Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Panik


__ADS_3

Pak Bambang baru saja merebahkan punggung di kursi ruang tengah, setelah seharian berdagang badannya sedikit ingin santai. Risa masih asyik menemani **** Ri di kamar bersama Emi.


Kai ikut bergabung duduk di depan pak Bambang, pria paruh baya itu menyambut Kai dengan senyuman ramah. 


"Bagaimana keadaanmu nak?" tanya Bambang perhatian. Kai melebarkan senyum, dia terkadang masih sedikit meringis jika lukanya terkena gerakan otot, tapi seperti yang dia katakan ini sudah biasa.


"Boleh bapak bertanya?" pak Bambang memasang wajah penasaran, dia memulai dengan suara yang lembut dan penuh perhatian. Kalimat sopan Bambang mencuri perhatian Kai. Dia teringat masa lalu bagaimana Kim menyapanya saat pulang sekolah. Dulu ayahnya juga pria yang lembut dan hangat.


"Nak?" Sentuhan di pundak Kai membuat dia tersadar dari lamunan, dia mengangguk seakan memberi izin pada Bambang untuk melontarkan lebih banyak tanya.


"Siapa namamu?" itu pertanyaan pertama yang ingin Bambang ketahui. Mereka serumah selalu saja memanggil Kai dengan sebutan pria itu, sudah saatnya Kai menyebutkan nama.


"Nama keluarga saya Kim, tapi panggil saja saya Kai. Saya sudah lama lepas nama keluarga" ujar Kai menjawab pertanyaan Bambang. Kalimat kaku Kai membuat dahi Bambang berkerut.


"Bahasamu bagus" puji Bambang, dia benar memuji atau apa sih! "Apa kau berasal dari daerah?" tanya Bambang lagi, aksen bicara Kai terdengar berbeda dengan bahasa yamg cukup formal. Sangat jarang anak ibukota berbicara sopan seperti Kai.


"Saya Korean. Saya bisa bicara Indonesia tidak bagus" ujar Kai mencoba memberi penjelasan.


"Aaahh.." Bambang bergumam paham. Pantas saja aksen bicara Kai terdengar asing. Tidak logat sunda, jawa, batak padang, papua.. ternyata dia dari Korea.


"Maksudmu, Korea yang mana?" tanya Bambang dengan wajah menyelidik. Dia mendengar dua negara Korea si televisi. Dan pak Bambang cukup update mengenai kedua negara populer itu.


"Apa kau agen rahasia?" Bisik Bambang, terkadang banyak cerita perihal penyusup dan agen rahasia yang dibahas di televisi jika menyangkut Korea utara.


"Atau kau idola anak anak muda di sekolahan?" bisik Bambang sekali lagi. Kali ini dia sedikit memberikan gerakan tari dengan tangannya. Dia sering mendengar cerita heboh remaja ketika mengantri nasi uduk di warungnya. Mereka akan berbisik, berteriak heboh membahas idola idola mereka.


"Saya sepertinya yang kedua, kpop idol sangat berpengaruh di sana" jawab Kai menyunggingkan senyum.


"Aaahh.." Bambang sekali lagi bergumam seakan paham dengan kalimat Kai.


"Jadi kau dari Korea selatan ya!" Kai mengangguk. Mengiyakan kalimat Bambang.


"Lalu kenapa kau seperti ini disini? apa kau terlibat keributan?" wajah Bambang berubah heran melihat keadaan Kai, dia terlihat miris dengan banyak bekas luka. Kai menunduk bingung. Bagaimana dia harus menjelaskan semuanya. Apa dia harus jujur? atau..


"Pak, bisa bapak menolong saya?" Bukannya menjawab, Kai malah mengajukan permohonan pada Bambang, jelas saja bapak di hadapannya menautkan alis. Dia bingung harus menjawab apa.


"Apa bapak tahu dimana pabrik garmen Jung?" tanya Kai tanpa menunggu jawaban iya atau tidak dari bibir Bambang. Mendengar nama Jung membuat wajah Bambang merengut kesal. Dia tak menyukai itu!


"Jung? mmm.." Bambang berpura pura berpikir. Sementara Kai menunggu jawaban dengan penuh harap. Bambang menggeleng, membuat harapan Kai seakan pupus dengan cepat.

__ADS_1


"Kalau begitu apa bapaj tahu dimana perumahan Garden royale?" Bambang mencoba mengingat. Itu bukan alamat pria yang merendahkan puterinya dulu. Jadi pria ini bukan sedang mencari Hoonkan? Bambang memberi tatapan menyelidik levih tajam. Dia masih enggan berkata jujur. Masih ada beberapa hal yang ingin Bambang ketahui.


"Kau mencari seseorang?" tanya Bambang ti the point. Kai mengangguk ragu, dia mengingat sedikit tentang ibunya.


"Iya, saya mencari ibu sayaa.." ujar Kai pelan, Bambang seketika terperanga mendengar ucapan Kai, mulutnya menganga seakan paham, apa dia anak yang terpisah dari ibunya? Apa dia tersesat dari kecil dan sedang mencari ibu kandung? Bambangenduga duga sendiri.


"Pa, ayo kita berangkat!" Emi muncul dengan dandanan rapi dan keranjang di tangan. Bambang segera menoleh dan menutup mulutnya yang sedari tadi terbuka.


"Oh, iya. Ayo bu!" Bambang bangkit dari duduk. Dia meraih kontak motor. "Nanti kita lanjut lagi yaa!" ujar Bambang sambil mengelus pelan pundak Kai. Dia harus menjalankan tugas negara terlebih dahulu. Menemani nyonya besar belanja ke pasar.


"Risa, mama berangkat nak!"


"Iyaaa.. Ma!"


"Sayaaang.. cucu akeek!" teriak Bambang meminta waktu sejenak pada Emi, dia masuk ke kamar dimana baby Ri berbaring, Bambang meninggalkan ciuman sebelum meninggalkan rumah.


Kai tersenyum sendiri melihat tingkah lucu pak Bambang. Keluarga ini sungguh hangat dan menyenangkan, batin Kai sedikit iri.


"Loh, kemana dia!" suara ketus Risa cukup mengejutkan Kai. Ternyata Risa mencari Kai ke kamar dan tak ada orang. Kai mendengar suara ketus Risa tapi dia diam saja.


Risa menggendong baby Ri dan hendak keluar rumah.


Sudah kubilang jangan tersenyum! dengus Risa kesal. Senyum Kai memang mirip dengan Glen, mau tak mau, mereka memang seayah. Wajar saja dong, gen yang mengalir kuat dari ayah yang sama. Sayangnya Risa terlanjur membenci garis senyum itu!


Risa mengambil stoller diantara sofa. Dia cukup kesulitan karenaenggendong baby Ri. Kai bangkit dari duduk, dia berniat membantu keripuhan Risa. Mau tak mau, suka tidak suka, Risa harus menerima bantuan Kai.


Tapi sepertinya pria ini kesulitan membuka lipatan stroller, dia terlihat bingung dan tak mengerti. Kemana harus menyangkutkan bagian perbagian yang terlipat agar terbuka dengan sempurna.


"Ah!" keluh Risa kesal. "Bisa kau gendong baby Ri sebentar!" Kai bangkit dari posisinya, dia mengikuti permintaan Risa. Dengan perlahan dia menerima baby Ri dalam gendingannya.


Risa menarik pangkal lengan bajunya, mendengus kesal. Dia berjongkok dan membuka lipatan stroller dengan cepat. Segini doang! duh, gampang! iyalah dia yang udah jadi mama! Kai kan masih belum pengalaman.


"Huu..Huuaa..huoee.." tiba tiba baby Ri menangis, membuat Kai bingung. Risa bangkit dari posisi berjongkok, dia menatap tajam ke arah Kai. Sebelumnya bayinya ceria ceria saja, kenapa setelah digendong Kai langsung menangis? Risa menautkan alis curiga.


"Kenapa sayang, kenapa?" tanya Risa seraya merebut kembali bayinya. Kai melongo tak mengerti. Dia juga sedikit tak enak dan merasa bersalah. Tangisan baby Ri kian kencang, membuat Risa dan Kai panik.


"Apa dia baik baik saja?" tanya Kai cemas.


"Harusnya aku yang bilang begitu! dia sebelumnya baik baik saja!" ketus Risa menyalahkan Kai. Pria itu hanya bisa terdiam. Duh serba salah kalau sudah berurusan sama mama mama, apalagi mama labil, yang baru punya anak satu.

__ADS_1


"Emm.. Apa dia sedang kurang sehat?" tanya Kai lagi, pria itu berusaha ingin membantu tapi yang ada malah terlihat panik, sama halnya dengan Risa.


Risa menempelkan punghung tangannya pada dahi baby Ri. Benar saja, dahi anak itu sedikit lebih hangat.


"Ah benar! anak mama demam" wajah Risa kian panik, Kai juga sama.


"Segera panggil ambulan!" ketus Kai, Risa meraih ponselnya, dia mengikuti kalimat Kai, tapi setelah menekan kontak Risa tersadar. Dia tak punya kontak ambulan. Tapi ambulan? bukannya terlalu berlebihan.


"Sstt!! Kau membuatku panik, diam saja!" pukas Risa kesal. Kai segera menutup mulut. Mencoba meredakan tangisan baby Ri dengan ekspresi konyolnya. Yang ada tangisan bayi di gendongan Risa bertambah jadi.


"Kau apakan sih!" pukas Risa emosi, dia melihat baby Ri kian menangis kencang karena melihat wajah Kai. Risa mendengus marah. Kai menggeleng takut.


"Ini semua gara gara kau!" tuding Risa menggoyang goyang pelan baby Ri digendongannya. Dia mengambil topi dan sepatu bayi. Meminta Kai memasangkan. Risa berinisiatif mengunjungi dokter terdekat Minimal dia akan berkonsultasi terlebih dahulu.


"Apa saya bisa ikut?" tanya Kai dengan wajah memohon. Risa tak suka Kai, bawaannya cuma jengkel jika melihat wajah Kai. Tapi kali ini dia mengangguk juga.


"Kau bawakan payung!" perintah Risa menunjuk payung disudut samping pintu. Kai mengerti, dia menyambar payung yang paling besar. Mereka keluar rumah dengan wajah cemas.


"Sabar yaa sayang.." ujar Risa masih terus mencoba menenangkan bayinya.


"Sayaangg.." Kai ikut bergabung, dia berniat baik pada baby Ri. Tapi bayi itu sepertinya sedang rewel, kata sayang dari bibir Kai membuat Ri tak mau berhenti menangis.


"Kau lebih baik diam dan pegang payung saja!" dengus Risa hampir putus asa terhadap Kai..


***


Terima kasih masih membaca


terus dukung dengan, komentar dan bintang5 sebanyak banyaknya


kirim star vote sebanyak2nya


yang punya gift boleh dong kirim disini, sekian banyak reader masa bru 4 gift *nangissss....


Semoga masih bisa terus lancar menulis yaa..


terima kasih dukungan kalian


itu semua sangat berarti untukku..

__ADS_1


__ADS_2