
"RI ternyata lebih dewasa dan pengertian daripada kit" Eun masih terkagum kagum dengan tingkah keponakannya, padahal dia masih berusia sebelas tahun tapi kata katanya sangat dewasa. Anak jaman sekarang memang berbeda.
"Sayang, ayo! Nanti terlambat" Kai menoleh pada Eun, keduanya bangkit dari meja makan.
"Aku ada pagelaran hari ini. Kau harus datang saat fashion show nanti ya!" Eun mengacungkan tunjuk ke arah Risa, dia jelas sedang mengancam.
"Tentu nuna, kau tahu aku tak punya banyak pekerjaan disini, aku pasti datang. Semoga semua berjalan dengan lancar!" Risa membalas ajakan Eun nuna dengan senyuman lebar.
"Baiklah, kami berangkat ya. Omma," Kai dan Eun berpamitan, keduanya beranjak dan meninggalkan rumah.
"Aku juga harus menyegarkan badan sayang" Hoon bangkit dari kursi, meninggalkan kecupan kecil di dahi Risa, dia seakan ingin memberi waktu berdua antara Risa dan Emi. Risa tersenyum kecil. Suaminya itu memang sangat mengerti.
Risa menatap wajah Emi yang sudah banyak kerutan.
"Ma, apa mama lelah?" Tanya Risa pada Emi. Wanita itu malah tersenyum
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku takut mama lelah, membesarkan RI pasti tidak mudah." Ujar Risa mendekati mamanya.
"Aku rasa, aku dan Hoon bukan orang tua yang baik. Kami tidak membesarkan RI, bahkan sejak awal RI selalu saja merepotkan mama" Emi menautkan alis. Dia tak mengerti maksud kalimat putrinya.
"Risaa" ujar Emi dengan suara lembut yang hangat.
"Bagaimana mungkin mama lelah. Kau tahu putramu itu adalah anak yang manis. Mama berterima kasih karena kau dan hoon mengijinkan mama membesarkan RI" Emi menarik nafas dalam-dalam. Dia berusaha menyembunyikan matanya yang berkaca kaca.
"Mama akan merasa sangat kesepian jika tak ada ri. Mama bahkan hanya memiliki kalian dalam hidup mama" Emi meraih telapak tangan Risa, dan menepuk nepuk pelan. Dia melebarkan garis bibir.
"Terima kasih, karena RI mama tidak merasa kesepian. Mama justru takut kau dan Hoon akan merasa sepi disana." Risa mengangguk kecil seakan mengerti. Dia memeluk Emi hangat.
"Tetap saja aku berterima kasih pada mama, RI sangat cerdas dan ceria. Itu semua berkat didikan mama." Risa mengeratkan pelukan.
"Sebaiknya kau mengurus suamimu, dia sedang mandikan. Sediakan handuk dan pakaiannya." Emi menyeka rambut depan Risa.
"Kau dan Hoon harus rukun dan bahagia. Karena akan sangat sakit saat orang yang kita cintai itu tak ada" Risa menjatuhkan air mata. Ya, sangat sakit saat orang terkasih itu pergi. Seperti almarhum papa, Emi dan Risa menghapus cepat air mata mereka. Emi meminta Risa segera ke atas, ke kamar mereka. Meninggalkan Emi sendirian yang mulai sibuk membenahi dapur. Wanita itu tak ingin putrinya melihat bagaimana dia masih sering menangis. Emi merindukan suaminya. Wanita itu berjongkok di antara meja dapur, sekali lagi larut dalam rasa rindu tiada akhir.
KLEK!!
__ADS_1
Hoon segera menoleh. Dia baru saja selesai mandi. Tubuhnya yang kini sudah jelas menggurat otot, handuk yang menutupi pinggang hingga atas lutut. Hoon mencari pakaian rumah favorit nya, kaos oblong.
"Kau sudah mandi sayang?" Hoon mengangguk dia sedang memilih pakaiannya. Risa segera menghampiri dan mendorong pangkal lengan suaminya ke arah ranjang. Risa menuntun Hoon untuk duduk. Wajah pria itu sangat heran dengan tingkah istrinya pagi ini.
"Kenapa?" Tanya Hoon bingung "aku akan ganti pakaian, kenapa kau mendorongku!" Risa menggaris senyum. Dia kembali menghadap pintu lemari. Risa mengambil kaos oblong dan celana pantalon hitam. Dia tahu betul pakaian ternyaman suaminya.
Risa meletakkan pakaian Hoon di samping ranjang. Mata Hoon membesar.
"Kau kenapa?" Tanya Hoon heran. "Tingkah manismu ini lain sekali. Kau membuatku merinding!" Ujar suaminya dengan wajah masih jelas heran.
"Aku ini istri yang baik tau!" Balas Risa dengan wajah kesal. Kenapa Hoon curiga dengan tingkah manisnya. Bukankah ini bagus? Seperti nasehat Emi tadi.
"Lihatlah, kau bahkan tidak mengeringkan punggung dengan benar!" Risa menunjuk punggung suaminya yang masih menyisakan tirukan air. Risa meraih handuk kecil dan mengelap perlahan kulit Hoon. Membuat pria itu tertawa kecil.
"Kau kenapa sih? Apa Omma mengatakan sesuatu?" Tepat dugaan. Risa sepertinya tertangkap basah. Wanita itu berdecak.
"Kenapa tak katakan terima kasih sayang. Dan jangan banyak bertanya" ketus Risa masih mengelap kulit suaminya. Kini dia menyapu bagian otot bisep Hoon yang kian terbentuk.
"Tubuhmu banyak berubah" gumam Risa kemudian
"Apa kau baru sadar?" Risa tersenyum kecil
"Aku bahkan tahu berapa banyak kerutan yang tumbuh di kulit wajahmu!" Ketus Hoon masih kesal
"Apa katamu!" Risa mengangkat dagu. Dia tak percaya dengan ucapan Hoon barusan.
"Aku tadi sedang memujimu tau, kenapa kau malah menghinaku sih!" Risa mengepakkan handuk ke permukaan kulit Hoon, membuat suaminya sedikit menghindar. Tapi tetap saja handuk itu memukul kulit terbukanya. Risa gemas mendengar ucapan jahat suaminya.
"Aku tidak menghina, Ku hanya jujur" gumam Hoon merasa bersalah. Risa merajuk, dia membuang handuk kecil di tangannya ke lantai. Wajahnya cemberut, dia melipat tangan di dada dan membuang wajah. Ais, sudah berapa tahun mereka menikah? Tapi masih saja terus berdebat dan kadang kadang tingkahnya seperti bocah. Hoon sedang dalam masalah karena sudah berani berkata jujur yang menyakitkan.
"Sayang, aku akan tetap cinta meski kau bertambah tua dan keriput" bujuk Hoon, bujukan apa itu? Membuat Risa semakin kesal.
"Sayang.." Hoon menggamit ujung lengan pakaian istrinya, berusaha merayu. Kepalanya bersandar di pundak Risa, tapi istrinya menepis kasar.
"Sayang.." bujuk Hoon sekali lagi. Risa tak menanggapi.
"Sayang, apa kita harus pergi bulan madu lagi? Rasanya pekerjaan membuat aku cepat lelah dan sedikit stress. Apalagi sekarang RI sudah besar. Kita bisa mengajaknya liburan. Ke Bali, Maldives, Hawai, Maroko. Kemana pun!" Risa melirik sesaat.
__ADS_1
"Ah, apa kau ingin ke Paris? Milan? Atau new York?" Senyum Risa mulai mengembang. Ah, dasar wanita. Giliran yang disebutkan pusat perbelanjaan langsung berubah.
"Apa aku boleh membeli beberapa tas baru? Kudengar mereka membuat beberapa item limited edition, tapi harus pre order dari sekarang" Hoon mengembangkan senyuman getir. Membeli tas lagi? Lalu lemari kaca disini, dan di Korea, itu semua apa isinya? Padahal Risa setiap hari hanya menenteng satu tas yang sama. Tapi dia menyimpan banyak yang lainnya.
"Ya, tentu saja. Kau bisa membelinya"
"Aaah! Suamiku memang yang terbaik!" Risa memeluk erat tubuh Hoon, memberi kecupan cepat beberapa kali di bibir suaminya. Keduanya bertatapan dekat.
"Terima kasih sayang" gumam Risa menatap dalam mata suaminya. Wajah yang tak berubah. Wajah pria yang selalu dicintainya.
"Terima kasih sayang" balas Hoon, dia mengelus lembut punggung istrinya.
"Apa kau senang berada disini?" Risa mengangguk cepat.
"Iya, terima kasih sudah mau cuti di tengah kesibukan mu" Hoon mengangguk
"Tentu saja. Kita memang harus melakukan cuti. Pekerjaan akan terus menumpuk meski kita sudah bekerja setiap hari.." Hoon meraih rambut depan Risa, dan mengais ke belakang. Merapikan beberapa helaian yang jatuh di dahi istrinya.
"Kau wanita tercantik dalam hidupku.." gumam Hoon sebelum.mendaratkan kecupan di bibir istrinya. Risa mengaitkan tangan di belakang leher Hoon, menerima Sambaran hangat bibir suaminya. Meski sepuluh tahun, sepuluh tahun lagi. Cinta kita akan tetap sama.
Tangan Risa turun menelusuri guratan otot Hoon. Hingga dia sedikit terkejut karena sesuatu membuat telapak tangannya merasa aneh. Keduanya menoleh dan tertawa geli.
Ingat pertama kali mereka bertemu. Malam itu Hoon juga mengenakan handuk seperti saat ini. Kalau kali itu dia tak sengaja melepas handuk yang menutupi bagian bawahnya, tapi tidak kali ini. Tongkat yang berdiri membuat Risa menggigit bibirnya, dia sengaja menggoda suaminya yang sudah on fire itu. Wanita itu menarik handuk yang jadi pelindung, membuang ke lantai dan mendorong tubuh Hoon yang mendekapnya erat. Keduanya larut dalam nuansa pagi hangat dan pergulatan sengit di atas kasur.
"Aku mungkin tidak bisa hidup jika tak ada dirimu!"
terima kasih yang sudah membaca, semoga terhibur. nantikan coretan aku yang lainnya
Love and Money, kisah cinta dewasa yang dikemas dengan bahasa to the point
Lia gadis miskin, dia membutuhkan banyak uang. bibinya sakit sakitan, ibunya dipenjara. dia harus berjuang untuk hidup. Sampai suatu hari Max, putra tunggal keluarga Edwardo jatuh cinta padanya. Tapi tuan Edward menawarkan banyak uang padanya. Siapa yang akan dipilih Lia. Max atau si papa Edward?
Bukan Salah Jodoh. komedi romantis yang dikemas dengan bahasa sehari hari
Vira pergi ke ibukota untuk kuliah. Lisa menawarkan fasilitas dan banyak impian di sana. Tapi ternyata sepupunya itu hanya menipu Vira. Lisa ternyata menyusun siasat agar Vira menggantikannya untuk menikahi pria yang tak dia kenal.
Vino adalah pria yang hanya peduli dengan uang dan harta. Dia menikah karena warisan yang akan dia dapatkan.
__ADS_1
Bagaimana kehidupan pasangan suami istri aneh ini? Baca ya!
Untuk remaja baca juga First Love Again. Kisah cinta pertama antara Bumi dan Langit yang langsung end tanpa kunci!