
Kamar Eun kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya, jika dulu bernuansa mewah ala victoria sekarang lebih terlihat minimalis modern dan elegan. Maklum saja, adiknya Hoon yang bekerja di dunia digital modern tidak menyukai tampilan yang dikatakan berlebihan. Berenda, pita, berbagai kerut, Hoon mencibidlr selera feminim Eun. Dan ada baiknya juga, konsep desain interior rumah baru mereka sekarang lebih cocok untuk karakter kepribadian baru Eun. Dia sudah menjadi wanita dewasa yang elegant.
Eun melepas ikatan tali rambut, membiarkan rambut panjangnya tergerai dan sedikit teracak. Dia menyapukan sedikit pelembab dan krim malam di wajah. Tak lupa sebuah parfum di pergelangan tangan, belakang kuping dan sedikit di batang leher. Eun menikmati wanginya. Membuat nafasnya terasa segar dan lega.
Perjalanan hari ini sangat menyenangkan bagi Eun. Dia bisa merasakan kehangatan keluarga Risa. Dan yang terpenting bertemu dengan Kai. Eun tersenyum tak bisa menahan gembira membayangkan Kai kini ada di dalam kamar mandinya.
Mereka sudah membeli beberapa set pakaian untuk Kai, sebelumnya penampilan Kai sangat parah. Risa membelikan baju sepertinya bekas. Tentu saja, wanita itu mana mungkin mau merogoh saku dalam untuk pakaian Kai, dia pasti memikirkan beratus kali untuk membeli pakaian bagus, apalagi untuk orang lain.
"Pakaian bekas ini nanti akan dipakai papa saat kau sudah tidak disini. Jadi aku membeli ukuran jumbo!" begitulah alasan Risa, kenapa pada akhirnya baju Kai tetap kebesaran juga. Bambang kan sudah mekar tubuhnya.
Eun mengangkat piyama berwarna merah berbahan sutra, dia segera tahu kalau Kai sudah selesai membersihkan diri saat bunyi pintu terbuka.
Tubuh terbuka Kai sedikit mengejutkan Eun. Lihatlah kulit lembab dengan guratan otot perut yang sudah jadi. Kai memang pria dewasa yang keren, perutnya sixpack dan seksi. Eun sedikit tertunduk tapi dia berusaha menguasai diri. Tenanglah Eun, ini hanya Kai!
Hanya Kai yang sekarang sudah berbeda. Dia bukan lagi teman kecil yang kompak menjahili Hoon, tubuh Kai sudah banyak mengalami transisi. Eun membantu Kai mengancingkan piyamanya.
"Ah, terima kasih" ujar Kai sedikit kikuk. Dia memijat belakang batang lehernya. Salah tingkah. Bagaimana tidak canggung. Eun menggunakan dress malam terbuka saat ini. Apa mereka akan bulan madu? dan lagi apa yang dia lakukan sekarang? membantu mengancingkan baju Kai dengan perhatian. Eun kau membuat naluri Kai segera bangun dari tidur panjang. Keduanya duduk di tepi ranjang.
"Apa aku boleh tidur disini malam ini?" tanya Kai sambil mengelus ranjang Eun. Dia sangat berani mengatakan semua itu, lihatlah wajah merona keduanya. Ish, inikan bukan kali pertama kalian terlihat intim
"Te, tentu saja.." balas Eun sedikit terbata, "Ra, ranjang ini begitu luas!" ujar Eun masih tak bisa menenangkan diri. Setahun menjanda kenapa membuatnya gugup seperti ini. Dan debaran ini! apa apaan, jantung Eun seakan sedang meledek pemiliknya. Mereka terus bertabuh kencang.
Kai tersenyum melihat tingkah Eun. Dia mendekatkan kepala ke telinga Eun. "Mau aku temani tidur?" goda Kai, dia hanya melemparkan sedikit guyonan dan menggoda sahabat kecilnya itu, tapi..
"Kai, temani aku seumur hidupmu.." pinta Eun dengan tatapan mata sayu, tatapan mata dengan bulu mata lentik ini sudah berbeda. Pancarannya sudah lain. Eun mengharapkan sesuatu. Kai menelan ludah. Sebelah tangannya meremas sprei menahan gemas. Sebagai manusia mereka sudah saling mengerti. Deru jantung ini semakin membuat gairah menggebu gebu.
"Aku akan selalu bersama denganmu" ujar Kai, Eun menyandarkan kepala ke pundak Kai.
__ADS_1
"Harusnya aku tak percaya begitu saja saat kau tak datang hari itu. Kau mengalami banyak kejadian buruk." Kai menarik garis bibir. Itu sudah berlalu.
"Aku sudah disini sekarang.." balas Kai pelan. Eun mengangguk.
"Apa kau sudah punya rencana ke depan?" Kai sedikit berfikir mendengar pertanyaan Eun. Rencana? Oh mungkin perihal tragedi yang Kai alami.
"Aku harus mengurus dokumen imigrasi dan membuat laporan kejahatan internasional" Kai menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Mungkin cukup sulit melihat dunia bisnis Kim terus berkembang pesat, tapi kita harus mencoba menyelesaikan masalah ini" Eun mengangguk setuju. Ya, Kim bukan hanya memperbesar pangsa pasae, dia juga melebarkan sayap ke dunia hiburan. Kim juga cukup terkenal kini.
"Pasti sangat berat bagimu" Eun mengelus punggung tangan Kai. Keduanya saling menggaris senyum tipis.
"Eun.. Apa kau masih mau menunggu lagi?" Mendengar pertanyaan Kai membuat dahi Eun berkerut.
"Menunggu apa?"
"Menunggu diriku" balas Kai dengan senyum di wajahnya. Dia menunggu jawaban manis dari bibir Eun yang menggaris senyum.
Sudah setahun lamanya mereka terpisah. Sama seperti Risa dan Hoon. Eun menjalani harinya dengan baik dan ceria, Kai bisa melihat perubahan Eun, wanita itu lebih ceria dan kembali menjadi Eun yang Kai kenang dulu.
"Aku senang kau kembali lagi, kau kembali menjadi Eun yang kukenal.." bisik Kai mendekatkan wajah mereka. Eun tertunduk malu. Wajah yang begitu dekat sehingga nafas yang hangat bisa dirasa jelas di kulit. Eun meraih leher belakang Kai, mengelus lembut, memainkan jari jarinya di sana.
"Aku mungkin tak selalu ada di sisimu. Tapi hatiku selalu ada namamu.." Kai mengucapkan kalimat manisnya dengan bibir bergetar, matanya sudah tak bisa fokus. Hanya bibir Eun saja yang menjadi pusat penglihatannya. Bibir yang merona dan menggoda.
"Ya, aku tahu itu. Makanya mulai saat ini aku akan selalu menunggumu" balas Eun menatap wajah Kai. Pria di hadapannya ini sudah tak sabar lagi, Eun jelas tahu itu. Dia bahkan bisa mendengar deru di dada Kai, penuh gejolak. Eun meraih sebelah tangan Kai, melingkarkan pada pinggangnya.
Sedikit gemetar. Kai tak bisa mengendalikan perasaannya. Tentu saja. Dia sudah lama membayangkan malam bersama dengan Eun. Meski sama, bukan lagi menikmati kali pertama. Tetap saja keduanya merasa canggung. Eun berusaha menahan nafas. Sebelumnya dia sangat mahir, tapi kenapa tingkah gugup Kai juga mempengaruhi dirinya.
Kai membuka sedikit bibirnya, Eun meyakinkan Kai jika dia juga sudah siap.
__ADS_1
"Apa kau yakin?" tanya Kai ragu. Kai tak mau menyakiti Eun. Sebelumnya dia mengalami trauma termasuk saat di ranjang. Glen menggoreskan banyak cerita kelam. Tapi kali ini, Eun mengangguk yakin. Kai kian memberanikan diri.
Perlahan dan penuh perasaan, Kai meraih bibir Eun, merasakan lagi hangatnya bibir merona itu. Menikmati sentuhan lembut milik masing masing. Begitu penuh penghayatan seolah ingin menyampaikan banyak kerinduan yang terpendam.
"Aku mencintaimu Eun.." Bisik Kai diantara ciuman panjang mereka. Eun mengangguk seakan mengerti. Kai melanjutkan ciumannya, menikmati gerakan panas mereka. Sekarang Kai sudah berani mengangkat tangan menelusuri kulit mulus Eun. kain tipis dan minim yang dikenakan Eun mempercepat gerakan Kai di bawah sana.
Ah, dia memang sudah merencanakan semuanya kan! apa arti pakaian minim yang sewarna ini. Eun bahkan memilih warna senada untuk malam pertama mereka.
Daritadi Kai berusaha menahan diri saat Eun keluar dari kamar mandi. Belahan dada dan kulit terbuka Eun sungguh membuat tenggorokan Kai kering. Teman kecilnya sungguh menjelma seperti seorang dewi. Eun seperti penakluk hebat yang sangat jenius. Meski Glen meninggalkan beberapa traumatis tapi bersama Kai, dia menikmati semuanya. Dengan irama perlahan penuh perasaan.
Kai merebahkan Eun perlahan hingga nyaman terbaring di kasur. Sebelum melepaskan semua pakaian mereka Kai mencium dahi turun ke kedua mata, hidung dan berakhir di bibir Eun, mengecup perlahan dengan sepenuh hati sekali lagi. Sebelum kecupannya kian turun dan membuat Eun sudah tak bisa melihat jelas wajah pria di depan wajahnya. Dia terlalu menikmati perlakuan manis Kai.
"Aku akan melakukanya.." bisik Kai menenggelamkan kepala di antara pundak Eun. Ini bukan kali pertama, tapi tetap terasa berbeda. Kai memperlakukan Eun dengan baik, membuat perasaan Eun tenang dan nyaman.
Eun menangkap pipi Kai dengan kedua telapaknya. Dia membuka mata perlahan, memastikan jika ini benar adalah Kai, jika ini adalah teman kecilnya yang selalu menyenangkan.
Eun seakan kehilangan tenaganya yang sedikit demi sedikit kian berkurang. Kai melepaskan genggaman sprai di tangan Eun , mengganti dengan jalinan jari mereka, Eun mengangguk kecil seakan meyakinkan diri sendiri dan juga Kai. Sebelum semuanya semakin kuat menyatu di dalam tubuh Eun.
Wanita di hadapan Kai tersenyum, Eun sedikit mengangkat kepala, mengecup bibir Kai yang sudah kehabisan energinya, sekali lagi meninggalkan rasa panas di bibir, dan rasa lelah karena terlalu bersemangat menikmati malam panjang mereka.
***
Kipas, kipas,.. bayangin ji chang wook shirtless bikin cuaca jd panas :3
Jangan lupa bantuu
vote staaarrr.. komen dan review banyak22.. juga lemparin hadiaahnyaa!!!
__ADS_1