
Hoon masuk kantor sedikit terlambat, Risa mengerutkan dahi, bibirnya sedikit manyun melihat kedatangan Hoon yang membuat wajah ceria. "Kau senang sekali" gerutu Risa. Hoon memainkan alisnya, dia memang sedang senang. Hoon berputar sebelum duduk di kursinya. "Cih, dia kenapa sih. Se senang itu bisa makan dengan direktur!" gerutu Risa di balik komputernya.
Hoon mengulum senyum. Dia merogoh isi saku celana. Melempar kontak mobil beberapa kali di udara. melempar menangkap, melempar menangkap. Sampai Risa sadar.
Risa bangkit dari kursi mendekati meja Hoon. Hoon melempar kontak sekali lagi dan Risa menangkapnya.
HAP!
Risa membuka isi genggamannya. "Kau punya mobil?" tanya Risa tak percaya. Hoon mengangguk bangga. "Ya, dong!" Ish lihatlah wajah sombong itu, apa ini mobil pertamanya? Risa hanya bisa menduga duga.
"Kau membeli isi kamar dan mobil, kau menerima gaji cukup tinggi juga ya" Hoon sedikit berpikir mendengar ucapan Risa. Dia tak mendapatkan gaji seperti yang Risa kira. Tentu saja, dia memiliki black card dengan nilai transaksi tak terbatas, hanya saja Hoon tak membawa kartu itu bersama dengannya. Dia hanya menerima fasilitas seadanya saja. Glen Hyung menyarankan seperti itu.
"Aku mendapatkan fasilitas dari direktur Mei" ujar Hoon. Risa melongo tak percaya. "Sepertinya direktur sangat terkesan denganmu" Kalimat Risa mengandung banyak arti, tapi apapun itu, sejak hari ini mereka tak perlu lagi memesan taksi atau meminta sopir kantor mengantar pulang. Hoon akan mengemudi sendiri. "Kau makan dimana tadi?" Risa akhirnya bertanya juga, dia penasaran.
"Di restoran" jawab Hoon singkat.
"Mmm.." Risa sedikit berpikir, sepertinya dia masih memiliki banyak pertanyaan dalam kepalanya, tapi Risa mengurungkan semua pertanyaan itu. Dia mencoba berpikir positif, Hoon sangat di istimewakan oleh direktur Mei. Risa sedikit cemburu.
"Risa, apa aku benar?" Hoon menyodorkan selembar kertas kepada Risa. Dengan seksama Risa meneliti hasil kerja Hoon. Dia mengisi setiap detail kolom dan bagian, Hoon mengisi surat tugas produksi dengan cukup teliti.
"Kau mengerjakannya dengan baik" puji Risa. Hoon tersenyum, tentu saja, dia menyimpan satu salinan surat tugas produksi yang dia ambil dari file lama milik Risa. Dia hanya perlu mencontoh dan merubah beberapa bagian yang harus di update.
"Aku rasa kau orang yang cerdas, kau cepat mencerna dan mengingat. Semua tugas kau kerjakan dengan baik" Lanjut Risa masih memuji. Dia cukup terkesan dengan kinerja Hoon.
"Kalau begitu, aku akan membagi tugas ku dengan mu. Kau boleh memegang satu produk dan mulai mengikuti langkah awal, dimulai dari divisi desain, produk contoh, menemui klien, hingga produk turun ke bagian produksi" Hoon melongo mendengar penjelasan panjang lebar dari bibir Risa. Dia kira pekerjaanya akan lebih ringan tapi nyatanya malah sebaliknya.
Hoon menarik nafas berat, dia pasrah dengan tugas selanjutnya.
"Ternyata bagian produksi sangat rumit" keluh Hoon menyeka wajahnya dengan kasar. Risa tersenyum saja melihat tingkah Hoon. Setidaknya dia mau belajar, walau sebelumnya Hoon tak tertarik sama sekali, nyatanya sampai hari ini pekerjaan Hoon cukup baik. Sebagai mentor Risa merasa bangga.
"Kau belajar sungguh sungguh. Sebenarnya kau bekerja di bagian apa?" tanya Risa sekedar ingin tahu. Bukankah setiap klien yang datang ke perusahaan ini biasanya memegang jabatan lumayan di perusahaan. Apakah Hoon juga? Risa tak percaya sih, tapi mari kita dengar apa jawaban Hoon.
"Aku?" Risa mengangguk.
"Apa kau kepala cabang?" Hoon menggeleng.
__ADS_1
"Aku tidak bekerja di Jung corporation" HAH!! Risa terkejut dengan jawaban Hoon.
"Aku memang tidak bekerja di perusahaan Jung" dengan nada datar dan santai Hoon mengulang jawabannya.
"Kalau kau tidak bekerja untuk Jung, kenapa kau bersusah payah di sini?" sengit Risa tak habis pikir
"Karena.."
"Karena??" Risa kian penasaran.
"Karena papa tidak mempekerjakan ku!" Hoon kembali ke kursinya.
"Papa?" bisik Risa, dia semakin tak mengerti. Ah sudahlah, Risa kembali menatap monitor komputernya.
***
Eun jung duduk melipat kaki jenjangnya, dia meneliti ke bawah. Ruangan Eun berada di lantai atas dengan setengah bangunan, dindingnya terbuat dari kaca tembus pandang, dia bisa melongok ke bawah dimana pegawainya sibuk bekerja di depan layar melengkung sebagai monitor komputer mereka.
Glen mencoba kursi baru sebagai singgasananya. board name dengan nama Glen Jung sudah terpajang. Glen membalik dan tersenyum senang.
Lantai kantor terbuat dari parket dengan serat kayu, ruangan modern dengan sentuhan alam.
Baru saja Eun menuruni anak tangga, seseorang menghalangi jalannya.
"Eun, aku meminta waktumu" ujar pria itu. Eun melirik sinis, dia melipat tangan angkuh.
"Sudah ku bilang kita sudah tak ada urusan, kenapa kau ada disini!" balas Eun dengan wajah angkuhnya.
"Kau tak bisa memutuskan kerja sama begitu saja!" tukasnya dengan nada tinggi. Glen bangun dari kursinya, dia menghampiri dinding kaca dan melongok ke bawah. Matanya membesar mendapati Eun dan seorang pria terlibat obrolan.
"Sedang apa dia di sini?" tanya Glen curiga.
Kai menyentuh siku Eun, wanita itu segera menepis tangan Kai. Dia enggan bersentuhan. Matanya menyorot tajam.
"Aku tak punya waktu untuk mu!" hardik Eun melangkah meninggalkan Kai.
__ADS_1
"Eun.. Eun!!" Kai mengejar Eun menuju lift, sebelumnya dia sempat menangkap sorot tajam mata Glen dari atas sana. Kai membuang pandangan, dia mendengus kesal. "Sialan!!" ujarnya menahan geram.
Sekretaris Eun sudah mendampingi, dia segera menekan tombol lift begitu Eun masuk, Kai mengejar, dan memaksa membuka pintu lift. Akhirnya masih sempat. Kai meminta sekretaris keluar, dia ada obrolan pribadi dengan Eun.
"Kau memutuskan menikah begitu saja!" ujar Kai sinis.
"Itu bukan urusanmu!" balas Eun kesal
"Setidaknya kau harus tetap memasukkan store ku ke dalam list perusahaan mu" ujar Kai sedikit memohon
"Kau tak malu, kau seperti pengemis di hadapan ku!" dengus Eun menyindir
"Eun, kau begitu manis sebelumnya, kenapa kau sangat menyebalkan sekarang" Eun menoleh menatap wajah Kai, dia mengacuhkan jari telunjuk tepat di hidung Kai.
"Kukatakan padamu hubungan kita selesai! selesai! Kau sama pengecut dan murahan seperti ibumu!" Eun keluar dari lift dengan menghentakkan heel nya. Dia sangat marah dengan Kai.
"AAAKK!!" Kai berteriak frustasi.
"Eeeuunn!!" Kai masih berusaha mengejar Eun. Sayang sekali wanita itu sudah duduk di mobilnya, Kai memohon Eun membuka pintu kaca mobil, dia mengetuk beberapa kali. Eun berdecak marah. Dia membuka sedikit.
"Eun, kau boleh membenciku, tapi bagaimana dengan karyawanku. Aku memiliki lebih dari 200 keluarga yang bergantung hidup dengan usaha ku.."
"Jalan!" pinta Eun pada sopir meninggalkan Kai yang terus berteriak di belakang mobilnya. Eun diam diam mencuri lirik, dia bisa melihat bagaimana frustasinya Kai. Eun menghela nafas panjang.
POV. Eun
Flashback dimana dia masih mengenakan seragam sekolah.
"Apa kau akan menikah dengan ku?" kau selalu saja bertanya seperti itu. Kau selalu menjemputku dengan sepedamu. Kau tahu rumahku sangatlah luas, kau bisa berkeringat hanya dengan masuk ke dalam rumahku. Kau senang sekali menggoda Hoon. Kau mengambil buku catatannya dan mengangkat tinggi. Aku tahu kau memiliki postur tubuh yang baik. Kau dan Hoon adalah kenangan indah masa kecil ku.
Tapi kita tak bisa seperti itu lagi. Kau bukanlah temanku, aku tak akan pernah menikah dengan mu. Saat mama meninggalkan ku, kau tak pernah datang ke rumah ku. Hingga Glen hadir dan selalu menghapus air mata ku. Kau tak sekalipun berkunjung lagi. Kau tak pernah menjemputku lagi.
Kau tahu Kai, aku sangat sedih kehilangan mama, dan kau tak peduli padaku. Kesedihanku kian bertambah tambah.
"Aku melihat seorang wanita dengan pemuda, dia ada di ruang kerja papa"
__ADS_1
Bersambung...
Simak masa lalu Eun di bab selanjutnya.. jangan lupa kasih bintang/star vote, komentar, bintang 5 (jangan kurangi bintangnya plisss) kasih hadiah juga yaaaa