Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Cobaan


__ADS_3

Pov. Hoon


Hoon membanting diri di ranjang. Dia melirik sebelahnya yang kosong. Wajahnya jelas kesal. Hoon menendang bantal Risa hingga jatuh ke lantai. Mengingat tubuh hampir bugil kekasihnya di ranjang ruangan sempit pagi tadi sangat mengesalkan. Hoon bangkit dari posisinya. Dia duduk.


Baru saja dia yakin jika Risa tidak seperti wanita simpanan selama ini, baru saja Hoon ingin percaya dan menjalin hubungan dengan tulus. Semua buyar, hancur!


Cinta, cinta apa! cinta yang menguras energi.


Hoon bangkit, dia menghubungi Kai.


"Hyung, bagaimana jadwal keberangkatan?"


'Aku dan Eun sudah mengurusnya, kami akan berangkat lusa, ada apa kau bertanya berkali kali sejak tadi?' tanya Kai curiga.


"Cepatlah datang, katakan pada nuna tolong buat pria itu bertekuk lutut di hadapanku!" gusar Hoon menahan amarah.


"Ada apa, apa Glen melakukan hal buruk lagi?" Hoon mengeram. Dia mengangguk.


"Sangat buruk. Dia menghancurkan cinta pertamaku--"


'SHIT!' potong Kai kesal, Hoon menautkan alis mendengar umpatan kasar Kai diseberang sana.


'Hati hati, pria itu licin dan licik" Hoon mengangguk setuju dengan peringatan Kai.


"Kita dibuatnya seperti mainan.." Kai setuju dengan kalimat Hoon.


"Dia harus segera berhenti dan mendapatkan hukuman!" keduanya sependapat.


Mungkin Risa bukanlah gadis yang baik. Hoon harus bisa berbesar hati jika Risa kembali lagi pada Glen, lagipula Eun akan segera mengakhiri pernikahannya. Semua terdengar simple, tapi tidak kenyataanya. Kenyataannya Hoon tak bisa mengusir Risa dari dalam pikirannya. Dia terus mengingat senyum cerah dan wajah imut Risa, dia sungguh telah jatuh hati.


"Kenapa kau mengecewakanku!" gerutu Hoon kecewa dalam.


***


Di kediaman orang tua Risa

__ADS_1


"Apa anak saya baik baik saja bu dokter?" tanya pak Bambang khawatir, dia terus menatap Risa yang berbaring di ranjang, wajahnya pucat.


"Semuanya baik, saya akan memberikan beberapa vitamin" jawab dokter yang tinggal tak jauh dari rumah keluarga Risa.


"Benar dok?" pak Bambang masih kurang yakin dengan jawaban bu dokter. Wanita berkaca mata yang dikenal dermawan pada tetangga itu menghela nafas pelan, dia memaksakan senyum kecil.


"Pak, putri bapak harus rutin minum vitamin ini. Ada penambah dara, pereda mual dan sakit kepala, juga tambahan asam folat" Bu Emi bangkit dari duduknya, dia mengambil obat dari tangan bu dokter, matanya nanar. Dia tak percaya dengan apa yang ada di telapak tangannya. Bu Emi menahan isak tangis, dia tak mau bu dokter tahu perihal kegamangannya.


"Bapak dan ibu harus menjaga ibu dan bayi dalam kandungannya.." Mendengar lanjutan kalimat bu dokter seketika pak Bambang lemas, dia terduduk di lantai. Bu Emi berusaha tegar, dia mengantar bu dokter keluar. Wanita paruh baya itu menutup pintu rumah rapat rapat. Dia bersandar pada daun pintu, meneteskan air mata, kecewa, sedih, dan takut. Semua bersatu, bercampur aduk di dalam hati Emi, perasaannya sebagai seorang ibu seketika hancur.


Emi masuk ke kamar dimana Risa masih enggan bangun, dia duduk di kanan sementara pak Bambang di kiri. Keduanya terdiam seperti air mata yang terus mengalir tanpa komando. Perasaan sebagai orang tua hancur.


Risa membuka mata perlahan. Emi berusaha menghapus cepat air mata nya. Bambang bangkit, dia langsung meninggalkan kamar Risa.


"Maa.." panggil Risa lirih. "Ada apa?" tanya nya tanpa mengerti, yang jelas wajah murung Emi tak bisa disembunyikan, mata merah dan gundah terlukis jelas di wajahnya. Emi berusaha tersenyum, namun terlalu sulit, malah air matanya meleleh lagi. Risa bangun dari kasur. Dia duduk dan menurunkan kaki. Matanya menatap Emi meminta kejelasan. Terlalu banyak hal yang samar bahkan tak jelas akhir akhir ini, Risa butuh penjelasan yang gamblang agar dia mengerti, sebenarnya suasana apa ini.


"Ka.. Kau.. ha-mil" suara Emi tercekat, hampir tak terdengar, seperti hanya angin saja yang menerpa kulit wajah Risa. Harusnya terasa dingin tapi malah panas, wajah Risa seakan ditampar. Risa mem belalak kan mata, mulutnya tak bisa di tutup, dia tak bisa percaya.


"Hamil?" lirih Risa sulit mengerti. Emi mengangguk pelan. Risa tak bisa percaya. Tapi dia pun tak bisa tak percaya. Bukan sekali dua kali. Bukan sehari dua hari. Dia sudah beberapa kali tidur, bahkan bukan hanya satu pria. Lalu siapa ayah anak dalam kandungannya? siapa! Risa tak bisa menebak. Apa benar dugaan Hoon? Glen menidurinya terakhir kali? mungkinkah?. Risa tak bisa berpikir lagi. Air matanya deras menetes. Sesakit ini mengalami kegagalan dalam hubungan asmara, hingga satu nyawa yang akan menjadi taruhannya? Risa menggeleng tak menerima keadaannya. Dia sulit menerima jabang bayi dalam rahimnya. Risa terisak, menangis tersedu sedu.


"Huhu.. hiks.. mamaaa.. maaamaaa.." Risa meraih pundak Emi, merangkul kuat, menumpahkan kegundahan dan kebodohannya. Emi masih diam, dia tak tahu harus merangkul atau abai. Emi sulit menerima kenyataan pahit ini. Dia begitu bangga dan percaya pada Risa, tapi itu semua menjadi salah. Semua sudah berdosa.


***


"Kenapa dia belum juga datang?" gumam Eun dengan wajah bingung, tanda tanya besar jika pria disiplin seperti Kai terlambat.


"Nyonya, pesawat anda sudah siap, kapten sudah beberapa kali menelpon" Eun mengangguk dengan wajah gusar.


"Dia tidak jadi ikut?" Eun mendengus kesal menyadari Kai tak kunjung tiba.


"Baiklah dengan atau tanpa Kai dia harus tetap pergi kan. Hoon bilang ada banyak hal penting yang dia urus" Seorang pria melebarkan senyum, menyapa Eun. Dia membawa beberapa dokumen penting.


"Kau juga terlambat tuaj Kim!" ketus Eun sedikit kecewa.


"Maaf nyonya, silahkan tanda tangan beberapa berkas penting ini" Kim menyodorkan beberapa dokumen.

__ADS_1


"Aku tidak bisa membaca satu persatu, bisa kau tegaskan lagi nanti. Dimana aku harus tanda tangan?" Kim tersenyum lebar. Dia menunjuk sudut yang harus  Eun setujui. Wanita itu menurut.


Kim mengambil kembali berkasnya, dia mengantar Eun menuju mobil. Pria itu bahkan membukakan pintu, mempersilahkan CEO nya.


"Terima kasih" ucap Eun, Kim mengangguk kecil. Dia menutup pintu mobil dan melambaikan tangan.


"Dia sungguh manis saat sopan seperti itu." Kim tersenyum lebar, dia segera membuka dokumen yang Eun tanda tangan.


"Penyerahan surat kuasa.." gumam Kim senang, dia berlari kecil menaiki anak tangga.


"Pelayan, tolong kumpulkan semua penghuni rumah ini!" perintahnya disambut sopan oleh pelayan, tak berselang lama, para pelayan kediaman Jung berkumpul, mereka semua diseleksi ketat oleh Glen kecuali perawat dan seorang lagi, Hoon menyusupkan orangnya disana. Kim tersenyum sinis.


"Ini pesangon kalian!" Kim melempar beberapa amplop ke atas meja. "Segera kosongkan rumah ini!" pintanya dengan tatapan tajam. Tak mendengar sanggahan atau komentar apapun, Kim meninggalkan kediaman Jung. Dia kembali ke lobby. Kim menaiki mobil nya, dia menyempatkan diri memakai kaca mata hitam.


"Bawa aku ke gudang pabrik!" pinta Kim pada sopir. Tak membuang waktu, mobil itu meluncur cepat.


Tiba di sebuah beton tinggi, dengan pagar hitam sebagai akses keluar masuk. Mobil Kim menerobos masuk. Di kiri kanan berdiri beberapa pria berkaos hitam. Berbadan tegap dan berwajah sangar.


Sebuah pintu terbuka menyambut kedatangan Kim. Dia mendaratkan djrk di atas meja. Seorang pria berjongkok dengan mata tertutup kain hitam. Tangan dan kakinya terikat kencang. 


DUK!!


Hantaman sol sepatu karet dari belakang punggung membuat tubuhnya yang lemah terjerembab di lantai semen. Kai sudah tak memiliki tenaga.


"Bangun!" pinta Kim, jangankan untuk bangun, bernafas saja Kai sudah sulit, darah mengucur segar dari sela bibir dan hidungnya. Kim menyalakan korek, membakar ujung rokok di bibirnya.


"Buat dia bangun!" pinta Kim pada anak buahnya. Dua orang pria berbadan besar itu menahan Kai di kiri dan kanan, jelas Kai tampak lemah tak berdaya, tapi Kim tetap memaksa.


"Buka tutup matanya!" perintah Kim. Dengan mata tak bisa melihat jelas Kai mencoba meneliti pria yang duduk santai di depan sana, jarak mereka cukup jauh mungkin sekitar empat meter. Kai tak bisa melihat jelas. Terlalu banyak pukulan yang menimpa dirinya, membuat pandangan mata nya kabur.


"Toko mu sudah habis! sekarang wanita dan hartanya pun akan habis!" gertak Kim sombong. Kai tak bisa menjawab.


"Kau tahu bagaimana mudahnya aku menghancurkan Jung?" tanya Kim sinis. Dia menyalakan korek, mengambil selembar kertas dan membakar ujungnya. Kertas kering membuat api menjalar cepat dan menghabisi hingga berubah menjadi abu.


**

__ADS_1


jangan lupa dukung terus yaaa...


makasi buat yg udah kasih star vote, review bintang 5 dan hadiah.. terimakasih banyak banyak


__ADS_2