Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Tak bisa tanpamu


__ADS_3

"Tanyakan padanya siapa aku!" Risa tersenyum getir mengingat kalimat Hoon tadi. Semudah itu kau melakukan tingkah mesra dihadapan pria lain. Ini bahkan bukan kali pertama. Sebelumnya kau juga memelukku, kau seakan menenangkan diriku.


Dan sekarang, lihatlah genggaman tanganmu. Kau semakin mengeratkan jalinan jari kita. Kau sungguh sudah sangat pintar memanipulasi pandangan orang lain.


Udara hari ini cukup terik. Lumayan panas, membuat jiwa dan ragaku seakan terbakar. Kenapa kau ada dihadapanku lagi? Apa yang kau lakukan disini? kenapa kau muncul seperti seorang penyelamat. 


Hoon, berhentilah membuka jalan dalam hidupku. Berhentilah mencampuri urusanku. Kau tak tahu ya, hati ini begitu sesak dan berat. Pikiran ini begitu sulit. Aku kesulitan melupakan dirimu. Jadi, bisakah kau tak selalu seperti ini! ini semua mengganggu mental sehatku!


Kau bilang Risa ini murahan. Kau bilang kau kecewa padaku! jadi biarkanlah orang lain melakukan juga semua itu,  Mengucapkan semua kata itu, aku sudah biasa. Sangat terbiasa, bagiku itu seperti menikmati cemilan hidup saja. Aku sudah terlalu biasa menerima semua cacian, tatapan merendahkan itu! berhenti peduli padaku! Biarlah mereka menilaiku seperti itu, bukankah kau yang memulainya?


Sedikit semilir angin seakan menyejukkan kulitku. kulit yang basah karena keringat seketika berubah sejuk dengan sedikit hembusan angin. Layaknya seperti dirimu!


kau menorehkan banyak luka pada diriku dan kau datang bagai pengobat rindu padaku. Kau memberikan harapan padaku. Kau semakin berani masuk kedalam ranah pribadiku, kau kembali mengusik ketegaran di dalam hatiku! Aku sudah berusaha keras membangun benteng ini! kenapa kau merobohkannya begitu saja.


Sulit bagiku membenci dan menolakmu! jadi cepatlah pergi sebelum aku lumpuh dengan semua tingkah pengecutmu itu! Jangan tarik ulur hubungan kita. Ini bukan layangan!


Kau tak tahu betapa sulit bagiku saat menghadapi awal kehamilan, aku menikmati morning sick. Mual, pusing dan terbebani. Bagaimana tidak, aku tak bisa mengunjungi beberapa bidan di dekat rumahku. Tetangga tak menginginkan aku. Aku tak bisa keluar menikmati cahaya pagi, padahal aku hanya sekedar ingin menghangatkan diri. Tak ada satupun yang mau bertegur sapa ataupun hanya tersenyum padaku.


Kau pikir, kenapa aku ingin mengakhiri hidup! aku tak percaya pada diriku lagi. Aku lelah dengan hujatan, hinaan dan tatapan sinis. Aku tak sanggup menerima kekecewaan orang tuaku. Itu semua sangat menyakitkan. Aku sangat sakit saat itu!


Apa kau tahu! kau tak mungkin tahu. Kau bukan aku. Kau tak berhenti bekerja, kau tak meninggalkan pekerjaan yang telah lama kau perjuangkan. Kau tak mengalami cacian dan hinaan, siapa yang berani melakukan itu padamu!. Kau tak merasakan perut mu membuncit, penampilanmu berubah drastis, karena kau bukan wanita seperti diriku.


Lalu kau datang seperti ini. Merangkul dan menggandeng tanganku. Mempertontonkan bagaimana cerah dan suksesnya dirimu. Aku tersenyum akan kehidupanmu yang sangat baik. Kita memang berada pada dunia yang berbeda.


Risa menghentikan langkah. Membuat jalinan tangan mereka terhentak. Tak terlepas, karena Hoon cukup menahan dengan tenaga. Pria itu membalikkan badan, menautkan alis, Hoon heran.


"Ada apa?" tanya Hoon.


Risa mengangkat wajahnya. Bias terang terik matahari membuat mata Risa sedikit menyipit, menahan silau, tapi tak mengurungkan tatapan tajam ke arah Hoon.


Risa menarik tangannya perlahan. Dia melepaskan genggaman tangan mereka. Hoon mengangguk seakan paham. Dia menyerahkan kantong belanjaan Risa. Keduanya terdiam sesaat.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan pergi" ucap Hoon mengatasi salah tingkah karena tatapan tajam Risa, dia melangkah lebih dulu meninggalkan Risa.


BRUUUKK!!


Risa melempar kantong belanjaannya ke punggung Hoon yang belum dua meter melangkah. Membuat pria itu mematung. Risa menghingpun emosi, sampai semua mengantri di tenggorokan, menunggu giliran untuk terlepas bebas.


"Sudah seperti ini saja sikapmu padaku! seperti ini saja maumu! apa semua ini cukup bagimu, apa kau merasa puas sekarang!!"


Isi kantung belanja berserakan di jalan. Beberapa minuman dingin menggelinding di atas aspal. satu diantaranya menggelinding hingga di ujung kaki Risa, suara berdesis dari segel yang terbuka. Soda itu menumpahkan isinya di jalanan yang kering, keluar lancar hingga isinya habis.


Seperti halnya Risa. Perasaan yang dia pendam. Perasaan yang dia sembunyikan, semua seakan mendesak ingin keluar. Semua ingin dilontarkan. Semua ingin mencari kejelasan. Hoon, Risa sudah terlalu lelah pada dirimu.


"Bukankah sudah kukatakan hubungan kita sudah berakhir!" Risa berdecak kesal, dia mengangkat kedua lengan, bertolak pinggang. Menghela nafas cepat, mencoba mengatur emosi yang seakan siap meledak.


"Bukan, bukan aku! Kau yang mengatakan aku harus pergi dari kehidupanmu, kau mengatakan hubungan kita sudah berakhir! kau mengucapkan semua itu!!" Pukas Risa menggebu gebu.


"Katakan aku wanita murahan yang tidur dengan siapapun! katakan aku tak layak untukmu! lalu apa maumu kini!! apa maumu padaku!!"


Kenapa hari ini semua terasa sangat panas!


Risa kembali menatap punggung bidang Hoon. Pria itu juga masih mematung, telinganya berjaga, dia menyimak setiap ujaran Risa.


Risa menutup wajah dengan telapaknya. Ini sangat menyakitkan. Sungguh, menyadari kau diminta pergi dari kehidupan seseorang yang begitu kau cintai. Ini sungguh sakit, sangat sakit saat kau tak bisa melupakan sosoknya karena ada bayi yang terus mengingatkan semua tentangnya! semua sangat sakit, sakit sekali dipermainkan oleh perasaan seperti ini.


Risa menangis, meski dia berusaha menahan air matanya, tapi sudah tak bisa.


Hoon, kau membuat perasaanku seperti dicabik cabik. Kau tega melakukan semua ini padaku!


"Aku lebih bahagia jika kau membenciku selama lamanya, aku lebih bahagia jika kau membuang wajah bahkan meludahi ku saja.." suara Risa bergetar dan terdengar sangat lirih.


"Berhentilah peduli padaku seperti ini.. tinggalkanlah aku seumur hidupmu.. aku akan lebih bahagia jika kau menemukan wanita lain dalam hidupmu.. wanita yang pantas untukmu.. wanita yang mencintaimu setulus hati.. lupakan saja aku.." Hiks.. Risa mencoba menghapus air mata, dia tak mau menangis seperti ini, apalagi Hoon bisa mendengar jelas nada sumbang suaranya.

__ADS_1


Hoon mengepalkan kedua telapak tangannya. Dia berusaha menahan nafas, mencoba menahan gemuruh kencang di dalam dadanya. Hoon sedikit mengangkat dagunya yang tertunduk. Dia menyembunyikan mata merah yang berkaca kaca.


"Pergilah dari kehidupanku.. temuilah kebahagiaanmu.." suara Risa seakan habis. Sesak saat mengatakan semua ini. Kau tak tulus mengatakannya kan!


Jangan menyakiti hatimu terlalu dalam, jangan menangisi setiap kesedihan. Jangan melewati batas lagi.


Hoon berbalik badan, melangkah panjang, dia memeluk Risa! mendekap kuat tubuh wanitanya.


Seakan tak mau memberi ruang pada udara. Seakan tak mau lagi berpisah. Hoon mendekap Risa kian kuat, dan semakin erat. Jangan pernah berpisah lagi.


"Aku mohon maafkan aku.." bisik Hoon dengan suara parau.


"Aku mohon beri aku kesempatan.." Risa menggigit bibir mendengar suara berat Hoon.


Dia pun menangis? kali ini menangislah. Karena air mataku juga sudah tak bisa dibendung lagi.


"Aku hanya mencintai dirimu.." air mata menetes di pipi keduanya. 


Cahaya terik seakan tak terasa panas saat kau mendekap erat seperti ini. Perasaan sesak yang menyiksa kenapa perlahan mencair. Secepat ini!


"Risa.. Aku tak bisa hidup tanpamu.."


***


Duh, Hoon dan Risa akankah bersama lagi?


Jangan lupa


vote star, komen review bintang 5


kirim hadiah sebanyak2nya yaa..

__ADS_1


terima kasih


__ADS_2