Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Kenapa


__ADS_3

Hoon diikuti Risa menuju ke sebuah ruangan. Risa sedikit berpikir, ini lantai yang sama ketika dia menemukan Kai. apa yang akan mereka lakukan di sini? wajah Risa bingung. kibasan tangan Hoon seakan meminta bisa mempercepat langkah. mereka menelusuri lorong, di depan sana ada sebuah lift barang. lift yang waktu itu digunakan Risa bersama dengan Joni.


"mau apa kita ke sini?" bisik Risa, dia jelas terlihat bingung.


"Ssst!!" Hoon menempelkan jari telunjuk di bibir, meminta Risa untuk lebih tenang. baiklah, aku akan menurut. Risa menutup bibirnya sesuai dengan permintaan Hoon.


Seorang pria berpakaian hitam persis seperti preman yang waktu itu memukuli Kai. dia menghampiri Hoon. pria itu mendekatkan kepalanya pada Hoon. mereka saling berbisik, pada akhirnya Hoon mengangguk seakan mengerti.


Risa mengikuti tangan Hoon yang menggandengnya. Hoon membawa Risa ke dalam ruangan itu di dalam dekapannya, dia seakan tak mau wanitanya terganggu. Sebuah kamar hotel dengan fasilitas lengkap. Sayang sekali ruangan ini sangat berantakan. Dimana ada banyak tumpukan pakaian dan beberapa bekas minuman beralkohol. Risa lebih terkejut lagi mendapati beberapa orang pria di jaga oleh beberapa orang lainnya, dilihat bentuk badannya terlihat hampir sama. Ya, mereka memiliki bentuk tubuh yang mirip mirip, kekar dan berotot. sebagian seperti tawanan, sebagian seperti petugas keamanan. Risa makin tak paham.


"Siapa mereka?" Tanya Risa heran.


"Yang jongkok dengan tangan dibelakang punggung dan diborgol itu adalah preman suruhan seorang petinggi, mereka terlibat perdagangan obat obatan dan manusia. Termasuk Kai adalah korbannya" penjelasan Hoon membuat Risa terperangah dan takut.


"Lalu yang mengacuhkan senjata?" Risa semakin takut mendapati beberapa senjata Laras panjang yang siaga di tangan.


"Mereka aparat kepolisian, Buser dan detektif" jelas Hoon melegakan Risa. Wanita itu menghembuskan nafas lega. Tapi tunggu dulu, dia masih blm boleh bernafas lega. Kenapa Hoon mengajaknya ke tempat berbahaya seperti ini? 


"kenapa kau membawaku kesini?" Tanya Risa penasaran.


"karena mereka sudah membahayakanmu, kau harus menentukan hukuman apa yang pantas untuk mereka!" Tegas Hoon dengan tawa kecil dan seringai. Kenapa Hoon terlihat berbeda hari ini.


Jika sudah menyangkut miliknya tentu saja Hoon harus lebih berani dan kuat. Ini cara dia melindungi keluarganya. Sudah kukatakan dia bukan pria yang dulu! Hoon memeriksa beberapa kertas print yang memuat wajah kekasihnya. Dia melempar kasar lembaran kertas ke arah pria pria yang sudah tak berdaya. Mereka tertunduk takut.


"Katakan, dimana bosmu!" Tanya Hoon dengan tatapan tajam pada salah seorang yang dari tadi terus menunduk, kedua tangannya terikat borgol di belakang.


"DI MANA KIM BERSEMBUNYI!!!" Teriak Hoon. Risa sampai bergidik mendengar teriakan Hoon.

__ADS_1


"Hoon.." panggil Risa, gadis itu berusaha menenangkan Hoon.


"Kalian berani sekali mencetak wajah kekasihku, dan mengincarnya! Kalian cari mati hah!" Teriak Hoon beringas kesal. Dia sangat mengerikan ketika marah. Hoon melirik wajah takut Risa. Dia tak seharusnya membuat wanita yang begitu dicintainya ketakutan seperti ini.


Hoon mencoba meredakan emosi dan menahan nafas sejenak. Dia merangkul Risa. mencoba menenangkan ketakutan wanitanya, Hoon merangkul bahu Risa, dan memberikan kecupan sekilas diatas rambutnya. mereka tak boleh lama-lama di sini.


Hoon bersiap meninggalkan ruangan itu. Risa melirik sekilas dan bergidik ngeri menyadari betapa mengerikan jika dia ditangkap oleh pria pria kekar itu! Untunglah Hoon lebih dulu mengamankan mereka. 


Pria yang pertama kali menemui mereka tadi kembali ke dalam ruangan, bertemu Risa dan Hoon yang hendak meninggalkan ruangan. Melihat wajah panik ditektif Vino, Hoon curiga. Dia salah seorang detektif bayaran, Hoon meminta jasanya ketika tahu ada yang mencari keberadaan Risa.


"Ada apa?" Tanya Hoon penasaran dengan wajah tegang Vino. Dia mengajak Hoon sedikit menjauh dari Risa, pembicaraan mereka sepertinya sangat rahasia, detektif itu menyodorkan pesan singkat dari ponselnya.


'Kau berani mengacau kegiatanku. Lihat siapa Yang ada bersama denganku kini.'


Hoon segera merebut ponsel dari tangan detektif Vino, mata Hoon membulat tak percaya. Wajah tegang dan takut berbaur disana. Hoon menoleh pada Risa dan berusaha menyembunyikan ponsel di tangannya. Mendapati sorot mata berbeda dan wajah yang tegang itu, Risa segera sadar jika ada yang tak beres dibalik ponsel itu. Risa segera menghampiri Hoon. Dia mencoba merampas ponsel di tangan Hoon.


Foto bayi RI pada layar ponsel membuat wanita itu seakan kehilangan nyawanya. Hati seorang ibu yang begitu mencintai bayinya. Hati seorang ayah yang bahkan belum pernah melihat bayinya. Kim kau menggadaikan nyawamu, kau tak pernah melihat seseorang marah? Pernahkah kamu mendengar, marahnya orang yang periang, akan jauh lebih menakutkan!


Hoon segera berjongkok dihadapan Risa. Dia mencoba menenangkan wanitanya, demi apapun, demi semua, demi bayi yang belum pernah dilihat, Hoon mengatur ekspresinya. Dia tak mau membuat wanita terkasihnya lebih cemas lagi, lebih takut lagi, meski dia sendiri di dalam hati jelas panik dan marah.


"Tenanglah, percaya padaku semua akan baik baik saja.." ujar Hoon lirih. Bagaimana mungkin! Risa menatap wajah Hoon, dia tak bisa menahan air mata yang terjatuh. Tatapan itu seolah berkata, Apa mungkin semuanya akan baik-baik saja? Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi kepada anakku? Sorot mata diwajah yang sendu itu,begitu menyimpan banyak harapan pada pria nya. Apa yang akan terjadi pada baby RI, apapun yang menimpa bayinya dia tak akan bisa memaafkan diri sendiri.


"Risa, aku akan membawa anak kita.." ujar Hoon sekali lagi, telapak tangannya meraih jemari Risa,mengelus lembut dan mencoba memberi sedikit kekuatan. Yakinlah keduanya jelas menyimpan kecemasan yang dalam.


"aku akan menghadapi siapapun yang mengganggu keluarga kita!"pria itu menebarkan senyum, memaksakan tarikan bibir. Hoon beranjak dari posisinya, tanpa menunggu waktu lagi, dia hendak meninggalkan Risa.


"Hoon.." panggil Risa lirih. Dia berusaha bangkit dari duduk, mendekati Hoon.

__ADS_1


"Aku mohon. Selamatkan bayi kita" pinta Risa penuh harapan pada kekasihnya.


"Percayalah padaku!" Ujar Hoon sekali lagi. dia menyentuh kepala Risa, menepiskan rambut dan meninggalkan kecupan di dahi wanitanya. kecupan yang biasanya terasa hangat sedikit berbeda kali ini. ekspresi wajah yang dingin, takut bercampur tegang. perasaan yang mengguncang membuat denyut nadi tak beraturan. takut Dan panik. cemas dan penuh harap.


Risa menyeka wajahnya dengan kasar, wanita itu jelas mencemaskan bayinya, bagaimana jika sesuatu terjadi pada bayi RI, dia belum cukup berjuang untuk anaknya. bahkan mereka belum pernah merasakan apa itu keluarga seutuhnya. tolonglah jangan secepat ini. Risa masih membutuhkan banyak waktu


"Hoon bahkan belum pernah menggendongnya, aku bahkan belum tahu bagaimana dia mengucapkan kata appa.." lirih Risa. sentuhan pelan di punggung menyadarkan Risa. pria yang berdiri di sebelahnya, mempersilahkan Risa untuk keluar dari ruangan. dia akan mengantar Risa ke rumah Jung.


"pak, antar ke rumahku saja. orang tuaku pasti sangat cemas dan takut saat ini.."pinta Risa dengan suara bergetar. dia tak mampu membayangkan bagaimana orang tuanya menghadapi semua ini.


"tenang Risa, semua akan baik-baik saja.. semua akan baik-baik saja.. bukan Hoon bilang begitu" Risa bicara pada diri sendiri. "percayalah pada Hoon, kumohon.." gumamnya sekali lagi jangan putus asa.


****


terima kasih buat yang masih baca. buat yang masih kirim star vote thank you so much


terima kasih banyak yang udah follow IG


terima kasih banyak yang udah kirim gift


terima kasih banyak yang masih setia meninggalkan review dan komen


semua hubungan kalian sangat berarti untuk aku


semoga kedepannya kita bisa berjalan bersama-sama saling mendukung


sehat terus untuk kalian semua, semoga rezeki melimpah, semoga sehat selalu dan bahagia

__ADS_1


__ADS_2