
****
Pernah dengan istilah kasih orang tua sepanjang jalan
POV Risa
aku tak mengerti Jika waktu bisa melakukan semua ini, baru saja Kau mengirimnya ke depanku, melihatnya marah, kesal dan benci. Lalu kau memperlihatkan kepadaku bagaimana dia tersenyum, bahagia dan gembira. Dan dia memelukku lalu dia menyentuh kulitku, kemudian dia membuat perasaanku lega. Waktu, kau selalu berpikir pintar bermain dengan perasaan anak manusia.
Lalu kau memutuskan semuanya
"Risa ada telepon dari rumah sakit!" Ujar asisten Mong mengejutkan. Aku segera menerima sambungan telepon. Baru saja aku sampai di kantor bersama Hoon. Kami bahkan belum menikmati empuknya jok kursi.
Tak bisa berkata kata lagi, tak bisa menapak dengan sempurna
"Ada apa!" Hoon jelas bingung dengan wajah pucat ku, aku seketika mematung dengan sendi yang melemas tanpa tenaga.
"Minumlah!" Hoon menyodorkan segelas air mineral ke bibirku. Membuat tenggorokan kering ini seakan tersiram, tapi tak sedikitpun terasa sejuk.
Hoon meraih gagang telepon dengan cepat.
"Hallo, Jung corporation digital disini!" Serunya cepat, tak ubahnya seperti diriku. Hoon pun seketika mematung dan menjatuhkan gagang telepon.
Secepat ini!
"Asisten Mong bawa mobil!" Hoon melempar kunci dan asisten Mong segera menangkap. Hoon menarik tanganku, dia membantu aku untuk berdiri, memapah tubuhku. Sesekali genggamannya terasa di kulitku, dia menggenggam erat pangkal lengan seakan menguatkan diriku. Ya, aku sendiri tak tahu, antara sadar atau tidak. Aku hanya tak bisa menerima semua yang orang tadi katakan. Berharap semua itu hanyalah mimpi dan omong kosong.
Aku mohon. Jangan goreskan luka terlalu dalam pada hatiku, karena aku belum sanggup menahan perihnya. Bagaimana mungkin kau mengambil papaku, lalu pada siapa aku akan bersandar.
Parkiran rumah sakit membuat aku harus tersadar. Suara tangisan mama, dan bayi dalam gendongannya. Sadarlah Risa! Kau sudah bukan putri kecil lagi, kau sudah memiliki bayi yang kau keluarkan dalam perutmu. RI menatap dengan bola mata kristalnya, uluran tangannya seakan ingin segera mendekapmu. RI, semua ini hanya candaan kan! Mama tak mampu berdiri tegak, tenaga mama seakan hilang untuk mendekapmu.
Aku mengambil duduk di sebelah mama. Mengambil RI ke dalam dekapanku. Menangis? Tidak, aku tidak menangis. Rasanya hanya kosong. Di dalam hati dan pikiranku seakan kosong. Tak ada suatu apapun yang melintas disana.
Mama meraih telapak tanganku, menggenggam erat sementara Hoon mendekap pangkal lenganku dengan telapaknya yang dingin. Rasa apa ini? Begitu sesak dan menyakitkan. Begitu kelam dan gelap.
"Risa, Risa!" Suara Hoon mengejutkan ditelinga ku, ternyata hampir saja aku menutup mata dan hilang kesadaran. Baby RI di dalam pangkuanku hampir saja oleng. Untung Hoon sigap menyambarnya. Hoon menggendong bayi kami, dia pindah dari sisiku menuju ke sisi mama, pria itu membisikkan sesuatu, membuat mama mengangguk seakan mengerti. Hoon menyeka air mata mama. Ya, mama menangis, meski tanpa suara.
Aku bisa melihat jelas, aku menyadari semua itu. Aku sadar sekali. Suasana serba putih ini. Bau medis yang khas. Hening dan sunyi rumah sakit. Semua ini kian nyata, semua ini kian meyakinkan. Semua ini adalah kenyataan.
"HUUUAAAAAAAAHUUUHUHU!!" Aku berteriak, sudah tak mengerti lagi. Rasanya semua perasaan dalam dada seakan meledak. Aku menangis sejadi jadinya, berteriak sekuat tenaga. Aku tak percaya semua ini. Aku tak percaya semua ini! Aku tak percaya!
"Risa, Risa!" Mama memanggil dan menggoblncang tubuhku. Beliau seakan memaksaku untuk terus sadar dan menerima kenyataan.
__ADS_1
"Risa, sadarlah! Jangan berteriak seperti ini. Papa pasti sedih.." bisik mama lirih. Aku terus terisak. Mamapun begitu. Bagaimana mungkin aku bisa tenang ma, bukankah mama juga sulit untuk tenang. Mama memelukku sekali lagi. Tetesan hangat membasahi punggungku.
"Maa.. maaa.." serak, suara yang keluar begitu menyakitkan tenggorokanku.
Mama mengeratkan pelukan. Mengelus punggungku.
"Mama disini, mama ada disini.." bisikan mama jelas ingin menenangkan ku, tapi tidak bisa ma, aku tidak bisa tenang.
"Papa.. paa.." mama hanya terus mengangguk, mama tak bisa menjawab panggilan lirihku.
Lihatlah apa yang terjadi disini. Mama terus menangis meski tanpa suara. Aku terus terisak hingga mataku merah dan nyeri. Bayiku hanya bisa menatap bingung dan heran, wajah polosnya belum bisa mengerti apa yang akan terjadi. Hoon sesekali bergantian memelukku dan mama, dia berusaha membuat kami sedikit lebih tenang, tapi tak bisa.
Ranjang papa didorong keluar dari ruang tindakan pemeriksaan. Tubuh beliau sudah tertutup kain putih. Dengan gemetar aku membuka tutup kain. Dan wajah pucat itu. Itu adalah papa! Aku memeluk dan berusaha menahan air mata, tapi tak bisa. Aku terus menangis diatas tubuh papa. Dingin, sentuhan kulit papa yang hangat sudah begitu dingin. Aku tidak mungkin kehilangan kehangatan dalam hidupku.
"Papa.. Paaa.." suster mendorong ranjang papa lebih mendekati mama yang menutup mulutnya dengan kedua tangan. Mama menangis dan memberikan kecupan terakhir di dahi papa. Aku tak sanggup lagi melihat, aku tak tahu apa yang Hoon katakan pada papa, aku tak bisa melihat bagaimana tatapan polos bayi RI yang meminta digendong ketika membuka wajah papa. Aku sudah tak sanggup lagi. Begitu sakit dan kosong. Rasa sakit yang begitu lain. Rasa sakit yang tak mungkin ada obatnya. Rasanya sesuatu berlubang di dalam hatiku.
Hoon merangkul dan mencium dahiku. Aku tak bisa berhenti menangis. Berapa kalipun kau menyeka pipiku. Aku tak bisa tak menjatuhkan air mata.
"Hoon, papa.." lirihku di pelukan Hoon. Pria itu mencoba tegar, wajahnya yang merah, guratan otot di lengannya yang jelas. Dia sudah berusaha terus tenang dan tegar. Tapi dia menangis juga. Tinggal bayiku yang menatap wajah kami, baby RI masih bisa menggaris senyum, seakan menguatkan kami semua.
Tangan mungil RI menyentuh pipiku, aku mencium tangan mungil itu.
****
PLAAKK!!
Susan menampar Bianca dihadapan semua orang. Eun dan Kai hanya bisa terkejut dan melongo, begitupun dengan dokter di hadapan mereka.
"Nyonya.." sela dokter meminta Susan berhenti mengacungkan jari di depan wajah Bianca. Gadis muda itu terus tertunduk takut.
"Katakan siapa yang menghamilimu!!" Tepuk Susan pada kertas hasil lab yang dia baru saja buka. Wajah marah ibu itu jelas membakar jiwanya. Wajah Susan begitu merah.
"KATAKAN!!" Sekali lagi Susan menghentak meja dokter.
"Nyonya, tahan amarahmu.." pinta dokter sekali lagi, suaranya yang tenang tak bisa menenangkan perasaan susan.
Kai merangkul pundak Eun, sepertinya ini bukan urusan mereka lagi. Kai memberi kode untuk segera keluar dari ruangan ini. Eun menurut, mereka beranjak dari kursi.
Susan kian geram dengan dimanya Bianca. Emosinya kian terbakar. Sekali lagi Susan mengangkat tangan.
Hap!
__ADS_1
Eun menangkap pergelangan tangan Susan. Bianca tertunduk takut.
"Apa yang kau lakukan!" Hardik Susan tak suka dengan campur tangan Eun. Kai menunduk sopan. Dia menarik Eun untuk menjauh dari susan, tapi gadis itu menghentakkan bahunya, menjatuhkan tangan Kai.
"Nyonya, kau harus mengaca sebelum mengadili putrimu!" Ketus Eun mengambil posisi diantara Bianca dan Susan.
Susan merasa tertantang dengan tatapan tajam Eun padanya. Berani sekali wanita cantik ini. Susan melipat tangan di dada, wajahnya meraut senyuman sinis.
"Okey, aku harus katakan terima kasih untuk kebaikan kalian berdua.." ujar Susan menoleh pada Kai juga. "But please, can u get off your butt from our bussiness!" Hardik Susan mulai kasar. Dia mendorong kasar pundak Eun.
"Mom.." ujar Bianca dengan suara gemetar. Dia menghalangi Susan agar tidak bertindak kasar pada Eun.
"Kau membela wanita ini! Aish! Kalian terlihat cocok!" Sungut Susan emosi.
"Apa kalian sama sama ******!" Dokter bangkit dari kursi, dia mencoba menengahi.
"Nyonya, jangan membuat keributan disini.." pinta dokter dengan suara yang tenang. Kai menarik Eun, sedikit memaksa.
"Ayo kita pergi" bisik Kai, tapi Eun tetap enggan. Gadis itu kembali lagi ke hadapan Susan.
Dia mengacungkan ponsel di depan susan. Eun memutar video yang pernah dia ambil secara diam diam.
Susan menatap Eun kesal, tapi lirikan matanya menyimak video yang berdurasi pendek di hadapan matanya. Itu video Glen dan Bianca yang hampir saja bercumbu di lorong pemisah toilet cafe. Susan menutup mulutnya tak percaya.
"Bianca.." gumam Susan tak percaya
Gantian Eun yang melipat tangan di dada
"Jangan suka memelihara singa, jika kau hanya seekor ayam.." bisik Eun di telinga Susan sebelum berlalu. Susan menoleh ke arah Eun, kalimat barusan.
"Ah, satu lagi. Pastikan kau hanya punya satu anak ayam, jika tidak--" Eun menoleh, dia membalas tatapan bingung Susan.
"Karena jika tidak, mungkin ada beberapa telur lagi yang tersembunyi.." lanjut Eun melangkah sambil memamerkan ponselnya ke arah Susan.
Bianca diam seribu bahasa. Susan berdecak kesal dan tak mampu berkata kata. Wanita paruh baya itu menarik lengan Bianca, segera menyusul Kai dan Eun, meninggalkan dokter yang hanya bisa bengong.
***
terima kasih sudah membaca
tetap dukung terus yaa
__ADS_1