
Risa berdiri dari kursi meja makan melihat Hoon menarik kopernya.
"Kau mau kemana?" tanya Risa dengan wajah terkejut, Hoon mengukir senyum, Glen ikut bangkit dari duduknya.
"Aku rasa sudah cukup kau menemaniku, aku ada perihal yang harus aku urus sendiri" Glen menautkan alis mendengar kalimat Hoon.
"Kau akan kemana!" Hoon tersenyum sinis, dia enggan berbalik menatap Glen ataupun Risa.
"Jangan khawatir, aku bisa mengurus diri sendiri" Hoon berlalu, dia meletakkan kontak mobil dari direktur di meja.
"Aku meninggalkan ini, mungkin kau akan pakai" ujar Hoon dengan senyuman sinis. Dia terus melangkah. Risa mengikuti langkah Hoon, mengejarnya. Glen termangu, tadi sore setelah dia keluar dari kamar Risa, Hoon belum juga pulang. Dia menerima telepon dari siapa? Glen sedikit aneh.
Hoon tak berhenti dia masih terus berjalan menuju lift, Risa mencoba menghentikan Hoon.
"Hoon, kenapa kau pergi begitu saja!" ujar Risa bingung. Hoon tak ingin peduli, tapi sentuhan telapak Risa di lengannya membuat wajahnya sinis. Berani sekali dia menyentuhku dengan tangannya!.
"Hoon ada apa?" tanya Risa tak enak, dia melihat ada yang berbeda pada diri Hoon.
"Hoon.." suara Risa membuat Hoon kesal, dan. pintu lift tak kunjung terbuka.
"Hoon.." Dia semakin geram, Hoon membalikkan badan dan menatap Risa tajam. Pintu lift terbuka.
Hoon mendorong tubuh Risa hingga mentok ke dinding lift. Pintu lift tertutup, Glen tak sempat melihat.
Hoon menahan tubuh Risa dengan tenaganya. Matanya menyorot tajam, Risa mengerutkan dahi.
"Apa kau semurah itu!" dengus Hoon, Risa tak mengerti.
"Apa kau sangat murahan!" bentak Hoon, Risa makin tak mengerti.
"Wajahmu sungguh membuat ku kesal! berhenti berpura pura polos, kau murahan!" Risa melotot tak percaya mendengar ucapan Hoon.
"Apa katamu!" Risa tak mau kalah
"Murahan!" ejek Hoon dengan wajah serius.
__ADS_1
"Coba ulangi.." Risa menantang.
"Kau, murahan!" ketus Hoon dengan wajah penuh emosi, dia juga jijik melihat wajah Risa.
Risa menahan kekesalannya. Bisa bisanya dia berkata seperti ini! batin Risa tak terima.
"Kenapa! kau tak terima!" Sepertinya Hoon bisa membaca isi kepala Risa.
"Kau tidur dengannya kan! kau -- ****! shit!" Hoon kehabisan kata kata dia kesal sendiri. Kerutan di dahi Risa kian bertambah, apa maksudnya.
"KENAPA KAU TIDUR DENGAN GLEN!!" teriak Hoon meloto marah. Risa jelas ketakutan.
"DIA IPARKU!!"
"DIA PACAR KUU!!"
Keduanya berteriak serempak. Keduanya melotot kompak.
"APAA!!" sekali lagi keduanya berteriak kompak.
"Apa kau bilang?" Risa tak percaya, wajah Hoon kian mengeras. Pintu lift terbuka. Keduanya berusaha menahan ekspresi mereka melihat salah seorang staff memperhatikan tingkah aneh keduanya. Hoon mengepalkan tangan. Sementara Risa matanya berkaca kaca.
"Bisa aku sewa satu!" ujar Hoon kemudian mengambil uang di dompetnya, dia menyerahkan kartu identitas juga. Semula staff tak mau memberi tapi setelah melihat siapa Hoon, dia mengangguk dan memberi satu. Hoon menarik pergelangan tangan Risa. Mengikuti staff, sebuah ruangan berukuran studio, Hoon mengangguk, dia tak melepaskan pergelangan tangan Risa.
Tak berapa lama setelah staff meninggalkan Risa. Hoon membanting tubuh gadis itu ke kasur.
"Jadi kekasihmu adalah DIA!!" tunjuk Hoon ke arah mana saja. Risa menahan isak tangisnya, nyeri karena genggaman tangan atau karena dibanting sudah tak bisa dirasakan.
"Kau berpacaran dengan suami nuna ku!" tuding Hoon emosi. Dia menahan tangannya yang sudah ingin terangkat. Risa hanya bisa terisak.
Risa masih tak percaya dengan kalimat Hoon.
"Apa yang dia berikan padamu! aku bisa beri lebih!" teriak Hoon marah. Risa tak bisa menatap Hoon. Dia tak bisa percaya dengan kalimat dari bibir Hoon, dia tak bisa percaya.
Melihat Risa yang diam saja membuat Hoon kian geram, dia mendekatkan wajah mereka, memaksa Risa menatap wajahnya.
__ADS_1
"Apa kau puas! kau menjadi orang ketiga dalam pernikahan nuna ku!" sindir Hoon dengan wajah jijik. Risa berusaha mengangkat wajahnya, air mata terus turun berkali kali. Dia berusaha membuka bibirnya, bergetar, Risa sangat takut.
"Hoon.. aku tidak tahu.." ujar Risa dengan suara pelan. Bibirnya terus bergetar.
"Aku tidak tahu.." ujar Risa kian terisak. Dia sendiri tak tahu apa yang dia rasakan kini, kalimat Hoon sungguh memukulnya. Bagaimana mungkin kekasihnya sudah menikah. Bagaimana mungkin kekasihnya sudah punya istri. Semua itu seperti bola api yang membakar Risa. Dia tak bisa berpikir lagi, dia bahkan kesulitan bicara.
Hoon mendorong tubuh Risa hingga pasrah telentang di kasur, dia masih terus menangis, di kepalanya hanya terbayang bagaimana Glen merayu dan membuat dia jatuh cinta, dan Glen orang pertama yang membuatnya jatuh cinta. Tapi ternyata Glen tak mencintainya setulus itu.
"Apa kau terlalu menginginkan semua ini!!" Hoon menarik blus Risa hingga robek, menampakkan bra renda yang membungkus dadanya, Risa tak peduli. Dia memiringkan badan dan masih terus menangis, air mata terus mengalir, Risa menangis tanpa suara. Dia sudah tak peduli lagi dengan Hoon, dengan apa yang Hoon lakukan.
Hoon membuka pakaiannya dengan cepat dia melempar pakaiannya kemana saja, Hoon mencium perut dan dada Risa dengan kasar. Risa tak peduli, dia hanya terus menangis. Risa ingat bagaimana pertama kali dia melakukan dengan Glen, begitu percaya diri, begitu percaya dengan mulut Glen, dia tak mau percaya apa yang dikatakan Hoon, tapi itu tak mungkin. Hoon begitu marah, Hoon begitu kecewa, tentu saja karena itu suami nunanya.
Hoon mencengkram dagu Risa, dia ingin gadis itu menatapnya, tapi Risa tetap tak peduli.
"Kau menginginkan semua inikan!" hardik Hoon "Kau ingin semua ini kan!" Hoon mencengkram dada Risa kasar, gadis itu tak merespon. "LIHAT AKU!!" teriak Hoon kian marah.
Sikap Risa yang dingin membuat hoon putus asa, dia kembali mengenakan pakaiannya. Risa bangun dari posisinya, dia duduk dengan tubuh tak bergairah, tak bertenaga.
"Kenapa kau berhenti!" ucap Risa mengejutkan Hoon "Kenapa kau tak melakukannya juga padaku! bukankah aku murahan! bukankah harga diriku ini sangat murah!" ujar Risa masih dengan air mata becucuran.
"Lakukanlah sesuka kalian, aku ini hanya gadis miskin yang murahan.." Risa tersenyum sinis, dia melihat jelas wajah Hoon yang menahan geram.
"Lakukan sesuka kalian, orang kaya bebas melakukan apa saja!" Risa terus berceloteh, dia begitu kecewa menyadari Glen hanya mempermainkannya, dia terlalu sombong, terlalu percaya diri, mana ada pria kaya yang jatuh cinta pada gadis biasa, itu hanya dongeng.
"Kau juga! lakukan sesukamu! lakukan semua kemauanmu!!" teriak Risa menahan tangisannya, dia tersedu sedu, pundaknya bergetar hebat. Dia sungguh tak ada harga diri lagi, Risa yang bertelanjang dada di hadapan Hoon. Dia kehilangan semuanya.
Hoon mencari sesuatu, dia menarik taplak meja dan menutupi tubuh Risa, bagaimanapun hati kecilnya tetap iba. Walaupun Hoon membenci Risa dia tetap memiliki nurani yang baik. Risa menolak. Dia melepaskan taplak meja dari pundaknya, kembali memamerkan dadanya yang tertutup bra renda.
"Aku akan pergi" ucap Hoon menarik kopernya.
Risa menarik pergelangan tangan Hoon, mencoba menghentikan.
"aku mohon, jangan tinggalkan aku sendiri, jangan tinggalkan aku seperti ini, aku mohoon.." Risa kembali menangis. Sebenarnya Hoon merasa jijik, mengingat apa yang Risa dan Glen lakukan, tapi hatinya tetap tak bisa meninggalkan Risa seperti ini.
Risa pun demikian, dia tak mau Hoon meninggalkannya.
__ADS_1
"Baiklah, aku tunggu kau tenang." ucap Hoon kemudian duduk di samping Risa. Hanya berdiam diri mendengarkan Risa yang terus menangis.
"Aku sempat suka padamu.." ujar Hoon kemudian, Risa berhenti sebentar mendengar kalimat Hoon, meski dia masih terseguk karena tangisannya.