
Eun keluar dari mobil, sudah mobilnya kecil penuh dengan belanjaan, dia cukup kerepotan membawa barang belanjaan. Tangannya mengibas memanggil pelayan rumah yang sedang membersihkan kolam.
"Tolong bantu bawakan ya!" pinta Eun sambil menyunggingkan senyum lebar. Dia bergegas menapaki tangga teras rumah dengan tangan penuh tas belanja.
"Seharusnya Hoon menambah beberapa pekerja di rumah, kenapa dia hanya memanggil saat dibutuhkan saja, aku jadi repot kalau belanja banyak seperti ini.." Eun menggerutu, bawaan belanjanya cukup berat juga sampai wajahnya harus menahan ekspresi berat.
"Haduuh!!" Euj mendaratkan belanjaan diatas karpet ruang depan, dia mengibas ngibaskan kedua telapak tangan. Lumayan nyeri juga.
Eun yang sedang rebahan di sofa dengan melipat tangan di dada segera bangkit, dia langsung duduk mendengar suara duk! dari tas belanja Eun.
"Apa itu?" tanya Hoon heran, dia mencoba sedikit menyibak barang bawaan nunanya. Oh ini belum seberapa. Tak beberapa lama kemudian, si pelayan membawa lebih banyak lagi. Membuat wajah Hoon kian heran. Dia segera bangun dan berdiri.
"Nuna, kau membeli perlengkapan bayi!" seru Hoon bingung. Eun meraih air putih dan menegak cepat. Dia menghembuskan nafas lemah, Eun kelelahan.
Hoon memperhatikan tingkah nunanya, wanita ini bukan hanya lelah dan kehausan, wajahnya juga sedikit pucat. Eun merebahkan diri di sofa, meluruskan kaki. Dia sangat lelah dan otot ototnya pegal, apa ini faktor u?.
"Nuna.." bisik Hoon lirih. Tiba tiba pria itu berjongkok di hadapan Eun, membuat Eun meletakkan gelas minumnya, dan melotot heran.
"Apa!" ketus Eun bingung.
"Apa nuna baik baik saja?" tanya Hoon lembut. Nada suara itu membuat Eun kian curiga.
"Apa nuna sudah ke dokter?" Eun nuna semakin melotot heran.
"Memangnya siapa ayah dari bayi ini nuna?" Eun menunjuk perut ramping Eun.
DUK!!
Eun menendang bahu Hoon, hingga adik ya terjerembab di karpet.
"Kenapa nuna kasar! aku kan bertanya baik baik!" pukas Hoon marah.
__ADS_1
"Kau membeli semua ini! melakukan sendiri, kenapa kau tak katakan apapun padaku! aku kan adikmu nunaaaa!!" entah kesal atau merengek, suara Hoon tak bisa dibedakan.
"Jadi ini maksud nuna keponakan itu! KENAPA TAK MEMBERI TAHUKU!!!"
FLASH!!
Hoon terdiam menerima air dingin di depan wajahnya.
"Sepertinya kau panas ya, dinginkan kepalamu sejenak!" ketus Eun beralih pada tas belanjaannya. Sekarang dia sudah punya cukup tenaga untuk meneliti barang apa saja yang sudah dia beli, dan apalagi yang akan dia beli
"Ck!" dengus Hoon kesal, dia meraih tisu dan mengelap wajahnya, Hoon mendekati posisi Eun.
"Jadi kau tak hamil?" Eun melirik sinis. "Menurutmu?" Hoon tertawa melecehkan,
"Mana mungkin, kau malah tak punya pacar!" ledek Hoon dengan wajah senang, eh kau lupa ya, bukankah kau juga sama, bahkan belum dua jam kau menangis karena cinta. Hoon menghentikan tawanya. Dia seperti orang gila, sebentar menangis sebentar tertawa.
"Kenapa kau membeli banyak perlengkapan bayi? dan untuk apa bola bola itu?" Hoon semakin heran dengan banyak benda random yang dibeli nunanya.
"Sudah kubilang untuk keponakanku!" Tegas Eun, dia sedang memisahkan beberapa barang, mungkin Eun akan mengemas dalam bentuk lebih cantik lagi, karena dia juga membeli beberapa kotak kaca untuk parcel.
"Hoon, boleh nuna bertanya?" tanya Eun serius. Hoon mengangguk ragu melihat air wajah Eun seketika berubah serius. Ada apa gerangan.
"Apa hubunganmu dengaj Risa?" tanya Eun, Hoon tak langsung menjawab.
Dia teringat bagaimana pertemuan aneh mereka di apartemen. Bahkan saat itu Hoon telanjang di depan Risa, itu sih tidak sengaja. Kalau dipikir pikir lucu juga. Kenangan itu membuat Hoon tersenyum geli.
Hoon juga mengingat bagaimana pertengkaran mereka karena hal hal kecil, sereal yang berantakan, insiden mencuci pakaian, semua itu membuat senyuman Hoon kian melebar. Tapi..
Tepat setahun berlalu, setelah salah paham yang sangat mengecewakan. Saat itu Hoon berpikir jika Risa belum begitu mencintainya hingga dengan mudah menemui Glen. Melihat Risa dan noda.merah di kulitnya, membuat Hoon sulit menerima semua itu. Dia memutuskan berpisah, di depan orang tua Risa.
Bayangan keluarga bahagia, pasangan dengan bayi mungil mereka, semua itu membuat senyuman Hoon segera menghilang. Risa sudah bahagia. Dia sudah memiliki kehidupan yang baru. Hoon memaksakan senyum getir. Dia harus menerimanya.
__ADS_1
Eun menatap adiknya dengan tatapan sinis. Sebentar dia tersenyum dan tertawa lucu, lalu kemudian dia terlihat sendu dan matanya berkaca kaca. Ya Tuhan, ada apa dengan adik semata wayang ini! Eun menggelengkan kepala heran.
"Hei!" ketus Eun memaksa Hoon sadar, dia membuang bayang bayang Risa dalam pikirannya. Eun menggeleng tak mengerti pada tingkah aneh Hoon. Kakak mana yang tak tahu perubahan tak wajar adiknya. Eun tahu betul tatapan apa dari sorot mata Hoon saat melihat Risa. Belum lagi tingkahnya, dia bisa bangun pagi dan berdandan rapi, biasanya Eun akan berdebat dulu pada adiknya untuk sekedar meminta Hoon berhenti main game online.
"Satu pertanyaan lagi?" Pinta Eun. Hoon mengangguk seakan sudah siap jika itu masih mengenai Risa.
"Apa kau pernah menjalin asmara dengan wanita?" Tanya Eun serius. Mulut Hoon terbuka mendengar pertanyaan serius nunanya. Pertanyaan yang harusnya tak sulit dia jawab, karena sepanjang perjalanan hidupnya baru satu orang saja yang pernah dia pacari. Hoon mencoba berpikir. Haruskah dia jujur?
Atau.. tidak!
"Mmm.." Hoon bingung harus menjawab apa. Eun menanti jawaban Hoon dengan wajah penasara. Sebelumnya jangankan teman wanita, bahkan pelayan wanita pun tak betah pada Hoon. Setau Eun hanya figur wanita online yang berbentuj animasi saja yang jadi koleksi di kamar adiknya. Dia itu freak! begitulah sebutan Eun dulu pada adiknya. Hoon juga tak pintar bersosialisasi pada wanita. Itu sebelumnya.
"Apa kau tak tertarik pada wanita?" Eun mempersempit pertanyaanya, tapi kalimat itu jelas mencibir. Hoon mengerucutkan bibir tak terima dengan pertanyaan Eun.
"Tentu saja aku tertarik. Aku ini normal, aku ini sehat!" jawab Hoon cepat.
"Oh, ya. Maaf nuna tak tahu. Nuna tidak tahu jika pria normal ada yang betah menjomblo seumur hidup!" balas Eun masih terus menyindir.
"Sudah kubilang aku normal! Aku juga bisa menikmati keseharian bersama seorang wanita!"
"Dia bisa membuatku ceria, kesal ataupun bahagia. Wanita itu membuat tingkah jadi konyol!"
"Kau tak akan percaya kalau adikmu ini, juga pernah jatuh cinta. Jatuh cinta begitu dalam! bahkan sampai saat ini masih sakit jika harus kehilangan dirinya!" Eun mengangguk seakan mengerti ucapan adiknya. Dia menyimak tiap kata yang keluar dari bibir Hoon. Pria itu berbicara cepat seakan sedang menumpahkan isi hatinya.
"Kami memulai hari bersama, sarapan bersama, bekerja bersama, bahkan tidur bersama!" apa!! Eun terkejut, tapi dia belum bisa berkomentar, Eun masih ingin mendengar suara cepat adiknya.
"Kau begitu mencintai perempuan dan tak bisa melupakannya mungkin seumur hidupmu. Lalu aku bisa apa!" Kini Hoon kesal dengan diri sendiri, dia mengangkat kedua tangan dan mengusap kasar wajahnya.
"Aku masih sangat mencintainya nunaa.." bisik Hoon pelan. Eun meraih kepala adiknya. membenamkan di bahu. Eun seakan mengerti kegamangan di dalam dada Hoon. Apa sebenarnya yang terjadi? sebetulnya Eun bahkan tak bisa menebak jalan asmara gagal adiknya ini, terlalu sulit dipahami. Hoon seolah memendamnya sendiri.
"Aku sangat mencintai Risa..."
__ADS_1
****
Jangan lupa vote komen and sharee..