
Di depan kamar jenazah rumah sakit. Semua hanya bisa terdiam, tertegun, orang itu mungkin sangat kita benci bahkan mungkin kita tidak ingin menemuinya lagi seperti saat ini. Tapi ketika kau melihat tubuhnya sudah tak berdaya ternyata sulit. Eun membalikan badan, dia menahan air mata di kelopak matanya yang seketika tumpah tanpa terbendung lagi. Hoon masih terlibat percakapan dengan wanita paruh baya di dekat sana, lebih dekat ke pintu ruang jenazah. Sementara Kai hanya bisa menoleh menatap wanitanya yang menahan goncangan di bahu. Tak bisa dipungkiri Eun memang terpukul, ya mereka sudah cukup lama menghabiskan waktu bersama. Risa mendekati Eun. Dia memeluk wanita itu, mereka saling berpelukan. Daripada rasa kehilangan Risa lebih menahan beban di dalam hatinya, kejujuran yang masih disimpan.
"Apakah kau mendengar wanita yang di dalam sana?" Risa mengangguk dengan wajah tak mengerti.
"Ya, sepertinya mereka cukup dekat" jawab Risa menduga.
"Bukan cukup dekat. Mereka lebih dari dekat." Balas Eun yakin.
"Maksud nuna?" Tanya Risa curiga.
"Memang sebaiknya aku tak disini hari ini" Eun melangkah pergi. Risa bingung. Dia menoleh ke arah Kai, pria itu menggaris senyum getir. Dia tak bisa menyusul langkah cepat Eun. Baiklah, Risa yang akan menyusul Eun nuna.
"Nuna!" Panggilan Risa membuat langkah Eun berhenti. Risa semakin mempercepat langkah, hingga bisa begitu dekat dengan wanita yang terlihat sangat frustasi ini.
"Nuna, ada apa? Ceritakan padaku" pinta Risa. Mereka mengambil duduk bersama di luar rumah sakit. Tak jauh dari lobby ada taman kecil dengan fasilitas bermain anak-anak. Risa membelikan minuman dingin. Wajah Eun tadi pagi begitu ceria dan bersemangat, seketika berubah saat ini.
"Risa.." tatapan mata Eun kosong. Dia memainkan jari di permukaan kaleng soda dalam genggamannya.
"Aku pikir, aku bisa melupakan dia dengan mudah, nyatanya tidak. Aku pikir akan bisa melupakannya dengan adanya pria lain disisiku, nyatanya juga tidak.." suara Eun terdengar lirih.
"Kegagalan di masa lalu seakan kembali menghantui saat namanya ku sebut, saat namanya kudengar. Saat ada wanita lain bersamanya.." Risa terus menyimak dengan pikirannya sendiri. Eun nuna menyimpan beban sendiri.
"Aku merasa aku tak akan bisa hidup tenang dengan dia bahagia ataupun menderita. Aku tak bisa melupakannya, dia pernah menjadi bagian yang berarti dalam hidupku.." air mata Eun menetes. Dia tak tahu perasaan apa ini. Eun begitu membenci Glen, tapi dia tak senang melihat kepergiannya yang tiba tiba ini.
"Nuna.." Risa mengumpulkan keberanian. Dia merogoh sesuatu di sakunya. Risa meletakkan benda itu ke dalam telapak tangan Eun.
"Apa ini? Kenapa kau mengembalikan ini?" Eun bingung. Melihat kalung di telapaknya.
Risa sedikit membuka kerah kemeja yang dia kenakan. Dia memakainya juga. Kenapa Risa memiliki dua kalung ini?
"Eun nuna memberikannya saat pertama kali kita bertemu. Saat itu mungkin hari terberat dalam hidupku. Dan Eun nuna seakan memberiku semangat. Aku berterima kasih padamu" jelas Risa membuat alis Eun bertaut. Dia masih menatap heran satu kalung lagi di dalam telapak tangannya. Ini adalah kalung dengan desain spesial, dia hanya memberikan pada orang terdekat yang istimewa.
"Eun nuna. Itu kudapat dari bos Glen!" Kalimat Risa membuat kepala Eun kosong. Apa maksudmu?
"Aku tak mengerti?"
__ADS_1
"Nuna, maafkan aku. Aku ingin jujur padamu.." Eun semakin serius. Dia menatap wajah Risa dalam.
"Aku dan bos Glen pernah menjalin hubungan di belakang punggungmu.."
Teg!!
Seketika wajah Eun menegang. Apa! Apa pendengaran ku sedang terganggu? Apa aku tuli!
"Aku dan bos Glen pernah berpacaran.." Eun kehilangan konsentrasi, dia bahkan tak bisa menutup mulut. Apa maksud semua ini!
"Dia memberikanku kalung itu. Benda yang sama seperti yang kau berikan padaku.." Eun menatap kalung di tangannya. Dia menggenggam erat.
Tidak mungkin! Eun tersenyum sinis. Tidak mungkin! Wanita cantik itu tertunduk dalam. Air matanya deras terjatuh membasahi rerumputan.
Pria yang pernah kau rasakan begitu berharga, pria yang kau pikir adalah cinta sejati. Bahkan pengkhianatan nya pun mungkin bisa kau ampuni. Nama nya yang menggetarkan hati membuka kenangan indah. Nyatanya, kau tak begitu berharga baginya. Nyatanya dia tak pernah menganggapku. Nyatanya dia tak pernah mencintaimu begitu tulus. Glen tak pernah jatuh cinta pada Eun, pria itu tak pernah sekalipun tulus pada wanita wanitanya.
Telapak hangat menyentuh pundak Eun, Kai berusaha berjalan dan duduk disamping Eun yang begitu terpukul. Pria itu merangkul Eun.
"Jangan ditahan. Lepaskan saja. Menangis lah.." uajr Kai berbisik.
"Hiks.. huhuhuhuaaaahuhuhu..!!"
"Huaaaaahuhu..." Eun bukan hanya menangis, dia bahkan terus meraung dengan deraian air mata. Kai mempererat pelukannya. Eun menggenggam erat lengan kekar Kai. Sakit, bahkan sangat sakit. Betapa terbuang sia sia sisa waktu yang telah terlewat dulu. Sakit tentu sakit, memang pengkhianatan membuat wanita terus menyimpan rasa sakit di dalam hati. Lepaskanlah, mungkin dengan menangis semua akan lebih lega.
Hoon menghampiri Risa dia merangkul kekasihnya. mereka yang membantu Kai untuk mencoba menenangkan Eun. wanita itu sungguh terguncang. dia mungkin sudah tak mencintai Glen tapi melupakan pun butuh banyak waktu dan cukup sulit. wanita selalu dipenuhi dengan emosi dan perasaan. berbeda dengan Glen yang sudah lebih cepat melangkah karena dia tak menggunakan perasaanya.
"Ada aku disini. Aku selalu ada untukmu.." Kai berusaha meyakinkan Eun.
***
Di perjalanan pulang,
Hoon memastikan keadaan Risa,
"Apa kau baik baik saja?" wanita itu tersenyum getir
__ADS_1
"tentu saja, aku baik baik saja. aku sedikit mengkhawatirkan Eun nuna" Risa menghela nafas berat. "apa dia akan membenciku?" tanya Risa was was.
Hoon menatap wanitanya sekali lagi.
"kenapa kau mencemaskan itu? yang jelas aku tak membencimu.." gombal Hoon membuat Risa tertawa kecil.
"kau ini! aku sedang serius tau!"
"aku juga sedang serius!" balas Hoon memasang wajah seriusnya.
"Aku takut, Eun nuna akan membenciku.." lirih Risa cemas
"tenang saja, aku akan menjelaskan semuanya.." balas Hoon mengelus lembut kepala Risa. Risa mengangguk percaya, Hoon memang bisa diandalkan, dia sudah semakin dewasa dan berwibawa. Hoon membuat Risa semakin jatuh cinta
"kenapa kau menatapku seperti itu! kau mengganggu konsentrasi, aku sedang menyetir tau!" protes Hoon melihat wajah kekasihnya yang tak berpaling menatap wajahnya.
"karena aku semakin jatuh cinta padamu.." balas Risa melebarkan senyuman manis.
CKIIIT!!
Hoon menginjak rem, dia menepikan mobilnya. Sudah kubilang, aku sudah cukup bersabar. Berhentilah menguji calon suamimu ini
"Kalau begitu buat aku percaya, kalau kau memang semakin jatuh cinta padaku!" pinta Hoon dengan raut memaksa. Dia menunjuk pipinya. memberi kode untuk sebuah kecupan di sana. Risa tersenyum kecil. Baiklah. itu mudah sajakan!
Risa melepaskan seatbelt, tubuhnya perlahan condong dengan posisi bibir sedikit monyong. Wanita itu akan mendaratkan sebuah ciuman singkat di pipi Hoon. Tapi tak semudah itu, pria itu segera menoleh hingga bibir mereka bertemu. Hoon mencengkram kedua pangkal lengan Risa, menikmati bibir kekasihnya tanpa ingin di jeda.
Sudah kubilang jangan suka memancing!
***
jangan.lupa tinggalkan dukungan kalian
komentar dan reviewnya
vote starrrrr dan hadiaaah!!!
__ADS_1