Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Permintaan


__ADS_3

"Kau pergi saja, ajak calon mertuamu makan siang. aku akan mengurus wanita ini" Hoon mengangguk setuju dengan kalimat Kai


"maaf merepotkanmu Hyung" Hoon memberi salam hormat kepada Kai. 


"Kalau begitu aku, Risa, papa dan kau nuna. Apa kau mau ikut kami makan siang atau ikut bersama Hyung?" Hoon bertanya dengan raut wajah datar. Tapi raut Eun tidak sedatar milik Hoon.


"Menurutmu bagaimana!" ketus  Eun dengan wajah kesal. 


"Apa mungkin aku membiarkan Kai dan wanita itu berdua saja! begitu menurutmu?" Hoon hanya mengangkat bahu. 


"Terserah nuna saja, akukan cuma bertanya" gerutu Hoon dengan suara tertahan


Hoon menghampiri Bambang dan Risa. 


"Sebaiknya kita makan siang terlebih dahulu pa, Kai hyung dan nuna akan pergi ke rumah sakit mengurus wanita tadi.." ujar Hoon menggaris senyum kecil


"Apa dia karyawanmu?" Tanya Bambang dengan wajah sedikit cemas


"Iya, dia pegawai intern, baru hari pertama kerja--"


"apa kau memberinya pekerjaan yang banyak sehingga dia sampai pingsan?" Bambang memotong kalimat Hoon dengan pertanyaan dan wajah sinis.


"Ti, tidak ko" Hoon menggoyangkan telapak tangan memberi syarat jika pekerjaan di kantor nya tidak seberat itu.


"mungkin wanita itu mengalami sesuatu atau memiliki penyakit sehingga dia bisa jatuh pingsan di hari pertama kerja" Hoon berusaha menjawab sebisanya, wajah Bambang jelas mengintimidasi, Hoon tak suka tatapan sinis itu. "bahkan belum sehari dia bekerja di sini" gerutu Hoon sedikit kesal. Kenapa dia yang disalahkan!


"Kenapa aku belum pernah melihatnya?" tanya Risa dengan berbisik. Hoon melirik sejenak lalu membalas dengan berbisik juga


"Aku lupa memperkenalkan dia padamu"


"Kau ini!" Gertak Risa merajuk


"aku terlalu sibuk hari ini. dia itu anak dari nyonya Susan. hari ini hari pertama dia magang di perusahaan ini, aku tidak tahu kenapa dia bisa sampai kelelahan seperti itu semoga tidak apa-apa" jelas Hoon mencoba menjabarkan dengan singkat. Tak cukup Bambang yang kesal jangan sampai Risa juga ikut2an kesal gara gara wanita muda itu.


Risa mengangguk-angguk seakan mengerti, dia membukakan pintu untuk papanya, mereka meninggalkan perusahaan menuju sebuah restoran


Di restoran bergaya timur


"Sebenarnya papa hari ini bukannya mau minta ditraktir makan siang oleh kalian.." Bambang membuka obrolan di meja makan


"Ada hal penting yang ingin papa pertanyakan kepada kau dan Risa.."

__ADS_1


Wajah serius pak Bambang membuat Hoon sulit menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa pahit dan kering. belum juga makanan tersaji di meja pembicaraan pembuka dari pak Bambang sudah membuat perut Hoon semakin kelaparan.


Melihat sorot mata tajam pak Bambang seketika membuat Hoon kian gugup. Risa melirik sejenak, sepertinya memang hal penting yang harus dibicarakan. Sorot mata papanya itu jelas terlihat dalam.


"Papa ingin menanyakan perihal persiapan pernikahan kalian" Hoon dan Risa kompak menegakkan punggung. Tepat dugaan bukaan papa memang memiliki topik serius hari ini, dia sampai ke kantor hari ini


"Kenapa kau memutuskan menunda hari pernikahan tapi tidak merundingkan terlebih dahulu kepada papa?" 


"Apa yang sedang kalian rencanakan, pernikahan ---"


"Pa.." Bambang melirik Risa seklias, tatapannya seakan memberitahu jika kalimatnya tak ingin di potong, biarkan Bambang menyelesaikan kalimatnya terlebih dahulu.


"Papa tidak ingin kalimat papa dipotong!"


Risa hanya bisa terdiam dan menelan ludah. 


Hoon menepuk pelan paha kekasihnya, seakan memberi isyarat Jika dia baik-baik saja dengan pertanyaan pak Bambang. 


Bukankah sebagai laki-laki harus menghadapi mertua nya dengan jantan


"Pak sebelumnya aku mohon maaf. aku sudah sangat salah karena tidak membicarakan hal ini terlebih dahulu kepada papa dan Mama. Sebetulnya--"


Hoon menjeda kalimatnya, dia menarik nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya


"Maksudmu pria yang membawa bayi mu dalam insiden itu? bukankah dia sudah baik-baik saja, dia bahkan paling sehat saat keluar dari gudang itu!" Bambang tak percaya. Ini bukan alasan yang dibuat buatkan!


"Pah.." sekali lagi Risa ikut campur.. Risa menyentuh punggung tangan pak Bambang, meminta sedikit pengertian dari wajah keras di depan situ. Risa seakan ingin memberitahu jika hal ini bukanlah hal yang mudah terutama untuk keluarga Jung


Pak Bambang melirik sejenak ke arah Risa putrinya. Syarat mata sendu itu membuat wajah keras pak Bambang sedikit perlahan melunak


"Namanya Glenn, sebelumnya dia memang sudah lebih baik secara fisik. tapi--" Hoon melirik Risa sejenak. Wanita itu mengangguk seakan meyakinkan Hoon untuk menyelesaikan kalimatnya. "Dokter sudah memperingatkan sebelumnya. Dokter mengatakan jika mendonorkan satu ginjal akan berbahaya untuk hidupnya"


"Dan tubuh dia sendiri belum sembuh sepenuhnya. Operasi pemindahan organ tubuh membuat daya tahan tubuhnya drop. Glen mengambil keputusan riskan. Dia mendonorkan ginjalnya untuk Kai hyung" Bambang menatap Risa, dan anak perempuannya itu mengangguk, mengiyakan. Kenapa dia tak menceritakan apa yang dia ketahui? Sehingga hari ini dia tak perlu repot mencari tahu sendiri.


"Kai sendiri belum mengetahui ini. Hanya kami, dan nuna yang mengetahuinya. Glen sudah mengatur semuanya, semua ini perlu waktu.."


Bambang melongo tak percaya. Yakin tidak yakin, tapi pria paru baya itu akhirnya mengerti, sorot mata putrinya berubah begitu sendu dan meminta pengertian dari dirinya. Ya, Bambang sangat mengerti semua itu.


"sulit bagi nuna menerima pria jahat dalam kehidupannya. Dan kini menyatu pada pria yang harus menemaninya seumur hidup. Itu yang membuat Eun nuna sering terguncang" Dia tak bisa memberitahukan kepada Kai, nuna takut Kai akan merasa bersalah. Kami merahasiakannya.


"kenapa kalian tidak membicarakannya kepadaku? memangnya aku tidak akan mengerti dengan hal seperti ini! tentulah papa ingin yang terbaik untuk kalian"

__ADS_1


"Aku meminta maaf kepada papa dan mama sudah mengecewakan dan sangat mengecewakan. aku juga harus meminta maaf kepada bayiku karena belum bisa menjadi papa yang lebih baik bahkan aku dan papa sungguh jauh levelnya" ujar Hoon menahan panas di kelopak mata.


Risa memandang wajah menyesal Hoon. Selain penyesalan, kekecewaan, ketakutan, semua terlukis jelas di wajah prianya itu. ditambah lagi kini matanya berkaca-kaca. Risa tahu jika prianya itu sangat menginginkan pernikahan, mereka. Dia dan Hoon, mereka menginginkan pernikahan dan keluarga.


Hoon dan Risa memimpikan menjadi satu tidak seperti saat ini tapi dia juga tak bisa abai terhadap Eun nuna karena hanya itu keluarga satu-satunya dari Jung yang tersisa. Hoon hanya memiliki satu orang saudara saja.


"baiklah kalau begitu papa mengerti tapi setidaknya beri kami penjelasan dan kepastian. Karena--" Bambang menjeda  kalimatnya


"Appa sangat menyukaimu!"


kalimat barusan membuat bibir Hoon tersenyum, air matanya pun terjatuh, pria itu bangkit dari kursinya memeluk pak Bambang


"terima kasih banyak pak, terima kasih, terima kasih atas segalanya, terima kasih atas kasih sayangmu kepada Risa, terima kasih atas kasih sayangmu kepada bayi ku, terima kasih atas semua kekecewaanmu, terima kasih atas semua kemarahanmu, terima kasih semuanya. Aku tak bisa menyebutkan satu persatu. aku sangat beruntung berada di antara keluarga kalian.." Pak Bambang menepuk pelan punggung Hoon, dia mengangguk ngangguk sambil terus tersenyum


"..Jadi pemohon jangan kau sia-siakan" Hoon mengangguk, tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakan semua ini. Semua ini seperti anugrah untuk Hoon. Risa ikut bergabung, wanita itu menyeka air mata pak Bambang, bibirnya mengucap tanpa suara


'Terima kasih'


Pak Bambang mengangguk sekali lagi sambil menyeka wajah Risa. Lihatlah gadis kecil ini, dia sudah tumbuh dengan baik, dia akan terus tumbuh dengan lebih baik Bambang percaya itu


Setelah makan siang Hoon berniat mengantar Bambang pulang, tapi pria paruh baya itu tidak ingin diantar oleh Hoon dan Risa


"Kembalilah ke kantor dan bekerjalah dengan baik, papa bisa pulang sendirian"ul ujarnya sambil melambaikan tangan


pak Bambang tersenyum, terasa sangat gembira, melihat putrinya sudah bersama dengan Hoon, bukan hanya pria sukses yang tampan tapi dia juga pria yang penuh perasaan. hal itu membuat Bambang merasa sangat bahagia entah kenapa hari ini dia merasa sangat gembira hatinya seketika terasa hangat, perasaannya seketika tenang, begitu nyaman tidak seperti saat dia pergi tadi, kali ini justru seperti sebaliknya


membayangkan cucu dan anaknya akan memiliki kehidupan yang lebih baik akan memiliki figur ayah yang lebih gigih Bambang melemparkan senyum


inilah perjalanan kehidupan naik dan turun, bahagia dan kecewa, suka dan duka, berita duka, cerita dan cinta. semua itu telah dia rasakan, mencintai seorang wanita, berjuang untuk kehidupan sehari-hari, mencintai seorang putri dan melakukan semuanya sepenuh hati. memaafkan setiap kesalahan, menjalani kehidupan dengan sederhana dan sebaik mungkin. mungkin dia bukan ayah yang paling sempurna di dunia ini mungkin dia hanyalah seorang ayah biasa-biasa saja tak ada kelebihan


kehadiran bayi RI di antara keluarganya membuat Bambang begitu bahagia. Dia pernah sangat marah dan kecewa. Dia pernah tak menerima. Dia pernah sangat membenci, siapa pria yang berani menghamili anaknya? Tapi pada akhirnya benci ego dan kecewa lumer begitu saja bersama dengan waktu, bersama dengan bahagia, bersama dengan cinta, bersama dengan kasih sayang, karena masalah tak akan pernah selesai dengan masalah lainnya. Bambang tak ingin semua menjadi masalah yang sulit diurai karena dia tahu kemampuannya. Dia hanyalah pria biasa-biasa saja, dia tak punya kelebihan apa-apa, dia hanya pria paruh baya biasa bahkan di sekitar rumah dia dikenal sebagai Abang penjual nasi uduk yang ramah, hanya itu saja


Kehidupan ini terlalu sebentar jika harus dipusingkan. kehidupan ini terlalu lama jika harus diperbaiki setiap detailnya maka jalani saja semampumu. lakukan saja sebaik mungkin dan mudahkan saja apa yang harusnya menjadi mudah. bahkan kalau bisa setiap kesulitan hadapi dengan mudah. jangan terlalu membenci dan jangan terlalu berharap sehingga nanti saat kau bahagia kau akan berada pada tahap bahagia yang sebenarnya, karena saat nanti harapanmu tidak tercapai kau tidak akan terlalu kecewa karena kecewa mu tidak setinggi harapanmu. jangan menjangkau sesuatu yang terlalu tinggi, jalani saja jika itu memang sudah takdirmu maka kau akan bertemu. yah Bambang dan keluarganya hanyalah keluarga biasa, siapa kira jika menantunya adalah orang yang luar biasa, bahkan mereka tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. 


Risa hanyalah gadis biasa dari kehidupan orang tua yang biasa, jika semua ini menjadi lebih baik itu semua karena takdir. Sama seperti hari ini


seperti ciuman tadi yang tertinggal di dahi bayi RI. seperti perdebatan kecil di rumah tadi yang menyisakan cerita bersama dalam keluarga, Emi dan Bambang selalu begitu melewati hari-hari dalam keluarga mereka


Seperti dekapan hangat yang menangis di bahunya. seperti sentuhan hangat telapak tangan Risa saat menggenggam tangannya. Seperti semua makanan yang enak yang telah melalui tenggorokannya. seperti matahari yang bersinar terang saat sore ini. Seperti inilah penutup hari, Bambang tersenyum di ujung jalan, dia melambaikan tangan tanpa menoleh.


Bruuuk!!!

__ADS_1


Sebuah truk menabrak tubuhnya di tepi jalan.


__ADS_2