
Masih di ruang tengah, menonton acara televisi bersama.
Risa memalingkan wajah, menghindari tatapan Hoon. Dia berusaha mengabaikan detak jantungnya yang meronta. Apa itu! batin Risa risau.
"Kau suka acara humor?" tanya Risa, membuat Hoon tersadar. Dia segera ikut menatap layar televisi. "Aku suka drama" ujar Hoon. Jawaban itu membuat Risa memasang wajah mengejek.
"Kau suka drama? ckckckk" air wajah Risa semakin mengejek. Membuat Hoon protes.
"Memangnya kenapa!" ketus Hoon. Risa sedikit menjauhkan pundaknya mendengar suara tinggi Hoon, ah, dia tak suka seleranya di ejek ya.
"Kau kan pria, kenapa suka menonton drama, suka memakai kosmetik, bukan kah itu terlalu feminin?" sarkas Risa dengan tatapan sinis.
"Aku memang suka menonton drama, di negaraku drama sangat populer, apalagi genre thriller dan game! aku suka kosmetik karena bibir ku cepat kering, kulit ku sensitif" jelas Hoon dengan nada kesal.
"Memangnya hobi ada gendernya!" Risa semakin sinis mendengar balasan ketus Hoon.
"ya, ya, terserah kau saja!" Risa mengalah, tak mau melanjutkan perdebatan mereka. Harusnya aku tak bertanya tadi, sesal Risa dalam hati.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Risa memasang wajah aneh. Bukankah pertanyaan membuat mereka berdebat barusan. Kenapa Hoon memulai pertanyaan lagi? bimbang hati Risa. Tapi dia juga penasaran pertanyaan apa yang akan Hoon ajukan dengan wajah serius itu.
"Kenapa kau menyukai kekasih mu?" Risa terdiam. Hoon menatap serius. Risa melongo tak punya jawaban dalam pikirannya. Hoon menanti kalimat Risa. Suara televisi terus terdengar.
"Kenapa kau memutuskan berpacaran dengannya?" Pertanyaan kedua Hoon membuat Risa mengerjapkan mata. Haruskah dia bertanya hal pribadi? kenapa wajah itu terlihat sangat penasaran? Risa menarik nafas dalam. Kedua tangannya menyanggah badan, tangan bertumpu pada permukaan sofa. Hoon masih terus menatap wajah Risa dengan penuh rasa ingin tahu.
"Dia pria yang baik" jawab Risa singkat, walau jawabannya hanya seutas kalimat simple, tapi di pikiran Risa tak sesederhana itu. Dia ingat bagaimana bos Glen memuji masakannya. Meminta Risa menemani makan malam. Dan satu lagi, malam di hotel tak pernah bisa Risa lupakan. Berawal dari makan malam mewah, berakhir menginap di hotel. Mereka mencoba menerobos batas malam itu walau gagal.
"Menurut mu, mengapa wanita begitu mencintai pria nya?" Risa balik bertanya, Hoon menggeleng. Hoon tak memiliki pengalaman perihal itu.
__ADS_1
"Karena.." Risa membalas tatapan mata Hoon. Pandangan mereka bertemu.
"Karena pria memberikan wanita kebahagiaan, dan wanita memberikan kenyaman.." lanjut Risa seraya menggaris senyuman tipis. Hoon mengangguk setuju, Kenyamanan, ya.. dia merasa nyaman dengan Risa, mungkin benar karena kenyamanan itu Hoon jatuh cinta pada gadis di sebelahnya ini.
"Kau tau Hoon. Saat pria meluluhkan ego wanita, apapun yang mereka inginkan, wanita akan mengikuti, mereka akan memberikan.. semuanya" dengan suara rendah Risa seperti berceloteh pada dirinya sendiri. Hoon masih serius menyimak. Risa menundukkan pandangannya. Ya, seperti Risa yang menyerahkan dirinya pada Glen di apartemen ini. Risa ingat betul hari itu. Risa menarik nafas, tak bisa melupakan bayang bayang indah yang membuat adrenalinnya berpacu.
"Dan aku baru tahu, jika rindu itu berat, jika pacaran itu rumit, semua perasaan ini baru aku rasakan" senyum getir Risa membuat hati Hoon berdebar tak menentu. Rasa kagum, rasa cemas, rasa ingin memiliki. Hoon mengangkat telapaknya hendak menggenggam punggung tangan Risa. Gadis itu terlihat sedih sekarang, Hoon ingin menghibur. Sekali lagi Hoon melirik punggung tangan Risa. Dia menarik tangannya, mengurungkan niat. Hoon menggaris senyum tipis lalu menatap layar televisi.
"Aku berharap dia cepat kembali menemuiku, agar aku bisa bertanya, apa kau akan meninggalkanku lagi? apa kau masih menyukai ku? apa lamaranmu masih berlaku?" Risa menatap kosong, pertanyaan Hoon terlalu serius untuk Risa, dia terbawa perasaan.
"Kau tahu, dia sudah melamarku.." ujar risa kemudian, tatapan kosongnya berubah berbinar. Dia beranjak dari sofa menuju kamar. Tak berapa lama Risa kembali dan memamerkan jarinya. Sesuatu mengkilap melingkar di jari manisnya, sebuah cincin! Hoon melongo.
"Kalian akan menikah?" Risa mengangguk cepat, bibirnya tersenyum lebar. Hoon membalas senyuman Risa. Ternyata mereka sudah seserius itu! batin Hoon kecewa.
Risa menatap cincin pemberian bos Glen, dia sudah lama menyimpan benda berkilau ini. Dia harus mengenakan lagi sekarang. Risa terus menatap benda berkilau di jarinya. Wajahnya kembali cerah.
"Apa desain itu sedang populer?" tiba tiba pikiran Hoon mengingat sesuatu. Dia menatap sekali lagi cincin yang dikenakan Risa.
"Sepertinya aku pernah melihat benda itu" batin Hoon, dia berusaha mengingat, dimana dia pernah melihat benda kecil itu.
***
Di kantor
Bel tanda istirahat makan siang berbunyi. Risa meringkas meja nya, dia melirik Hoon.
"Kau mau bergabung?" Hoon memasang wajah bingung mendengar tawaran Risa. "Aku akan makan di kantin bersama rekan MD, kau sudah akrab dengan mereka, apa mau bergabung?" tawar Risa sekali lagi. Hoon mengangkat bahu, antara menerima atau menolak, yang jelas dia ikut saja kemana Risa akan mengajak.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita ke kantin!" teriak Risa, Hoon memasang senyum.
Baru saja Risa meraih handle pintu, Bunga sudah lebih dulu mendorong dan mengintip. Dia memasang senyuman. Risa membalas wajah sumringah Bunga. Hoon memasang wajah sinis, tidak suka dengan kehadiran Bunga.
"Dia lagi?" usik batin Hoon curiga.
"Kudengar menunya beef teriyaki" ucap Bunga membuka obrolan, Risa membalas dengan wajah ceria.
"Oiya, sudah lama menu itu hilang" balas Risa. Hoon menautkan alis, sejak kapan dia menghampiri Risa saat makan siang, dan gandengan mesra itu? Hoon menggaruk kepala tak mengerti. Dasar wanita, mereka sulit dimengerti!
Baru beberapa ketiganya meninggalkan ruangan Hoon, direktur Mei muncul dari lorong tangga. Mereka saling menyapa ramah. Direktur Mei melirik ke arah Hoon, dia melebarkan senyuman.
"Kau ada waktu?" tanya direktur pada Hoon. Risa dan Bunga menoleh ke arah Hoon di belakang mereka, Hoon terlihat bingung sebelum akhirnya mengangguk.
"Aku ingin mengajakmu makan siang" Hoon melirik Risa sebentar sebelum akhirnya menyusul keberadaan direktur Mei, keduanya meninggalkan Risa dan Bunga.
"Apa kau suka daging asap madu?" tanya direktur Mei
"Ya, aku menyukainya, apalagi saat keluarga ku mengadakan barbeque di halaman rumah" direktur Mei tersenyum tipis melihat wajah gembira Hoon.
"Aku tahu itu, kau pasti menyukainya!" Hoon mengangguk, direktur Mei tertawa, keduanya berjalan akrab meninggalkan lorong jalan, menuju lift ke lantai atas dimana parkiran mobil berada.
"Apa mereka sedekat itu?" tanya Bunga heran. Risa pun demikian. Keduanya melongo tak percaya menatap punggung yang kian menjauh, hilang.
Bersambung..
Siapa yang belum kasih review bintang 5 nya cung! kasih dong say.. jangan lupa tinggalkan komentar positif supaya lebih semangat lg. kalau semangat ide ide tuh suka muncul tiba2 mungkin ngarus ke hormon bahagia.
__ADS_1
Buat aku bahagia dong dengan dukungan kalian semua!!