Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Berawal dan berakhir


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit elit Seoul.


Kai menunggu Eun di ruang terapi, sesekali dia mengintip di balik kaca, dari wajahnya sangat jelas jika Kai mencemaskan Eun.


Tak berselang lama Eun keluar dengan wajah yang datar. Terlihat dia terbebani dengan pikirannya. Itu membuat kai khawatir.


"Ada apa?" tanya Kai penuh perhatian.


"Apa selama ini Glen meracuni ku? apa maksudnya sugesti buruk?" tanya Eun dengan mata tak percaya. Kai terlihat sedikit berpikir. "Kau harus ikuti saran psikiater, lakukan terapi. Semua sugesti buruk itu akan hilang perlahan" Eun menarik nafas dalam, dari gestur tubuhnya dia sangat tak nyaman "aku merasa tak enak badan" gumam Eun. Kai membuka jaketnya dan menutupi punggung Eun, "Ayo kita pulang" Eun melirik Kai lalu tersenyum sinis. "Kau ini!", "Haruskah aku bercerai?" tanya Eun seperti mengejek. "Lebih cepat lebih baik" balas Kai tertawa senang. Eun mencubit pangkal lengan Kai membuat pria itu protes manja. "Kau mencubit luka ku!"


"Apa masih sakit?" tanya Eun khawatir, Kai tersenyum lebar.


"Lebih sakit saat kau berdua dengannya di dalam kamar sih!" gerutu Kai dengan wajah kesal. Eun berdecak, tapi itu benar. Dia merapatkan tubuh ke dada Kai.


"Harusnya kau mengatakan semuanya sebelum aku menikah" Eun memeluk pinggang Kai, membuat pria itu tersenyum senang.


"Tidak apa, semua butuh proses. Aku suka hasilnya" kalimat Kai membuat Eun tersenyum, dia menerima kecupan di dahinya, bibir Kai yang hangat, yang sudah lama tak dia rasakan.


***


"Kita akan kemana?" melihat Hoon yang sibuk merapikan isi kopernya yang sempat di acak acak karena mencari kaos yang pas di badan Risa.


"Ke rumahku!"


"Ke Korea?" tanya Risa polos. Hoon menghela nafas.


"Aku membeli sebuah hunian, kau akan ikut denganku kan?" Risa membelalakkan mata, apa itu artinya mereka akan tinggal bersama lagi? setelah kejadian semalam. Risa mencoba berpikir.


"Bukankah aku harus mengambil barang dan memutuskan hubungan dengan bos Glen?" tanya Risa. Hoon mengangkat bahu.


"Aku bisa mengganti 10 kali barangmu, tapi perihal hubunganmu, kau harus segera tuntaskan!" ujar Hoon dengan wajah serius. Tak begitu lama, air wajahnya berubah menggoda.


"Memangnya kau tidak mau punya kekasih super sempurna seperti ku?" Risa mendelik mendengar tingkat percaya diri Hoon.


"Aku serius loh! ini penawaran langka!" gusar Hoon membalas tatapan sinis Risa.


"Kau tak mau? hah, hah!" Hoon menantang, dia segera memeluk Risa, meski berontak toh Risa tetap menerima pelukan Hoon.


"Apa kau yakin, kau mau denganku?" tanya Risa ragu. Hoon mengangguk cepat.


"Ya, apa kau mau denganku?" Hoon balik bertanya. Risa terlihat berpikir. "Biar kucoba pertimbangkan"

__ADS_1


"Apa katamu!" gusar Hoon kesal, dia segera mencubit pipi Risa dengan gemas.


"Aaaa.. iyaaa, hentikan, sagiiit tawuu!!" pinta Risa menahan cubitan gemas Hoon.


"Kau mau kan jadi kekasihku?" pinta Hoon sekali lagi.


Risa melirik sebentar, lalu..


Dia mendekatkan dahi, memburu bibir menggoda Hoon.


"Aku tahu kau tak akan menolakku" gumam Hoon bersiap membalas serangan.


Masih pagi hari, tapi keduanya sudah saling menikmati sarapan panas.


***


Mengakhiri Hubungan


Meski ragu ragu, akhirnya Risa diikuti Hoon kembali ke apartemen Glen. Mereka masuk dengan membuka pintu hampir tanpa suara. Risa dan Hoon terkejut mendapati Glen tertidur di sofa, dia segera terjaga. Glen membuka mata dan melihat bagaimana Hoon juga Risa mematung di hadapannya, apa apaan itu? Risa bahkan mengenakan kaos Hoon yang memamerkan setengah pahanya.


"Kau dari mana?" tanya Glen menghakimi, dia menatap Risa tajam. Risa mencoba membalas tatapan mata Glen.


"Ada apa Risa, apa yang kau bicarakan?" tanya Glen seolah tak mengerti.


"Aku ingin hubungan kita selesai!" tegas Risa sekali lagi. Glen kembali melirik Hoon yang cuek. Sial! upat batin Glen, bagaimana aku bisa menjelaskan kalau Hoon ada di sini.


"Baiklah, aku selalu mendukung keputusanmu" ujar Glen kemudian. Hoon menahan senyum sinis.


Risa membereskan barang barangnya, sementara Hoon masih berdiri di tempat semula. Glen pun sama, mereka belum beranjak.


"Hoon, apa yang terjadi? apa kalian mabuk?" tanya Glen perhatian, cih, batin Hoon berdesir mendengar kalimat buatan Glen.


"Kenapa Risa mengatakan semua itu? hubungan apa yang dia maksud?" playing victim! Glen menjadi orang yang tak merasa bersalah dan seolah tak mengerti dengan kondisi yang dia ciptakan sendiri.


Hoon melihat Risa sudah mendekat tanpa Glen sadari.


"Oh, berarti hanya salah paham, sepertinya Risa menyukai hyung" kalimat Hoon menjebak. Glen tertawa sinis.


"Mana mungkin aku menyukai gadis seperti itu, dia bukan sandingan Eun.." Risa menarik kopernya, mengejutkan Glen. Pria itu menelan ludah pahit. Risa meletakkan cincin di meja, dia meninggalkan apartemen tanpa kata kata, hanya menunduk malu juga marah. Hoon mengikuti Risa. Keduanya beriringan keluar menuju lift. Risa menarik nafas dalam, mencoba membuang beban berat di dadanya. Hah, sia sia! mengingat perawannya hilang oleh Glen sungguh menyesakkan. Itu hal yang paling Risa sesali, mengingat semua janji palsu dan mulut manis Glen membuat mata Risa kembali berkaca kaca. Hoon mengangkat tangan merangkul pundak Risa.


"Ayo!" ujar Hoon meraih telapak Risa, menggandeng tangan. Risa mencoba tersenyum, memang hanya Hoon yang bisa membuat hatinya lebih lepas dan bahagia.

__ADS_1


"Mana mobilmu?" Risa bingung tak mendapati mobil di parkiran depan, kosong.


"Bukankah kau menaruh mobil di basement" Hoon menggeleng, dia tidak menggunakan sedan lama nya.


"Mobil itu akan aku hibahkan" Risa melongo tak percaya.


"Bisakah kau hibahkan pada ku?" dengan wajah manja Risa seperti merayu dan memohon. Hoon menjentik dahi Risa.


"Pacarku tidak menunggangi sedan tua!" sinis Hoon, Risa merengut. "Bahkan yang tua pun aku belum bisa beli" gumam Risa mengasihani diri sendiri.


Sebuah mobil keluaran terbaru yang baru saja diliput majalah otomotif berhenti tepat di depan lobby, Hoon segera menggandeng tangan Risa. Gadis itu bahkan masih melongo melihat mobil BMW mewah ada di depan matanya. Seorang pria bersetelan lengkap, kacamata hitam keluar mobil, dia membukakan pintu. Hoon menuntun Risa untuk masuk sebelum dirinya. Kagum Risa tak henti hanya sebatas itu. Pria berjas dan berperawakan tegap itu juga memberikan Hoon jas, Risa menatap heran.


"Pria itu sudah diurus kepolisian" ujar pria bersetelan jas tanpa menoleh. "Saya akan mengantar anda ke mansion, lalu mengunjungi direktur" Hoon mengangguk. Mereka meluncur dengan mobil hybrid terbaru, interior khas anak muda membuat Risa berdecak kagum, mobil ini sungguh tipe Hoon sekali, stylist, simple dan sporty.


Risa melirik Hoon, dia ingin bertanya pada Hoon, ada yang mengganjal di hati nya tapi segan. "Ada apa?" tanya Hoon membalas tatapan ragu Risa, dia menyadari tatapan penuh tanda tanya dari wajah Risa.


"Mm.. apa kau kenal dia? kita sebenarnya mau dibawa kemana?" ujar Risa berbisik, wajahnya melirik takut pada pria di kemudi, Hoon tersenyum lucu.


"Tunggu saja!" jawab Hoon membuat Risa mengerutkan dahi.


Bukan cuma mobil mewah yang ditumpangi, sebuah mansion bergaya Eropa di depan sana membuat wajah Risa kian takjub.


"Wah, apa itu villa?" Hoon tersenyum melihat wajah takjub Risa yang luar biasa.


Sopir dengan setelan jas lengkap menuruni mobil, dia membukakan pintu Hoon, senentara Hoon turun dan membukakan pintu Risa. Gadis itu tersenyum malu melihat tingkah Hoon yang mengulurkan tangan, Risa bak seorang putri raja saja.


"Tuan, saya akan ke rumah direktur Mei, anda memutuskan pindah begitu saja, banyak hal yang belum dipersiapkan" Hoon mengangguk setuju, pria itu meninggalkan Hoon dan memberi Risa senyuman kecil.


"Dia sopan sekali padamu" gumam Risa takjub, seorang dengan perawakan seperti itu begitu hormat dan santun pada Hoon, pasti kedudukan Hoon bukan main main. "Kau memang tuan muda ya?" Hoon membuat wajah mencibir, melihat wajah Risa yang tak percaya akan kedudukannya sebagai pewaris Jung, Hoon memang bukan kaleng kaleng.


"Ayo kita masuk. Dia akan mengurus semuanya" ujar Hoon kemudian mempersilahkan Risa masuk terlebih dahulu.


Bangunan dengan sentuhan seni arsitektur tinggi, bergaya Victoria Eropa. Tak jauh berbeda dengan kediaman Jung di Korea.


Hoon mendorong pintu, ruangan luas dengan lantai marmer mengkilap. Penampakan sofa dan lemari yang ditutup kain katun putih. Hoon menarik kain penutup perabot rumah, Risa masih takjub dan memeriksa sekeliling. Rumah ini memang belum siap, perabot masih tertutup kain dan sedikit berdebu.


Keduanya menyusuri tiap sudut ruang, hingga melihat sebuah pintu kamar yang terbuka.


Hoom membuat wajah heran, dia jelas bingung, kenapa ruang dengan papan namanya terbuka "Siapa yang membuka pintu kamar ini?" pada pintu kamar tertulis Jung Hoon room, yang berarti itu kamar diperuntukkan untuk Hoon. Dengan wajah penasaran Hoon memasuki kamar, Risa mengikuti dari belakang.


Sebuah gaun tipis tergeletak di lantai, Hoon mengerutkan dahi.

__ADS_1


__ADS_2