
Kembali ke apartemen, dimana Risa menunggu Glen selesai mandi.
Triiing..
Hoon meraih ponselnya, dia membaca kontak yang muncul di layar. Hoon melirik Risa untuk sesaat, gadis itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Hoon keluar apartemen dan mengangkat panggilan telepon sebentar, lalu masuk kembali, dia meraih kontak mobil.
"Kau mau kemana?" tanya risa menyadari Hoon sudah di depan pintu.
"Aku ada urusan sebentar!" Hoon melempar kontak mobil lalu menangkapnya lagi. Hoon meninggalkan apartemen.
Glen keluar dengan rambutnya yang basah. Dia melihat Risa yang segera berdiri saat dia ke ruang tengah dimana Risa sudah menantinya.
"Kemana Hoon?" tanya Glen menyadari adiknya tak ada.
"Dia pergi!" jawab Risa canggung
"Oh ya?" Glen tersenyum. Senyuman apa itu?
"Apa kau mau mandi?" tanya Glen. Dengan kikuk Risa mengangguk perlahan. Tentu saja dia harus mandi, dia baru saja pulang kerja.
Glen menarik lengan Risa, dia mendorong masuk ke kamar menerobos pintu kamar Risa. Keduanya saling menatap malu malu tapi jelas penuh gelora. Baru saja Risa berpikir ulang tentang jalinan kasih mereka, dan serangan tiba tiba ini?
"Apa kau tak merindukanku?" tanya Glen menggoda, jelas kau tahu. Di sorot mata gadis itu begitu banyak kerinduan.
"Ck, kau malah menghabiskan waktu di luar!" kesal Risa mengingat apa yang kemarin bos Glen lakukan. Glen menaikkan alisnya dia mencari alasan. "Sesuatu yang buruk terjadi padaku" jawabnya kemudian.
"Apa kau terluka? apa ada yang menyakitimu!" Risa seketika panik, dia memeriksa tubuh Glen. Pria itu tersenyum
"Ya," jawab Glen cepat.
"Dimana?" tanya Risa masih meneliti. Dia takut bos Glen kenapa napa.
"Di sini!" Glen mengambil telapak Risa dan mendaratkan di dadanya. Risa tertawa kecil, dia tersipu malu mendengar gombalan Glen.
__ADS_1
"Kau banyak belajar ya!" Glen mengangguk.
"Kau begitu dekat dengan Hoon, aku tak suka itu!" protes Glen dengan suara manja. Risa melongo tak percaya.
"Apa kau cemburu? pada adikmu?" Risa menggeleng tak percaya. "Apa seharusnya kita beritahu Hoon, agar semuanya jelas?" Glen menggeleng cepat, tak setuju dengan kalimat Risa.
"Kita harus menjaga hubungan ini, sampai bertemu saat yang tepat" ujar Glen meyakinkan Risa. Gadis itu awalnya bingung tapi dia mengangguk juga.
"Kau setidaknya harus diperkenalkan dalam jamuan resmi" bisik Glen menurunkan kepala, dia semakin mendesak posisi Risa, hingga bersandar di pintu kamar mandi. Ucapan Glen membuat Risa mengawang.
"Aku tidak masalah jika harus mandi lagi" ucap Glen kemudian, dia membuat Risa mengerutkan dahi. Pria itu meraih kedua telapak tangan Risa, mengecup punggung tangan kekasihnya, ******* bibir mungil Risa, menikmati tarik ulur saliva diantara mereka.
Tak mau hanya diam, kali ini Risa meraih leher bos Glen, membalas pergerakan mereka dengan membabi buta. Menyentuh dengan segenap perasaan, sedikit memijit dan menekan.
Glen memutar handle pintu, mereka melangkah perlahan ke dalam kamar mandi, Meski ciuman mereka tak mau dijeda, Glen tetap sigap mengisi bathtub, mereka menunggu sambil saling melucuti pakaian yang dikenakan. Bahkan rambut bos Glen belum juga kering, tapi dia sudah ingin mandi lagi?
Keduanya menjatuhkan diri di dalam bathtub, menikmati dinginnya air dan panasnya sentuhan bibir yang semakin membara. Desiran dan degub jantung yang terpenuhi hasrat terpendam. Glen menjauhkan sedikit kepala mereka, mempertemukan hidung saja.
"Kau harus keluar dari sini, segera!" bisiknya, dibalas anggukan cepat Risa. Mereka mengerti betul itu, mereka hanya ingin berdua saja tanpa ada pengganggu, keduanya saling membalas ciuman dan pelukan erat. Sentuhan kulit dengan kulit. Suara kecak air yang bergoyang tumpah, seolah menjadi pihak ketiga diantara ganasnya pertempuran mereka
"Ada apa?" tanya Glen heran melihat wajah kekasihnya. "Bisa kah bos Glen tunggu diluar sebentar?" Glen mengerutkan dahi heran. "Aku sakit perut!" ujar Risa mendorong punggung kekasihnya, bos Glen tak bisa melawan, dia pasrah saja saat Risa mendorongnya keluar kamar mandi dan menutup pintu, "Aiss.. padahal aku sudah telanjang!" gesar bos Glen kembali ke kamarnya dengan kecewa.
***
Jangan lupa luangkan waktu buat komen dengan bintang 5, kasih star vote juga, sama hadiah, biar cerita ini bisa ikut nebeng di jejeran novel me. terimakasih dukungannya.. pliss bgt dukungannya ya
****
POV. Hoon
Akhirnya aku sampai di tahap ini juga. Perasaanku semakin membaik.
"Bagaimana keadaanmu? apa kau baik baik saja?" mendengar jawaban dari seberang sana membuat nafas ku kembali lega.
"Hyung, lekas sembuh. Seseorang ingin menemuimu disini" Seperti pesan mu, seperti keyakinanku, seperti harapan kita semua.
__ADS_1
"Appa, semua akan baik baik saja, semua akan baik baik saja" aku terus mengatakan itu pada hatiku, aku terus mengucapkan itu untuk diriku. Aku yakin semua akan baik baik saja.
Semua situasi buruk ini memaksaku untuk segera dewasa dan berpikir baik. Ego ku yang manja dan ceroboh harus segera kutinggalkan. Aku yakin aku bisa, aku sudah berjanji padamu.
"Hoon.. selamatkan nuna, selamatkan nuna.." aku masih terus menitikkan air mata saat mengingat pesan kematian papa. Semua begitu terlambat, tapi tidak kali ini. Aku yakin, kau akan kembali menjadi nuna terbaik dalam hidupku. Aku yakin!
Aku menghapus air mata, haruskah aku menghampiri direktur Mei terlebih dahulu? ah sepertinya lain kali, aku akan membuat pertemuan keluarga terbaik setelah ini. Aku sudah tidak sabar. Aku tak menyangka dia melakukan sejauh ini! si sendok tanah, berupaya sekuat tenaga ingin merebut sendok emas. Teruslah bermimpi!
Dengan kecepatan sedang aku kembali ke apartemen. Berlaku seperti Hoon selama ini. Memasang wajah konyol, senyum yang ceria, berhentilah menjadi Hoon, dan berubahlah menjadi Jung! aku hanya menunggu waktu.
Sepi, tak ada seorang pun. Kemana hyung dan Risa, apa mereka kompak meninggalkanku? aku memeriksa ruangan dan tak menemukan mereka.
Suara gemericik air di kamar Risa mencuri pendengaranku.
Aku melangkah perlahan tidak membuat suara, mencoba mendengar apa yang terjadi di dalam sana. Bibirku tersenyum, senyuman sinis.
Sedikit mengganggu perasaanku, tapi itu tak apalah. Suara tak jelas dan gumaman gumaman tak bisa ku tangkap dari dalam kamar mandi, sepertinya enggan kalah saing dengan percikan suara air, aku bisa membayangkan bagaimana wajah mereka saat itu.
"Kubilang, kau memang tak pantas untukku!" Meski aku tahu semua akan seperti ini, tak dipungkiri ada suatu rasa yang lain dalam hatiku. Kau kecewa! aku tersenyum sinis, seharusnya tidak. Pria sepertiku memilih kelasnya sendiri. Gadis biasa seperti Risa bukan lah levelku.
Aku ingat betul bagaimana hari terakhir dimana nuna meninggalkan ku ke Paris. Saat aku menemukan kartu akses dan sebuah ponsel. Aku meluangkan waktu mengisi baterai dan memeriksa isi ponsel itu.
Betapa muaknya aku saat membaca rentetan pesan cinta mereka, cih, sampah! Aku sudah menebak seperti apa wanita itu, pastilah gadis dengan rayuan maut dan wajah seksi, siapa yang tak tergoda, bahkan hyung sampai mengirimkan banyak pesan cinta.
Tak membutuhkan waktu untuk menemuimu, ternyata kau selalu menunggu pria di atas ranjang, aku sudah menebak sebatas apa harga dirimu.
Hampir saja aku terjatuh pada tingkah polos dan tulus, hampir saja aku terpukau akan hangat dan manisnya senyuman, hampir saja aku lupa siapa kau dan siapa aku!
Aku beranjak meninggalkan kamar ini, meneliti sekeliling sekali lagi. Kau memang bukan kelasku!
***
Iyaak iyaak.. sabaar ini cobaan..
jangan lupa kirim review bintang 5 dan komentarnya, jangan lupa kasih star vote, jangan lupa kasih aku hadiah hiksss😭 aku sedih ga dpt hadiah dari kalian cayang..
__ADS_1