
"Ma, aku akan ke warung sebentar lagi. Apalagi yang harus aku beli?" tanya Risa mengangkat kertas catatan belanja dari Emi. Wanita paruh baya itu menggelengkan kepala, itu artinya semua sudah lengkap tercatat di kertas yang Risa pegang. Dia tak perlu lagi bolak balik belanja kan!
"Kai, aku titip bayi Ri, jangan sampai kenapa napa!" Ancam Risa memberi gerakan menggorok leher dengan tebasan telapak tangan. Kai mengangguk mengerti. Emi cemberut, dia tak menyukai tingkah Risa pada Kai. Risa sadar betul arti tatapan tajam Emi, dia tertawa takut dan segera berlalu.
Mama sangat mengerikan! sepertinya beliau juga menyukai Kai, bahkan aku tak boleh berkata kasar dan bertingkah konyol pada pria asing itu!
Kai menggendong Ri, bayi tampan itu masih tertidur pulas di pangkuannya, Kai hanya menggoyangkan pelan tubuhnya meyakinkan diri jika bayi Ri tetap aman dalam pangkuannya. Kai tersenyum melihat wajah imut di dalam gendongannya. Dia tertidur pulas dengan damai, wajah bayi memang menggemaskan dan polos.
Hari ini mama dan papa masak besar, wangi sedap memenuhi ruangan. Kai beberapa kali menelan ludah merasakan aroma sedap menggelitik tenggorokan nya. Senang sekali akhirnya dia bisa mencicipi masakan Emi dan Bambang hari ini. Membayangkan wangi asing yang lezat ini, membuat Kai sudah tak sabar lagi.
Sepertinya tamu yang datang cukup penting. Seisi rumah sibuk dan heboh. Dimulai dari ritual membersihkan rumah, mengatur perabot dan sekarang memasak. Bahkan Risa harus membeli beberapa kebutuhan yang kurang. Siapa sih tamu penting ini? Kai sedikit banyak juga penasaran, untung saja bayi Ri sedang nyaman bersama Kai. Dia tak keberatan mengasuh bayi Ri asalkan jangan menangis seperti kemarin.
Kalau dilihat lihat Kai dan Risa sepertinya cocok, banyak orang yang akan salah mengira jika Kai adalah ayah bayi Ri. Dan sepertinya Kai tidak keberatan. Terkadang dia bertanya tanya kemana ayah bayi ini. Kenapa tak sekalipun dia mendengar pembahasan tentang ayah bayi Ri.
"Kai, sini biar mama yang gendong Ri, kau mungkin lelah.." Kai menggeleng sambil melebarkan senyum. Dia menolak tawaran Emi, sepertinya wanita berwajah tenang itu masih belum selesai menghidangkan hasil masakannya ke meja makan.
"Tidak apa, aku malah senang" balas Kai tulus. Emi mengangguk mengerti.
"Terima kasih nak"
Keluarga ini membuat Kai merasa tenang. Kebaikan dan kehangatan Bambang dan Emi, juga Risa, meski sering kali kalimatnya ketus, wanita itu penuh perhatian dan kasih sayang. Risa juga memiliki perasaan yang mudah tersentuh Kalau bukan karena rasa iba Risa, tak mungkin Kai ada disini saat ini.
Kai melebarkan senyum kecil mengingat bagaimana Risa membantunya kabur dari hotel itu. Kai tak bisa membayangkan jika si bos besar tahu kalau dirinya sudah tak bersama rombongan. Ini akan menjadi masalah besar!
Kai terlihat sedang berpikir. "Aku harus menemukan omma.." bisik Kai. Dia tak bisa terlalu lama di rumah ini. Kai harua mencari ibunya. Dia harus melakukan sesuatu. Terlalu bahaya jika terus terusan berada disini.
Kaimelirik bayi Ri yang masih tertidur pulas, jari Kai mengelus lembut kulit pangkal lengan baby Ri. Kai tersenyum sekali lagi, berharap masa kecilnya juga sehangat ini. Berharap dia bisa menjadi sosok ayah yang tebaik nanti.
***
Hoon meluruskan mobil. Eun mencuri lirik ke arah rumah yang di deskripsikan detail di pesan Risa.
"Rumah di depan lapangan bulu tangkis, dengan cat berwarna putih, pagar berwarna hitam, di depan ada etalase kaca.." Bibir Eun masih terbuka sambil meyakinkan diri jika rumah yang sedang dia tatap adalah benar milik keluarga Risa.
__ADS_1
"Sepertinya itu rumahnya!" tunjuk Eun. Hoon menoleh sekilas lalu mengangguk pelan. Eun mendengus melihat anggukan adiknya.
"Kau pernah kesini kan!" tuding Eun memaksa.
"Tidak!" Hoon masih saja mengelak.
"Ish, wajahmu itu mengatakan iya!" gerutu Eun keluar dari mobil.
Untung saja keluarga Risa sudah pindah ke kota. Bahaya sekali jika masih di pinggir kota. Lihat mobil mewah yang dikendarai Hoon. Dan penampilan super stylist Eun Jung.
Mereka seperti artis yang akan turun tangan memberikan bantuan kemanusiaan. Memang money can't buy class, kalau sudah lahir dengan elegan, mau dimanapun dan kapanpun tetap terlihat waah!
"Kau tidak turun?" tanya Eun berjongkok di depan pintu mobil yang terbuka. Hoon jelas ragu. Dia sedikit cemas dan tidak yakin. Bagaimana yakin, menemui mantan pacar yang sudah berkeluarga! duh, yang benar saja nuna! kau membuatku tambah depresi saja.
Sakit hati kemarin masih jelas menyisa kan luka besar, dan hari ini kau memaksaku menyiram perasan lemon di atas luka yang bahkan belum mengeringkan darahnya. Bunuh saja aku Jung Eun gilaaa!!
Hoon terus saja terlibat pergulatan batin. Apa mungkin dia harus keluar dan menemui Risa? tidak masuk akal!
"Nuna, sebaiknya kau saja yang kesana. Aku belum siap.." pinta Hoon sedikit merengek. Ekspresi wajahnya itu membuat Eun gemas. Rasanya pengen mukul tak berhenti henti.
"Lalu, kau meminta nunamu untuk mengangkat semua itu!" hardik Eun menunjuk banyak parcel untuk bayi Ri, belum lagi tambahan makanan yang tadi mereka beli, oh, masih ada lagi beberapa botol jus segar.
"Baiklah, baiklah.." pasrah Hoon. "Aku akan membantumu, tapi kau lebih baik kesana lebih dulu!" pinta Hoon. Dia masih ragu sebetulnya.
Eun berdecak dengan sekian banyak alasan adiknya. Hoon apa apaan sih! Eun mendekap tangan di dada, adiknya itu sangat menyebalkan. Pantas saja Risa meninggalkannya. Dia sangat, sangat, tidak manly! Eun menepuk dahi tak percaya dengan kelakuan Hoon.
"Aku jadi kasihan seandainya benar itu keponakan kandungku.." gumam Eun kesal berikut gemas membayangkan bayi Risa bisa dia gendong nanti.
Eun segera mengatur langkah. Dia semakin dekat dengan rumah Risa.
Sebuah rumah kompleks yang tak besar, tentu saja jika dibandingkan rumah keluarga Jung, rumah ini tak besar. Tapi sangat cukup bagi Risa. Andai Eun tahu darimana keluarga Risa bisa memiliki rumah ini!
Pintu rumah tak terkunci, daun pintu terbuka lebar. Eun menaikkan kaca mata hitamnya. Dia melongok ke dalam rumah. Ada seseorang dan seorang bayi kecil lucu di dalam sana.
__ADS_1
Baru menatapnya saja membuat Eun gemas. Itu pasti si bayi yang Eun nantikan. Ya ampun, wajah tenangnya membuat Eun ingin segera berlari dan membawa bayi itu ke dalam pangkuannya.
Pria itu memangku bayi Ri, kepalanya terus tertunduk seakan terhipnotis dengan wajah tenang si bayi. Lihatlah bayi itu, dia sangat menggemaskan. Pipinya yang penuh, bibirnya yang mungil, rambut hitamnya yang tebal. Risa melebarkan bibir, dia tersenyum lebar, terpesona akan baby Ri.
"Wah, siapa yang berdiri disana!" Emi muncul dari ruang lain, wanita itu membelalakkan mata melihat wanita cantik dihadapannya.
Eun mengangkat dagu, dia tersenyum ramah pada Emi. Bambang menyusul dari belakang, pria setengah baya itu spontan mundur hingga belakang betisnya mentok tersentuh dengkul Kai, dan mengejutkan bayi Ri.
Bambang membuat bayi Ri membuka mata. Kai bangkit dari posisinya, dia mencoba mengayun pelan bayi Ri di dalam gendongannya, persis seperti yang Risa lakukan, Kai mencontoh dengan baik.
Emi dan Bambang tak percaya dengan wanita yang super cantik, Eun bak barbie hidup. Dia seperti boneka nyata!
"Apa dia manusia?" gumam Emi tak percaya, tangannya terangkat menutup mulut yang terus terbuka. Bambang justru tak bisa membuka mulut. Saking gugupnya, sendi Bambang seperti melemah, pria itu gemetar melihat wanita secantik Jung Eun.
Melihat reaksi Emi dan Bambang, Kai jadi penasaran. Dia melangkah kesamping, sedikit menghindari punggung Bambang yang menghalangi pandangannya. Wajah Kai jauh lebih terkejut lagi. Begitupun dengan Eun
Semua membuat wajah terkejut bersama dengan kompak. Jika Emi dan Bmabang terkejut karena takjub. Kai dan Eun terkejut karena tak percaya.
"KAAAIIII!!!"
"EEUUNN!!"
Teriak keduanya bersamaaan. Membuat Bambang dan Emi bergantian saling menatap Kai lalu Eun, Eun lalu Kai..
"Siapa kalian ini.." lirih Bambang akhirnya bisa sedikit mengeluarkan suara.
****
Hayoo.. mana star vote.. mana review bintang 5.. mana hadiaahnya!! biar ttp semangat upp!!
terima kasih semuanya atas dukungan kalian pada kisah Hoon Risa..
Semoga konflik mereka cepat reda biar kesana lebih bahagia lagi..
__ADS_1