
mungkin ini sudah saatnya mengakhiri semua, akhirnya tiba juga puncak hari malah kan ini. sangat sulit bagi Kim melihat dua kim lainnya di sini.
Kim menatap Kai dan Glenn bergantian. Pria itu meraba sesuatu di sakunya. alisnya bertaut kencang.
"Harusnya aku tak bermain-main terlalu lama denganmu!" Kim mengacuhkan pistol ke arah Kai dan Glenn. Kedua tangannya seakan sangat siap menarik pelatuk.
Hoon segera mengambil bayi RI dari kereta, dia menggendong erat-erat, menyembunyikan dibalik jaket kulit hitam yang dikenakannya. Hoon tetap siaga mencuri lirik ke arah Kim. Dia masih mencurigai pria di depan sana. Hoon hanya ingin segera meninggalkan tempat ini dan menyelamatkan bayi RI.
Kai masih mematung, dia seakan siap jika peluru dari senjata di depan sana menembus otaknya. Sementara Glen terlihat panik, dia tak seharusnya meninggalkan nama di sini! Glen belum mau mengakhiri hidup.
Kim memperlambat waktu seakan meminta kedua targetnya melihat jelas kematian yang sudah di depan mata. melihat Glen dan Kai di depan matanya terbayang masa lalu Kim. Bagaimana sulitnya hidup saat ibunya sakit keras, bagaimana sakitnya hati saat ayahnya jatuh cinta pada wanita lain.
"Untuk semua keserakahan wanita di masa lalu!" Kim menatap tajam ke arah Kai
"Untuk semua pernikahan yang ternodai!" Kim melirik kearah Glenn dan kembali menatap Kai.
"Untuk semua kesakitan dan kekecewaan di dalam hatiku!" Dengus Kim penuh emosi
"Untuk ibumu yang merebut ayahku, untuk wanita sampah yang menjual dirinya demi anak haram sepertimu!" Suara Kim menggeram kesal
"Demi kesakitan yang menggerogoti tubuh ibuku. Demi kesuksesan yang ibumu nikmati, demi siksaan yang ibu mu tak pernah sesali, tak ada satu pun yang aku inginkan selain KEMATIAN KALIAN!!!!" Teriakan Kim menunjukkan ambang batas emosinya.
"Pernah mendengar buah tak pernah jatuh jauh dari pohonnya, jika aku, kau, dan kau. kita adalah sama seperti darah yang mengalir di dalam tubuh kita maka akhiri saja.." Kim tak mengulur waktu lagi. Dia menarik pelatuknya.
Glenn mencoba melarikan diri, dia berlari kearah Hoon, Glen tahu target Kim hanya dia dan Kai. Clan menabrakan diri ke Hoon.
Kai tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Glen, dia mengambil cela, saat Hoon lengah. Hoon hanya curiga pada Kim. Glen menabrakkan diri sekuat tenaga ke arah Hoon hingga mereka tersungkur. Kai mencoba berlari menghentikan Glen. Itu sangat membahayakan bayi Ri. Apa yang dia lakukan! Dia begitu egois!
DOOORRR!!
__ADS_1
DOOORRR!!
Hoon terjatuh dengan sebelah kanan masih memeluk bayi Ri. Dia akan menarik senjata di pinggangnya, haruskah dia mengacungkan kepada Kim yang melepaskan peluru atau Glen yang mengambil kesempatan?. Kai memegang dadanya yang terluka. Sementara Glen berhasil menghindar.
Hoon mencoba memberi perlawanan dengan melepaskan satu peluru peringatan ke udara. Itu adalah kode berbahaya untuk agennya segera beraksi. Sayang sekali, gerakannya membuat fokus Hoon hilang, bayi yang semula didalam pelukannya, kini sudah di tangan Glen.
Glen memang tidak membawa senjata. Harusnya dia memang tidak di sini! Glen mencari-cari sesuatu yang bisa membantunya mempertahankan diri. Sebuah botol minuman, glen memecahkannya, dia mengacungkan bagian tajam kearah bayi RI.
"Jangan lakukan apapun padaku!!" pinta Glenn memerintah. Dia memberi peringatan kepada semuanya, kepada Kai yang tangannya sudah tak sanggup meraih senjata. Kepada Kim yang bertahun-tahun tak pernah diberikan keturunan. Kepada Hoon yang seorang ayah tapi tak pernah melihat bayinya.
"Jika bayi ini ingin selamat. Biarkan aku keluar dari sini!" Pinta Glen. Hoon sangat gugup, dia tak akan membiarkan Glen bertindak konyol kepada bayinya.
"Aku mohon biarkan Glen Hyung, kali ini saja.." pinta Hoon mengajukan permohonan kepada Kim. Itu adalah harapan sebagai seorang ayah, itu adalah sebuah permohonan yang sangat berharga. Hoon merendahkan dirinya.
Hoon menjatuhkan dirinya, dia berlutut di hadapan semuanya, dia memohon untuk anaknya. Jangan lakukan apapun atau tak ada satupun yang akan memaafkannya. Jangan sakiti bayinya karena belum ada setitik pun kebahagiaan yang pernah dia berikan. Jangan membuatnya menjadi ayah terburuk di dunia ini. Hoon menundukkan kepala, dia memohon dengan bersujud.
Glen tersenyum sinis, melihat betapa mudahnya Hoon merendahkan diri dihadapan mereka.
"Hei, kau bahkan bisa membuat 10 anak dalam satu malam, kau hanya memerlukan banyak wanita bersamamu!!" Kalimat Glen memancing emosi Kim. Kata sampah yang pantas untuknya!
DOOORR!!
Sebuah tembakan melesat tepat di tengah punggung Glen, membuat bibir sinis itu terperangah tak bisa berbicara lagi.
"Sudah kubilang jangan me..nembakku.."lirih Glen di sisa tenaganya. Hoon segera bangkit dan merebut bayinya, tapi senjata Glen lebih dulu melukai Ri, Tetesan darah pertama bayi Ri jatuh tepat di telapak tangan Hoon, kompak dengan air matanya yang jatuh menetes di atas wajah menggemaskan RI. Ini bahkan kali pertama Hoon melihat langsung, melihat jelas, betapa tampan bayinya.
"AAAAAAKKKKHHHHGGG!!!!!" Teriakan Hoon seakan menggema, berulang-ulang di gedung bangunan baru yang luas itu. Mengalahkan suara tembakan berkali-kali di dalam sana.
Sebuah tubuh tersungkur jatuh di atas lantai, terkapar tak berdaya! aparat menyeruduk masuk, menyergap gedung yang masih kosong itu, ternyata ada banyak anak buah Kim yang bersiaga dibalik rak rak besi.
__ADS_1
Hoon berlari cepat, dia membungkus tubuh bayi RI dengan jaket kulitnya. pria itu berlari kencang ke arah mobil miliknya, sambil terus menangis
"AAAAAAAKKKHHH!!!" entah sudah teriakan ke berapa kali, suaranya yang menggema tak kunjung membuat dadanya merasa lega, Hoon menjatuhkan air mata.
**
"Apa kau sudah menerima kabar?" Risa menggeleng. semua berdiri panik, mondar-mandir tak jelas. Eun dan Risa, Emi dan Bambang. mereka berkumpul di rumah Risa, menanti kabar yang ditunggu-tunggu semoga saja segera ada kabar baik, Hoon mengatakan semua akan baik baik saja kan!
"Nyonya, CEO Jung sudah di rumah sakit bersama Kai dan.." Asisten Mong menghentikan kan kalimatnya, dia melirik ke arah Risa. tentu Risa menyadari itu, Apa arti tatapan itu?
"APA!" ketus Risa menautkan alis. asisten pribadi Hoon itu tak bisa melanjutkan kalimatnya. dia terdiam. diamnya asisten Mong, membuat perasaan Risa tak menentu, pikirannya langsung membayang kepada buah hatinya.
"tidak ada sesuatu yang buruk menimpa kan aku kan!" ketus Risa mencari kepastian. asisten Mong tertunduk. Risa kian panik.
"tidak mungkin.." lirihnya menjatuhkan air mata
"cepat beritahu di rumah sakit mana!" Risa meraih tas yang berisi keperluan bayi RI. tidak mungkin, kau sudah berjanji kepadaku! kau tak boleh mengingkarinya! aku akan sangat kecewa kepadamu, Hoon..
***
terima kasih buat yang masih membaca
masih adegan yang berat
bagaimana kelanjutannya terus baca dan dukung ya
kirimkan star vote kalian
yang lelah untuk komentar dan review
__ADS_1
berikan hadiah juga
terima kasih banyak-banyak