
Hoon berpikir sejenak. Apa hanya dia yang berpikir jika wanita yang menggandeng lengan Glen bukanlah wajah asing? Siapa ya. Hoon mencoba mengingat. Sepertinya mereka pernah bertemu sebelumnya. Coba berpikir berpikir!
Hoon membuka layar ponsel, sepertinya wajah wanita separuh baya itu bukanlah sosok asing, dia sepertinya pernah bertemu bahkan bukan hanya sekali.
Susan Handoko! ya, Hoon yakin itu. Wanita itu salah satu investor perusahaannya, mereka terlibat proyek peluncuran game terbaru. Hoon mengangguk yakin.
"Tunggu!" Hoon membuka dashboard mobil, dia mencari sesuatu. Sampul berwarna merah dengan tinta emas. Bentuknya yang digulung dan diikat pita. Ya, ini adalah undangan dari putra sulung yang sekarang dekat dengannya, Alexis putra dari nyonya Handoko. Hoon belum sempat membaca tapi dia sudah mempersiapkan jadwal kosong. Staf nya sudah menyusun jadwal. Tapi Hoon kali ini penasaran, apa mungkin?
Nyonya Susan menggandeng mesra tangan Glen tadi. Apa mereka, ah sudahlah. Hoon menarik ujung pita, membuat gulungan terbuka. Sebuah undangan yang dikonsep ala ala royal wedding kerajaan Inggris. Hoon mulai mencari nama pasangan.
"Susan handoko dan… Kim--" Hoon tak bisa melanjutkan membaca,, Kim adalah nama keluarga Glen, jadi sesuai dugaannya, jika Glen dan nyonya Susan memiliki hubungan istimewa? Itu sulit dipercaya. Bahkan nyonya Susan lima belas tahun jarak usia dengan Glen. Entahlah, mungkin itulah cinta. Apa kabar Alexis ya? Mungkin!
Hoon membuka beberapa laman berita dan mengetik nama Susan dipencarian. Media lokal cukup bebas, mereka banyak meliput berbagai kehidupan pribadi orang lain, termasuk Susan yang aktif di laman sosial.
Hoon menggeser layar ponsel perlahan, memperhatikan detail photo yang dibagikan dari laman sosial instagram Susan yang memiliki follower jutaan. Beberapa foto saat mereka mengadakan pesta di pulau dewata. Bersenang senang. Jelas sudah semua, Glen juga ikut disana. Mereka memang cukup menghebohkan, jalinan asmara yang terpaut usia cukup jauh. Hoon membaca berbagai komentar di tiap foto yang dibagikan. Ya, banyak yang mengatakan jika Glen adalah calon suami Susan.
Hoon membanting punggung ke sandaran kursi. Bahkan Glen sudah memiliki wanita lain dalam pelukannya. Apa hanya dia saja yang sulit move on, Risa malah sudah memiliki keluarga kecil. Lalu apa yang sedang dia lakukan disini! kenapa dia harus mengikuti kemauan nuna!. Hoon keluar dari mobil. Mencabut kontak. Dia menyusul Eun ke dalam restoran.
***
Wajah sringah Natalie muncul di balik punggung Glen, remaja berusia belasan tahun itu memanggil Glen dengan panggilan Om. Membuat Eun melepaskan nafas tercekat, dia cukup terkejut dengan panggilan Glen lalu gadis muda muncul dan mengejutkannya sekali lagi. Eun terperanjat dan bersandar pada dinding yang dingin.
"Om!" serunya. Dia melirik Eun yang terdesak di dinding, gadis itu sepertinya sedikit curiga.
"Ah, Natalie! kau mau kemana?" tanya Glen berpaling dari Eun, gadis bertubuh bongsor itu tersenyum pada Glen.
Natalie masih muda tapi perawakannya tampak tinggi besar dengan wajah cukup berisi, seperti nya itu memang garis keturunan keluarga mereka yang memiliki tulang besar.
Eun memperhatikan tingkah mereka, dia tak mau ikut campur, Eun segera masuk ke dalam toilet wanita.
"mereka terlihat cukup dekat.." gumam Eun mencoba menepis pikiran buruk di kepalanya.
Diantara pembatas toilet ada sebuah ruang sempit yang menyimpan beberapa tanaman, lebarnya mungkin hanya setengah meter, tapi menjorok panjang ke dalam, di penuhi jejeran rapi pot berbagai tanaman hias yang dihiasi lampu led warna warni.
__ADS_1
Eun mengelus dada, sedikit lega, setidaknya gadis muda tadi memberikan kesempatan untuk dirinya kabur dari hadapan pria itu. Glen membuat Eun masih berat melupakan traumatis masa lalu. Pria itu sadar tidak sih kalau dia pernah toxic dalam kehidupan Eun.
Pasti dia tak pernah sadar! Kenapa harus bertemu lagi disini! Eun menyeka keringat di dahinya. Dia menatap pantulan diri di cermin. Mencoba mengatur nafas dan membenahi perasaannya.
"Tenang Eun, tenanglah.." bisik Eun mencoba mengatur emosinya.
Perlahan dia memoles lipstik, sedikit memberi warna, mungkin akan mempengaruhi mood buruk nya. Eun keluar dari pintu kamar mandi, dia melirik kiri dan kanan, tak ada orang lain.
"Eeuh!! Aah.." Suara nafas yang tertahan membuat Eun curiga. samar samar, tapi dia bisa menangkap jelas. Dia mengikuti asal suara itu dengan rasa penasaran.
Sebuah ruang kecil tanpa pintu, jauh di dalam sana, bayangan dua orang manusia saling berpagutan mesra.
Pria yang memangsa panas bibir wanitanya, sementara si gadis tertunduk malu dengan wajah tertutup rambut. Pria itu menahan kedua telapak tangan mereka, saling menggenggam erat di dinding.
Tanaman menghalangi pandangan mata Eun. Ish! dia tak seharusnya melihat semua inikan! wanita cantik itu menggelengkan kepalanya. dia tak mau ambil pusing, kehidupannya sendiri sudah pusing. apalagi Hoon!
"Aah... oommm.." Tunggu! Eun menyipitkan mata yang memang sudah sipit. Dia memperjelas tatapannya.
Mustahil! itu Glen dan.. ya Tuhan! gadis muda tadi! ya ampun! Eun tak bisa percaya dengan semua kegilaan ini. Bahkan remaja belasan tahun juga dipakai! Glen sungguh gila! gila, gila gilaa.. dia benar benar gila!
"Ish, mengingat semua itu membuat aku ingin mati saja!" kesal Eun mengepalkan tangan. Dia melirik sinis ke arah dua pasang manusia gila di ruang sempit sana.
Glen mulai berani mengangkat tangan, dia membawa telapak tangannya menyusup diantara blus gadis muda itu. Sebelah tangannya menyekap mulut si gadis muda. Eun mengambil ponsel, dia mulai merekam dengan wajah jijik. Dia bisa melihat jelas diantara celah tanaman kini.
kau penasaran juga kan pada akhirnya?
Gadis itu melemaskan diri hingga terduduk di lantai, Eun ikut berjongkok dan melanjutkan rekaman di ponselnya. Glen masih terus memangsanya, memagut keras bibir gadis muda itu dengan penuh gairah, dia bahkan mulai membuka risleting celana, menuntun kepala si gadis untuk lebih dekat kepada senjatanya.
Tap tap tap!
Suara langkah Hoon mengejutkan Eun, dia segera bangkit dan menyimpan ponselnya.
"Nuna, kau sedang apa!" Ketus Hoon curiga. Eun menggelengkan kepala. Dia menyimpan ponsel di belakang punggungnya, tak mau Hoon tahu.
__ADS_1
Glen mendengar suara Hoon, dia buru buru menarik risleting dan membetulkan celananya.
Wajah Eun sangat mencurigakan, dia berusaha tak melirik ke arah dimana Glen dan gadis muda itu memadu kasih, keduanya terpaksa berhenti bercumbu mendengar suara percakapan berjarak tiga meter di depan sana. Glen duduk bersandar pada dinding membelakangi posisi Eun dan Hoon, dia menutupi wajah gadis remaja yang yang jadi santapan pembukanya. Semua masih belum tuntas, deru nafasnya mengartikan masih banyak tenaga yang terpendam.
"Kau menyembunyikan sesuatu ya.." tebak Hoon, Eun berdesst meminta Hoon diam, dia mendorong adiknya untuk meninggalkan tempat ini.
"Ayolah, pesananku sudah selesai!" ujar Eun meminta Hoon berhenti mencari tahu apa yang dia sembunyikan di ponselnya.
Glen menelan ludah. Dia masih bisa tersenyum sinis melihat wajah Eun tadi. Wanita yang masih sama. Setiap kali melihat wajahnya, erangan dan desahan superior itu membuat Glen berselera. Libidonya seakan menanjak naik. Jika Eun tak bisa melupakan traumatis karena Glen. Berbeda dengan pria itu. Dia tak bisa melepaskan betapa nakal dan beraninya aksi Eun diatas ranjang. Dia menginginkan lagi semua itu, tapi mustahil. Dia menikahi wanita tua yang sering cepat lelah! Glen menarik tangan Natalie, keluar dari lorong sempit itu dan masuk ke dalam toilet laki laki. Masih pukul sepuluh pagi. Restoran masih cukup sepi, Glen tak akan menyia nyiakan waktu.
Dia mendorong Natalie dan meminta remaja itu duduk di atas closet. Glen menyerang bibirnya dengan serakah, mungkin Natalie tidak secantik Eun, dia juga masih minim pengalaman, tapi setidaknya dia bisa dijadikan pelampiasan nafsu bejat Glen. Apalagi gadis muda ini tak ada perlawanan.
Glen menurunkan celana Natalie, meminta gadis itu memutar arah, Glen bersiap menodongkan sejatanya.
"Akkh!!"
Eun meninggalkan restoran dengan beberapa kantong belanja, Hoon melirik Susan yang masih sibuk di sambungan telepon. Wanita itu segera bangkit dari kursi begitu melihat wajah Hoon. Dengan sopan Hoon memberi hormat.
"Apa kabar nyonya?" sapa Hoon, Eun menghentikan langkah, dia ikut menggaris senyum.
"Ah, kau sopan sekali CEO Jung, senang bisa bertemu denganmu!" ujar Susan juga ikut memberi hormat, mengikuti Hoon. Pemuda itu menggaris senyum simpul, dia mengangkat tangan seolah memberi tahu jika dia harus segera pergi.
"Aahh, CEO yang masih sangat muda dan tampan. Harusnya putriku berkenalan dengannya. Kenapa mereka lama sekali ke toilet!" dengus Susan sedikit kesal. Momen bertemu CEO Jung sangat langkah, sangat disayangkan jika tak dimanfaatkan sebaik mungkin.
"Glen juga harus berkenalan dengannya, dia akan sering bertemu dengan atasannya suatu hari nanti.."
"kapan Alexis mengatur makan malam bersama, mereka kakak adik yang sangat rupawan.." desis Susan melebarkan senyuman di balik punggung Jung bersaudara.
***
Mana dukungannyaa!!
kutunggu vote star, komentar bintang5
__ADS_1
hadiah dan share.. ayo bantu penulis untuk bisa mejeng di jajaran Rank ******* (aamiin) terima kasih semuanya