain berkumpul di depan, dia malah lewat pintu samping.

__ADS_1


"RISSAA!!" teriak Hoon. Wanita itu segera menoleh dan membalik badan. Lihat siapa yang memanggil namamu. Senyum Risa melebar.


Prianya yang berdandan casual dan tampan. Hoon melangkah mendekati Risa. Hingga mereka hanya berjarak satu meter saja. Hoon tersipu malu melihat betapa cantiknya Risa pagi ini. Semilir angin menerpa rambut panjang Risa, membuat pesona wanita itu sepuluh kali lebih cantik dimata Hoon.


"Apa kau ada pekerjaan disini?" tanya Risa pada Hoon.


"Tentu saja" balas Hoon singkat, dia semakin mendekat pada Risa.


"Ayo sama sama.." ujar Hoon meraih telapak tangan Risa. Hoon meneliti sekeliling, tak ada yang melihat mereka. Jadi mari bergandengan tangan. Risa tersenyum malu malu, begitupun Hoon.


Keduanya menekan tombol lift, menuju ruang rapat di lantai dua. Hingga pintu terbuka keduanya hanya saling berdiam diri, mengulum senyum, merasakan debaran jantung masing masing.


Hoon mencuri lirik ke arah Risa, begitupun sebaliknya. Ah, sekian lama berpisah kenapa jadi segugup ini sih!


"Kau cantik hari ini!" ujar Hoon cepat. Meski cepat Risa bisa menangkap pujian dari Hoon. Dia memang mempersiapkan penampilan hari ini ketika Eun nuna mengatakan Hoon akan ikut bergabung di meeting pagi ini. Eisa menyeka rambut di samping telinganya. Gugup.


Keduanya tiba di ruang meeting, karena lift terhubung langsung ke dalam ruangan. Hoon menarik tangan Risa. Dia menyandarkan diri di meja bundar ruang rapat. Mendaratkan kedua telapaknya di pinggang belakang Risa.


"Aku sudah merindukanmu" bisiknya mencoba menatap bola mata Risa. Wanita itu pun memberanikan diri membalas tatapan kekasihnya.


"Aku, juga" balas Risa malu malu.


"Kenapa aku tak bisa menemuimu dan bayiku?" rengek Hoon masih tak terima jika Bambang sudah tak menyukainya lagi.


"Papa dan mama masih butuh waktu" jelas Risa meminta pengertian Hoon.


"Tapi, aku sudah tak bisa menunggu lagi.." Bisik Hoon mengangkat tangan dan mengelus lembut pipi kekasihnya. Sentuhan hangat ini lagi, Risa bisa merasakan telapak hangat Hoon, dia mencium telapak yang mengelus lembut kulit wajahnya. Risa juga sudah tak bisa sabar. Dia merentangkan tangan di pundak Hoon, mendekatkan kepala perlahan. Bibir yang tadi merengek dihadapannya, begitu menggoda pagi hari ini. Risa tak bisa lagi menunggu sama seperti Hoon, dia hanya ingin menikmati hangat bibir prianya.


Cups..


Sekali lagi, sekali lagi, dan berkali kali hingga keduanya larut dan melupakan dimana mereka saat ini. Hoon mulai berani mengangkat satu tangannya, menyusup perlahan ke dalam dres Risa. Kenapa kau memilih dres model seperti ini Risa! potongan leher yang menyilang membuat Hoon lebih mudah menyelipkan tangannya. Setahun bukanlah waktu yang mudah untuk menahan semua gejolak jantannya, kau juga samakan!


Tap tap tap!


Suara langkah kaki seketika menyadarkan keduanya, Risa segera bangkit dari dekapan Hoon yang kian rebah di atas meja, keduanya segera bangkit dengan wajah yang panik. Debaran jantung seakan belum usai juga memainkan perasaan keduanya.


Hoon meraih cangkir kosong dan menuang kopi yang sudah tersedia. Dia mencari kursi dan mengatur nafas. Sementara Risa berbalik badan dan merapikan dres nya.


***

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya.. minta star vote, komen review yg rajin. dan kirjmkan hadiah juga yaaa!!


makasihhh


__ADS_2