
Eun sedang melakukan pose yoga dini hari di ruang tengah rumah. Sekilas dia terlihat sangat serius dan fokus. Tapi nyatanya sudut mata Eun mengintip, dia melirik dan tersenyum sinis melihat Hoon sibuk bermain game di ponsel. Selalu saja seperti itu. Eun akhirnya menyerah, dia duduk mengambil kursi di sebelah Hoon. Adiknya itu bahkan tak peduli.
"Hey, berhentilah sejenak main game!" pinta Eun sedikit memelas, Hoon menaikkan kedua kakinya ke kursi, dia menggeser badan tak mau berhadapan dengan Eun.
"Hoon! Berapa usiamu!" dengus Eun kehilangan kesabaran.
"Pergi temui gadis dan ajak berkencan. Kau mau jomblo seumur hidupmu!" pukas Eun kian emosi. Hoon menghela nafas.
"Katakan seperti itu pada dirimu sendiri. Nuna harusnya lebih sadar diri!" ledek Hoon "Sebelum nuna khawatir padaku, cemaskan dulu masa depan nuna!" kalimat Hoon membuat Eun kalah telak. Dia bangkit dari duduk, mengangkat tangan di pinggang.
"Aku sudah pernah menikah dan gagal! sedangkan kau sekalipun belum pernah menjalin asmara. Apa kau yakin kau normal?" sindir Eun dengan wajah mengejek.
"Aish.." gerutu Hoon malas berdebat. Dia beranjak dari kursi menuju kamar. Baru saja punggung Hoon hendak bersandar panggilan telepon masuk di ponselnya.
"Hallo.." sapa Hoon ramah
'Hoon hari ini, jam sebelas. Di hotel Atelier.." Hoon menautkan alis tak mengerti dengan kalimat direktur Mei di seberang sana. Pasti akal akalan Eun lagi.
Dengan menghentakkan kaki Hoon menghampiri Eun. Wanita itu gagal menyuap cemilan paginya.
"Kenapa?" tanya Eun heran melihat tatapan tajam Hoon.
"Apa yang nuna rencanakan!" tuding Hoon tanpa tedeng aling aling.
"Apa.." wajah Eun bingung, dia mengangkat bahu tak mengerti.
"Kenapa nuna mengirim fotoku pada direktur Mei!!" teriak Hoon kesal. Dia merajuk seperti anak kecil. Eun menahan senyuman.
"Aku hanya khawatir padamu" balas Eun dengan wajah sumringah. Dia berdiri dan mendekati Hoon.
"Apa direktur Mei menemukan gadis yang cocok untukmu?" bisik Eun menggoda. Ujung telunjuknya mencolek genit dagu Hoon. Pemuda itu menghindar dan berdecak kesal.
"Hentikan!" pukas Hoon marah.
"Sudah kubilang aku sudah punya kekasih. Kenapa nuna memaksa sekali sih!" pukas Hoon bicara cepat. Eun mendelik sinis.
"Bangun, bangun! kekasih mana yang kau mimpikan! sudah hampir setahun kau bilang.. aku punya kekasih, aku punya kekasih.." ledek Eun dengan suara mengejek. Hoon semakin kesal. Nunanya melipat tangan di dada dan terus menerus membuat mimik wajah menyebalkan. Sengaja membuat Hoon kian naik pitam. Wajah geram Hoon cukup menghibur nunanya.
__ADS_1
"Berhentilah bermimpi, dan jangan terlalu banyak main game!" pinta Eun dengan suara memaksa.
"Kau pikir dari mana kita hidup kalau bukan dari game ini!" balas Hoon mengacungkan ponselnya.
Hoon benar juga sih. Setelah gagal mengelola pabrik garmen, Hoon mencoba peruntungan di dunia digital. Selain hobby game juga dunia yang dia tekuni sejak dulu. Hoon membuat usaha kecil dan berkembang pesat. Kini Hoon sudah mendirikan perusahaan game online. Dia bahkan membuat karakter tokoh game sendiri dari pikirannya.
Sementara pabrik diserahkan pada direktur Mei dan Eun. Ternyata keuntungan dunia digital jauh melampaui usaha sandang. Yang penting harus berfikir kreatif. Perusahaan Hoon cukup berkembang pesat.
"Oke, oke, nuna mengerti. Tapi setidaknya kali ini cobalah untuk berkencan" pinta Eun sedikit memohon.
"Setidaknya tunjukkan pada nuna kalau kau pria yang normal!" Hoon berdecak lagi mendengar ejekan Eun.
"Nuna akan tahu betapa sangat sehat dan normalnya aku. Tunggu saja saat kekasihku kembali ke rumah ini!" ujar Hoon ketus. "Apa nuna juga harus melihat langsung apa yang kami lakukan nanti!" Eun menggeleng canggung.
"Kau terlalu banyak main game ya!" gerutu Eun mengejek. "Kekasih apa, kekasih gaib!" Eun sudah tak peduli lagi, dia meninggalkan Hoon. Menaiki tangga menuju ruangannya.
"Selalu bilang punya kekasih, tapi foto dan nomer ponselnya pun tak tahu..", "Selalu bilang punya pacar tapi setiap hari hanya ngedate dengan game ponsel" gerutu Eun bingung melihat kelakuan ajaib Hoon.
***
Setiba di rumah
"Ah, kenapa juga aku harus terlibat dalam situasi ini!" gerutu Risa menyesal. Dia meregangkan otot tubuhnya yang lelah.
Risa masuk ke kamar orang tuanya, mengintip baby Ri di ranjang bayi, balita itu tertidur pulas. Risa tersenyum, seketika lelahnya lenyap. Dia keluar dari kamar dan bersiap membersihkan diri. Sebelumnya Risa melirik Kai yang terbaring lemah di kamarnya.
"Hadeh, masalah hidupku sudah berat, kenapa nambah masalah lagi!" Risa menggerutu sendiri. Meski begitu keadaan Kai membuat Risa iba.
Dia meraih baskom kecil dan air hangat, sebuah handuk. Risa membersihkan tubuh Kai, mengelap perlahan. Dia juga membuka jaket hitam yang kena noda darah. Risa mengganti kaos Kai dengan kaos papanya.
"Baiklah.." gumam Risa menghela nafas panjang. Dia tidak akan mengganti celana Kai, tentu saja. Risa beranjak dari kamarnya, dia akan beristirahat sejenak setelah mandi.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Emi melihat heran sosok pria di kamar Risa.
"Biarkan dia istirahat dulu, kita akan bertanya setelah keadaanya membaik" balas Bambang mencoba menenangkan istrinya.
Risa terbangun mendengar suara papa dan mama, Dia bangkit dari sofa ikut bergabung mengintip ke dalam kamarnya yang dihuni Kai.
__ADS_1
"Dimana kau menemukannya nak?" tanya Emi khawatir. Risa menyeka wajah, dia masih mengantuk.
"Dia dipukuli saat di hotel ma" ujar Risa apa adanya
"ckckck, kasihan sekali sampai babak belur seperti itu.." Risa setuju dengan kalimat mamanya, tapi kantuknya masih berat. Risa berpindah dari sofa ke ranjang Emi, dia sebelumnya mengangkat baby Ri, membawa bayinya kedalam pelukan, melanjutkan tidur.
Sementara Emi dan Bambang mulai sibuk di dapur.
"Apa dia penjahat pa?" tanya Emi.
"Entahlah bu, kita tanya nanti ya" Emi mengangguk ragu. Antara iba dan juga cemas, Kai terlihat asing, dan pakaiannya itu bukan seperti orang lokal.
Triiingg..
Triiinggg..
Emi menyodorkan ponsel pada Risa yang masih setengah sadar.
"Hallo.." suara berat Risa masih jelas, dia sangat lelah karena membawa Kai, belum lagi tiga jam belum cukup untuknya beristirahat.
"Jam sepuluh? ko mendadak?" Mata Risa seketika membesar mendengar kalimat tugas dari seberang sana.
"Iya, aku segera siap siap, baiklah, terima kasih infonya!" Risa segera mematikan ponsel, dia menguap besar.
"Ada apa?" tanya Emi heran melihat Risa buru buru bangun.
"Aku ada rapat ma" balas Risa setengah merengek. Dia beranjak dan mencium baby Ri di gendongan mamanya.
"Sayang.. lagi makan, ayo sama mama.. mama masih ada waktu.." ujar Risa membujuk baby Ri. Dia menyambar anaknya, menggantikan tugas mama.
Meski lelah, meski kurang tidur, bekerja siang dan malam. Jika untuk baby Ri, jika untuk anaknya, Risa tak pernah merasa lelah. Saat melihat baby tampannya yang selalu tersenyum, seketika daya lemah di tubuhnya terisi penuh, saat baby Ri ada dalam dekapannya beban berat di tubuhnya seolah lenyap.
Risa bersyukur akan hidupnya kini. Apapun keadaanya dia merasa bahagia. Masa lalu yang sulit akan menjadi satu dari sekian cerita hidup Risa, dia mengambil banyak pelajaran di hari kemarin, Risa berharap masa depan baby Ri jauh lebih baik darinya.
***
jangan lupa dukungannya yaa
__ADS_1
tinggalkan komentar dan bintang 5
beri star vote dan hadiah, semoga cerita ini bisa masuk ke dalam jajaran rangking novel me (aamin, ngarep) kalau bisa masuk ke jajaran 20.. inshaAllah aku post cerita lebih banyak nantii.. hehe