
Udara pagi yang segar, matahari masih malu malu membias cahaya hangat. Harusnya suasana pagi ini begitu indah dan ceria, tapi nyatanya..
"Tarik nafas.. hembuskann.."
"Tariik nafass.. hembuskaan.."
Berkali kali Eun mencoba berkonsentrasi dengan ritual yoga paginya tapi tetap saja alisnya bertaut. Dia tidak bisa fokus.
"Fiiuuhh!!" Eun melepaskan nafas dan membuka tangkupan tangannya, berganti menopang di kedua paha. Dia mendengus geram!
"Aku sangat mencintai Risa.." Eun menggelengkan kepala berkali kali, membuang suara lirih Hoon kemarin. Tapi sulit, semua itu mengganggu pikirannya. Jengkel, Eun merasa kesal sendiri.
Tap tap tap!
Hoon dengan muka bantal mendaratkan bokong di kursi, dia melihat Eun masih beryoga di teras samping, ditepi kolam renang, ada pintu geser kaca sebagai pembatas mereka.
Dengan wajah malas dan rambut acak acakan Hoon menghampiri Eun.
"Nunaa.." panggil Hoon, membuat kerutan di dahi Eun kian menebal. Dia baru saja mengumpulkan ketenangan agar bisa berkonsentrasi, tapi Hoon malah membuyarkannya.
"Nunaa.. aku lapar!" rengek Hoon manja. Ck, bocah ini! Eun menoleh, memperlihatkan betapa emosi nya dia saat ini. Wanita itu segera bangkit dari matras, menghampiri Hoon.
"Kau kan bisa menyiapkan sereal sendiri!" dengus Eun kesal. "Kalau malas setidaknya bayar lebih untuk pegawai disini!" Hoon tak peduli dengan omelan Eun, dia kembali ke kursi meja makan, kembali merebahkan diri dan mengangkat kaki. Eun ikut bergabung setelah membawa mangkuk, dia beranjak lagi mengambil kotak sereal dan susu untuk Hoon.
"Kau tahu, aku tidak bisa tidur semalaman!"
"Kenapa?" tanya Hoon polos.
"Menurutmu kenapa!" pinta Eun menebak, Hoon mengangkat bahu tak mau tahu.
"Itu karena kau!" tuding Eun dengan mengacungkan sendok ke wajah Hoon.
"Aku?" Hoon masih tak mengerti.
"Hari ini segera persiapkan dirimu!" pinta Eun dengan nada memaksa
"Persiapkan apa?" tanya Hoon santai, dia mulai menyendok menu makan paginya.
"Bersiaplah untuk hari kematianmu!!"
"Huk.. uhuk.. huuk!!" Hoon tersedak melihat wajah menyeringai nunanya. Eun sebetulnya sangat kesal melihat wajah polos tanpa dosa Hoon. Dia akhirnya berpikir untuk menceritakan apa yang sekarang mengganggu pikirannya, dia bahkan tak bisa tidur lelap karena tingkah adiknya itu.
"Aku menyesal sudah membanggakanmu.." bisik Eun, Hoon menyelesaikan minumnya, dia menatap Eun serius.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa sih! kenapa nuna bersikap tidak jelas seperti ini!" ketus Hoon mencari pencerahan.
"Jangan berkata seperti itu padaku. Nuna mu ini akan berjuang karena dosa masa lalumu! sekarang lebih baik kau belajar bagaimana meminta ampun dan memohon!!" kalimat ketus Hoon dibalas omelan panjang lebar oleh Eun.
"Belajarlah untuk menundukkan kepala, berlutut, dan mohon ampun!", "Kau membuat nuna mu ini gila!" ketus Eun masih enggan menyudahi omelannya. Hoon semakin kesal mendengar ocehan tak berujung nunanya.
"Bisa bisanya kau melakukan semua itu dan lari dari tanggung jawab. Bagaimana aku harus mengatakan semuanya nanti!" Eun terlihat putus asa. "Hoon kau benar benar membuat papa dan mama kecewa!!" gemas Eun tak tahan melihat wajah polos Hoon.
"Berhentilah bicara sendiri, dan katakan ada apa?" tanya Hoon kali ini dengan tatapan serius.
"Dia bahkan berani melotot seperti itu padaku!" gerutu Eun masih tak peduli dengan pertanyaan Hoon.
"Hei bocah. Kenapa kau memutuskan meninggalkan Risa!" ketus Eun seakan menghakimi. Mendengar kalimat barusan Hoon mengerutkan dahi, Risa lagi saja yang jadi bahan obrolan di pagi hari ini!
"Kenapa kau meninggalkannya! Kenapa kau membuatnya menangis!!" Eun sungguh kehabisan kesabaran, dia mengambil handuk kecil di bahunya, bersiap memukul adiknya. Menyabet dengan handuk kecil di tangannya.
"Hentikan nunaaa!!" pinta Hoon menghindari sabetan handuk Eun.
"Kalau kau mencintai perempuan seharusnya kau tak meninggalkannya! harusnya kau tak melukainya!! kau pengecut dasar!!" Hoon bangkit dari kursi dia menjaga jarak. Amarah sudah menguasai Eun, Hoon semakin takut melihat murka Eun.
"Nuna ada apa sebenarnya, kenapa dengan dirimu!"
"Katakan itu pada dirimu!! kenapa kau tega melakukan semuanya!! kau gilaa ya!!" Hoon semakin tak mengerti.
"Kenapa kau bengong, cepat ganti pakaianmu!!" bentak Eun marah.
"Nunaa.. aku tidak akan kesana" wajah bengong Hoon berubah merengek manja, dia meraut wajah sendu meminta pengasihan Eun. Hoon kembali ke kursi, dia merebahkan kepala dimeja. Semangat dan suara ketusnya seakan lenyap.
Eun yang tadinya sangat kesal dan emosi dengan cepat merubah tensi. Dia menatap wajah sendu Hoon, mengelus lembut rambut adiknya.
"Nuna aku tak akan bisa kembali bersama dengan Risa.." Eun menyimak kalimat Hoon.
"Dia sudah menikah.." HAH!! Eun terkejut dengan kalimat Hoon. Apa iya! Eun mencoba berpikir keras. Apa benar Risa sudah menikah! Dia juga tak bisa memastikan, Eun sedikit sangsi, tapi apa mungkin.. Apa dugaannya salah? apa kekasih yang dimaksud memang bukan Hoon?
Eun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kita harus tetap kesana, apapun itu.." ujar Eun kemudian. Dia meninggalkan Hoon kembali ke kamarnya.
"Nunaaaa.." Rengek Hoon enggan patuh dengan permintaan nunanya.
Bagaimana mungkin aku menemui keluaga mantan pacarku! itu menyakitkan! cukup sekali saja!
"Nunaaa..!!"
__ADS_1
***
Parkiran sebuah restoran bergaya oriental
"Kau tunggu disini sebentar, nuna akan memesan beberapa makanan!" Hoon mengangguk lemah. Dia memilih menunggu di kursi penumpang, memperhatikan nunanya yang masuk ke dalam restoran.
Sebuah mobil hitam parkir disamping mobil Hoon. Seorang wanita paruh baya dan..
Hoon membesarkan mata menatap wajah tak asing yang digandeng oleh wanita paruh baya itu! Glen!
Dia Glen hyung!
Hoon tak sadar memperhatikan langkah mereka. Seorang remaja ikut menyusul dibelakang Glen, dia berhambur memeluk pinggang Glen dengan ceria. Mereka bertiga berjalan bersama dengan wajah penuh senyum. Hoon menautkan alis, tak percaya.
Eun memilih menu yang akan dia take away. Wanita itu menunggu di kursi tamu. Eun memperhatikan layar ponselnya, menanti balasan pesan dari Risa, dia tak menyadari jika Glen dan dua orang melewati depan wajahnya. Glen yang menyadari itu. Dia sedikit terkejut melihat Eun memangku dagu dengan ponsel di tangan. Wanita itu tetap sama seperti dahulu, cantik mempesona. Glen tersenyum.
Tak jauh dari posisi Eun, Glen mengambil duduk, meski sesekali dia menimpali obrolan wanita yang datang bersamanya, tapi tak sebentar dia mencuri lirik ke arah Eun.
Beberapa pria yang mencuri tatapan terhadap Eun, bukan hanya Glen. Siapa yang tak terkesiap saat melihat sosok Eun, dia seakan memancarkan cahaya terang meski tak melakukan apapun. Wanita yang indah.
Eun beranjak dari duduk, dia menuju ke kamar kecil. Glen memperhatikan itu.
"Aku ke toilet sebentar.." Glen meninggalkan partnernya menyusul langkah Eun. Dia sengaja, Glen sudah menunggu momen ini. Langkah panjangnya dipercepat, mempersingkat waktu, dia ingin segera menemui Eun.
"Eun.." panggil Glen dengan suara pelan, hampir seperti berbisik.
Eun membalikkan badan. Dia jelas terkejut melihat Glen yang tersenyum padanya. Senyuman apa itu!
Tuk!
High heel Eun spontan mundur menghindari Glen, hingga punggungnya mendesak ke dinding.
"Euun.." Glen terus mengucapkan nama wanita di hadapannya, senyumnya kian lebar. Tapi tidak dengan Eun. Mereka memiliki ekspresi wajah yang kontras, wajah Eun seketika tegang. Glen melangkahkan kaki mendekati Eun. Wanita itu menggeleng seakan meminta Glen menjaga jarak.
Eun mengangkat kedua tangannya, mencoba mengibas seakan meminta Glen berhenti mendekatinya. Senyuman itu membuat Eun sesak nafas.
"Eun, apa kabarmu?" tanya Glen. Dia menghentikan langkah menyadari Eun tak nyaman melihatnya. Senyuman Glen perlahan memudar.
"Euunn..." lirih Glen sekali lagi. Eun semakin ketakutan. Dia tak suka namanya disebut oleh bibir Glen.
***
Jangan lupa, vote, komen 5bintang, dan shareee..
__ADS_1