Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Bukan siapa siapa


__ADS_3

"Apa kau baik baik saja?" tanya Hoon melihat wajah tegang Risa. Wanita itu jelas cemas. Risa melepaskan diri dari pelukan Hoon. Dia berusaha menenangkan diri.


"Iya" jawab Risa singkat. Dia tidak habis pikir kenapa dua orang pria tadi seperti mencurigainya. Apa yang telah dia perbuat?


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Hoon menyidik. Risa menautkan alis tak mengerti. Dia menggeleng.


"Aku mendengar mereka bicara di lift. Mereka menyebut namamu. Apa kau bekerja di grand butik milik nuna di lantai bawah?" Risa menghela nafas sekali lagi. Kenapa dia bisa tahu detail bahkan sampai dimana dia bekerja. Bahkan Hoon bisa menebak jika dia bekerja untuk nunanya. Risa mengangguk lemah. Menyadari pekerjaan yang dia banggakan adalah milik keluarga Jung, rasanya.. sedikit mengecewakan. Apa itu artinya uang Jung juga ambil bagian dalam membesarkan bayinya?. Kok mendadak Risa kesal sendiri membayangkan itu semua.


"Mereka sedang mencarimu!" 


"Apa!"


Hoon mengangguk menjawab wajah tak percaya Risa. Mereka memang sedang mencari keberadaan Risa.


"Memangnya apa yang kulakukan? aku tak melakukan hal yang salah kan!" Jangankan Hoon, Risa sendiri tak mengerti, apalagi Hoon. Pria itu hanya bisa membuat wajah melongo, dia menggeleng tak paham.


"Aissh!" decak Risa kesal. Dia menaikkan kedua lengan di pinggang, bertolak pinggang kesal. Antara kesal dan panik. Kesal karena dia tak melakukan hal aneh, sepertinya. Dan panik karena perawakan kedua pria itu menyeramkan, tak terbayang apa yang akan mereka lakukan jika Risa tertangkap oleh mereka.


Risa menyilangkan kedua lengan di depan dada. Hoon mengerutkan dahi, heran.


"Kenapa?" selidik Hoon. Risa memasang wajah cemas.


"Apa yang akan mereka lakukan padaku?" Risa sedikit merengek. Hoon mengangkat bahu tak tahu.


"Aku takut mereka akan melakukan hal yang tidak tidak padaku!" Risa memasang wajah siaga. Dia takut dua pria seram tadi kembali dan melihat dia disini.


Suara sol sepatu menyentuh lantai seketika membuat Risa panik. Tanpa menunggu waktu lagi, wanita itu langsung masuk ke dalam dekapan Hoon. Dia menyembunyikan wajahnya. Risa cemas sendiri. Hoon tersenyum melihat tingkah Risa. Dengan ragu dia balas memeluk Risa.


Terus lah begini! batin Hoon senang.


Seorang roomboy lewat dengan peralatan di depannya. Dia melayangkan senyum ke arah Hoon yang mendekap erat Risa. Pria itu sedikit merona mendapat sapaan senyum yang 'sesuatu' dari wajah roomboy. Itu tatapan ramah yang meledek. Lagi lagi!


Aish, bisakah kita mencari tempat lain, batin Hoon berharap lebih. Dia sudah berapa kali menerima tatapan seperti itu hari ini.


Wangi parfum murah Risa membuat pernafasan Hoon sedikit tersedak, tapi tak apalah jika itu Risa. Mungkin keadaan sulit dialami oleh wanita ini selama tak bersama dia. Hoon juga mencium bau lain dari tubuh Risa, dia mencoba meresapi dan menebak.


Risa mengintip dari balik bahu Hoon. Seragam hotel membuat Risa bernafas lega. Dia melepaskan diri dari dada Hoon.

__ADS_1


Baru saja Hoon menikmati kenyamanan pelukan mereka.


"Ternyata hanya pegawai hotel" ujar Risa mulai tenang. Terlalu bahaya jika terus berada disini. Risa bingung sendiri. Kenapa dia seperti buronan, padahal dia tidak melakukan kejahatan.


Tunggu! sepertinya Risa mengingat sesuatu.


"Ada apa?" tanya Hoon melihat perubahan air wajah Risa yang mendadak. Wanita itu terlihat berpikir keras.


"Ada apa!" ketus Hoon. Dia jadi ikut cemas.


Risa mengingat pria di rumahnya. Sudah tak lain pasti pencariannya berhubungan dengan Kai. Apa yang harus dia lakukan, Risa tak ingin terlibat terlalu jauh, lagipula pria yang dia tolong sepertinya bukan orang baik baik. Mereka berpakaian seperti preman, atau agen agen penyalur narkoba. Risa takut terlibat masalah lebih besar lagi jika masih terus membantu Kai.


"Mmm.." Risa menautkan alis "sepertinya aku mengerti.." Gumaman Risa membuat Hoon kian penasaran dan ingin tahu.


"Pasti semua ini karena dia!" pukas Risa membuat wajah sebal. Hoon semakin tak mengerti.


Risa mengingat bagaimana Kai memanggilnya dengan, Hei! Dia mendengus kesal. Sudah di tolong tapi tidak sopan. Belum lagi sudah memerintah, dia meminta dibelikan pakaian dengan bahasa formal. Risa tak suka kalimat kaku Kai. Itu mengingatkan pada Glen di awal pertemuan mereka.


"Sudah ku bilang jangan ikut campur! kenapa aku menggali kuburan sendiri sih!" dengus Risa kesal pada dirinya sendiri. Dia mondar mandir panik. Hoon makin heran. Ada apa dengan Risa? apa perpisahan membuat wanita ini stress? duh jangan sampai deh.


Membayangkan rekan Kai menangkap dan menawannya, menjual dan meminta Risa menjadi pekerja ****, semua bayangan itu membuat Risa merinding. Dia tak bisa membayangkan.


Ah, apa baby Ri, mama dan papa aman di rumah? pikiran Risa melanglang buana. Dia takut jika saat ini rumahnya sudah di kepung agen penjahat, jangan jangan Kai hanyalah pancingan!. Risa menggeleng cepat, dia mencoba membuang semua halusinasi buruk di kepalanya.


"Hei.." Hoon menghentikan tangan Risa, dia meminta tangan itu turun dan tenang. Hoon sedikit merapikan rambut Risa. Dia menggulir helaian yang acak acakan di pangkal rambut Risa, Hoon mengukir senyum. Risa masih menurut saja. Dia menatap wajah Hoon yang kini tampak lebih dewasa dan tenang di atas kepalanya.


Aroma maskulin dari tubuh Hoon cukup menenangkan pikiran Risa. Wangi yang tak berubah. Pria ini tak banyak berubah selain sikapnya dan pasti usianya. Hoon tersenyum hangat membuat Risa sulit mengalihkan tatapan


Deg deg deg..


Dada ini masih saja sama, berdebar saat melihat raut wajah yang hangat dan selalu ceria. Risa merindukan tingkah konyol Hoon yang bisa membuatnya lupa dengan keadaan.


Hoon, haruskah kuberi tahu, harus kah aku jujur?


Hoon, haruskah kita berpisah, atau kembali bersama?


Hoon, sebetulnya sulit bwrpisah denganmu tapi aku sudah bisa menjalaninya.

__ADS_1


Sesungguhnya sulit untuk kembali bersama padamu karena aku takut kau tak percaya padaku semudah dulu.


Hoon, aku masih marah dan kecewa padamu


Tapi..


Aku tak pernah sekalipun membencimu..


Risa melebarkan senyum, matanya yang berbinar sedikit membayang. Melihat wajah pria yang dia cintai tak semudah itu. Perasaan seakan bergejolak tanpa komando, mendesak seenaknya saja.


Hanya saja,


"Ah, aku lupa.." bisik Risa, dia masih jelas menatap wajah Hoon.


"Kenapa, kau melupakan apa.." Hoon memberi tatapan kian rapat. Risa tersenyum, sekilas.


"Aku lupa, kaukan bukan siapa siapa!" ujarnya ketus sambil mendorong dada Hoon. Membuat jarak mereka sedikit berjauhan, Risa melangkah cepat meninggalkan Hoon yang melongo di belakang sana.


"Kenapa pula aku mengadu padanya, dia kan bukan kekasihku, dia itu bukan siapa siapa!" dengus Risa menggerutu sendiri sambil mempercepat langkah. Sesekali dia menutup wajahnya dengan telapak tangan, berharap pria pria seram itu tak bisa menemukannya.


Ingat Risa, dia bukanlah siapa siapa! dia bukan kekasihku, dia bukan ayah anakku! aku sudah bisa melewati semua sendiri! dan akan terus begitu! Risa mengingatkan diri sendiri meski berat.


"Aku kan hanya mau membantu.." gumam Hoon tak habis pikir dengan penolakan Risa.


****


Hay reader yg baik hati rajin menabilung dan tidak sombong..


tetap dukung ya


review dan 5 staaaarr nyaaa


Komen sebanyak2 nya


Vote staar sebanyak2nyaa biar peringkatnya ada kenaikan


kirimkan hadiah hadiah juga supaya penulis semakin semangat hohoho..

__ADS_1


__ADS_2