
Hari pertama setelah hari pernikahan.
Risa meletakkan bayi Ri ke dalam ranjangnya. Anak semata wayang mereka itu sudah kelelahan mengikuti ritual panjang hari bahagia ini. Risa sendiri sudah sangat kerepotan dengan gaun yang dia kenakan. Hoon menyusul ke kamar setelah selesai menyapa sebagian tamunya. Dia tak mungkin menyapa satu persatu.
Pria itu segera berlari menaiki anak tangga. Menuju kamar. Dengan cepat dia meraih handle pintu.
"Ada apa!" Tanya Risa bingung mendapati wajah lelah Hoon.
"Aku berpikir cukup satu kali saja menggelar pernikahan." Alis Risa bertaut mendengar ucapan lirih hoon, belum lagi tarikan nafasnya yang berat.
"Kita sudah menggelar pesta di gedung, menghabiskan banyak waktu di acara pemberkatan dan sekarang kenapa tetamu juga datang ke kediaman kita?" Tanya Hoon heran. Risa menahan tawa geli.
"Itu belum seberapa, kau tak akan bisa istirahat seminggu lebih jika di gelar di kampung kelahiran ku!" Tuding Risa mengejutkan hoon. Seminggu? Apa itu tidak berlebihan.
Risa meraih jas suaminya, membukakan kancing, melonggarkan ikatan dasi. Wanita itu paling tahu jika suaminya ini sangat anti menggunakan seragam resmi dalam waktu yang lama. Hoon menyukai kaos oblong longgar dengan celana model pipa yang santai.
Hoon menurut saja ketika Risa mulai melepas satu persatu pakaian yang dia kenakan.
"Seharusnya kemarin sudah masuk jadwal malam pertama kita, tapi rasanya ototku sangat lelah. Tenaga ku seakan terkuras habis.." keluh Hoon menjatuhkan tubuh di sofa.
"Kupikir setelah pemberkatan kita akan bisa berpelukan, berciuman dan melewatkan malam panjang bersama" wajah kecewa Hoon sangat dimengerti Risa
__ADS_1
"Bersabarlah, tamu itu tidak akan lama disini, dua tiga hari lagi mereka juga akan pergi satu persatu. Apalagi itu kerabat papa dan mamaku, mereka akan jarang kesini" ucapan Risa dengan suara lembut membuat Hoon mencoba mengerti.
"Aku juga kasian dengan mama, dia sepertinya sangat lelah" balas Hoon memikirkan emi. Risa tersenyum getir.
"Mama membutuhkan mereka, setidaknya dengan suara riuh bisa menghibur hati mama. Saat mereka pergi satu persatu nanti, mama pasti akan kesepian. Mama akan merasakan sosok yang selama ini menemaninya sudah tak ada.." suara lirih Risa membuat Hoon mendekapnya dari belakang. Pria itu menautkan kedua lengan di depan dada istrinya.
"Aku mengerti sayang. Kau juga pasti akan merasa kesepian dan kehilangan.." Risa sekali lagi menggaris senyum getir.
Kedatangan dan kepergian, sekarang sedikit demi sedikit Risa sudah bisa menerima, apalagi ada Hoon dan bayi RI di sampingnya.
"Sayang, ayo mandi.." bisik Hoon di telinga Risa, wanita itu mengerti sekali arti dari kalimat barusan.
"Bukankah kau sedang lelah?" Tanya Risa balas membisik.
Tanpa aba aba lagi, Hoon menarik risleting Risa, mengekspose punggung mulus istrinya. Hoon meninggalkan beberapa kecupan di kulit basah Risa, ya dia sedang berkeringat karena lelah, dia juga menggendong bayi Ri seharian ini.
"Sayang, badanku kotor.." protes Risa, dia sudah bisa merasakan sentuhan hangat dan basah di belakang sana. Hoon menggeleng tak peduli. Dia sudah sangat menahan diri sampai hari ini. Tapi tak bisa seperti ini, mereka sudah berkeringat seharian.
Risa menarik lengan suaminya, menuntun langkah menuju kamar mandi. Ruangan berukuran luas dengan bathup besar di tengah ruangan, sementara pada bagian pojok ada ruang bilas dengan pintu tabung kaca, di dalam sana juga berjejer banyak peralatan mandi yang tersusun rapi dalam lemari terbuka.
"Ayolah sayang.." bisik Hoon sudah tak sabar lagi
__ADS_1
Hoon mengangkat tangan, membimbing telapak tangan Risa, pria itu memutar tubuh istrinya hingga kini matanya bisa melihat jelas wajah lelah Risa, ah wajah letih yang kehilangan banyak tenaga. Tapi tatapan itu jelas terasa lain. Hoon menyambar bibir istrinya, menikmati dengan penuh perasaan. Sementara tangannya menuntun turun gaun yang dikenakan Risa. Sentuhan hangat, lembut dan menggairahkan dari permainan lidah Hoon membuat Risa tak mau menahan diri lagi, dia merangkul tubuh suaminya, merasakan setiap selah di dalam mulut Hoon. Panas dan kian panas.
Sudah tak peduli lagi dengan riuh suara di bawah sana. Tak peduli lagi dengan sisa tenaga, malah sepertinya kini ter-recharge sendiri. Ya, sentuhan ini membuat Hoon ataupun Risa menjadi semangat dan bergairah.
"Aku sudah lama merindukan semua ini.." bisik Hoon diselah ciuman mereka. Risa mengangguk malu malu. Wanita itu menggigit bibirnya membuat Hoon kian bergairah. Lihatlah wajah eksotisnya, kau juga sudah tak sabar rupanya!
"Apa kau juga merindukanku?" Tanya Hoon berharap mendapatkan jawaban manis, tapi ternyata dia salah.
Risa sedikit berjinjit, wanita itu menyambar cepat bibir suaminya tanpa jeda, dia terus ******* dan merasakan naik turun tenggorokan suaminya. Penuh gairah, permainan panas dan tak mau kalah. Akhirnya hari ini meski slmasih letih, mereka masih bisa menikmati penghujung hari. Jari lentik Risa sudah kian berani kini, kali ini giliran dia melucuti sisa kancing kemeja Hoon. Melepaskannya dan melempar ke lantai kamar mandi. Jemari itu juga cekatan melepas ikat pinggang Hoon, kembali melempar asal, jari lentik dengan kuku warna warni mengkilap, menyusup perlahan diantara kancing celana Hoon.
Hoon menggigit bibirnya gemas. Apa yang sedang istriku lakukan! dia tak pernah seberani ini sebelumnya? tapi apapun itu, Hoon sangat menyukai sentuhan lembut jari jemari Risa. wanita itu teus menyentuh kulit dada terbuka Hoon, menyisakan deru nafas hangat yang menerpa kulit.
Risa mengangkat kepala nya, tatapan matanya penuh gairah dan menggoda. Sementara Hoon kini sangat pasrah, dia terus menikmati setiap rangsangan yang dibuat Risa, lakukan semaumu!
"Aku sudah lama ingin melakukan ini!" ujar Risa pelan dengan wajah menggoda, membuat Hoon kian tak sabar, tangannya meraih tengkuk Risa, sekali lagi mencium bibir istrinya. menikmati ritme ciuman panjang mereka. Bukan, bukan ini yang ingin Risa lakukan. wanita itu tersenyum penuh arti. Apa arti tatapan intens itu?
"Kenapa?" tanya Hoon heran dengan sudut tajam mata Risa, dia tidak melakukan kesalahan kan! kenapa Risa terlihat sinis? Risa segera menurunkan badan dengan cepat, dia bahkan belum melepas heelnya. Wanita itu bertumpu pada kedua lutut menyentuh lantai, membuat Hoon sedikit terkejut.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Hoon bingung, tangannya meminta istrinya untuk bangkit, tapi Risa malah tersenyum sinis. Lihatlah raut wajah di bawah sana, biasanya dia tampil santai dan menyenangkan, tapi kali ini dia tampak antagonis. Hoon menyukai itu! wajah lain Risa, dan hanya dia saja yang tahu.
"Aku ingin mencobanya!" gumam Risa tak jelas ditangkap Hoon, membuat pria itu kian penasaran dan heran. Apa yang akan dilakukan wanitanya di bawah sana?
__ADS_1
Risa membuka celana suaminya hingga turun ke ujung kaki. Sekali lagi bibirnya tersenyum. Jemari lentiknya menyusup perlahan hingga menggenggam tuas pribadi Hoon. oh my God! Hoon menahan gejolak di dada, dia tak pernah merasakan betapa lembutnya pijatan di bawah sana, itu belum apa apa. Risa sekali lagi melemparkan senyuman. Hoon masih bisa mengintip sambil terus menggigit bibir bawahnya, dia gemas sendiri. Risa mengangkat satu tangan, dan meraih telapak tangan Hoon, mereka berpegangan erat. Sebelum Risa membenamkan kepala di antara kaki Hoon di bawah sana.
"Aaaakkh!!" Hoon melenguh dan mengepalkan kedua tangan. Dia tak bisa membuka mata. Damn! Aku sangat mencintai istriku!