
Jangan tanya aku lagi, kenapa kau bilang aku melupakanmu, jangan katakan sekali lagi jika aku menghindarimu. Aku tak berani keluar kamar, orang tuaku terus menerus cekcok mereka bertengkar dan saling memukul, apa yang harus aku lakukan selain menutup mata dan telinga. Kenapa terus menerus saja seperti ini setiap bertambah hari? sekarang mereka membawa namaku dalam perdebatan, membawa harta yang tak seberapa, mereka semakin memperbanyak masalah. Aku tak mengerti kenapa rumah kami berubah jadi neraka.
Ingin sekali rasanya aku pergi, lompat dari jendela. Apa kau menungguku? apa spooky sudah makan? apa Hoon akan mengomel lagi pagi ini? entahlah. Yang ada hanya teriakan teriakan saja di telingaku. Aku sungguh benci hari hari ini. Aku benci kehidupan aneh ini.
Kenapa pernikahan orang tua ku yang indah, hilang begitu saja.
Saat suara kegaduhan di lantai bawah tak terdengar lagi, aku perlahan turun mencuri roti atau sekedar buah yang sudah layu. Sudah berapa lama mama tak belanja? dia hanya memesan roti dari komputernya. Aku sesekali mengendap seperti mencuri ke lantai bawah, membawa bekal ke dalam kamarku.
Hari itu, mama terus menangis dan terdiam di bar mini dapur rumah kami. Dia terus terisak hingga bahunya berguncang. Aku melangkah mendekat, dengan sisa keberanianku.
"Maa.." ujar ku memanggil dengan suara yang amat sulit keluar. Mama menghapus air matanya dengan cepat, dia mengulurkan roti padaku. Sudah hampir satu bulan kau terus memberiku roti tanpa menatap wajahku. Sampai kapan seperti ini?
Aku sudah remaja, tapi kau tak mengajakku bicara, padahal mungkin aku bisa sedikit membantumu. Kulihat kulitmu berwarna biru, kulihat matamu bengkak, kau sungguh buruk sekali! apa yang papa lakukan!
"Maaa.." aku mengulang panggilanku. Mama tak kuasa menahan perasaannya, dia menangis, dia kembali menangis.
"Kai.. apa mama dan papa berpisah saja?" aku langsung berlari ke hadapan mama, menatap wajahnya.
"Maa.." Aku berusaha menghapus air mata mama, dia sungguh kasihan. Mama sungguh bukan dirinya. Dia sudah sangat kasihan. Aku mengangguk.
"Iya.." ujar ku menyetujui, mama semakin terisak, dia terus menangis hingga tak mampu lagi menopang kepalanya, mamat tertunduk pasrah di keramik bar dapur, aku hanya bisa ikut menangis. Beginikah akhir keluarga kami? begini saja? papa yang baik dan penyayang, mama yang pekerja keras dan penuh cinta, aku yang besar dengan kasih yang lengkap. Segini saja? sampai di sini saja? hanya sebatas ini saja?
"Berpisahlah ma, jika kau ingin berpisah" Mama mengangguk, tangisannya kian pecah, dia seperti meraung, seolah membuang semua beban yang menyesakkan dadanya. Lakukan ma, lakukanlah, menangis sampai semua rasa sakit itu lepas. Aku tak bisa lagi menahan, aku terbawa emosi, begitu sakit rasanya melihat mama menangis seperti ini.
***
Eun mengulurkan tisu, cih, Kai menangis lagi, kali ini dihadapan Eun. Sungguh tidak keren.
__ADS_1
"Kau tak pernah menceritakan itu padaku." ujar Eun dengan wajah datar. Dia merasa iba melihat Kai begitu sendu mengingat masa lalunya, tapi bukankah semua keluarga seperti itu, selalu ada waktu yang merubah. Keluarga Jung pun demikian.
"jadi bibi itu mengalami kekerasan dalam rumah tangga?" tanya Eun, kata bibi membuat Kai sedikit tak suka, bibi itu adalah ibunya. Eun tak sedikitpun merasa iba.
"Apa kau masih ingin mendengarkan sisanya?" tanya Kai lagi, dia sudah semakin membaik, Kai melepas selimut dan ikut duduk di tepi ranjang, dia bersebelahan dengan Eun.
POV Kai
Kembali ke masa lalu..
Setelah itu papa tak kunjung pulang. Dia seperti debu yang terbang tertiup angin, bercampur di udara.
Menurut cerita mama, dia tak melihat papa di kantor atau di rumah kerabat. Tapi ada satu yang belum mama datangi, tiba tiba wajahnya mengingat sesuatu. Mama berlari ke dapur dengan wajah aneh, aku takut melihat wajah mama saat itu, dia meraih sebila pisau daj menyimpan di dalam saku celananya. Mama segera menyalakan mobil, aku mengiringi mama, berlari mengejar mama, entah sadar atau tidak aku ikut masuk ke dalam mobil, melihat jalan raya yang seperti berputar putar, mama mengemudi dengan mabuk.
Daerah kumuh padat penduduk, jalanan nya sempit dan tak bisa masuk mobil. Jalan jalan setapak dengan kiri kanan penuh bangunan rumah dengan tembok pecah, pintu kayu, pagar besi yang berkarat, mama menelusuri jalanan. Mencari cari pintu mana yang akan dia buka. Aku mengikuti mama, dia jelas sedikit bingung dan ragu. Sampai sebuah papan rumah meyakinkan dirinya.
Aku melihat bagaimana tangan mama gemetar, dia mendorong pintu kayu itu, membuka perlahan.
Aku melangkah mengikuti mama, dengan derap hati hati sekali.
Sepasang sepatu papa, kemeja papa, jas papa, semua ada dilantai. Sebuah blus, pakaian dalam wanita. Semua berserak di lantai.
Mama melangkah perlahan memasuki rumah yang tak memiliki barang berarti, hanya beberapa tumpukan buku di meja reot. Aku memperhatikan sekeliling tatkala mama mendorong pintu kamar.
SLAAM!!
pintu itu terbanting tertutup kembali, aku bahkan tak sempat melihat apa isi kamar itu.
__ADS_1
Mama menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, dia gemetar dan terlihat shock. Aku melangkah ke depan, mencoba mendorong pintu, melihat apa yang membuat mama begitu shock.
Aku hanya bisa membelalakkan mata!
Papa dan seorang wanita, dia bahkan tak lebih cantik dari mama. Mereka berusaha mencari sesuatu untuk menutup tubuh polosnya.
Aku tak bisa melihat lagi, aku berlari meninggalkan rumah itu, aku tak bisa melihat lagi.
"AAAAAAKKKKHHHHH!!!!!"
Aku tak berani masuk saat teriakan demi teriakan terus bergema, beberapa warga dan petugas kepolisian mulai berdatangan. Mama keluar dengan wajah ketakutan, dia gemetar, di tangannya memegang sebilah pisau yang tadi dia kantongi.
Aku terkejut melihat wajah takut mama, apa yang terjadi!
Mobil ambulan datang. Sebuah kantong jenazah diangkut ke mobil. Papa dengan tangan terborgol. Ada apa ini! ada apa! aku terus bertanya ada apa.
Sebuah mobil mewah datang, dia adalah tuan Jung, dia meminta mama ikut dengannya, sementara aku masih mematung diantara kerumunan. Mama pergi bersama tuan Jung.
Ambulan masih terus mendenging, merusak gendang telingaku. Papa menoleh dan menatapku. Aku tak menangis, apalagi tersenyum. Kenapa jadi seperti ini?
"Pa, Papaaa…" gumamku berkali kali, aku berkali kali memanggil papa, tapi polisi melarangku, tak sadar aku terus menjerit dan menangis. Kenapa aku berteriak m emanggil papa saat itu! aku hanya kecewa, aku kecewa padanya.
Seorang pria seumuran denganku, menatap dalam, dia menjatuhkan tas di tangannya, tas yang usang. Dia menatapku nanar, aku tak peduli.
"PAAA, PAAAAPAAAAA!!!"
Aku tak pernah menyangka itu pertemuan pertamaku dengannya. Dengan kakakku!
__ADS_1
***
gengs jangan lupa vote star, review bintang 5 jangan dikurangi ya, komentarnya bebas.. dan kirim hadiah juga yaa semoga kalian banyak rezekinya..