
Eun dan Riaa segera menuju ke mobil. Eun mengejutkan Risa, dia membawa banyak hadiah untuk keponakannya. Risa terlihat takjub dengan begitu banyak barang yang Eun bawa.
"Nuna membeli semua ini?" tanya Risa tak percaya.
"Tentu saja. Aku juga membeli baby box dan stroller dengan motif doraemon yang sama!" ujar Ehn penuh semangat. Rusa sampai terharu dibuatnya.
"Nuna kau baik sekali, aku tak akan bisa membalas kebaikanmu padaku.." Ehn memeluk Risa.
Kau tak perlu membalas semua ini Risa. Ini adalah penebus dosa untuk si bodoh itu!
Mereka membuka bagasi mobil, bersiap membongkar hadiah dari bibi Eun.
"Risa, apa kau sedih menjadi single mother?" Pertanyaan Eun sedikit sensitif tapi Risa tak tersinggung. Dia menggeleng.
"Aku bersyukur keluarga ku selalu ada. Seperti yang nuna bilang, aku harus kuat, aku harus membahagiakan anakku.." Eun membuka mulutnya, dia tak percaya mengingat pesannya dulu.
"Kau hebat sekali!" puji Eun. Dia menepuk gemas pangkal lengan Risa, membuat wanita itu sedikit meringis.
"Risa, apa kau akan memaafkan pria yang dulu kau ceritakan?" tanya Eun menyelidik. Dia tahu betul siapa yang dia maksud dalam kalimatnya.
Risa mengurungkan niat mengambil barang dari bagasi, dia menyenderkan punggung, menatap lurus ke depan. Eun ikut bersandar di sebelah Risa. Dia menyenderkan kepalanya pada kepala Risa. Mereka terlihat seperti kakak adik yang membuat orang lain iri. Eun memang cantik, tapi Risa juga tak kalah cantik, hanya saja dia tak ada waktu mengurus diri. Kalau tidak cantik mana mungkin Hoon bucin sampai hari ini!
"Kenapa kau tak menghubungi ayah Ri?"
Risa menundukkan pandangannya. Dia menarik nafas sebelum menjawab pertanyaan Eun.
"Aku merasa jika aku bisa menghadapi semuanya. Aku ingin berjuang sampai dimaba aku mampu" ujar Risa lirih. Ya, dia sudah berjuang semampu dirinya.
"Tapi nuna.." Risa mengambil nafas lagi sebelum melanjutkan kalimatnya
"Sepertinya aku mulai lemah. Setiap kali aku melangkah aku selalu mengingatnya. Setiap kali aku tidur aku akan bermimpi tentang dia--" Eun mengangkay kepala menatap Risa
Risa balas menatap Eun "Nuna, sepertinya aku tak akan bisa hidup tanpa dirinya.." Eun membetulkan posisi berdiri, dia berdiri tegak. Eun menatap Risa dengan mata berbinar.
Sungguh! Apa ini pertanda baik? Eun tak bisa melukiskan bagaimana senangnya dia saat mendengar kalimat Risa. Tinggal menyadarkan si bodoh Hoon.
Kai dan Hoon berlari di belakang mereka. Wajah merah keduanya membuat Eun dan Risa heran. Mereka berdua berlari menyusul langkah Risa. Dan sempat tersesat! pantas saja nafas keduanya tersengal, dan keringat membuat pakaian mereka lembab.
"Ada apa?" tanya Eun bingung, mendapati dua prianya ngos ngosan. Kenapa kedua pria tampan ini sering kali terlihat bodoh! Eun menggelengkan kepala tak mengerti dengan tingkah konyol Hoon dan Kai. Mereka kan bukan bocah lagi!
"Apa kalian main kejar ke--"
"Risa!"
__ADS_1
suara Hoon terdengar tinggi. Dia berusaha mengeluarkan kalimat tapi nafasnya masih terputus. Eun melongo mendengar ocehannya diputus oleh Hoon. Eun kian kesal.
"Kalian kenapa sih!" gerutu Eun kesal, tangannya mulai sibuk meraih barang bawaannya.
Kai memberi kode pada Eun dengan lirikan mata. Eun menautkan alis tak mengerti, dia juga mengangkat telapak tangan, mengangkat bahu tak faham. Mereka kenapa sih! Kai begitu lagi, memberi kode kode tak jelas dengan kerlingan mata.
"Apa.." bisik Eun pada Kai, dia tak mengerti dengan bahasa verbal Kai.
"Risa!" sekali lagi Hoon memanggil nama wanita yang bahkan ada disebelahnya. Sebenarnya ada apa sih. Eun menoleh pada Hoon, dia melihat raut serius adiknya. Eun semakin bingung. Sementara Risa sepertinya cuek, tangannya masih sibuk menurunkan barang bawaan Eun.
"Risa, dengarkan aku dulu!" Hoon memaksa Risa untuk hanya fokus padanya, dia tak mau Risa sibuk menyentuh barang bawaan Eun nuna.
"Kau kenapa sih!" tanya Risa heran. Akhirnya Risa menanggapi Hoon, dengan lirikan ke arah Kai dan Eun. Risa merasa canggung dan kikuk. Kenapa Hoon begini saat seperti ini? Risa menahan malu.
Hoon menangkap pergelangan tangan Risa. Dia menarik wanitanya ke samping mobil. Hoon mengurung Risa di dalam kedua lengannya yang menahan ke dinding mobil. Risa terkejut, dia hanya bisa bengong dan bingung.
Dia kenapa lagi sih! duh, kumohon nanti dulu. Masih ada Eun nuna dan Kai, belum lagi ini tak jauh dari depan rumahku! batin Risa ketakutan. Bagaimana kalau papa memergoki! dia bisa murka, semurka murkanya! Hoon, plis coba tahan diri.. Sayangnya Hoon tak bisa mendengar suara hati Risa.
Eun mencoba mengintip dengan sedikit mendorong punggungnya. Kai berdesst! menempelkan jari ke bibir, meminta Eun tidak ikut campur. Eun mendelik kesal melihat kode Kai, dia kan penasaran dengan urusan adiknya.
"Ayo kita bawa semua ini" ujar Kai berbisik. Eun mengangguk. Kai membawa dua parcel sekaligus, sementara Eun mengambil bola basket dan masih melirik penasaran ke arah Hoon Risa.
"Ayoo.." Kai memaksa Eun untuk menjauh.
Hoon menatap wajah Risa. Dia mencari kejelasan dari wajah yang selama ini dia rindukan.
"Katakan padaku semuanya!" pinta Hoon. Risa menautkan alis. Apa maksudnya.
"Berhentilah menyembunyikan semuanya, katakan semuanya padaku.." lirih Hoon menanti kejujuran Risa.
"Kenapa kau menyembunyikan Ri?"
Deg!!
Detak jantung Risa seakan berhenti. Belum juga Risa memberi tahu tapi Hoon sudah menembak langsung seperti ini.
"Kenapa kau menyembunyikan semuanya.." lirih Hoon kecewa.
Tubuhnya seperti lemas. Hoon menyender kan kepalanya di bahu Risa. Terbenam di bahu kecil Risa. Hoon meneteskan air mata.
"Kau menangis?" tanya Risa dengan suara lembut.
"Kenapa kau menyimpan semuanya sendiri? kenapa kau tak mengatakan semuanya padaku.." lirih Hoon masih terus terisak di bahu Risa. Lengan nya yang semula terlihat kokoh sekarang terkulai lemas di sisi tubuhnya. Hoon masih terus menangis dalam diam.
__ADS_1
Risa membiarkan Hoon menumpahkan kekecewaannya. Dia hanya bisa pasrah dengan semua yang terjadi hari ini. Mungkin semua sudah jalannya. Risa menyandarkan diri pada mobil. Dia juga sudah sangat lelah menghadapi semua ini sendirian. Mungkin sudah saatnya dia kembali bersandar, dan berkahnya itu adalah Hoon.
Risa mengangkat tangan, menyentuh rahang kokoh Hoon. mencoba menenangkan pundak yang masih bergetar karena tangisan yang dalam.
"Maafkan akuu.. maafkan akuu.." Risa mengelus lembut pipi Hoon. Semua sudah berlalu, semua sudah Risa lewati. Apapun itu di masa lalu menjadi pelajaran yang amat berarti.
Risa menopang rahang pria yang selalu membuat perasaannya tak tentu arah. Risa menopang wajah Hoon. Dia berusaha menarik bibir. Lihatlah wajah tampan ini. Lihatlah pria ini. Betapa aku begitu jatuh cinta padanya.
"Hoon.. lupakanlah.." Hoon menggeleng tak mau.
"Hoon, semua sudah berlalu.." Air mata masih jatuh bergulir di pipinya.
Risa mencoba menghapus dengan menggerakkan jari telunjuknya, dia masih terus memangku wajah Hoon dengan telapaknya.
"Sekarang aku hanya ingin membesarkan Ri.." lirih Risa berusaha tampil kuat. Hoon mengangguk.
"Sekarang hanya masa depan anakku yang menjadi tujuan hidupku.." Hoon mengangguk
"Hoon, apa kau mau membesarkan Ri bersama denganku?" Hoon dengan cepat mengangguk. Risa menjatuhkan air mata. Kali ini air mata bahagia.
Keduanya mengangkat tangan berpelukkan erat.
"Maafkan aku, aku bodoh!" Risa menggeleng tak setuju
"Maafkan akuu yang pengecut ini.." Risa mengangguk. Antara dia memaafkan atau dia setuju jika Hoon memang pengecut.
"Boleh aku menciummu?" bisik Hoon di antara air mata mereka. Risa tertawa geli.
"Apa katamu!" dengusnya sambil menghapus air mata
"Tentu saja!" Risa menyambar bibir Hoon. Keduanya seakan bercium untuk pertama kali lagi. Menikmati hangat bibir yang selama ini pergi. Keduanya larut dalam ciuman panjang yang melegakan.
****
Aaahhh... serasa ikut naik roller coaster..
terus kirim dukungan kalian yaa.. votee star banyak2
kirim bintang5 dan komentar banyak2
jangan lupa hujano dengan hadiaah.. hahaa.. jangan dengan hujatan :D
terima kasih dukungan dan salam hangat dari kalian.. titip peluk hangat dari sini!!
__ADS_1
semoga kita sehat dan bahagia selalu