Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Risa Kai


__ADS_3

Setahun berlalu..


Cukup waktu untuk mengubah banyak hal. Risa yang bahagia bersama kedua orang tua dan balita mungil penghias rumahnya. Lihatlah dia begitu tampan. Perpaduan kulit sunda dan Asia timur. Kulitnya putih bersih, hidungnya tegas dan mancung persis milik Hoon. Jika Risa menatap wajah bayinya seharusnya kini dia tak ragu lagi, bayi itu persis wajah Hoon. Risa tersenyum antara senang juga kecewa.


Senang karena bayi yang sehat ini adalah buah cintanya pada Hoon. Kecewa karena pria itu tak sekalipun menemuinya, Hoon sungguh telah membuangnya. Mereka berpisah begitu saja, tanpa ada kelanjutan sama sekali.


Risa sekeluarga kini tinggal di ibu kota, lebih individual dan cuek, berbeda dari kota yang tahun lalu mereka tinggali, dia tak mendapat cemooh berkepanjangan di sini. Sebuah rumah berukuran sedang dengan dua kamar tidur. Mama dan Papa masih berdagang makanan diantara repot mengurus cucu tampan mereka.


"Sayaang nenek, ayo kita mamam dulu sayaang.." Emi mengambil baby Ri dari gendongan Risa. Nenek nya akan memberi makan, saat sore hari seperti ini, adalah jadwal keliling komplek dengan stroller. Baby Ri sangat menyukai keluar rumah, dia akan tertawa sambil menyipitkan mata, tawa yang mengingatkan Risa pada Hoon.


"Ma, aku berangkat kerja dulu!" Risa berpamitam, dia kebagian shift malam. Risa bekerja pada sebuah butik di hotel bintang lima. Saat malam hari harusnya usaha tutup tapi tidak dengan butik mewah itu. Mereka akan bekerja siang dalam malam melayani pembeli dan membuat pesanan. Jika sangat padat Risa terkadang tak pulang ke rumah.


Hotel mewah yang megah.


Selain menyediakan toko untuk pelanggan berbelanja, di lantai paling atas sebenarnya ada rahasia. Di lantai atas tersedia fasilitas pesta lengkap dengan pijat dan spa plus plus, mereka akan memamerkan beberapa gadis dari berbagai ras. Hanya orang kalangan atas yang menikmati servis istimewa itu. Salah satu pekerjaan Risa adalah sebagai penyedia outfit gadis gadis yang menjajakan diri di atas sana, tapi tidak dengan dia. Cukup sudah masa lalunya.


Risa mengenakan rok span hitam, blus dengan sedikit aksen renda pada ujung lengan dan pangkal leher. Dia mencium berkali kali baby Ri sebelum meninggalkan rumah. Gadis itu menaiki mini bis jemputan karyawan dan berangkat ke kantor, ke butik dimana dia bekerja.


Sudah hampir tiga bulan Risa bekerja disini. Manager cukup puas karena Risa tipe pekerja yang giat dan ramah. Tak memakan waktu lama Risa diangkat menjadi kepala butik, lagipula pengalamannya cukup mumpuni.


"Ka, semua dress sudah siap. Mint untuk latin, rose untuk timur, mocca untuk melayu dan red untuk kaukasia" Risa mengangguk, dia membantu mengemas dress dress seksi yang terbuka pada bagian punggung, hanya ada rantai sebagai pengait agar dress itu tak terlepas. Risa memasukkan dress kedalam kotaknya masing masing. Mereka menyelesaikan packingan, dan bersiap mengantar ke lantai atas.


"Ada banyak sekali?" tanya Jono, kurir pengantar. Risa mengangguk.


"Mungkin ada acara besar di sana" ujar Risa menduga.


"Aku harus beberapa balik dengan trolly ini" balas Jono dengan wajah memelas, Risa tersenyum.


"Santai saja, aku akan membantumu" ujar Risa. Jono menggelengkan kepala. "Tidak usah, nanti mereka salah mengira" Risa mentautkan alis tak mengerti.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Risa heran.


"Karena kau cantik, nanti mereka kira kau host disana" Risa menggeleng mendengar pujian Jono. Bagaimana pun dia sudah menjadi ibu anak satu, mana mungkin orang berpikir dia masih cantik.


"Sudahlah, ayo aku bantu!" Risa mendorong satu trolly lagi, dia tak bohong. Risa membantu Jono mendorong trolly berisi dus pakaian. Jono tersenyum senang melihat niat baik Risa.


"Kau baik sekali" ujar Jono sumringah, Risa menggeleng.


Keduanya mendorong trolly masuk ke dalam lift pengantar barang. Jono menekan tombol lantai yang dituju. Ah sepertinya dia salah tekan, mereka harusnya satu tingkat lagi.


KLIK!! pintu lift terbuka.


BUKK!! seorang pria kena tonjokan. Risa meringis ngeri. Wajah pria itu penuh plaster dan lebam. Dia berusaha menghindar tapi percuma saja. Pria itu menatap Risa tajam seolah ingin berkata, tapi apa! Risa mencoba mengartikan tatapan itu. Dia bingung.


"Joni, bawa ini!" Risa keluar dari lift, bersembunyi pada sodetan pembatas dinding kamar.


Joni berusaha mencegah Risa untuk ikut campur, tapi terlambat pintu lift sudah tertutup.


Melihat dua orang pria tegap sudah tak ada, Risa keluar dari persembunyian, dia menghampiri pria yang lemah dengan memar hampir di seluruh wajahnya.


"Apa kau baik baik saja?" tanya Risa panik. Dia berusaha membantu pria ini bangkit, meski sesekali Risa mencuri pandang, takut takut dua orang tegap tadi kembali lagi.


Pria itu menepiskan tangan Risa, membuat gadis itu melongo heran, dia hanya ingin membantu!


"Go, go away!" ketusnya sulit mengucap. Go away gimana! Risa mendengus dalam hati. Dia menyambar lengan lelaki itu dan menggandeng di bahu, dengan tertatih dan terpaksa dia mengikuti langkah Risa.


Tap tap tap!!


Jantung Risa seakan copot mendengar derap kaki kian jelaa. Dia mendorong pria lemah itu ke dalam lift, dengan gemetar tangannya menekan tombol lift.

__ADS_1


"Cepatlah cepatlah!!" gumam Risa panik. Ah, kenapa dia jadi takut dan gemetar seperti ini? Harusnya dia tidak ikut campur tadi. Mungkin pria ini sudah melakukan kesalahan besar sehingga membuat dua temannya kecewa dan memukulinya.


Kai terjerembab di lantai lift, Risa segera menoleh, dia berusaha menggotong tubuh Kai untuk bangkit.


"Kau berat sekali!" gerutu Risa kesal. Sekali lagi dengan sekuat tenaga Risa membawa Kai keluat lift. Dia mendudukan Kai di dalam gudang bahan, ruang belakang butik dimana dia bekerja. Risa mengurut bahu, pegal. Dia mencuri lirik sekitar berharap tak ada yang menyadari keberadaan mereka. Gemuruh di dada wanita itu kian jadi. Dia sangat tajut dan gugup, Risa menyambar gulungan bahan dan menutupi tubuh Kai.


"Ah, kenapa aku menyelimutimu!" Risa bingung sendiri, dia segera menarik bahan yang tadi dia pakai menutupi tubuh Kai.


"Kau kan bukan barang yang harus di sembunyikan!" Risa menggaruk kepala, apa yang harus dia lakukan pada pria yang penuh darah ini, Risa mondar mandir bingung.


Kai berusaha membuka mata, dia bisa melihat raut risau diwajah gadis yang tak berhenti mondar mandir di hadapannya, btw Risa bukanlah gadis lagi.


"Hey.." lirih Kai berusaha mengeluarkan suara.


"Give me some water" Risa menghentikan langkah paniknya, dia berusaha menangkap kalimat pria yang bersandar lemas pada tembok ruang gudang. Risa sedikit membungkuk, suara Kai begitu lemah hingga dia tak bisa menangkap jelas.


Risa mendekatkan telinganya pada bibir Kai.


"Waterr.." lirih Kai menguap panas menyentuh daun telinga Risa. Wanita itu sontak menarik diri. Dia mengerti, Risa segera keluar mengambil botol minum miliknya. Dia menyodorkan pada Kai.


"Kenapa kau berbicara Inggris?" tanya Risa bingung. Kai tak menjawab. Dia meneguk air dengan dahaga.


"Are, you-- Indonesian?" tanya Kai terbata, Risa menautkan alis bingung. Dia mengangguk.


"Can you speak bahasa please!" gumam Risa dengan senyum sinis. Wajah pria di bawah kepalanya ini jauh dari ras kaukasian. Dia tidak memiliki rambut pirang, kenapa mereka harus bicara bahasa inggris. Lebih dari itu, dia terlihat seperti jajaka sunda, batin Risa mendumal. Apa dia anak jakarta selatan?


Bekas aniaya membuat wajah Kai sedikit banyak berubah, luka memar, bengkak dan sudut mata yang merah.


"Tolong sayaa.." gumam Kai sebelum jatuh pingsan. Risa kian panik dan takut! dua gemetar

__ADS_1


*** tetap dukung terusss ya, tinggalkan komentar dan bintang 5, beri star vote dan hadiah !!


__ADS_2