Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Bertepuk sebelah tangan


__ADS_3

Risa menikmati pemandangan di belakang rumahnya, rumah yang baru dihuni dengan tiga kamar tidur utama, pada halaman belakang dibuat teras terbuka dengan kolam ikan.


Risa duduk menikmati gemericik suara air dengan memainkan ponsel di telapak tangannya. Risa menarik kursi. Dia melipat kaki di pangkuan dengan santai. tapi hatinya tak sesantai itu, dia masih memikirkan bagaimana kekasih nya disana.


POV. Risa


Setidaknya kabari aku walau cuma sekali. Kau sudah memberikan benih dalam hatiku dan terus tumbuh dengan baik. Bagaimana aku tidak cemas, bagaimana aku tidak rindu, kau meninggalkan jejak manis dalam hidupku.


Aku menatap sekeliling. Rumah ini begitu tenang dan nyaman. Kau bahkan belum pernah merasakan udara segar disini. Jika kau pergi meninggalkanku mungkin aku tak rugi, dalam hitungan matematika. Kau memberikan rumah pada orangtua ku, kau memberi ku ponsel ini.


Aku menyalakan layar ponsel. Ah rasanya gemas sekali. 


"Kenapa kau tak menghubungi ku!!" aku terus saja mengeluh berkali kali. sampai tak perlu memikirkan lagi, kalimat itu terus meluncur berulang ulang di bibirku.


Kau juga memberikan cincin berkilau ini padaku. Aku menatap permata kecil yang menghias jari manisku.


Kau begitu tampan dan mengagumkan.


"Aku merindukanmu.."


Pada akhirnya aku hanya bisa berkata seperti itu. Aku sangat merindukanmu bos Glen. Aku rindu membuatkan makanan yang mengundang senyuman mu. Kau begitu menyukai masakan sederhana ku. Padahal kau membayar makanan mewah untukku, tapi kau memilih masakanku. Kau sungguh aneh.


Suara ikan berenang membuat konsen ku sedikit terganggu, aku melangkah ke pinggir kolam, sedikit bermain air. Sejuk.


Melihat ikan berkumpul dengan mulut yang terbuka lebar, membuat ku sedikit terhibur. Aku tersenyum dan memercikkan air ke arah mereka.


Aku harap kau akan segera kembali kesini, aku harap kita bisa bersama lagi. Aku ingin kau menemui kedua orangtuaku. Ah, mengingat janjimu aku jadi tersadar. Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka, kulihat Hoon dan mama sedang tertawa.


"Apa mereka seakrab itu?" aku menggelengkan kepala tak percaya, ya.. mama memang sudah lama ingin anak laki laki, mungkin karena itu dia cepat akrab dengan Hoon.


Aku menghela nafas malas. Seandainya kau yang ada disini, seandainya kau yang ku kenalkan pada orang tua ku. Bos Glen.. aku menunggumu.


Tapi Hoon hebat juga. Aku tak menyangka dia memiliki kemampuan menghangatkan suasana. Si ceroboh itu nyatanya bisa bercengkrama baik dengan kedua orangtua ku. Haruskah aku bergabung? aku berusaha bangkit, mungkin akan lebih seru daripada memikirkan kekasih yang tak pernah mengabari.


"Kau sedang apa?" suara Hoon mengejutkan ku. Baru saja aku akan bangun tapi dia sudah di belakangku.


"Kau melamun?" aku ingin menggeleng menjawab pertanyaan Hoon, tapi memang aku sedang melamun sih. Aku hanya tersenyum getir.


"Apa dia belum juga menghubungi mu?" Hoon melirik ponsel di tangan ku. Aku mengangkat bahu enggan. Hoon tau jawaban apa dari pertanyaannya. Aku meletakkan ponsel sedikit jauh dari tepian kolam, hingga Hoon bisa mengambil duduk di sebelahku. Dia memasukkan kakinya ke dalam air kolam.


"Apa kau tidak dingin?" aku sedikit mencemaskan kesehatan Hoon, dia bukannya terlalu sensitif dengan suhu udara. Karena rumah ini di kaki gunung, pasti lah air kolam terasa lebih dingin.


"Ini sejuk" balas Hoon dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


"Oh ya?" aku ikut menurunkan kaki dengan perlahan. Hoon benar, sejuk air menyentuh kulit terasa dingin dan menyegarkan.


"Kau benar!" seru ku setuju


"Iyakan!" senyum Hoon bangga, kami bertumpu pada kedua tangan di sisi. Menikmati gemericik kolam dan pemandangan ikan warna warni yang berebut udara.


"Rumahmu indah" bisik Hoon, aku setuju.


"Kau benar, dia tak pernah salah memilih.." balas ku dengan suara pelan. Hoon melirikku heran, pasti dia tak tahu siapa yang kumaksud dalam kalimatku barusan.


"Pacarku membeli rumah ini sebelum dia pergi" aku mencoba menjelaskan, Hoon mengangguk mengerti, dia tersenyum dan menyembunyikan wajah.


"Dia pasti pria yang baik" gumam Hoon tanpa mengangkat kepala. Aku setuju, bos Glen bukan hanya baik, dia adalah yang terbaik.


"Kau pasti sangat menyukainya.." Hoon mengangkat wajahnya hingga pandangan kami bertemu, aku menarik bibir, tersenyum lebar.


"Aku sangat menyukainya.."


Suara gemericik air kolam terus mengiring kebersamaan Risa dan Hoon, keduanya terdiam seolah fokus pada suasana pekarangan rumah yang begitu tenang. Risa menghirup udara segar seakan mengisi kekosongan di dalam hatinya. Hoon menatap wajah Risa lekat, dia memaksa kan senyuman, dalam hatinya ada rasa yang tak mampu di lukis kan, Hoon sekarang mengerti jika cinta itu begitu sulit, dia harus menjaga perasaan agar Risa bisa tetap tersenyum meski dia menangis, cinta memang serumit dan sesakit itu, cinta bertepuk sebelah tangan, seakan mengiris sembilu di nadi sendiri, meski sakit, meski perih, meski menghancurkan, tetap tersenyum tetap mendukung dan mendoakan.


"Semoga hubungan kalian lancar.." ujar Hoon di ujung senyuman.


Mama dan Papa ikut bergabung dengan senampah cemilan.


"Appa suka sekali ini, cobalah!" Bambang mengambil selembar peyek kacang, dia menyuapkan pada Hoon, suara garing dan renyah membuat Hoon kian takjub.


"Enak!!" puji Hoon mengangkat kedua jempolnya, pujian itu membuat Emi tertawa senang.


"Coba juga ini nak, ini ada yang manis ada yang asin, ayoo makan" pinta Emi membuka toples selanjutnya, kembang goyang, rengginang, semua makanan khas daerah sini. Hoon merasa takjub, tentu saja dia mencicipi semuanya, wajahnya begitu ceria.


"Omma ini enak sekali!" puji Hoon berkali kali, membuat Bambang dan Emi di atas awan.


"Cih, dia berlebihan" gerutu Risa menahan senyuman, dia bisa melihat bagaimana orang tuanya begitu menyukai Hoon, dan pria itu, bisa bisanya dia menjadi anak baik selama disini, padahal dia sangat menyebalkan sebelumnya.


"Maa, aku juga mau!" rengek Risa manja, dia mencibir Hoon. Enak saja mereka lupa pada putri sendiri, gerutu batin Risa sedikit kesal.


"Haruskah aku membayar semua ini?" tanya Hoon memeluk kedua toples, dia enggan berbagi dengan Risa. Emi menepuk pelan punggung Hoon.


"Omma sudah buat banyak, kau boleh bawa semaumu" Hoon tertawa girang, Risa ikut tertawa melihat respons Hoon yang berlebihan.


"Kalian baik sekali, aku sangat berterima kasih" ucap Hoon lalu berdiri dan membungkuk, dia memberi ucapan hormat seperti di negaranya.


Mama papa dan Risa dibuatnya heran.

__ADS_1


"Kenapa kau berdiri seperti itu!" ketus Risa bingung.


"Ini adalah cara menunjukkan rasa hormat dan terima kasih tertinggi di negaraku" jelas Hoon. Mendengar penjelasan Hoon, Bambang dan Emi kompak untuk bangun bersama, dia mengajak Risa juga ikut berdiri.


"Ngapain sih!" bantah Risa tapi dia ikut juga berdiri.


Mama dan papa memberi aba aba untuk membungkuk, Risa melotot tak mengerti tapi dia ikut juga. Ketiganya membungkuk seperti yang Hoon lakukan.


"Kami juga sangat berterima kasih.." ujar Bambang dan Emi kompak. Hoon segera meminta orangtua Risa untuk tidak ikut melakukan apa yang dia lakukan.


"Kami juga sangat berterima kasih karena kau ada di sini, kau mau dengan puteri kami yang biasa saja ini!" ujar pak Bambang sembari menunjuk Risa yang mengerutkan dahi. Hoon menahan senyuman lucu. Risa mencibir menyadari wajah mengejek Hoon.


"Kami tidak bisa membalas kebaikan mu" lanjut Bambang, dia mengira Hoon yang membelikan rumah ini. Setau Bambang dan Emi, Hoon adalah kekasih Risa yang diceritakan tempo hari. Pria tampan dengan jabatan bagus, yang memberikan hadiah mewah dan rumah. Emi dan Bambang sangat kagum pada kebaikan hati Hoon.


"Saya dan Emi juga Risa sangat berterima kasih. Kami tidak bisa membalas dan memberikan apapun untuk mu nak" lanjut Bambang serius. Risa dan Hoon saling bertukar pandang, keduanya menahan senyuman getir, mereka sudah berbohong. Kalimat tulus Bambang membuat keduanya salah tingkah.


"Ah mungkin ada!" seru Emi mengejutkan. Bambang dan Emi saling memandang, mereka tersenyum kompak


"Kami memberikan Risa untuk mu!!" ujar Emi dan Bambang sambil mendorong puteri mereka merapat di sebelah Hoon.


"Kau bisa mendapatkan dia! kami memberikan puteri kami padamu!" Risa membelalakkan mata tak percaya. Apa yang orang tuanya lakukan? Risa mendelik kesal.


"Kalian apa apaan sih!" gerutu Risa. Emi dan Bambang tertawa.


"Haha.. ayo segera diresmikan!" ujar Bambang dan Emi penuh harap. Hoon tersenyum melihat Risa begitu dekat dengannya, bahkan bahu mereka tak ada jarak sama sekali.


"Ayolah jangan malu malu.. kalian kan pasangan" desak Emi yang gemas melihat Hoon dan Risa saling salah tingkah. Keduanya terlihat kikuk.


"Kenapa kalian malu, jangan malu malu. Lebih baik apa adanya di depan orang tua, dari pada macam macam di belakang orang tua" sindir Emi seraya memberikan senyuman jahil. Hoon melirik Risa, dia berusaha mengangkat tangannya, walau ragu akhirnya dengan canggung Hoon mendaratkan tangan ke pundak Risa, dia merangkul Risa dengan gugup.


"Te, terima kasih pemberiannya" ujar Hoon gugup, dia memaksakan senyum dengan wajah tersipu. Seandainya dia menang mendapatkan Risa, batin Hoon berharap.


Risa melirik tangan Hoon di pundaknya, dia bisa jelas melihat wajah merona Hoon. Orangtuanya bikin malu saja! batin Risa mendumel.


Sekali lagi Risa melirik wajah Hoon yang merah muda, dia tersenyum. Perlahan Risa mengangkat tangannya, dengan canggung dia melingkarkan lengan di pinggang Hoon.


Deg! jantung Hoon seolah berhenti sesaat menyadari telapak Risa mendarat di atas kemejanya. Wajah meronanya seketika kian merah padam. Hoon berusaha menahan diri saat sadar Risa merangkul pinggangnya. Perasaannya seakan ingin meledak. Hoon berusaha tetap cool dan tenang.


"Terima kasih mama dan papa menerima Hoon dengan baik.." ujar Risa dengan wajah malu. Apa yang kukatakan sih! batin Risa protes, dia bisa melihat wajah teripu Hoon, Ternyata Hoon tak seburuk pendapatnya selama ini.


Dia manis dan menyenangkan, batin Risa seraya tertunduk malu. Emi dan Bambang ikut bergabung saling merangkul.


"Haruskah kita ambil gambar?" usul Hoon. Semua mengangguk kompak

__ADS_1


__ADS_2