Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Kau ini


__ADS_3

Baiklah..


Rasanya enggan untuk saling melepaskan dekapan, masih terus saja membuat Hoon dan Risa berdekapan erat. Kalau tidak ingat sedang dimana mereka saat ini, bisa bisa hal lain yang terjadi. Risa sedikit mendorong Hoon membuat jarak kurang lebih dua puluh senti diantara mereka. Wajah keduanya merona dengan bibir yang mengkilat basah.


"Mm.." Keduanya terlihat malu dengan memijit tengkuk masing masing, saling salah tingkah.


Rindu memang bahaya kalau sudah bertemu.


Hoon mengangkat tangan, menghapus sisa basah di bibir Risa dengan jempolnya. Keduanya kian salah tingkah. Jatuh cinta memang gawat. Sampai lupa berapa unur mereka! bukankah itu cara remaja yang sedang kasmaran? mereka bukan anak kemarin sore lagi. Ayolah!


"Mm.. apa kau tidak mau bertanya padaku?" Risa perlahan mengangkat kepala mencoba menatap wajah kekasihnya.


"Kau yakin, kau tidak akan bertanya?" Ulang Risa, Hoon tak mengerti dengan kalimat Risa. Apa yang harus dia tanyakan lagi? Hubungan yang rumit sudah sedikit terurai, apa dia masih harus bertanya lagi?


Risa menanti jawaban Hoon. Wanita itu masih cemas dengan pikirannya sendiri. Risa takut Hoon akan bertanya, siapa ayah bayinya? kapan dia hamil? bagaimana dia bisa hamil? semua pertanyaan seperti itu sungguh membuat Risa takut. Jika Hoon menanyakan semua itu tak butuh berfikir dua kali lagi, Risa pasti akan mencampakkannya tanpa ampun.


Hoon mencoba berfikir keras. Dia bingung harus bertanya apa. Oh ya, dia baru ingat.


"Apa Ri tahu jika appanya sangat tampan?" Risa mendelikkan mata. Dia melotot kesal. Bukan pertanyaan seperti itu yang harusnya terlontarkan! Tapi kalimat barusan membuat senyum Risa tersungging. Dia berdecak kesal bercampur senang. Apa Hoon tak berfikir sampai kesana? Risa sedikit lega.


"Tentu saja, bayiku tampan mewarisi pesona mamanya.." gumam Risa tak mau kalah. Hoon merajuk. Ah, kau masih sama saja, manja dan menggemaskan. Risa mencubit pipi Hoon gemas.


"Dia tampan, sepertimu.." goda Risa berbisik. Suara pelan itu membuat Hoon tersenyum lebar. Tangannya kembali beraksi menarik pinggang Risa. Mendekatkan diri mereka sekali lagi.


"Sudah?" tanya Eun mengejutkan Risa dan juga Hoon. Tatapan mata itu penuh makna sekali. Makna mengejek dan menggoda! Hoon dan Risa saling tersipu malu.


"Oke kalau gitu, sekarang ayo bantu angkat!" pinta Eun.


"Masih ada?" Risa tak percaya.


"Tentu, di kursi tengah masih penuh!" Eun nyengir. Risa tekjub tak percaya.


"Nuna membeli banyak sekali barang.." bisik Hoon. Eun bisa menguping jelas.


"Tentu saja dong! untuk keponakanku!" ujar Eun bersemangat. Hoon terdiam. Memangnya kau!


"Kenapa!" pukas Eun curiga dengan wajah diam Hoon.

__ADS_1


"Nuna, aku sudah melakukan kesalahan.." gumam Hoon dengan suara takut.


PLAK!!


Tanpa basa basi lagi telapak Eun memukul keras punggung Hoon. Wajah cantiknya jelas kesal bercampur kecewa. Telapak Eun sampai berubah memerah karena pukulannya sendiri.


"Aduh!" Hoon meringis sakit


"Kau bukan melakukan kesalahan! kau melakukan dosa besaaar!!" sungut Eun penuh emosi. Risa mengelus punggung Hoon yang dipukul Eun. Kasihan sekali kekasih manja ini, dia baru saja dianiaya nunanya.


"Segera tundukkan kepala dan mohon maaf sana! atau seumur hidup kau tak akan pernah melihat bayi Ri!" ancam Eun menudingkan jari telunjuk di depan wajah Hoon. Pria itu mengangguk mengerti.


"Tapi nuna.." Risa mengambil suara, Eun dan Hoon menyimak. Risa melebarkan senyum getir, membuat kakak beradik itu ikut khawatir. "Ada apa?" tanya Hoon heran.


"Aku pikir, jangan sekarang.." Eun dan Hoon memasang wajah melongo mendengar permintaan Risa. Loh, kenapa?


"Kenapa?" tanya Eun heran, dia bingung dengan wajah ragu ragu Risa.


"Karena---" Risa bingung harus bagaimana menjelaskannya. Hoon dan Eun kian penasaran. Ada yang mengganggu pikiran Risa.


"Karenaa--" Mata Risa membesar menyadari Bambang keluar rumah dari kejauhan. Dia langsung membuka pintu mobil.


"Masuk, masuk!!" Risa mendorong Hoon masuk ke dalam mobil. Eun bingung dengan tingkah panik Risa. Sementara Hoon meski tak faham terpaksa ikut juga. Pria itu terjerembab masuk ke dalam kursi kemudi.


"Apa masih ada yang harus dibawa?" tanya Bambang di belakang punggung Eun. Spontan Eun berbalik badan. Risa dengan gugup melangkah mendekat.


Eun dan Risa saling melirik bingung. Bambang melirik curiga wajah kedua wanita cantik di hadapannya. Risa semakin mendekati papanya, jangan sampai Bambang tahu siapa yang ada di dalam mobil.


"Loh, kau sudah disini?" Bambang terkejut melihat Risa.


"Mana belanjaanmu? mama sudah menunggu.." Aish, Risa menepuk dahi. Dia lupa dengan kantong belanjanya tadi. Bukankah sudah dia pakai buat nimpuk Hoon. Risa menarik senyum, senyuman yang penuh makna.


"Kenapa?" tanya Bambang heran. Eun membaca situasi.


"Ah, appa tunggu saja, aku dan Risa sudah membelinya. Appa tidak usah cemas, biar kami bereskan semua ini.." Eun mencoba mengalihkan perhatian Bambang. Dia menggandeng tangan papa Risa, untung pria paruh baya itu begitu menyukai pesona Eun, dia menurut saja saat dituntun kembali masuk ke dalam rumah.


"Tapi laki laki yamg harus menurunkan barang, mereka harus kuat dan bertanggung jawab!" Seru Bambang, dia melirik ke arah Risa dengan curiga.

__ADS_1


"Perempuan tidak boleh angkat beban berat, biar pria saja.." Eun mengangguk setuju dengan kalimat Bambang, tapi masalahnya sekarang adalah di dalam mobil ada beban yang lebih berat lagi daripada barang belanjaan. Akan panjang urusannya kalau Bambang mengetahui pria yang dicap brengsek sekarang kembali ke dalam kehidupan putri semata wayangnya!


Sudah sedikit menjauh, Eun mengedipkan mata, Risa mengangguk mengerti, dia mengurut dada. Fiuuh syukurlah..


"Kenapa kau begitu!" suara Hoon mengejutkan Risa. Kapan kapan dia sudah disini lagi.


"Aihh, masuk lah, masuk lah!" Risa memaksa Hoon masuk lagi ke dalam mobil. Tangan Hoon menarik Risa ikut bergabung kedalam mobil. Tarikan itu membuat Risa jatuh di atas pangkuan Hoon. Duh apa apaan lagi ini!


"Hoon, apa yang kau lakukan?" tanya Risa kesal. Dia terjerembab dengan pundak hampir saja terjatuh. Tapi lengan kokoh Hoon menahan punggungnya.


"Kenapa kau membuat aku menghindari appa?" tanya Hoon dengan raut wajah serius.


Risa sejenak terkesima dengan wajah tampan diatas wajahnya. Ya, memang wajah ini selalu menghiasi mimpinya. Kini mereka bisa seperti ini lagi. Risa tak habis pikir.


Deg.. deg.. deg..


Bahkan degup jantung ini masih sama. Melihat Hoon dengan wajah yang kian dewasa, rahang yang kuat dan tatapan tajam seperti ini. Membuat Risa terus berdebar.


"Hei, apa yang kau pikirkan?" tanya Hoon mencoba mengembalikan kesadaran Risa.


Bahkan bibirnya masih terus sama seperti dahulu. Penuh candu! Aih.. Risa menggelengkan kepala, membuang pikiran kotor. Terlalu lama sendiri efeknya sangat berbahaya! Risa segera bangun, turun dari pangkuan Hoon.


"Papa kecewa padamu.." lirih Risa. Suara Risa mungkin pelan tapi di kepala Hoon melesat seperti panah tajam. Apa itu artinya mereka memiliki rintangan yang selanjutnya?


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Hoon cemas.


"Kau harus meluluhkan hati papa.." balas Risa dengan tatapan penuh harap. Hoon mengangguk ragu.


"Apa itu artinya aku tak bisa bertemu dengan bayiku?" Hoon menatap dengan wajah sedih. Risa mengangguk mengiyakan..


"Huaaaa… Riiii.. Appa disini!!!"


***


Kapan dong Hoon bisa ketemu bayinya? Tunggu dlu sampe ortunya bener2.. yasudahlah!


Jangan lupa vote staaaarrr.. review komen sebanyak2nya.. share share, rekomen ke yang lain, dan kirim hadiaaah juga buat penulis, biar tambah semangat

__ADS_1


__ADS_2