Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Kisah cinta


__ADS_3

"Aku ingin mengajakmu makan siang" Hoon mengangguk lagi, dia menerima ajakan direktur Mei.


Hoon menyusul langkah direktur Mei, keduanya melangkah di depan mendahului Risa dan Bunga.


"Selamat makan siang" ucap direktur sebelum langkahnya bertambah jauh, Hoon dan direktur Mwi berjalan sejajar, keduanya terlibat obrolan.


"Apa direktur bisa seramah itu?" tanya Bunga kepo, Risa menautkan alis, sepertinya direktur Mei tidak pernah sedekat itu dengan karyawan atau klien perusahaan. Mereka bahkan tertawa bersama.


"Entahlah" jawab Risa tak mengerti


"Kalau dilihat dari belakang mereka kayaki ibu dan anak ya" Risa memperhatikan punggung direktur dan Hoon, Risa mengangguk setuju dengan kalimat Bunga. 


"Apa Alex tidak punya kemeja?" Risa mengangkat bahu tak mengerti pertanyaan Bunga.


"Dia kayak mahasiswa yang sedang kerja praktek, siapa yang bakal menyangka kalau Alex salah seorang buyer perusahaan asing"


"Oh maksudnya, gaya berpakaiannya?" tunjuk Risa pada Hoon di depan sana. Bunga mengangguk.


"Dia simple banget. Jeans, kaos, cardi, jaket, sweater, memang cocok sama tampilan muka nya, apa anak muda Korea hip kaya gitu semua ya?" Risa menggeleng tidak mengerti.


"Kayaknya Alika sama Joy lebih ngerti, secara mereka penggemar korea drama kan!" Bunga setuju dengan pendapat Risa, keduanya masih membahas penampilan Hoon. 


Hoon berusia 25 tahun. Dia tidak mengenakan pakaian formal baik di kantor apalagi di rumah, tidak ada standar penampilan di garment, yang penting terlihat sopan. Memiliki wajah tampan dengan senyuman memikat, meski hanya dengan celana Jeans dan kaos oblong Hoon tetap saja mencuri perhatian.


"Mana Alex?" sambut Reza mendapati hanya Risa dan Bunga yang bergabung.


"Alex lunch sama bu direktur" jawab Bunga, Reza menoleh pada Risa mencari lebih pasti lagi kalimat dari bibir Bunga, Risa mengangguk, mengiyakan.


"Oh ya, tumben bu Mei makan sama klien tapi ga ngajak kita" ucapan Reza dibalas anggukan oleh yang lain. Risa mengangkat bahu tak mengerti


"Mungkin ada urusan yang privacy" balas Alika menengahi. Semua seakan setuju, mereka membuka box makan siang, dan menyantap menu bersama diselingi sedikit cerita.

__ADS_1


"Gue mau cerita sama kalian" suara Bunga mengejutkan semua, raut wajah yang berubah membuat rekan MD menyimak serius, semua merapatkan kepala, menanti kalimat lanjutan dari bibir Bunga.


"Gue sama Amar putus!"


"HAAAAH!!" Reza berteriak tak percaya, dia segera menutup mulutnya menyadari meja mereka mencuri perhatian.


"Serius lu Nga?" tanya Joy juga tak percaya. Bunga mengangguk. Dia memaksakan senyum. Risa melanjutkan suapan sambil menyimak


"Ya gue milih putus, dia udah bener bener keterlaluan--" lanjut Bunga. Bunga bercerita bagaimana dia mengikuti Amar di weekend kemarin, dia menanyakan keberadaan kekasihnya dengan menghubungi orang tua Amar. 


"Selama ini tuh dia boong sama gue, bilangnya kerja, kerja, kerja taunya apa!" Bunga menarik nafas kesal, dia melirik ke arah Risa sesaat.  Risa melemparkan senyuman tipis. Dia melihat kelanjutan cerita Bunga kemarin.


"Lo tau ga, pas gue mergokin dia sama cewek di lobby, gue di seret, di bawa keluar, gue diturunin di halte, teruus doi pegi aja!!"


"Ninggalin gue gitu aja!!" Emosi Bunga nampak jelas. Risa mengingat bagaimana Bunga begitu emosional kemarin, dia menangis sejadi jadinya, tapi hari ini meski Bunga bercerita dengan luapan emosi, dia sudah tidak menangis lagi.


"Sumpah gue nyesel enam tahun gue sia-sia, gue selama ini melihara buaya buat nerkam gue kapan aja!" Reza dan Joy menahan tawa mendengar istilah Bunga. Duh dia lagi curhat tentang putus cinta tapi kenapa malah terdengar konyol. Reza dan Joy saling melirik, keduanya memasang wajah serius lagi, menyimak lanjutan cerita Bunga. Kalau saja Reza dan Joy melihat bagaimana Bunga putus asa kemarin, mereka tidak akan bisa menahan tawa seperti tadi. Risa melirik sesaat, dia sedikit lega karena Bunga bisa bercerita dengan gamblang, walau Risa tahu di dalam hati rekannya pasti masih menyimpan perasaan berat, tak ubahnya seperti kemarin.


Bunga menggenggam tangan Risa dan tersenyum getir.


"Gue makasi sama lu. Tuhan seolah ngirim lu kemaren buat gue" Risa mengangguk, tangannya berganti menggenggam tangan Bunga.


"Jadi lu putus sama Amar?" Risa masih belum percaya, bukannya terakhir Bunga masih menerima tumpangan dari Amar.


"Tadinya gue pikir dia bakalan berubah." Bunga menundukkan wajah sebelum melanjutkan kalimatnya, dia pasti menahan air mata. "tapi nyatanya, pas dia anter gue ke apartemen, lu tau ga dia bilang apa?" Bunga tidak menangis. Dia malah terlihat kuat, semakin kuat.


"Apa!" Risa langsung menyahut penasaran.


"Dia bilang, gue ga memuaskan buat dia. Dia cari pelampiasan karena gue ga cukup buat dia" geram Bunga.


"HAH!" Risa melongo tak percaya. Bunga mengangguk menahan gemelutuk giginya.

__ADS_1


"Sumpah dia brengsek banget!" umpat Bunga mengepalkan tangan.


"Disitu gue beneran uda bulat, gue harus putus!" Risa mengangguk setuju


"Gila, gue baru sadar ternyata hubungan gue selama ini tuh toxic banget!" 


"Dia tuh kayak, anggap gue tuh budak sex dia, gue tuh seolah cewek yang ga ada harga dirinya, cuma.. gara gara dia sama gue udah pernah ngelakuin dari jaman kita remaja!"


"Sumpah, gue selama ini bodoh banget, emangnya harga diri cewek tuh cuma di ************!"


"Gue berhak bahagia juga kali, apalagi dia udah nikmatin banyak cewek lain. Emangnya gue ga punya hati apa!"


"Sumpah, Amar tuh penyakit!" Mendengar banyak kalimat yang dilontarkan Bunga membuat Risa berpikir. Jika harga diri wanita bukan pada selangka-ngan nya, Bunga benar! Risa mengerutkan dahi, ck, dia mulai bingung dengan hubungannya dan bos Glen. 


"Jadi menurut lu, selama ini Amar sama lu ga cinta gitu?" tanya Risa hati hati tapi juga ingin tahu. Bunga mengangguk berkali kali dengan cepat.


"Dia ga cinta sama gue, dia cuma butuh, dia butuh gue buat status sama muasin nafsu! kan setan!" 


Kalimat terakhir Bunga terus terngiang di telinga Risa. Cinta, nafsu dan kebutuhan. Risa mengerutkan dahi, ah cinta itu rumit! bagaimana cara memilih jika seseorang itu sungguh sungguh mencintai? Risa takut memilih orang yang salah, walau hatinya ragu dia berkali kali menyanggah.


"Bos Glen bukan pria seperti Amar, mereka berbeda!" Batin Risa membantah, terus membantah.


"Memang banyak setan wujud manusia sekarang, bukan, tepatnya banyak laki jadi setan!!" Bunga masih saja mengumpat


"Suatu saat gue bakal tunjukin kalo gue lebih sukses, lebih bahagia, lebih baik semenjak putus sama dia!" tekad Bunga berapi api. Bunga meraih tangan Risa, menggenggam erat, wajah kesalnya berubah melunak, kini dia terlihat seperti memohon. Perasaan Risa jadi tidak enak. Firasat jelek.


"Makanya Ris, plis bantuin gue deket sama Alex ya, pliiisss.." tuh kan!


Bersambung..


Jangan luapa dukungannya mana! dukungannya mana! bagi bintang, review bintang 5 (jangan kurang plis) komentar positif dan hadiaah hadiaaah.. aku suka hadiaah..

__ADS_1


Lanjuut next..


__ADS_2