Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Tak mengerti


__ADS_3

Hoon mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Perasaannya terombang ambing tak menentu. Tidak usah berpura pura lagi semuanya sudah jelas tampak.


CKIIITTT!!!


Hoon menghentikan mobil dengan paksa hingga kepalanya hampir saja membentur stir. Dia menundukkan kepalanya hingga terbenam di antara kedua lengan yang berpangku pada stir kemudi. kenapa sakit sekali rasanya! Kenapa sesuatu sangat sakit disini! Di dada dan di sekujur tubuh. Hoon tak bisa lagi menahan perasaannya. Dia menangis.


"Huhuhu.." suara tangisan yang dalam, suara pria yang tertahan, suara yang seharusnya tak keluar seperti ini. Tangisan pria hanya untuk sesuatu yang amat berarti dalam hidupnya. Begitulah Risa bagi Hoon!!


"Kupikir dengan menanti masih ada harapan untukku! Kupikir masih ada sisa waktu untukku.." lirih Hoon berlinang air mata.


"Bodoh! Bodoh! Kau melepaskannya saat itu!" menyadari dia yang meninggalkan Risa setaun yang lalu hanya membuat bibirnya terus mengumpat menyesal, kesal, bercampur menjadi emosi.


"Secepat itu!" bahkan mereka sudah memiliki bayi!


"Aaaakkhhh!!" Hoon berteriak. Berusaha membuang semua resah di dalam hatinya. Berhasil? Tidak, yang ada seluruh perasaannya kian kecewa. Marah! Tapi pada siapa? Risa tak pernah lagi menganggapnya, Risa tak pernah memberikan setitik cela. Hanya Hoon saja yang tak sadar diri. Semua sudah berbeda. Setahun bukan waktu sebentar. Hoon sadarlah!


Hoon meraih tisu dan menghapus air mata. Dia membanting punggung, mencoba mengatur nafas. Tetap saja bulir air matanya terjatuh. Seperti ini lagi! Masih seperti ini, sama seperti tahun lalu, Hoon tak pernah benar benar bisa berdiri sendiri lagi. Hoon memang tak bisa melepaskan cinta pertamanya, sama seperti dahulu. Tak bisa.


Flashback setahun yang lalu.


POV Hoon.


Saat malam sunyi seperti ini. Kau akan menyodorkan cokelat hangat padaku. Atau aku yang bangun dan menyeduhnya untukmu. Kenapa aku melakukannya? Kenapa aku membuatkan dirimu makanan, menyeduhkan cokelat yang kau sukai. Mengapa aku begitu senang melakukan semua itu? Karena aku mencintaimu! Karena perasaan ku tulus padamu. Kau wanita pertama yang melemahkan egoku, kau membuatku begitu nyaman dengan suara berisik dan perintah ketus mu. Kenapa aku selalu merindukan dirimu? Kebahagiaanku seakan hilang kini.


Suara televisi tak bisa ku tangkap jelas, karena tak ada dirimu disisiku, tak ada yang bersandar manja di atas dadaku. Aku membeli beberapa botol minuman alkohol, sekedar untuk membantu menenangkan diri. Tapi tidak. Minum bersama denganmu adalah yang terbaik.


Apa kau ingat? Pertama kali kita menjadi satu. Saat itu pertama kali kau meneguk minuman ini, apa rasanya? Pahit. Tapi kejadian diantara kita begitu manis. Kau seperti candu dalam hidupku. Aku merasa lemah tanpa kau bersama denganku. Kenapa aku begitu bodoh! Cemburu membakar diriku.


Aku sangat takut kehilangan dirimu, sama seperti aku takut saat mama meninggalkanku, atau saat papa juga kompak pergi meninggalkanku. Sebetulnya masih ada nuna, tapi dia sulit ku mengerti. Berbeda dengan dirimu.


Aku beranjak dari sofa ke tempat tidur. Kosong! Aku meraih bantal dan merebahkan tubuh barangkali bisa tertidur, mencoba memenuhi ranjang dengan merentangkan tangan dan kaki. Sepi. Aku benci kesendirian ini. Berapa besar egois dalam diriku tak memakan waktu seminggu lalu sirna, yang tersisa hanyalah kesepian. Risa, aku ingin kita bersama lagi. Bisakah?

__ADS_1


Air mata menetes di sudut kedua mataku, jatuh membasahi sprei putih ranjang kamar kita. Kita? hatiku tertawa sinis, menertawakan ego yang memuncak di dalam kepalaku.


Air mata mengalir di sudut kedua mataku. Hangat, aku mencoba menghela nafas dan menghembuskan lewat mulut. Mangatur laju pernafasan dengan perlahan. Semoga bisa sedikit menenangkan jiwa ini. Ah bayangan keluarga kecil bahagia itu melintas lagi di kepalaku, aku tak bisa menerima kenyataan pahit ini.


***


"Kemana sih anak ini!" Eun mendengus kesal karena sudah berapa lama menunggu balasan dari Hoon. Terakhir adiknya masih bertanya dimana alamat rumah Risa. Eun mana tau! dia tak bisa menghafal tiap detail kehidupan pribadi karyawannya kan!


"Ah, dia membuatku khawatir saja!" Eun memijat dahi. Hoon kenapa bertingkah aneh sih, apa dia belum tahu cara menghadapi wanita sampai berubah anes seperti ini? Ckck.. Eun tambar khawatir, dia menekan layar ponsel.Kali ini Eun masih mencoba mengontak Risa.


"Hallo.." jawaban dari seberang sana membuat wajah risau Eun berubah sedikit cerah.


"Risa?"


'Iya, maaf ini siapa?'


"Hallo Risa, ini aku nuna!" balas Eun dengan nada riang.


'Emm.. tidak nuna, bayiku hanya sedikit kurang sehat, aku baik baik saja'


"Apa! ada apa dengan bayimu? apa sesuatu hal buruk! bisa kirimkan alamatmu?" Eun mengangguk seakan mengerti, dengan sigap dia mengambil selembar note, menuliskan sesuai perunjuk arah dari seberang sana.


"Oke, aku akan ke rumahmu!" ujar Eun dengan penuh semangat.


'Tapi apa tidak terlalu sore untuk nuna, nanti takut terjadi hal hal yang tak diinginkan..' Suara Risa dari seberang sana berusaha mengingatkan. Eun sekali lagi mengangguk seakan mengerti.


"Oke, besok aku akan mengunjungi adik bayi!" ujar Eun tak menunggu persetujuan dari Risa. Dia masuk ke dalam mobil, mengambil satu kartu dari dalam tasnya, bibirnya tersenyum lebar. Eun sangat bersemangat dan gembira.


"Sekarang saatnya kita berbelanja!"


BRUUUMM..

__ADS_1


Eun mengemudikan mobilnya sambil bersenandung. Audio menyetel lagu terbaru yang penuh semangat dari Suga bts, wah sangat sesuai dengan mood Jung Eun saat ini. Biasanya Eun tak begitu menyukai hip hop, tapi hari ini dia sedang merasa gembira, lagu apapun akan sangat dinikmati saat ini.


Eun memeriksa layar ponselnya sekali lagi. Kenapa Hoon masih juga belum membalas pesannya! entahlah, Eun tak mau ambil peduli, dia memarkirkan mobil dengan sekali putaran. Lurus sempurna, jarang jarang sekali. Eun masuk ke sebuah toko besar dengan nuansa warna warni.


"Selamat datang, silahkan berbelanja.." Eun mengedarkan senyum. Dia mengambil satu trolly besar, bersiap mencari incaran.


"Baby boy, aunti comiiiingg..." bisik Eun mulai menulusuri tiap tiap rak tinggi. Eun mengambil setiap perlengkapan bayi yang terlihat menggemaskan dimatanya, dia memilih semua yang berwarna biru. Pakaian, topi, sepatu, kaus kai, tas, bahkan sampai ke popok bayi sekali pakai.


"Aku ingin yang berwarna biru!" pinta Eun pada pelayan.


"Nona ini hanya covernya saja yang berwarna biru, diapers semua hampir berwarna putih nyonya" terang pelayan ramah dan sopan.


"Oh tidak! aku mau hanya yang berwarna biru, tanpa terkecuali!" pinta Eun memaksa. Pelayan mengerutkan dahi. Dia berusaha mencari diaper yang memiliki print nuansa biru.


"Aku juga harus membeli beberapa mainan untuk my baby boy!" Eun pindah ke rak mainan, dia mengambil bola basket dengan print biru doraemon. Ah, dia juga mengambil samsak tinju dengan sarung berwarna biru. Itu terlalu cepat Eun, baby Ri bahkan baru satu tahun!


"Mobil remote, drone ini.." Eun kalap.


Eun melirik layar ponsel dan mendapati panggilan dari Hoon.


"Hallo, kau dimana?" tanya Eun kesal.


"Kau sudah di rumah? tunggu saja sebentar lagi aku pulang. Aku sedang di baby shop!" jelas Eun.


Hoon menautkan alis. Dia belum sempat turun dari mobil, mendapati begitu banyak catatan panggilan dari Eun, Hoon langsung balik menghubungi nunanya. Tapi apa yang Eun lakukan di toko perlengkapan bayi?


"Baby shop?" Hoon tak mengerti.


****


pokokmya terus vote, komen, share, kirim hadiah review bintang 5 sebanyak2nya

__ADS_1


__ADS_2