Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
AKdML-3. Balasan


__ADS_3

Sebelum lanjut membaca bab ini.. sebaiknya kembali ke bab pertama. karena ini cerita sekuel kedua dari judul pertama tapi dijamin tetap seruu!! sudah terbit di aplikasi lain dan 500.000pembaca, cuma disana berbayar. sedangkan disini cuma cuma.. kalian tinggal balas dengan komen sebanyak2nya, dan kasih review bintang 5, jangan lupa tip nya tumpahin kesini.. votenya juga..


ceritanya mudah2an menghibur dan ga mengecewakan..


sebelumnya judulnya, simpanan pernikahan..


cerita pertama sudah ending di bab 170an.. ini lanjut ke cerita kedua..


silahkan di baca dari awal ya..


jangan lupa dukungan kalian


------------------


Kai mendatangi sebuah pub, cahaya temaram lampu warna warni, wanita dengan pakaian seksi membalut tubuh dengan ketat, asap rokok mengepul. Lantai yang penuh dengan pasangan dan larut dalam alunan musik. Suasana yang pas untuk menghibur diri. Ya, tapi Kai tidak sedang menginginkan itu semua. Matanya menyapu ke meja sudut sana. Seorang wanita dengan pakaian minim dan seorang gadis remaja.


"Bagaimana seorang remaja bisa mengunjungi pub!" Gusar kai kesal. Matanya menyipit mempertajam tatapan.


Wanita itu menyeka rambut yang diwarnai pirang, dia melipat kaki hingga pahanya terekspos sempurna. Di tangannya mengepulkan asap tembakau. Kai hanya menggelengkan kepala tak mengerti, dia sungguh tak paham. Sama seperti dirinya yang tercebur lumpur terlalu dalam, hingga meninggalkan Eun yang frustasi di rumah.


"Sayang, ini minumanmu!" Pria itu menyodorkan gelas minuman ke arah wanita itu sambil menyambar dalam bibir pasangannya. Mereka gila! Berciuman di depan gadis muda yang bahkan tak merasa canggung. Kai sungguh kehilangan kesabaran.


"Sayang, Hei, apa putrimu tidak terlalu cepat menghabiskan waktu! Dia seharusnya mengerjakan pr saat ini!" Ledek pria itu dengan tawa sinis.


"Hahaha kau pintar sekali menggoda!" Balas nya dengan wajah sensual, dia menepuk pelan paha gadis yang disebut putrinya itu. Gadis muda itu beranjak dari duduk menuju toilet, kai mengikutinya.


"Kau lagi!" Ujar gadis muda itu ketus.


"Bukankah kau terlalu berharap padaku om! Aku ini masih muda, kemarin kau memberikanku hadiah dan sekarang kau mengikutiku sampai kesini. Apa istrimu tidak marah!" Hardiknya bertolak pinggang


'dia pasti salah sangka' batin Kai ingin tertawa.


"Bukankah om lebih baik dengan mamaku, daripada dia menghabiskan malam dengan si brengsek berisik itu!" Tunjuknya kasar mengarah pada meja yang baru saja dia tinggalkan.


Kai hanya menyunggingkan senyum tipis, dia membiarkan gadis muda itu meninggalkannya dan menuju kamar mandi.


"Kacau!" Ketus Kai kesal. Dia menatap lagi ke ujung sana. Wanita itu bahkan lebih parah lagi kini. Dia berciuman panas dengan telapak pria itu menjamah bebas di atas dadanya.


Hingga todongan pistol membuat bibir mereka berhenti berpagutan.


"Ada apa ini!" Dia berdiri panik saat polisi menodongkan pistol ke arah kekasihnya.


"Pria ini sudah DPO, kami akan membawanya!" Ujar polisi yang berpakaian seperti preman. Dia menggelandang kekasih wanita seksi itu. Suasana riuh seketika seakan hening. Kai bangkit dari kursi dan menatap pekat.


"Akhirnya bisa berakhir juga!" Gumam Kai lirih.


"Ada apa!" Gadis muda tadi kembali dengan wajahnya yang tak mengerti.


"Apa ada perkelahian?" Kai menoleh dan menggeleng. Dia menatap mamanya yang mematung dengan ekspresi wajah panik di depan sana.


"Ma!" Teriaknya mengejutkan pengunjung lainnya. Apa mereka ibu dan anak? Mereka terlihat seperti kakak adik saja.


"Ada apa ma?" Tanya putrinya cemas.


"Mereka membawa Leon Mil!" Suara nya terdengar bergetar panik.


"Sudahlah ma!" 


"Sudahlah bagaimana! Dia membawa kekasih mama, bagaimana kita bisa hidup tanpa Leon!" Suara wanita itu terdengar kesal.


"Ma.." ujar putrinya mulai kesal.


"Aku harus menyusul Leon!" Wanita itu melangkah cepat dengan terhuyung, dia tadi menghabiskan banyak alkohol, dia berusaha mengejar langkah Leon yang digiring polisi.


"Ma!!" Teriak Mili berusaha menghentikan.


"Ma!!"


"Mama!!" Wanita seksi itu tak peduli dengan suara lirih putrinya. Kai hanya bisa menyaksikan di belakang punggung mereka. Keduanya keluar dari bar dan melangkah ke parkiran dimana mobil polisi yang membawa Leon sudah tak tampak.


Wanita itu bersimpuh di lantai. Dia membuang heelnya, dia mulai menangis dan menyeka rambutnya kasar.

__ADS_1


"Ma, sudahlah ma.." Mili berusaha menenangkan mamanya.


"Mil, kita tidak akan bisa hidup tanpa Leon, kemana kita akan tinggal, kemana kita akan hidup!" Mili mendengus kesal.


"Ma, kita bisa mencari dan berusaha sendiri!" Ketus Mili.


"Mil, kamu mana tahu hidup! Mama tak mau hidup susah, mama tak mau hidup miskin mil!" Mili hanya bisa menarik nafas berat. 


Kai melangkah mendekati Mili dan mamanya. 


Sudut sepatu kai mengejutkan Bianca. Dia perlahan berdiri dan merapikan penampilan.


"Siapa kau?" Tanya Bianca bingung, berbeda dengan reaksi mamanya, Mili malah bangkit dan bertolak pinggang.


"Kenapa om ikut campur sih! Aku tidak akan mau sama Om! Meski om memberikan banyak uang!" Dengus Mili kesal. Bianca berusaha membujuk Mili.


"Sayang, kau tidak boleh berkata seperti itu." Bianca mengelap tangannya dan segera meraih telapak tangan Kai, dia menyalami Kai dan memasang wajah genit.


"Apa kau kenal Mili?" 


"Apa kalian saling mengenal?" Mata Bianca seakan berbinar penuh harap.


"Ma!" Mili tak suka melihat tingkah mamanya.


"Mili, katakan sesuatu. Barangkali dia bisa membantu kita!" Bisik Bianca seakan mengancam putrinya. Mili memasang wajah jengkel. 


"Maksud mama apa sih!"


"Kau harus bisa berwajah manis. Memangnya kau mau tinggal di jalanan!" Ancam Bianca sekali lagi memaksa Mili. Gadis itu terpaksa membuat senyum.


"Om--"


"Jangan panggil om!" Bianca menarik tangan Mili dan mengingatkan putrinya untuk lebih sopan lagi.


"Katakan pak, atau bos!" Perintah Bianca memaksa. Mili mengangguk seakan mengerti.


Mili membuat senyum seakan menyapa Kai ramah. 


"Apa kau dan mamamu sedang kesusahan?"


"Iya iya!" Bianca menyambar cepat.


"Baiklah!" 


PLUK!


Kai melemparkan sebuah kunci. Mili menangkapnya cepat.


"Itu mobilnya, kau bisa pakai!" Kai menunjuk mobil hitam yang terparkir.


"Dan ini, sebuah kunci apartemen. Kalian bisa tinggal disana!" Bianca membulatkan mata. Dia mengambil akses apartemen dan kunci mobil. Dia menyenggol mili dengan senyum memaksa.


"Katakan sesuatu!" Ujar Bianca memaksa, Mili mencoba mengerti.


"Aku tidak butuh semua ini!" Mili meraih kunci di tangan mamanya, kembali ke telapak kai. Bukan itu Mili! Gerutu Bianca putus asa dengan tingkah ketus putrinya


"Harga diriku tak senilai dengan apa yang kau berikan!" Ujar Mili ketus. Bianca hanya tercengang kesal. Sementara Kai tertawa lucu.


"Sepertinya kau salah paham gadis kecil, jika aku mau denganmu, mungkin aku akan menjodohkanmu dengan keponakanku!" Ujar Kai membuat alis Mili bertaut kuat.


"Itupun kalau ponakan ku tertarik padamu!" Apa! Mili mencibir kesal.


"Ini! Kau membutuhkannya. Dan mulai besok pergilah mendaftar untuk sekolah! Kau tidak boleh menjadi pengangguran!" Ujar Kai mengacungkan telunjuk.


"Hey! Aku ini bukan pengangguran. Aku hanya sering membolos saja!" Teriak Mili di belakang punggung Kai. Pria itu melambaikan tangan, dia memesan taksi.


"Dia tampan dan baik. Kau kenapa sih!" Gerutu Bianca kecewa dengan sikap putrinya.


"Berhentilah jual mahal, kau memangnya mau hidup susah!" Ujar Bianca sekali lagi. Mili tak peduli. Mamanya merebut kunci di tangan Mili.


"Oiya satu lagi! Aku tak menyukai kekasih mamamu!" Teriak kai.

__ADS_1


"Apa dia bilang?" Tanya Bianca tak begitu jelas mendengar suara Kai. Mili malah tersenyum sinis.


"Entahlah!" Jawabnya berbohong. Untuk kalimat itu, dia setuju dengan om om tadi!


****


Kembali ke perkemahan di kaki gunung.


"Kau kesini lagi rupanya?" RI mengejutkan gadis di depannya yang asik termenung menatap langit.


'Ah, si ciuman pertama!' batin Minji menahan tawa geli. Kenapa dia ada disini?


"Sepertinya pemandangan dari atas sini memang paling bagus!" Minji tak peduli dengan kalimat RI. Dia sibuk menghitung bintang bintang yang terlihat jelas dari sini.


"Kau sedang apa?" Tanya RI mengintip layar laptop Minji.


Layar itu menampilkan film romantis dan sebuah game?


"Kau suka bermain game?" Minji menoleh sesaat pada layar laptopnya. Dia pasti mengintip!


"Apa kau menyukai game itu?" Game yang dia bicarakan bersama appa tempo hari.


"Kenapa! Apa seorang gadis terlihat aneh dengan bermain game!" Ketus Minji menoleh sesaat pada RI. Pemuda itu menggeleng.


"Aku menyukai game, film klasik, film romantis!" 


"Apa itu aneh!" RI menggeleng lagi.


"Aku akan menjadi orang sukses dan bekerja pada perusahaan game ternama suatu hari nanti. Aku juga ingin menjadi tokoh dalam game ku!" RI menyimak serius ucapan Minji. Tapi gadis itu sepertinya salah sangka dengan tatapan pekat RI.


"Kau pasti berpikir aku aneh kan!"


"Tidak!" Jawab RI cepat. Tentu saja Minji tidak aneh di mata RI, gadis itu terlihat cantik dan berkilau seperti bintang. Saat bercerita tentang game dan film favoritnya, suara Minji terdengar renyah dan ceria, RI menyukainya.


Wajah cantik ini terlihat begitu dekat dan familiar di mata RI, apa mereka pernah bertemu sebelumnya? 


"Hei! Kau tak mendengarkanku ya!" Gertakan Minji menyadarkan tatapan RI. Dia tak bisa berpaling dari wajah Minji. Dia masih mengingat jelas kenyal dan manis nafas buatan yang tadi siang Minji tinggalkan. RI tersenyum melihat bibir Minji yang terus bergerak dan menggoda hasratnya.


Tanpa sadar RI mendekatkan wajahnya. Dia sungguh tak bisa berpaling dari wajah gadis di sebelahnya ini. RI semakin memangkas jarak diantara mereka.


RI menyambar bibir Minji yang masih sibuk berceloteh tentang film dan game favorit nya. Minji tentu saja terkejut dengan serangan.tiba tiba ri. Berbeda dari siang tadi. Bahkan kini RI mulai berani memainkan bibir mereka, dia sedikit mengecap dan menghisap. Bermain dengan Indra pengecap Minji.


BRUUUK!!


Minji mendorong tubuh RI, hingga dia hampir tersungkur. Gadis itu melongo. Dia segera mengambil laptop dan menarik karpetnya. Tapi tangan RI lebih sigap. Dia menahan pergelangan Minji, untuk tak meninggalkannya. Tangkapan erat telapak tangan RI, membuat Minji tak bisa menahan gejolak di dada. Rasanya begitu lain, rasa seperti sedang naik roller coaster. Deru jantung yang naik turun tak menentu. Minji memegang dadanya dan menutup dengan laptopnya, perasaan apa ini!


"Boleh aku tahu siapa namamu?" 


Deg.. deg.. deg..


Kenapa.suara pemuda ini semakin menambah kuat debaran jantung Minji! Pasti RI juga begitu! Ini cinta pertama bagi keduanya.


PLAAKK!!


"MINJI!"


Suara Minji berteriak bersamaan dengan tamparan di pipi RI. Minji menatap telapak tangannya. Kenapa dia menampar RI? Dia seakan tak bisa menahan gejolak di dadanya. Dia hanya mau mengucapkan nama tadi tapi kenapa mendaratkan telapak tangan. Dia terlalu salah tingkah hingga tak bisa mengontrol emosi dan perasaannya.


RI melepaskan perlahan genggaman tangannya. Dia memegang pipinya yang merah menjeplak telapak tangan. Ini pertama kali nya untuk RI menerima pukulan dan dari seorang gadis.


Minji tak tahu harus bagaimana melihat tatapan tajam RI, dia berlari menuruni bukit dengan cepat. Minji melarikan diri.


RI masih bengong. Dia tak percaya mendapatkan perlakuan sekadar inj. Dari seorang gadis.


"Kupikir dia tertarik denganku, tapi ternyata aku salah." Gumam RI kecewa.


"MINJI.." RI mencoba mengingat nama itu.


"Minji, sepertinya nama yang harus selalu kuingat. Akan ku tanam dalam kepalaku." 


"Minji, kau akan mendapatkan balasan suatu hari nanti!"

__ADS_1


__ADS_2