
Sepuluh tahun berlalu.
Emi dan Risa sedang memasak di dapur. Eun dan Kai masih berdoa di depan bingkai foto mendiang orang tuanya.
"Biar mama yang masak, kau duduklah. Kau pasti lelah!" Risa menggeleng. Dia tetap ingin membantu pekerjaan di dapur.
"Sana duduklah, biar mama yang masak. Kau kan tidak lama disini. Habiskan waktumu bersama RI!" Pinta Emi memaksa. Risa tersenyum. Dia akhirnya kembali ke meja makan.
"Sayang, bagaimana dengan sekolahmu?", Tanya Risa pada putra semata wayangnya.
"Semua baik ma, nenek setiap hari mengantar dan menjemputku. Padahal aku sudah besar dan sudah bisa membawa sepeda sendiri" ujar RI dengan mulut penuh makanan. Risa menyodorkan segelas susu.
"Apa kau senang tinggal disini, bersama nenek dan bibi Eun juga om kai?" RI mengangguk cepat.
"Mama dan appa kan setiap hari selalu video call, aku merasa kalian berada di dekatku setiap saat. Nenek bilang appa dan mama sangat sibuk bekerja jadi aku harus mengerti" Hoon mengelus lembut rambut anaknya.
"Kau pintar sekali. Kau mengingatkan appa saat masih kecil" ujar Hoon melebarkan senyum, Eun malah mencibir.
"Mana ada!" Ketus Eun protes. "Ri sangat pengertian dan dewasa, sedangkan Hoon sangat manja dan menyebalkan!" Hoon membalas tatapan sinis nunanya.
"Lihat saja bahkan sampai saat ini dia masih kekanak kanakkan!" Gerutu Eun kesal. Risa dan yang lain hanya bisa tertawa. Hoon dan Eun memang selalu terlibat perdebatan dimanapun dan kapanpun.
"Mama ingin selalu bersama denganmu, tapi saat ini kantor kita di Seoul masih butuh banyak dukungan dari appa, mama tak mungkin meninggalkan appa sendirian disana" RI mengangguk mengerti.
"Tidak apa, ada nenek disini. Aku selalu senang bersama nenek!" Emi mendaratkan semangkuk besar spageti dengan saus cream dan seafood.
"Wah, aku akan bawa bekal ini ya nek!" Pinnta RI pada Emi dengan sorot mata penuh kebahagiaan. Hoon meraih tangan istrinya. Dia mengelus lembut sambil menyunggingkan senyum. Pasti berat tinggal jauh dengan anak satu satunya. Tapi mau bagaimana lagi, Emi tak mungkin hidup sendiri. Dia sejak bayi selalu merawat bayi RI, dan kini anak tampan itu begitu bahagia bersama neneknya. Risa menjadi sedikit lega, karena anaknya sangat pengertian dan dewasa. Emi membesarkan dengan sangat baik.
"Mama.." Emi menoleh dan menatap wajah putrinya yang berkaca kaca.
"Terima kasih mama.." bisik Risa, dibalas anggukan kecil Emi.
"Haruskah kita menambah satu anak lagi?" Bisik Hoon menggoda Risa. Istrinya segera menoleh dan mencubit sudu hidung suaminya dengan gemas.
"Bukankah kita selalu mencobanya, hanya saja belum berhasil.." Hoon mengangguk setuju, dia membuang nafas kecewa,, pria itu menarik kursi dan mendekatkan diri pada istrinya, hingga dia bisa merangkul pinggang ramping Risa.
"Sayang, aku sangat mencintaimu.." bisik Hoon dan mendaratkan kecupan kecil diatas rambut samping Risa.
"Ehem!" Kau berdehem seakan menyadarkan Hoon san Risa, tapi keduanya seakan tak peduli.
__ADS_1
"Apa kau mau spageti?" Tawar Risa mengambil mangkuk spageti yang tadi dihidangkan Emi. Hoon mengangguk manja sambil menyodorkan bibir ke pipi istrinya.
"Kalian kenapa sih!" Protes Eun kesal. "Bukankah ada banyak kamar disini" Hoon hanya mengangkat bahu mendengar ocehan nunanya.
"Kau itu membuat nafsu makanku hilang tau!" Hardik Eun, menyendok banyak spageti dan memasukkan cepat ke dalam mulutnya. Kalimat dan kelakuannya sangat kontras.
"Ah, sayang.." Kai mengangkat jempolnya. Dia menyeka sudut bibir Eun dengan wajah menggoda.
"Sesuatu tersisa disini" bisik Kai, Hoon dan Risa melongo melihat tatap mata Eun dan Kai yang berbinar binar.
"Ah, terima kasih sayang" balas Eun memegang tangan Kai
"Uhuk uhuk!!" Hoon tersedak dengan suapan istrinya.
"Kalian lupa umur ya! Tingkah kalian sangat tidak cocok! Sadar diri dong!" Gertak Hoon merasa jijik dengan adegan sweet nunanya.
"Katakan itu pada dirimu!" Dengus Eun kesal.
Emi dan RI yang sibuk mengisi bekal di meja bar dapur hanya bisa melongo heran
"Nek, apa benar bibi Eun dan appa itu bersaudara?" Emi mengabgguk perlahan.
"Apa mereka lahir dengan orang tua yang berbeda?" Emi melirik ke meja makan. Wajah melongo semua orang disana membuat Emi hanya bisa tersenyum getir.
"Nenek hari ini tidak usah mengantarku, kau harus memantau mereka. Aku takut appa dan bibi akan saling menyakiti" tunjuk RI ke arah Hoon dan Eun. mereka hanya bisa melongo dan bengong.
"aku akan pergi sendiri ya! jangan antar aku!" RI menyambar kotak bekal, dia segera berlari dan melambaikan tangan, meninggalkan banyak wajah heran di belakang punggungnya.
"Apa itu benar putramu?" tanya Eun pada Hoon, wajahnya jelas tak percaya.
"Aku juga heran. apa benar dia ponakanmu?" Hoon balik bertanya. Risa dan Kai mentautkan alis.
"Dia sangat cerdas" gumam Kai dibalas anggukan kompak semuanya.
Emi melangkah kembali ke meja makan.
"Jangan bertengkar dan berdebat di depan Ri. Anak itu sangat kritis dan berpikir jauh. Kita harus menjaga perasaanya" sekali lagi semua kompak mengangguk, setuju dengan kalimat nasehat Emi.
"ya, RI sangat cerdas!" kalimat Hoon mengandung penekanan.
__ADS_1
"kata erdas itu bukan gen dari mu!" balas Eun ketus.
Baru saja mereka mengangguk untuk tidak berdebat, tapi kenyataannya masih saja, dasar kakak adik yang tak pernah akur dan berdamai.
****
Internasional childhood school of Indonesia tak berada jauh dari ruang lingkup kediaman keluarga Jung, anaknya hanya harus melalui trotoar dan sekali menyebrang, maka akan sampai ke gedung mewah sekolah bertaraf internasional itu.
oh, selain itu. RI juga bisa mengambil jalan memutar dari taman perumahan, sehingga dia tak usah menyebrang lagi nanti. Dan benar saja, Ri dengan langkah riang melewati taman ini lagi. Sebetulnya sebelumnya RI sudah pernah pulang sekolah sendiri. waktu itu Emi sedikit terlambat karena belanja, beberapa teman kompleks RI juga banyak yang pulang pergi sendiri, mereka ada yang mengendarai sepeda, skate, atau sepatu roda. Gedung sekolah tak berjarak jauh, masih dalam ruang lingkup komplek hunian kota dalam kota. Sangat aman dan asri.
RI segera berlari mendapati seorang anak perempuan duduk di kursi taman. Dia bertemu lagi! bocah itu tak mau buang waktu dia segera berlari masuk pintu taman.
"Hay!" sapanya dengan nafas ngos ngosan. bocah perempuan itu masih saja tertunduk dengan ujung sepatu memainkan pasir. sepertinya perasaanya sedang tidak baik.
"Apa kau ingat aku?" tanya RI ramah, dia menunjuk diri sendiri. gadis kecil itu dengan enggan mengangkat dagu, dia memperhatikan wajah RI.
"Kau yang tempo harikan!" RI langsung mengangguk. Ah, ternyata dia mengingatnya.
"Kau ingat aku juga!" ujar RI senang, dia segera mengambil duduk di sebelah bocah perempuan itu.
"Kau apa tidak terlambat ke sekolah?" tanya bocah perempuan itu sambil menatap seragam sekolah RI. bocah tampan itu tersenyum.
"mungkin aku akan sedikit terlambat karena menyapamu." ujarnya diakhiri senyuman lebar dan wajah merona.
"tapi aku kan tak meminta kau menyapaku!" ketus gadis kecil itu. Senyuman Ri seketika hilang. kalimatnya sungguh melukai perasaan bahagia RI. Mungkin dia sedang sakit, wajahnya sangat sendu, RI tak menganggap ucapan sinis gadis kecil disebelahnya. RI nasih berusaha tersenyum.
"Ah, perkenalkan namaku RI, kita tak sempat berkenalan tempo hari--" gadis kecil itu bangkit dari kursi, dia tak menyambut uluran tangan RI.
"Kenapa aku harus memberitahu namaku padamu!" ah, dia sungguh ketus. Batin RI putus asa. Padahal Di ingin sekali berteman dengannya. Gadis kecil ini memiliki wajah yang imut dengan lesung pipi kecil di sudut bibir. Tapi hari ini dia tak memperlihatkan senyumannya. RI sedikit kecewa. Wajahnya sungguh berbeda dari tempo hari saat mereka berbagi permen bersama.
"Tapi baiklah!" gadis itu melangkah mundur menjauhi posisi RI, yang perlahan bangkit dari kursi.
"Karena kita tidak akan bertemu lagi jadi aku akan memberi tahu namaku.." ujarnya menggaris senyuman singkat. Ah akhirnya aku bisa melihat senyuman itu lagi! RI melebarkan senyum, dia sangat senang. RI menarik uluran tangan yang tak mendapat balasan dari gadis yang semakin menjauh itu, dia hanya melambaikan tangan.
"NAMAKU MINJIIIII!!" teriaknya sambil berlari menjauh, meninggalkan taman, dan memunggungi RI, namanya Minji, Minji! RI merasa sangat senang mengetahui nama bocah perempuan itu.
"namanya Minji!" gumam RI menahan senyuman. dia menggoyangkan lututnya salah tingkah. RI tak bisa berhenti tersenyum. ah, dadanya seakan penuh bunga bunga.
"Ah! aku bisa terlambat!!" RI terkejut melihat jam tangannya, dia segera berlari ke arah gedung sekolah. bocah tampan itu meninggalkan kotak bekalnya di kursi taman.
__ADS_1