Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Extra


__ADS_3

Seoul, musim semi hari ke-2


Risa dan Hoon kompak membesarkan mata, lihatlah wajah ceria Emi, dia kompak sekali dengan direktur Mei yang sepagi ini sudah bertandang.


"Mama mau kemana, hari masih pagi tapi sudah cantik sekali?" Tanya Risa heran, Hoon hanya mencuri lirik saja, dia menahan senyum melihat setelan catchy mertuanya.


"Apa ini cocok?" Ternyata Emi menyadari tatapan lucu Hoon padanya. Biasanya wanita paruh baya itu hanya menggunakan daster, blus big size, tapi hari ini. Emi sungguh berbeda, baru beberapa hari di Seoul gayanya sudah berbeda sekali.


"Darimana mama mendapatkan sweater bulu ini?" Risa menggamit sedikit sweater cerah mamanya, dia bahkan sangat kagum dengan model sweater yang simple tapi tetap cantik dan elegan.


"Mama akan membawa mantel juga, sweater rajut bulu ini tak cukup hangat saat angin bertiup. Tulang mama rasanya linu. Musim semi tapi udara dingin sekali.. brrr.." Emi tak bisa membayangkan udara luar yang dingin. Perbedaan suhu yang signifikan membuat tubuh wanita paruh baya itu butuh waktu penyesuaian.


"Mama dan nyonya Mei harus sarapan dulu, minumlah teh hangat ini. Dan ini! Spesial" Risa menyodorkan dua gelas minuman dengan akar di dalamnya


"Apa ini?" Tanya Emi heran. Mei menepuk pelan punggung lengan temannya.


"Itu teh ginseng, ayo diminum" ujar Mei, Emi manut saja.


"Kita harus tetap hangat agar bisa menikmati festival spring di tepi sungai han!" Emi tambah excited, tentu saja, dia meneguk perlahan minumannya.


"Apa kalian akan melihat festival musim semi?" Tanya risa, dia sempat menguping tadi.


"Iya, mama ingin mengambil banyak foto, Cherry blossom, menyaksikan bunga Sakura bermekaran, bunga Forsythia, bunga Azaleas, dan bunga Magnolias dan Lilacs.." Risa takjub dengan pengetahuan mamanya.


"Mama bahkan menghafal nama nama bunga disini?" Emi mengangguk bangga


"Tentu saja, mama membaca buku guide, the map of the Seoul. Terimakasih menantu.." ujar Emi melemparkan senyum pada Hoon.


"Tentu saja mertuaku" balas Hoon dengan senyuman lebar.


"Direktur Mei, kalian akan menikmati spring festival, jangan lupa bawa hot pack yang banyak. Aku tidak mau kalian sakit" kedua Omma Omma paruh baya itu mengangguk kompak.


"Tentu saja menantu" balas Emi dengan gaya bicara mengikuti logat Seoul. Aish ibuku gaya sekali.


"Karena Omma akan pergi, jadi aku akan menjaga bayi RI!" Eun bergabung di meja makan.


"Bagaimana dengan kalian?" Eun bertanya pada Hoon dan Risa.


"Kami?" Tanya Risa bingung. Eun mengangguk.


"Iya, kau dan Hoon harus menikmati suasana seoul dong. Hoon, kau harus mengajak Risa melihat Cherry blossom. Mengunjungi royal palace, minum di tepi sungai han, dan ambil banyak foto dengan hanbok!" Risa membulatkan mata, itu ide yang cemerlang nuna!


"Tapi aku ada urusan pekerjaan, dan Risa menemaniku rapat" balas Hoon dengan wajah datar. Risa cemberut. Benar juga, mereka kan sudah melewatkan bulan madu di kapal pesiar mewah, setiba di Seoul agenda mereka berubah menjadi pekerjaan. Hoon sedang membangun kantor pusat baru disini, perusahaannya berkembang cukup pesat.

__ADS_1


"Ah!" Eun tiba tiba ingat sesuatu " Hoon, Risa," ujarnya meminta perhatian.


"Sepertinya aku dan kai akan kembali ke Indonesia, aku harus mencari keberadaan Sora disana." Hoon dan Risa sedikit terkejut, begitu pula dengan direktur Mei dan Emi


"Apa kau yakin?" Tanya Emi dan Mei kompak, mereka saling bertukar tatap, sepertinya keduanya memiliki pemikiran yang serupa. Eun mengangguk.


"Apa kau sudah berbicara dengan kai?" Tanya Mei, sekali lagi meyakinkan Eun, wanita itu mengangguk. Wah, senyuman Mei dan Emi segera mengembang. Itu artinya kai dan Eun akan ikut pulang bersama mereka nanti.


"Lalu siapa yang mengurus kantor disini?" Tanya Hoon bingung, bukankah hasil diskusi sebelumnya Kai akan membantu mengelola kantor pusat di Seoul.


"Aku dan kai akan mengurus di Indonesia, itu artinya kau dan Risa yang tinggal di Seoul" hah! Risa dan Hoon tercengang, kenapa Eun nuna memutuskan sendiri. Seharusnya mereka merundingkan terlebih dahulu kan!


Sepertinya risa sedikit kecewa, Hoon bisa melihat perubahan air wajah istrinya. Pria itu mencoba mencari jalan tengah.


"Em, siapa Sora?" Tanya Hoon ingin tahu. Setidaknya di harus tahu kenapa sampai Eun merubah kesepakatan demi nama perempuan itu.


"Kim Sora, temanku. Istrinya tuan Kim!" Hoon tak jadi meneguk isi gelasnya. Dia melirik ke arah Risa. Mereka bertukar tatapan.


"Kenapa kau mencarinya?" Tanya Hoon heran.


"Aku mengunjungi rumahnya kemarin. Dia sudah tak disana, Sora mengalami banyak hal buruk. Dia kehilangan suaminya, pekerjaannya, dia bahkan tak punya keluarga seperti kita." Eun menghela nafas dan mengembalikan bayi RI pada suster. "Aku mencemaskan dia. Aku takut dia nekad dan melukai dirinya. Kudengar dia sedang berbadan dua.." kalimat terakhir eun mengejutkan Hoon dan Risa.


"Apa katamu!" Hoon tak percaya. Eun mengangguk. Risa menutup mulutnya yang menganga terkejut. Tidak mungkin!


"Ada apa?" Tanya Emi melihat perubahan air wajah Risa.


"Kau benar Eun, dia membutuhkan seorang teman!" Direktur Mei mengambil bagian. "Andai aku bisa, aku juga ingin mengenalnya.." suara lirih Mei membuat Emi ikut mengelus pelan pundaknya. Siapa yang sedang mereka bicarakan? Sora? Kim? Emi tak ada ide untuk mengerti arah percakapan di meja makan ini.


"Nuna, aku percaya padamu" lirih Risa melemparkan senyuman getir. Hoon melirik istrinya. Jika tadi ada raut kecewa kini wajah istrinya tampak penuh ketulusan.


"Aku bisa sedikit mengerti perasaan Sora. Dia mengandung seorang bayi tanpa suami.."


"Uhuk!" Hoon terbatuk. Sepertinya kalimat Risa barusan membuat dia tersindir.


"Aku sedang membicarakan orang lain, bukan kita" gerutu Risa melirik sinis ke arah Hoon.


"Ya, pasti itu sangat berat" Eun membuang nafas panjang. Dia sangat mencemaskan sahabatnya.


Hoon menggeser sepatunya, dia mendorong kaki istrinya di bawah meja. Risa tak peduli, dia menyeruput isi gelasnya. Hoon melepaskan sepatunya, dia menggerakkan jempol kaki dan meminta perhatian Risa, pria itu mencolek  etis Risa dengan jari kaki yang tertutup kaos kaki. Risa tak peduli.


"Baiklah kami akan pergi. Selamat menikmati hari kalian.." Emi dan Mei beranjak dari meja makan. Keduanya melambaikan tangan kompak.


"Aku juga harus mandi dan membangunkan Kai, dia kesulitan tertidur malam tadi. Sepertinya kau memberi Kai banyak pekerjaan ya!" Tuding Eun dengan wajah kesal ke arah Hoon. Adiknya itu menggeleng.

__ADS_1


"Aku tidak menambah pekerjaannya" ketus Hoon. Enak saja, Risa sudah kesal karena pembahasan Sora pagi ini, sekarang Eun nuna ikut ikutan melontarkan tudingan praduga ke Hoon. Pria itu mulai kesal.


"Sayaang.. apa kau marah?" Bujuk Hoon melihat wajah ketus istrinya. Risa memaksakan senyum dan lanjut menyeruput sisa minumannya.


"Aku dulu kan tak tahu kalau kau sedang hamil. Aku mana mungkin meninggalkanmu kalau saja aku tahu. Kau tahu aku sangat menyesal.."


"Ya" balas Risa singkat.


"Sayaaangg.." rengek Hoon meminta perhatian istrinya. Ah, kenapa sih topik pagi ini harus membuka luka lama. Sudah tahu wanita bisa menyimpan Masalah dalam otaknya meski sudah berabad abad lamanya. Hoon merasa serba salah jadinya.


"Sayaaang, kau tidak marah padaku kan?" Risa menggeleng.


"Siapa yang marah padamu, aku hanya kasihan pada wanita bernama Sora itu. Kasusnya tak jauh berbeda dengan masa laluku" sindir Risa bangkit dari meja makan. Dia menuju ke kamar, hendak bersiap mengikuti Hoon ke kantor.


Suara hentakan kaki Risa membuat perasaan Hoon belum bisa tenang.


"Sayang! Kau tidak marah kan?" 


SLAM!!


Hoon terkejut mendengar pintu di banting. Kenapa jadi dia yang kena sih! Hoon menghampiri pintu yang sudah tertutup rapat.


"Sayang, kau tetap pergi ke kantor denganku kan!" Hoon menyambar handle pintu, dia kira Risa mengunci pintu kamarnya, tapi ternyata tidak. Hoon sedikit terkejut ketika tenaganya terlalu besar saat mendorong daun pintu.


"AAAAHHH!!!" Tubuh Hoon mendarat sempurna memeluk Risa. Wanita itu baru saja melepas kimono paginya.


"Kau kenapa sih!" Sungut Risa kesal dan terkejut. 


"Kau sengaja tak mengunci pintunya ya" goda Hoon mencubit gemas hidung risa.


"Kau tidak marah padaku kan?" Tanya Hoon masih butuh penjelasan.


"Tidak, sudah ku katakan tidak!" Ketus Risa. Tapi Hoon lagi lagi masih sulit percaya.


"Kalau begitu beri aku sebuah kecupan!" Pinta Hoon manja. 


"Aaah!! Lain kali saja, kita sudah terlambat!" Elak Risa, dia berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya.


"Tuhkan!!" Rengek Hoon, Risa benarkan marah padanya? Ah.


"Sayaaang.." Hoon terus saja merengek, membuat Risa lupa sebab awal, kenapa dia tadi marah pada Hoon. Rengekan ini menyebalkan!


"Sayaaangg.."

__ADS_1


__ADS_2