
Di sebuah gudang alat berat
Kai dibuat seperti tawanan jahat yang berhasil diringkus oleh Kim. Kebencian yang amat besar tergambar jelas di wajah Kim, sementara Kai hanya bisa pasrah dengan banyak pukulan dan intimidasi di tubuhnya. Meski sakit, Kai tak bisa berontak barang sedikitpun.
"Itulah Jung dan semua kepemilikannya!" dengus Kim penuh dendam. Dia berjalan mendekati Kai. Tangannya mengibas meminta dua orang yang memegang lengan Kai pergi. Kai terjatuh lagi ke lantai.
Kim jongkok dengan satu kakinya lebih maju. Dia mendaratkan sol sepatu tepat di atas punggung jari Kai. Pria itu meringis menahan nyeri yang terus terusan menghujaninya.
"Katakan pada Mei, suami brengsek itu adalah ayah terbaik dalam hidupku!" dengus Kim penuh amarah.
"Apaaa kaauu biilaaanggg.." suara Kai lirih
"Jangan bilaang kauu juga anak priaa ituuu" Kim terkekeh, dia tertawa ngeri.
"Hahahaha… hahaaa.. bisa bisanya kau mengatakan anak pria itu! dia ayahku! dia ayahku! ibumu merebutnya dari ku! merebut ayah ku, dan ayah Glen!" teriak Kim
"Apaaa kaauu dan Gleen bersaudaraa.." kai berusaha mengeluarkan suara meski nyeri dan menyiksa. Kim mendengus sinis.
"Aku adalah Kim, pemilik nama asli ayah, kau siapa! Kim Kai? hahahaha.." ledek Kim. "Lalu Glen siapa? Kim Glen??" cibir Kim.
"Kalian berdua hanya sampah! kalian sampah dari perut sampah!!" umpat Kim marah.
"Sebagai hyung tertua, kau dan Glen harus patuh padaku." ujar Kim dengan senyuman penuh banyak makna. Dia mengangkat dagu Kai. "Wajahmu boleh juga, rumah bordil ku membutuhkan pria tampan yang menghibur!" bisik Kim lalu membuang ludah tepat di wajah Kai. Dia beranjak, menggiling punggung tangan Kai berkali kali dengan sol sepatu sebelum memutuskan pergi.
"Ck.." Kai hanya bisa berdecak menahan semua kenyataan pahit dalam hidupnya. Hanya karena satu pria brengsek, beberapa generasi menanggungnya. Jadi dia anak pernikahan resmi ayahnya? Wanita yang disebut malaikat? yang selalu dibandingkan dengan ibunya? Kai menggelengkan kepala lemah. Dia terjatuh di lantai tak sadarkan diri.
***
Hoon menjemput Eun di bandara, berbeda dari sebelumnya kini nuna Hoon terlihat cerah dan murah senyum. Hoon merasa senang melihat perkembangan baik nunanya.
"Apa kabar mu?" tanya Eun melihat Hoon sedikit murung.
__ADS_1
"Aku baik. Kemana Kai hyung?" tanya Hoon heran tak mendapati Kai datang bersama Eun. Wanita itu mengangkat bahu. Dia juga tak mengerti kenapa Kai tak muncul hari ini.
"Mungkin dia belum siap bertemu dengan wanita itu" ketus Eun. Hoon membuat senyum tipis.
"Nuna jang sebut dia wanita itu, direktur Mei membantu ku disini. Dia bahkan sudah seperti seorang ibu" Eun hanya mengangkat bahu, percaya atau tidak.
"Nuna bukankah Kai sudah menjelaskan jika di masa lalu hanyalah salah faham. Bukankah semua jelas jika direktur Mei hanya berlindung pada papa?" Eun mengangguk beberapa kali.
"Iya, aku sudah mendengarnya. Papa hanya memeriksa luka memar karena kekerasan suaminya. Baiklah. Karena aku percaya pada Kai makanya aku disini hari ini. Tapi dia malah mundur.." kesal Eun.
"Kita akan ke mansion terlebih dahulu, nuna harus beristirahat sebelum bertemu direktur Mei" Eun menurut saja, dia masuk ke mobil disusul Hoon.
"Ku dengar, kau menarik aset mu?" tanya Eun pada adiknya, baru kali ini mereka terlibat obrolan serius yang santai.
"Iya, aku akan membuat pabrik disini, karena biaya produksi lebih rendah dan perkembangan ekonomi juga pesat" jawab Hoon.
"Apa kau akan meninggalkan Korea?" tanya Eun serius, nampaknya wanita itu kurang setuju.
"Aku akan mendukungmu" ujar Eun menepuk pundak Hoon, dia merasa bangga dengan sikap dewasa Hoon. Adik kecilnya sudah tumbuh dengan baik.
***
Pov. Hoon
Aku juga merasa senang karena nuna sudah bisa menyambut ku dengan senyuman. Wanita itu terlihat semakin mempesona dengan wajah cerahnya. Kai hyung bekerja sangat keras hingga bisa meyakinkan nuna jika Glen hanya mencuci otaknya.
Saat mendengar cerita dari Kai aku bisa merasakan betapa dia terluka karena tak bisa menghubungi nuna, Glen membuat banyak rencana dan membuat banyak kesalah pahaman. Kai berusaha bertemu nuna beberapa kali, tapi dia tak benar benar sampai menemui nuna, Glen selalu menghalanginya. Entah apa yang Glen katakan hingga Eun nuna begitu terikat padanya. Eun nuna begitu mencintai Glen sampai membuatnya jadi gila. Bahkan Eun nuna terlibat banyak perdebatan dengan papa, juga denganku. Glen memang pandai mengatur komunikasi terburuk dalam keluarga, dia memanipulasi. Aku sampai terkecoh. Jika tak melihat dengan kepala ku sendiri mungkin selamanya aku akan percaya pada Glen. Pengkhianatan nya pada nuna sungguh nyata. Kebohongannya pada Risa, bagaimana dia berdusta mengatakan jika dia tak memiliki perasaan pada Risa di hadapanku, aku jadi tahu seberapa buruknya dia. Dan sekarang, dia juga menarik Bunga dalam genggamannya. Buruk, semuanya buruk!
Hubunganku dengan Risa bahkan layu sebelum berkembang. Mengingat semua itu membuat kepala ku kembali mendidih. Sungguh tega, mereka masih menjalin hubungan di belakang punggung ku, bisa bisanya! tapi masa iya? Ada banyak keraguan dalam hatiku, apa Risa juga berkhianat dan berbohong padaku?
"Ada apa, kau melamun saja?" Aku menggeleng menjawab pertanyaan nuna. Kuturunkan tangan hingga tak bisa lagi menggigit ujung kuku. Risa selalu saja mencuri fokus pikiranku.
__ADS_1
"Haruskah aku menemuinya sekali lagi?" Tidak, tidak, aku menggeleng mencoba menghempas keinginan konyol dalam hatiku. Tidak ada pengkhianatan yang mendapat ampunan. Ya, aku harus tegas.
"Nuna, apa Kai menghubungimu?" aku mengalihkan perhatian, mencoba mencari topik pembicaraan.
"Tidak, apa kau menerima pesan darinya?" aku pun menggeleng. Tak ada pesan dari Kai hyung. Sebelumnya dia memutuskan untuk datang ke Indonesia. Kenapa tiba tiba tidak? ah, satu lagi hal yang membingungkan di sini. Aku mencoba berpikir keras. Ada yang janggal.
"Mari nuna, kita sudah sampai." ucap ku mempersilahkan nuna. Dia menatap mansion yang kutata sedemikian rupa persis seperti istana Jung di Korea.
"Kau peniru ulung!" puji nuna, aku tersenyum senang.
"Ini akan jadi istana baru kita?" Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaan nuna.
"Semoga kau kerasan disini" ujarku menuntun nuna masuk ke dalam rumah. Dia cukup terpukau, meski beberapa bagian harus ku modif, lumayan sulit menyamakan bahan karena perbedaan iklim Korea dan Indonesia.
"Kau juga akan membuka usaha disini?" Aku mengangguk lagi, bukankah nuna sudah bertanya tadi.
"Kau menarik semua asetmu, apa kau yakin?" tanya nuna tak percaya dengan keputusanku.
"Aku tak mau menyerahkan bagianku pada siapapun, jadi aku akan mengolahnya sendiri" ujar ku mencoba menjelaskan.
"Keputusanmu terbaik. Kau tahu, bagianku sudah dikuasakan pada Glen" ujar nuna dengan tatapan menyesal. Ya, aku memahami itu. Untunglah aku tak menyetujui kuasa sebelumnya meski nuna marah padaku. Dan keputusanku adalah yang terbaik.
Sekarang lupakan dulu masalah asmara, lagipula dua puluh lima tahun terlalu muda untuk pria menjalani asmara rumit yang serius. Mungkin dengan Risa adalah bagian dari pengalaman hidupku. Aku berjanji, mulai hari ini, Hoon sudah berubah menjadi CEO Jung, seorang pengusaha bertangan dingin. Aku akan bekerja keras!
***
Jangan lupa tinggalkan star vote untum cerita ini..
Review bintang 5
Hadiiiaahj, kasi hadiaah juga yaa
__ADS_1
makasih dukungannya