Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
AKdML-2. Mencari


__ADS_3

***


Eun melemparkan handphonenya hingga pecah. Dia tak bisa lagi menahan kemarahan dan kekecewaannya. Kai sungguh tak pulang malam ini. Eun memungut lagi ponselnya. Layarnya sudah retak seribu.


Ponsel itu berbunyi, tapi nama pemanggil sudah tak bisa ditampilkan, layarnya blank, hanya dering panggilan masuk saja yang terdengar.


Eun menekan apa saja pada layar. Dia berusaha mengangkat panggilan telepon dan berharap itu dari Kai.


"Hallo!" Akhirnya dia bisa mendengar suara dari si panggilan telepon


"Nyonya Jung, ini saya--" mendengar namanya membuat dada Eun bergetar hebat.


"Ya, katakan saja! Apa yang kau tahu!" Pinta Eun mengepalkan tangan.


"Nyonya saat ini saya berada di kawasan apartemen boluvard, saya mengikuti mobil tuan dan berakhir di parkiran ini!" Eun menarik nafas dalam, dia seakan menguatkan diri.


"Lanjutkan!" Pintanya tegas dengan suara tercekat.


"Tapi saya tidak melihat tuan kai disini. Saya akan mengirimkan foto mobilnya nyonya. Silahkan nyonya cek!" 


"Baiklah, terima kasih!" Ujar Eun meninggalkan ponsel. Dia mengangkat lagi ponselnya.


"Hallo!" Suara Eun yang berteriak membuat lawan bicaranya urung mematikan panggilan.


"Ada apa nyonya?"


"Kirimkan aku alamatnya saja. Biar aku mengecek langsung!" Orang di seberang sana mengangguk setuju, dia menjelaskan dimana dia saat ini berada. Eun mencatat jelas alamatnya pada note. Wanita itu segera meninggalkan ponselnya dan mengambil kontak mobil.


dada nya bergemuruh panas, seakan semua emosi berkecambuk jadi satu membakar jiwanya, di atas kepala mengepul asap hitam, betapa dia merasa marah dan kesal, bagaimana emosinya akan stabil kalau terus seperti ini!


Entah sampai kapan Eun akan selalu seperti ini, apalagi sekarang Kai, setelah si brengsek itu lalu kau! pria yang dia percaya selama ini!


Eun melajukan mobil secepat mungkin membelah jalanan di malam yang dingin dan berangin, tapi dia tak merasakan semua itu, semua hanya panas dan membakar dirinya.


Beep beep..


Suara panggilan masuk di ponsel Eun, tak menerima jawaban. Dia sudah melangkah cepat meninggalkan rumah.


"Eun kau akan kemana nak?" Tanya Emi khawatir. Dia baru saja menyiapkan Makan malam, makan malam yang akan terabaikan.


"Maaf Omma, aku ada urusan!", Ujar Eun melangkah cepat. Dia meninggalkan Emi.


Wanita itu bingung melihat tingkah Eun yang terlihat kesal. Emi memainkan jarinya gugup. Dia mengambil ponsel dari dalam saku. Mencari nama Kai dalam kontaknya. Dengan tangan gemetar dia membuat panggilan telepon.


"Kai ini mama, kau dimana nak?" suara Emi cemas dan gemetar di ujung telepon genggamnya.


'Ma, aku dirumah Omma, apa mama sudah makan?' kai bertanya sopan. Emi tak menjawab. Dada nya gemetar takut.

__ADS_1


'ada apa ma? Apa ada sesuatu yang terjadi di rumah?' kai ikut panik dan cemas mendengar suara gemetar Emi.


"Eun baru saja meninggalkan rumah, dia bahkan hanya menggunakan gaun tidur, bisa kau ikuti kemana dia!" Pinta Emi cemas. Semua sudah seperti anaknya sendiri di rumah ini.


Kai tiba tiba menghentikan sendokan nya, mengabaikan hidangan yang sebelumnya tampak lahap, membuat Mei ikut heran.


"Ada apa?" Tanya Mei bingung dengan sikap Kai setelah menerima panggilan telepon.


"Mama Emi menelepon, dia mencemaskan Eun!" Ujar Kai menutup sedikit speaker ponselnya saat dia dan Mei bicara.


"Sini, biar Omma yang bicara pada Emi, coba kau langsung ikuti Eun!" Pinta Mei menyambar ponsel Kai, "jangan lupa bawa rotimu, kau belum makan malam!" Mei mengingatkan putra semata wayangnya itu.


Kai mengangguk setuju, dia berdiri dan meninggalkan bangku, menggigit sudut roti yang disiapkan oleh ibunya itu, baru saja dia pergi dari hadapan Mei. Tak berselang lama Kai kembali lagi ke meja makan.


"Omma, bisa aku memakai mobilmu?" Mei menautkan alis bingung, mendengar permintaan Kai, bukannya dia perhitungan pada putranya tapi..


"Kemana mobilmu?" Tanya Mei sambil menunjuk dimana dia menyimpan kontak mobil.


"Akan ku jelaskan nanti!" Kai melangkah cepat, mengambil kontak di meja dan berlari ke luar rumah. Wajahnya jelas panik, kalau berurusan dengan Eun bagaimana mungkin Kai bisa tenang, sampai sampai roti di giginya jatuh ke lantai, dan dia melupakan begitu saja.


"Dia ceroboh sekali. Bagaimana mungkin keluar malam dengan gaun tipis!" Dengus Kai kesal bercampur cemas, pria itu tak mau menunda barang sedetikpun.


Kai membanting pintu mobil. Dia segera meninggalkan parkiran.


Security membukakan gerbang, Kai menambah kecepatan laju mobil.


"Kemana aku harus mencarimu kini? Kau membuatku takut!"


Kai mengikuti saja alur jalan, dia sendiri bingung harus ke arah mana mencari Eun.


"Dia tak mungkin ke kantor dan bekerjakah? Atau ke pub?" Kai menggeleng. Setahu kai, Eun tak punya ruang lingkup lain selain dirinya. Dia jadi merasa frustasi.


***


"Bawa mantelmu Minji, dan ini!" Kim Sora memberikan keranjang berisi banyak bumbu dapur. Minji mengangguk mengerti.


Mobil SUV hitam sudah menunggu di parkiran resto mereka. Minji bergegas dan pamitan pada Kim Sora.


"Minta bantuan kalau mama lelah, aku akan kembali setelah dua hari!" Ujar Minji sambil melambaikan tangan sebelum masuk ke mobil jemputannya.


Minji meraih gagang pintu mobil. Matanya menyapu interior mobil


'wah, benar benar hebat. Tidak salah mereka dibilang anak anak konglomerat!'


Batin Minji berdecak kagum melihat interior mobil mewah yang dia tumpangi. Audio, monitor, jok kulit, sungguh tampilan yang menakjubkan. Minji tersenyum sendiri bisa merasakan duduk di kursi penumpang mobil mewah ini.


"Hallo Minji, perkenalkan aku Jordi!" Seorang pemuda berkaca mata mengulurkan tangan dari kursi depan. Alex memantau melalui kaca.

__ADS_1


Dengan senyum tipis Minji menjabat tangan Jordi. Dari penampilannya dia terlihat sopan dan pintar. 


"Minji apa kau sudah siap mendengar kami yang cerewet?" Tanya Alex sksd pada Minji. Gadis itu mengangguk saja.


"Kau jangan terkejut ya, teman temanku mungkin tak akan membuatmu nyaman, tapi aku mohon kau mengerti-- kami sangat membutuhkan dirimu!"


Minji tersenyum getir mendengar penjelasan Alex. Apa maksudnya tak nyaman? Minji sedikit cemas.


"Alex benar, kau pasti lelah nanti. Kami ber delapan Dan kau sendiri. Katakan apapun jika kau butuh bantuan" ujar Jordi dengan suaranya yang hangat. Entah kenapa kalimat Jordi membuat perasaan Minji senang.


"Jordi benar, aku akan membantumu dengan senang hati!" Alex melebarkan senyum. Minji mengangguk saja.


Tak lama berselang mobil Alex sudah memasuki kawasan penginapan. Gerbang besar dibuka dia memberikan uang saku pada penjaga.


"Pak, rahasia ya!" Ujarnya, penjaga itu kompak mengangkat jempol.


"Apa apaan itu!" Gumam Minji seakan tak paham.


"Apa kau sudah ada rencana untuk menu sarapan besok?" Tanya Jordi mengejutkan Minji. Dia sedikit berpikir.


"Sepertinya kau membawa banyak bahan di dalam keranjang belanjamu?" Minji mengangguk


"Ah, kalian suka makanan lokal, western, atau oriental?" Tanya Minji, setidaknya dia butuh rekomendasikan.


"Apapun asal.kau yang masak!" Ujar Alex menggoda. Jordi menggelengkan kepala.


"Ah, mungkin aku bisa memberi sedikit masukan. Bagaimana kalau pancake dan salad untuk sarapan?" Minji mengangguk mengerti dengan saran Jordi. Jadi mereka makan masakan ala barat, pikir Minji.


"Ah benar, anak perempuan pasti hanya makan makanan sehat. Mereka memuji hidup sehat dan diet! Tapi itu tak membuat perutku kenyang!" Minji mengimak kalimat Alex.


"Bagaimana dengan hotdog, kentang goreng atau mashed potato?" Minji mengangguk mengerti. Jadi itu menu mereka? Untung Minji tidak berpikir membuat lontong dengan kuah santan.


"Oke, ini penginapan kita!" Jordi segera turun dan membantu Minji membawa keranjangnya.


"Ini cukup berat!" Minji mengangguk setuju dengan Jordi.


"Karena jordi sudah membantu membawakan barangmu, bagaimana kalau aku yang menuntunku?" Alex mengulurkan tangan, berharap Minji segera menyambut telapak tangannya.


Minji menatap beberapa saat. Haruskah dia menerima uluran tangan pria berdarah campuran ini? Minji ragu.


"Ehem!" Suara RI mengejutkan semuanya. Pria itu sedang meregangkan otot tangan, dia tak melihat ke arah dimana Jordi, Alex dan Minji. Tapi suara berdehemnya cukup mengganggu.


"Hey! Kau bukannya sudah tidur?" Tanya Alex. RI tak menjawab.


"Ayo kita masuk!" Jordi mengajak Minji, sementara Alex menghampiri RI.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2